
Wulan!
Aku nyaris saja berteriak menyerukan namanya. Kelegaan yang luar biasa terasa menyergap seluruh rongga dadaku seumpama hawa sejuk saat melihat wajahnya. Aku tidak bisa lagi menyembunyikan rona-rona kebahagiaan pada wajahku hingga senyumku menyeringai cukup lebar. Rasa khawatir, tertekan dan cemburu yang pernah kurasakan langsung menguap bersama seringaian itu. Aku benar-benar merasa bahagia dan itu tidak ada kaitannya dengan Setya. Ingin rasanya aku menyongsongnya dan memeluknya selayaknya dua insan yang sudah lama tidak bertemu.
Ah, akhirnya aku menemukannya!
Raut wajahnya saat melihatku sulit untuk kubaca, kecuali rasa terkejut dari matanya yang kemudian meredup lagi. Dia sudah banyak berubah, terutama matanya. Seolah tidak ada kehidupan di sana. Dingin dan tak berperasaan. Walaupun begitu, kuakui kalau dia semakin cantik dan dewasa.
“Jauh sekali rumahmu.”
Dia hanya diam.
"Aku udah kayak orang minggat tahu!"
“Ada kepentingan apa denganku?”
Aku terkejut. Rupanya aku kemari tidak memiliki persiapan apapun. Tahu-tahu datang dan menemukan tanpa membuat alasan. Mungkin juga karena aku tidak menyangka kalau dia bisa berubah sejauh ini. Matanya menyiratkan bahwa aku ini sebuah ancaman. Dia sama sekali tidak berbasa-basi.
“Aku ingin mengajakmu menemui Setya. Dia sakit dan dia ingin bertemu denganmu,” kataku kemudian. Aku berusaha menggunakan caranya. Singkat, cepat dan tidak berbasa-basi.
“Parah?”
“Lumayan.”
Dia benar-benar berubah. Tidak ada ekspresi khawatir dari matanya. Apapun yang dia katakan dan dengar, tak mengubah ekspresi wajahnya sama sekali. Sekilas, mungkin aku bisa menduga kalau dia sudah tidak menyukai Setya lagi. Dan bisa jadi dia tidak akan mau kuajak pergi menemui Setya.
“Berarti aku harus ikut ke Karang?”
“Iya.”
“Aku harus mengurus cuti. Aku tidak mungkin pulang pergi dalam sehari. Paling tidak aku butuh waktu tiga hari.”
Gila! Cepat. Dia sangat cepat. Aku sampai-sampai harus menahan diri agar tidak menganga saat mendengar jawabannya.
“Sampean menginap di mana?”
__ADS_1
“Penginapan ...” aku mengingat-ingat.
“... penginapan Roni?” tebaknya.
Aku langsung mengangguk.
“Rumahku tidak jauh dari sana. Tapi maaf, aku tidak mengijinkan sampean mampir ke rumah. Aku bisa mengurus cutiku dengan cepat. Selambat-lambatnya lusa. Selebihnya, kita janjian saja," katanya padat.
"Rumah?" tanyaku heran dengan kening berkerut. Aku kira, seperti halnya yang dikatakan Nanang padaku, dia pun hanya mengontrak atau tinggal di mess. Seketika hatiku dilanda cemas lagi. Aku takut kalau-kalau dia berstatus sudah menikah, bukan hanya sekedar bertunangan seperti yang diketahui Setya.
"Oh," katanya dengan isyarat memahami tanyaku yang begitu pendek barusan. "Aku sudah dua tahun ini pindah ke sini. Sudah asli jadi orang sini. Orangtuaku juga ikut tinggal di sini."
Aku hanya mengangguk-angguk meskipun sebenarnya belum benar-benar puas dengan jawabannya. Aku ingin sekali bertanya apakah dia sudah menikah atau belum. Namun, entah kenapa sulit untuk kuutarakan.
"Bisa simpan nomorku?” katanya seraya mengeluarkan ponselnya dari dalam tas kecil yang dikenakannya.
“Oh, ya!"
