Naskah Hasrat

Naskah Hasrat
BAB IV


__ADS_3

Saya mau menerima Maulana, tapi saya maunya singsetan (tunangan) saja dulu. Untuk masalah menikah, saya tidak mau terburu-buru.


Itulah kalimat yang kuucapkan pada keluarga besar Maulana sebagai keputusanku. Saat itu, aku tidak melihat bagaimana ekspresi dari wajah kedua orangtuaku. Yang aku ingat, wajah-wajah semringah keluarga besar Maulana seraya mengucap Alhamdulillah begitu mendengar keputusanku.


Aku?


Aku masih belum tahu perasaanku dengan tepat. Hambar, datar atau malah kosong? Entahlah. Aku sudah lupa. Barangkali ada sedikit rasa lega karena akhirnya aku bisa mendapatkan calon suami tanpa perlu susah-susah berusaha. Aku juga bisa menepis gurauan teman-teman sepekerjaan yang kadang mengataiku tidak suka lelaki. Aku pun bisa mengangkat sedikit beban pada hati orangtuaku yang terkadang menanyakan apakah sudah ada lelaki yang dekat denganku atau belum. Tanpa aku tahu, tanpa aku sadar, bahwa rasa suka dan cinta, khususnya pada hatiku, cukup sulit untuk diatur-atur apalagi sampai direka-reka.


"Mak, aku tu belum paham lho wajahnya Maulana," kataku setelah beberapa hari bertunangan dengannya. "Takutnya pas papasan di jalan, aku tidak menyapanya karena belum paham, kan lucu."


Entah Mamak meminta tolong pada siapa, karena aku sendiri pun belum memiliki nomor ponselnya, keesokan malamnya dia datang berkunjung. Tidak banyak yang kami bicarakan, aku pun nyaris tak melemparkan pertanyaan apa-apa tentangnya.


Naas. Malam itu, malam pada saat aku ingin mengenali wajahnya lebih jauh, hatiku seperti diketuk sesuatu, atau lebih tepatnya diingatkan bahkan sampai terasa tertampar, bahwa aku sama sekali tidak tertarik dengannya. Dan lebih naasnya lagi, aku dan dia sudah resmi bertunangan. Lalu, apa sebenarnya arti dari kelegaan yang sempat aku rasakan? Mungkinkah semua itu hanya semacam fatamorgana belaka setelah beberapa saat lamanya tersiksa karena dibully? Atau mungkin beban batin pada kedua orangtuaku? Jika iya, akankah semua ini tetap berlanjut hanya karena aku ingin memenuhi pandangan sosial terhadapku sebagai gadis berumur?


"Lalu, bagaimana dengan tunanganmu, Mbak?” tanya Anisa padaku.


Aku mendesah. Hatiku seketika terasa nyeri. Seperti yang kukatakan sebelumnya, diriku saat ini tak ubahnya seperti ditusuk dengan dua pedang sekaligus. Apalagi kalau bukan karena belum mau menikah dan terpaksa bertunangan dengan orang yang tidak kusuka.


“Entahlah. Itu bisa dipikirkan nanti,” kataku seolah itu bukan masalah.


“Jangan nanti, Mbak! Mumpung belum jauh.”


Dia memang benar. Kendati pun daripada menyelesaikan, aku lebih memilih untuk melarikan diri. Antara mundur dan maju sama-sama berat bagiku. Di sisi lain ada hatiku yang tak terima dan begitu terluka, sedangkan sisi yang satunya lagi ialah perasaan orangtua dan harga diri keluarga. Mana yang harus kuutamakan? Tak bisakah waktu membeku saja? Atau bisakah waktu kembali ke masa lalu sehingga aku bisa menolaknya?


 


Seorang gadis itu pantang menolak lamaran lelaki! Jika berani menolak, bisa apes. Pamali!

__ADS_1


Entah siapa pelopor atau pencetus kalimat di atas yang tanpa sadar dan secara turun-temurun terus diadopsi sampai keketurunan modern. Yang masih saja men-dikriminasi kaum wanita agar nerimo-nerimo wae. Sudah dapat dipastikan, kalimat itu dicetuskan jauh sebelum naskah pertama Siti Nurbaya diketik oleh penulisnya. Lagipula, apa bedanya meskipun DIA memberi kesempatan dengan memutar kembali waktu, sedangkan aku sendiri tetap tidak memiliki keberanian untuk menolak. Masa depan akan tetap sama saja.


