Naskah Hasrat

Naskah Hasrat
BAB IX


__ADS_3

Ya, Allah. Berikanlah hamba jalan terbaik supaya bisa putus dengannya. Daripada hamba tidak bisa menjadi istri yang baik dan semakin berdosa, maka jauhkanlah saja dia, ya Allah. Hamba tidak menginginkannya.


* * *


Hari itu hari pertama aku menjalani shift pagi. Maulana pun bersikeras menjemputku dari pulang kerja. Katanya ada hal penting yang hendak dibicarakan. Seperti biasanya, dengan tak bersemangat aku mengiyakan dan menyambutnya dengan lebih tak bersemangat lagi. Karena itu artinya, seminggu ke depan aku bakalan bertemu dengannya terus. Sungguh memuakkan!


Melihatnya di kejauhan, kadangkala ingin rasanya aku bisa jatuh cinta padanya dengan ikhlas. Supaya seperti pasangan-pasangan lain, saat melihatnya itu, aku jadi tak kuasa menahan senyum karena bahagia. Meski di kejauhan itu, rasa cinta yang berbunga-bunga akan membuat darahku terasa berdesir-desir. Aku pun tak perlu melarikan diri darinya setiap lima belas hari dalam sebulan karena ada rasa rindu yang membuatku selalu ingin bertemu. Tapi tidak. Di kejauhan itu, aku merasa dirinya semakin tertelan kabut dari hasratku padanya yang kelabu.


"Mamas besok mau berangkat ke Jakarta, Dek. Mamas dapat kerja di sana," katanya.


"Oh ya. Mudah-mudahan Sampean nyaman dan cocok dengan pekerjaannya," kataku datar. Meskipun datar, dalam hati aku bersorak girang karena kami akan LDR-an. Aku pun jadi tak perlu merasa tersiksa karena terpaksa bertemu dengannya. Meski dengan begitu, tak lantas membuat masalah ini akan terselesaikan dengan sendirinya.


"Iya, Dek. Di pekerjaan yang ini nanti, kalau cuma mendapatkan uang tiga juta sebulan, itu mudah kok," katanya lagi.


Aku tidak menanggapi karena lagi-lagi memang tak ingin. Aku juga tidak begitu paham dengan maksud dari perkataannya. Karena mau gajinya sebulan lima puluh juta, aku pun tak yakin akan menjadi bisa mencintainya lantaran uangnya. Aku suka uang, tapi aku lebih sayang rasa nyaman. Dan sebaliknya, sekalipun gajinya cuma dua juta atau bahkan kurang dalam sebulan, asalkan aku mencintainya dan menghormatinya, aku akan tetap berada di sisinya. Karena sedari kecil, aku sudah terbiasa hidup susah dan mandiri begitu sudah dewasa. Lagipula, tidak semua hal yang membuatku nyaman berkaitan dengan uang. Perkataannya itu malah semakin membuatku tidak berselera padanya.


"Mas, mampir dulu sebentar di warung ya," kataku saat kami melewati perempatan warung makan nasi goreng Pakde.


"Warung mana?" tanyanya.

__ADS_1


"Tempatnya Bu Ripin saja," kataku seraya menunjuk warung sembako yang berada di sisi kanan jalan dari arah kami datang.


Maulana pun menghentikan motornya di depan warung yang aku tunjuk. Sementara aku berbelanja, dia pun menungguku di luar warung dan tampak sedang berbincang-bincang dengan seseorang kenalannya.


Di warung Bu Ripin ini, bisa dibilang sangat lengkap. Hanya sayang, sayuran dan buah-buahannya tidak dirawat dengan baik. Kebanyakan pedagang sayur yang menitipkan dagangannya di warung ini, kerap meletakkan sendiri barang titipannya hingga terjadi tumpukan dengan barang titipan orang lain. Karena tidak ditata dan dirawat, kebanyakan jadi layu atau bahkan membusuk. Hanya kelebihannya, kita bisa memilih-milih sendiri tanpa diikuti oleh pemilik warung atau penjaganya. Beliau hanya duduk di meja kasir sambil mengobrol dan diam-diam memperhatikan para pembelinya. Mengecualikan kualitas, aku lebih memilih warung yang memberi kebebasan seperti ini karena aku merasa risih kalau harus diekori terus seperti calon maling. Tapi itu hak setiap pemilik warung sih, dan hakku juga sebagai pembeli.