Aku cepat-cepat mengeluarkan ponselku dari saku celana seperti orang gagu.
“Sebaiknya Sampean segera pergi,” katanya sesudah menyebutkan nomor ponselnya. “Di sini tidak banyak cowok berparas lumayan. Menurut penilaian, Sampean ini cukup tampan. Kalau Sampean tidak mau digigit cewek-cewek penasaran, lebih baik secepatnya kabur.”
Aku mendadak jadi sigap dan waspada. Tatapanku nyalang memperhatikan sekeliling. Cewek-cewek itu memang melirik atau bahkan melihat ke arahku lumayan lama, tapi tidak ada yang berwajah atau bahkan sampai bergelagat ingin menyergapku. Dan lebih sialnya lagi, saat aku berpaling padanya dengan sorot mata menyinggung, dia masih tetap dengan wajah tanpa ekspresi. Sialan! Dia tadi bermaksud meledek atau memuji sih?
“Jangan lupa miskol!” katanya sembari mulai melangkah.
“Eh, tunggu!”
Dia pun menghentikan langkah dan kembali menghadapiku. “Apa?”
“Setya bilang, kamu sudah bertunangan. Apa benar?” tanyaku pada akhirnya dan dengan sangat hati-hati.
Dia hanya mengangguk.
“Bagaimana kalau tunanganmu tahu? Apakah dia akan mengijinkanmu kalau bilang apa adanya?” tanyaku lagi. “Aku takut kalau kamu dapat masalah.”
__ADS_1
“Itu bukan urusannya.”
Aku tercengang.
Tanpa basa-basi, gadis sialan itu segera menuju bis karyawan yang diparkir tidak jauh dari Nanang memarkir mobilku. Kemudian sosoknya lenyap ke dalam bis tanpa melihatku lagi meski sejenak. Jujur aku merasakan kesal, tapi tidak lama. Karena detik berikutnya, pikiran dan perasaanku bergulat.
Dia bukanlah Wulan yang dulu. Dia bukan hanya banyak berubah, tapi benar-benar berubah! Terutama matanya. Dia jadi sangat menyeramkan. Bahkan dia bisa mengintimidasi lawan bicaranya walaupun hanya dengan tatapannya yang sudah hampir mati. Tak ada cahaya sama sekali di sana. Namun, justru karena itulah aku merasa khawatir. Karena tatapannya yang hampir mati itu sangat mampu mengundang rasa penasaran.
Apakah yang akan dipikirkan Setya begitu bertemu dengannya? Akankah sepasang mata yang seperti sudah kehilangan nyawanya itu bisa mengurung perhatian kekasihku dan menawannya? Kalau sudah begitu, akankah hubungan kami bisa lagi sama seperti sebelum dia mengungkapkan keinginan terkutuk itu? Ah, tidak! Karena kenyataannya, jauh sebelum keinginan itu diutarakannya, sudah dapat dipastikan kalau ide semacam itu lebih dulu tercetus di otaknya. Dan pada saat wajah dan nama gadis itu menggeliat dalam ingatannya, hatinya pun menjadi tak lagi sama.
***
Waktu baru menunjukkan pukul 02.00 WIB. pada layar handphoneku. Ku usap-usap wajahku yang agak berminyak menggunakan telapak tangan. Kurasakan ada cairan yang membasahi kedua ekor mataku saat aku mengusap wajahku itu. Bukan tanpa sebab aku tiba-tiba terbangun pada pukul itu.
Aku bermimpi bersahabat baik dengan karakter Lu Zhao Yao. Sedangkan karakter Mo Qing menjadi senior kami dalam mimpi itu dan aku sangat menyukainya. Aku sangat berharap dia bisa menjadi kekasihku. Aku ingin dia menjadi milikku. Namun sayangnya, Mo Qing jelas-jelas menunjukkan keengganannya dekat denganku. Lebih parahnya lagi, dia ternyata berpacaran dengan Lu Zhao Yao dan tanpa sungkan memperlihatkan keromantisan mereka di depanku.