Ah, seandainya saja dia tidak gegabah dan memikirkan masak-masak permintaanku itu. Pasti semua ini tidak akan terjadi. Di mana aku memintanya datang sendiri dua hari lagi. Aku perlu bermusyawarah dengan orangtuaku dan lebih penting lagi merundingkannya dengan diriku sendiri. Apakah aku betul-betul suka dengannya? Siapkah aku dipersunting olehnya?


Lha ini, belum ada dua hari, keesokan malamnya dia malah langsung datang beserta seluruh anggota keluarganya. Bermaksud melamar. Apakah permintaanku kurang jelas? Atau dia yang tidak paham? Kalau caranya begitu, mana berani aku menolak. Apalagi aku dan keluargaku terhitung orang baru di sini. Sedangkan keluarganya terhitung orang lama dan bapaknya biasa disebut pak ustadz oleh orang-orang sekitar. Kalau saja dia datang sendiri, tentu saja lebih mudah untukku menolaknya. Atau itu memang tujuannya? Agar aku tidak bisa menolak lamarannya?


Ah, entahlah!


Lalu, siapa yang salah? Entahlah. Bisa jadi kami sama-sama salah. Salah dia yang gegabah, salahku juga yang tidak berani mengatakan tidak atau langsung menolak.


Cari pasangan hidup itu tidak usah aneh-aneh. Jangan juga dilihat dari ganteng atau tidaknya! Asalkan dia baik, mau bertanggung jawab, itulah yang terbaik. Biar saja jelek asal pintar cari duit. Bapak akui kalau Maulana itu jelek, item, tapi Bapak lihat dia itu rajin kok membantu bapaknya di sawah."


Kata-kata bapakku terngiang-ngiang kembali dalam pikiran. Secara kebetulan, sawah milik bapak Maulana hanya berjarak 15 meter saja dari samping rumah. Jadi, bapak pasti bisa langsung tahu kalau ada Maulana saat membantu bapaknya di sawah. Sepertinya, Maulana sudah berhasil menarik perhatian bapakku melalui caranya itu Bagaimana denganku? Sedikit pun hatiku belum sama sekali tersentuh. Ditambah dengan pendapat bapakku di atas tadi, aku malah semakin nggak ngeh dengan perasaan dan pikiranku sendiri. Ya, pokoknya nggak klik gitulah! Lalu, kuungkapkan pada Anisa sebagai bentuk rasa kekecewaanku.


“Orangtua hampir sama saja, Mbak. Contohnya saja ibuku. Beliau menjodohkanku dengan orang yang tidak kusukai karena hartanya. Mending harta dia sendiri yang cari, lha itu harta orangtuanya. Dan orangnya, Mbak, ampun! Jelek banget!” kata Anisa menanggapi dan gantian bercerita.


Kisah Anisa juga tidak bisa dibilang baik. Tidak seperti wajahnya yang mulus, putih dan cantik, kisah hidupnya tak ubahnya seperti kubangan berlumpur yang baunya menyengat.


Entah sudah berapa kali saja dia akan dijodohkan oleh ibunya. Kriterianya selalu sama. Orangnya jelek, perjaka tua atau duda, tapi kaya raya. Entah kayanya dengan cara apa, milik siapa dan bagaimana lainnya. Pokoknya, yang penting kaya deh bagi ibunya Anisa. Padahal, beliau dulu juga dipaksa menikah dengan bapaknya Anisa oleh orangtuanya. Alasan neneknya Anisa pada saat itu juga sama, karena bapak Anisa anaknya orang kaya tanpa mempedulikan perasaan putrinya. Ujung-ujungnya, saat usaha bapak Anisa bangkrut, ibunya Anisa minggat dengan meninggalkan empat anak. Kakak Anisa, Anisa, adik lelaki Anisa, dan adik lelaki Anisa satu lagi yang masih berumur dua bulan. Beliau entah pergi ke mana dan tahu-tahu sudah terdengar kabar menikah lagi dengan duda kaya raya.


"Ibuku tidak tahan hidup miskin," ucap Anisa murung pada saat pertama kali bercerita. Miris memang. Apalagi kala itu Anisa masih duduk di bangku SMP dan menjadi anak perempuan satu-satunya dalam keluarga. Dan yang lebih gilanya lagi, ibunya Anisa malah melakukan balas dendam pada ibunya melalui putrinya sendiri. Bukankah seharusnya beliau melindungi putrinya agar tidak bernasib serupa?