Di warung yang penataannya semrawut ini, aku nyaris bertabrakan dengan seorang wanita muda yang sedang berbelanja sayuran sepertiku. Di sampingnya, berdiri atau mengikuti seorang lelaki yang sesekali menunjuk atau menggeleng pada barang-barang yang disentuh wanita itu. Mungkin mereka pasangan suami istri, batinku.


Setelah selesai memilih semua barang belanjaan yang hendak kubeli, aku pun berjalan menuju meja kasir dan meletakkan barang-barang belanjaan pilihanku. Karena sudah ada yang datang ke meja kasir duluan, aku pun menunggu giliranku tak jauh dari orang tersebut. Orang tersebut tak lain ialah pasangan suami istri tadi.


"Tiga puluh tujuh ribu ya," kata Bu Ripin dengan ramah seraya menyorongkan plastik belanjaan yang sudah dihitungnya.


"Tiga puluh tujuh," gumam istrinya dengan pandangan menunduk. Sedangkan kedua tangannya meremas kantong belanjaan dengan erat. Jika dilihat melalui raut wajah dan sorot matanya, sebenarnya dia masih muda. Tapi karena kulit wajahnya yang tipis, serta tak terawat dan ditambah ... mungkin beban batin, menjadikannya tampak tua.


"Tiga puluh tujuh, Mas," kata Bu Ripin lagi, yang meskipun tetap ramah, tapi ada nada sindiran di dalamnya.


"Tiga puluh tujuh? Mahal amat!" ocehnya seraya mengeluarkan sejumlah uang dari dalam sakunya dan memberikan lembaran-lembaran uang sejumlah tiga puluh tujuh ribu. Pas.


Bu Ripin tak menanggapi, hanya menghela napas panjang seraya memasukkan uang pembayaran ke dalam laci meja kasirnya. Sementara pasangan suami istri itu terus berlalu dengan ocehan si suami yang masih mempermasalahkan harga belanjaan istrinya dengan si istri yang mengekor di belakangnya dengan tatapan menunduk.

__ADS_1


Aku?


Sekarat, Bray!


Adegan barusan mampu membuat badanku lemas dan hampir pingsan. Ya, Rabb! Bahkan isi dari kantong belanjaan istrinya itu kesemuanya berisi sayur dan bumbu dapur. Yang kesemuanya dibutuhkan untuk bakal makanan mereka sekeluarga. Bakal buat ngisi perutnya sendiri juga! Itu pun belum beras, pakaian, bedak, apalagi itu namanya? Skincare yang harganya bisa lima kali lipat dari harga sekantong sayur untuk isi meja makan. Aku bahkan bisa menghabiskan lebih dari itu hanya untuk jajanku saja. Hanya buat jajan, woy! Emosi aku.😤😤😤


Lalu, bagaimana jika aku mendapatkan seorang suami yang sifatnya sebelas-dua belas dengan si suami bar-bar tadi? Seketika leherku yang mendadak kaku pun berpaling ke arah Maulana yang masih menungguku di luar warung. Di sana dia tidak lagi mengobrol dengan kenalannya karena sudah pergi duluan. Jika iya, bagaimana dengan nasib mamak dan bapak yang sudah tidak bisa bekerja berat karena semakin renta?


Seketika aku jadi teringat dengan Mbah Yem, simbahnya teman mainku saat masih di kampung yang dulu. Saat itu aku hendak membeli gula pesanan mamak. Dengan tangan bergetar, tangan tuanya mengulurkan uang lima ribuan pada Mbak Sri, pemilik warung. Pada saat itu, uang lima ribu masih sangat berharga, tapi ...


"Sri, gimana ini ya? Mbah mau minta tolong," katanya masih dengan tangan terulur.


"Minta tolong apa, Mbah?"


"Mbah itu dikasih uang lima ribu sama Niah, buat uang masak. Tapi uang lima ribu ini suruh buat seminggu, sedangkan di rumah semua bumbu dapur sudah habis. Tapi kalau Mbah nggak masak dan minta uang lagi sebelum seminggu, Mbah nanti kena marah. Tolong ya, Sri," katanya dengan suara tuanya yang bergetar hebat akibat menahan tangis.


Aku?


Hatiku seketika bertambah hancur begitu wajah Mbah Yem berubah menjadi wajah mamakku. Otakku langsung oleng begitu membayangkan seandainya saja mamakku harus mengemis seperti itu. Hatiku semakin tak berdaya. Aku juga takut bukan main. Kenapa bisa adegan tadi membuatku sampai ketakutan seperti ini? Apakah karena mental yang belum siap menikah dan ditambah rasa tidak suka pada Maulana yang menjadi penyebabnya?

__ADS_1


__ADS_2