Sungguh mimpi yang nyeleneh. Namun, nyatanya tidak sesederhana itu! Karena aku sempat meneteskan airmata sebelum akhirnya aku terbangun dari mimpi itu. Itu bukan sekedar mimpi nyeleneh yang tiba-tiba muncul dan menghujaniku dengan kecemburuan. Melainkan sebuah mimpi biadab yang pada akhirnya melemparku dalam perasaan sengsara. Karena tak lain dan tak bukan, mimpi itu telah menyeretku ke masa lalu atau malah menyeret masa lalu itu sendiri langsung ke hadapanku.
Hatiku seperti dirajam! Aku benar-benar tak menyangka kalau kenangan pada masa lalu itu masih tersimpan. Apalagi aku sudah begitu yakin kalau masa lalu itu sudah kudepak jauh-jauh. Buktinya, aku merasa baik-baik saja selama ini. Tapi kenapa hanya karena mimpi tak jelas itu, aku sampai bisa baper begini? Apa yang salah? Bahkan aku merasa sudah sebaik-baiknya dalam berbenah. Nyatanya, kenangan pada masa lalu itu masih merongrong seumpama tikus tanah yang mempersiapkan liang kuburku. Sungguh terlalu!
Ah, tidak! Setelah aku berpikir lebih jernih, mimpi itu muncul bukan tanpa sebab. Ya, siang tadi, seperti halnya tragedi tersambar petir di siang hari, aku melihat sebentuk wajah yang tak pernah aku sangka akan muncul di hadapanku. Bahkan aku mengharapkannya pun tidak.
Ialah Kak Rendi.
Meskipun karakter Lu Zhao Yao yang muncul dalam mimpiku ialah seorang wanita, namun pada kenyataannya, ia hanyalah bentuk lain dari Kak Rendi. Karena tak lucu rasanya jika aku cemburu pada Kak Rendi yang lebih dipilih oleh Mo Qing sebagai Kak Setya sekalipun itu hanya dalam mimpi yang tak orang lain tahu. Tapi memang begitulah kenyataannya! Dan itulah alasan kenapa aku tidak bisa berpendapat seperti teman-teman lainnya saat Vita bertanya. Yang tak lain dan tak bukan ialah karena aku pun pernah jatuh cinta pada seorang guy dan masih mencintainya hingga kini.
Berbeda dengan Vita yang hanya sekedar praduga dari orang-orang yang bergosip, aku jelas-jelas tahu kalau Kak Setya itu memang guy dan Kak Rendi ialah pasangannya. Namun, jika Kak Setya bersedia meninggalkan Kak Rendi, aku pun bersedia menerimanya dan segala kekurangannya. Ya, aku menginginkannya dan sudah siap dengan segala resikonya! Gila, kan? Namun, begitulah aku saat jatuh hati. Mungkin juga kalian.
Kalian tahu? Pada titik itu pun aku pernah merasakan cinta yang tanpa pamrih, yang tanpa syarat meskipun cacat, dan yang pada akhirnya bertepuk sebelah tangan.
Rasa cintaku padanya begitu dalam. Dialah orang yang pertama kali membuatku jatuh cinta, benar-benar jatuh, lalu cemburu dan berakhir pada patah hati. Karena saking dalamnya rasa cinta itu, aku pun jadi sulit membedakan yang mana cinta dan mana benci. Keduanya beda jauh, tapi terasa seperti kakak-adik bila rasa rindu menjadi pemersatu. Jika dulu aku sempat mengutuknya sebagai penjahat karena tidak bisa membalas cintaku, maka sekarang, saat aku bertemu Maulana dan bertunangan dengannya, aku menjadi paham sepaham-pahamnya bahwa tidak bisa membalas cinta orang lain ialah BEBAN.
Dan kau tahu, Kak Setya, kesalahanku yang pernah memaksakan cintaku padamu lima tahun lalu, telah ku bayar karmanya saat ini. Dan semuanya akan ku anggap LUNAS begitu kita berdua sudah bersua.
__ADS_1