Apakah ibunya Anisa salah? Salah. Sangat salah. Terutama pada anak-anak yang sudah dilahirkannya dan ditinggalkannya begitu suaminya jatuh miskin. Namun, tidak ketika mengecualikan anak-anaknya yang ditelantarkan, bagiku. Karena beliau dulu dipaksa menikah hanya karena ayah Anisa anak orang kaya. Prinsip nenek Anisa, yang kemudian diadopsi oleh ibunya Anisa, anaknya akan bahagia jika menikah dengan orang kaya. Jadi, ketika sudah tak kaya lagi, tak pintar mencari uang lagi, wajar saja kalau ditinggalkan. Karena lantaran tidak jadi bahagia lagi. Satu poin penting! Mereka sama-sama tidak mengajari bagaimana seharusnya menjadi istri yang baik dan setia pada suaminya. Mereka hanya menyuruh anaknya menikah dengan orang kaya! Titik.


"Jadi, bagaimana perasaanmu saat membayangkan tidur seranjang dengannya? Coba bayangkan saat kau harus dipeluk, dicium dan dibelai-belai tubuhmu olehnya!” godaku se-dramatis mungkin supaya dia membayangkannya dengan jelas.


 

__ADS_1


“Uh!” Anisa seketika heboh sendiri. “Ingin sekali kutendang dia dari tempat tidur!”


 


Aku tertawa semakin keras sampai tak terasa air mata membasahi ekor mataku. Sungguh air mata kepahitan yang muncul dari keterasingan hati sehingga tidak kuasa mengalir dari sudut yang seharusnya. Karena dibanding menertawakan kehebohan Anisa, saat ini aku lebih tepat sedang menertawakan diriku sendiri. Jika Anisa masih bisa heboh saat membayangkannya, maka hatiku terasa miris seperti teriris saat membayangkan harus disentuh oleh lelaki yang tidak kusukai. Serta inilah yang kumaksud tentang persahabatan kami. Bahwa kami memiliki banyak kemiripan dalam cerita dan prinsip hidup. Dampaknya, hal-hal sinting semacam ini hanya terasa nyaman jika kami bicarakan berdua saja.


“Apakah kita ini benar-benar pemilih, Nis? Karena kalau diingat-ingat lagi, dari beberapa lelaki yang pernah kusukai, tidak ada yang ganteng atau kaya. Alasannya sederhana saja. Karena aku suka dan nyaman dengannya.”


Giliran Anisa yang menganguk-angguk.


“Namun, saat seperti ini, kesannya kita ini seperti cewek sok-sokan. Padahal, cuma belum menemukan yang pas saja,” katanya. “Dan satu lagi, kita ini tidak pernah jatuh cinta karena terbiasa. Kita selalu jatuh cinta pada pandangan pertama. Betul, Mbak?”


“Betul, betul, betul!”


Kami pun sama-sama tertawa lagi.


Ah, sayang! Tawaku dan tawanya berada pada dimensi yang berbeda. Aku bisa tertawa lepas hanya karena dia sahabatku. Namun, kenyataan bahwa aku telah terjebak dalam kisah asmara yang menyesakkan, tawa dari hati pun sudah tidak ada lagi. Tawaku itu seperti menggema, seolah berasal dari dimensi berbeda. Hanya berupa tawa dari masa lalu yang masih terekam dalam ingatan dan membuatku tidak lupa bagaimana caranya tertawa, tapi sudah asing pada rasa tulusnya. Sedangkan Anisa, sahabatku itu masih memiliki kesempatan memilih. Keberaniannya menolak perjodohan membuatnya masih bisa tertawa lepas. Kini aku pun tahu betapa dahsyatnya dampak kata TIDAK pada kehidupan mendatang.


“Eh, tunggu!”


“Apa?”


“Rasa-rasanya Sampean pernah deh jatuh cinta dengan cowok ganteng. Ganteng banget malah. Aku kan pernah lihat fotonya.”


Aku terpana.


Anisa saja mengingatnya. Kenapa aku tidak? Apakah karena cinta itu hanya cinta yang biasa saja? Kalau iya, kenapa aku harus terpana dan terbata-bata bahkan sebelum berkata-kata? Sepertinya, aku sama sekali belum melupakannya. Hanya saja kenangan itu sengaja aku kunci rapat-rapat di relung hatiku yang terdalam. Supaya tidak tersentuh, agar dianggap tak ada dan usang dimakan waktu. Namun, saat kenangan itu tanpa sengaja terketuk, ingatanku langsung menuju ke sana, ke sebuah ruangan yang pintunya lama tidak pernah kubuka. Rasa itu sama sekali belum usang sekalipun lama tak terjamah.

__ADS_1


__ADS_2