Naskah Hasrat

Naskah Hasrat
BAB XI


__ADS_3

Ya, Allah. Berikanlah hamba-Mu ini jalan terbaik supaya bisa putus dengannya. Hamba benar-benar tidak menginginkannya menjadi pendamping hidup hamba.


***


Aku membantu mengangkat barang-barang Isti sampai di depan mess. Di sana sudah menunggu mobil travel yang dipesannya semalam. Selama bekerja di sini, baik selama berstatus merantau, lalu membuat rumah di sini dan resmi menjadi orang sini, entah sudah berapa kali saja aku kehilangan teman-teman baik. Karena di sini, bisa dibilang delapan puluh persennya ialah orang perantauan.


"Jangan lupakan aku, ya!" katanya seraya memelukku sebelum memasuki mobil. "Awas kalau aku WA, tapi nggak dibales! Pokoknya nggak boleh sombong."


"Iya," sahutku.


"Ih! Mbak ini!" ujar Isti seraya memukul lenganku.


"Apa sih?" protesku.


"Orang aku sedih banget, udah mau ngangis, eh ... Sampean datar-datar aja," katanya balas protes.


Aku hanya tertawa. Memangnya harus bagaimana lagi kalau sudah dari sononya susah nangis? Apalagi ditambah dengan ekspresi wajahku yang datar seperti aspal. Bahkan jalan beraspal pun masih ada belokan, bergelombang dan berlubang.


"Dan jangan lupa pesanku ya, Mbak?" katanya dengan tatapan sarat arti.


"Apa?"


Isti mendekatkan wajahnya ke telingaku. "Apapun yang terjadi, jangan sampai seperti Thea'! Ja-ngan sam-pai!"


"Nggak," sahutku santai. Padahal, hatiku tak mungkin sesantai itu.


Setelah cukup cuap-cuap perpisahannya, dia pun menaiki mobil dan melambai-lambaikan tangannya melalui jendela mobil.


Bye-bye, Isti! Jadilah pasangan yang berbahagia. Semoga seperti halnya Marisa, kalian akan menjadi pasangan hebat yang saling mencintai dan mendukung. Amin.


Saat aku kembali ke kamar, seketika aku merasakan kesunyian yang menyergap. Rasa kehilangan itu baru benar-benar terasa ketika orangnya benar-benar sudah tidak ada. Dan di kamar ini, kami kerap berantem hanya gara-gara jumlah cabai yang akan digunakan untuk menyayur. Dia suka pedas, sedangkan aku tidak. Aku suka manis, dia tidak begitu suka. Namun, ujung-ujungnya kami tetap makan bersama meskipun sebelumnya berdebat sengit. Pertemananku dengannya memang cuma sebatas itu, tapi paling tidak kami bisa saling memahami dengan cara masing-masing.


Ah, sudahlah. Yang namanya hidup, pasti ada datang dan pergi. Karena inilah resiko hidup di daerah yang dijadikan tempat perantauan, yang orang-orangnya selalu datang dan pergi silih berganti. Namun paling tidak, bukan hanya pertemanan yang berkualitas yang aku dapatkan, tapi juga pelajaran dari kehidupan pribadinya yang bisa aku raup.


Dan, yah ... memang sudahlah. Yang pergi, biarlah pergi, pasti akan tetap ada pengganti yang barangkali seperti sosoknya yang bereinkarnasi. Karena dengan begitu, ingatan akan teman lama akan tetap bertahan karena sifatnya ada mirip-mirip sedikit dengan teman baru. Baik dari cara makan, bicara, bercanda maupun marahnya.


"Mbaaakkk."


"Apalagi kamu, Win?" tanyaku pada Winda yang kembali merajuk dengan mata berkaca-kaca.

__ADS_1


"Aku pengen nangis lho," akunya.


"Lha, kenapa? Kalau mau nangis ya nangis aja," kataku.


"Beberapa hari ini aku dikatain terus sama temen-temen cowok," akunya.


"Mereka ngatain kamu apa?" tanyaku seraya melirik ke arah gerombolan rekan-rekan kerja lelaki yang sedang mengobrol.


"Belakangan ini maag-ku kumat, jadinya sering mual dan muntah. Tapi mereka bilang kalau aku hamil," katanya sambil sesekali menghapus air matanya yang menetes.


"Apa iya?" kataku yang tak urung terkejut dengan perkataannya. "Atas dasar apa mereka ngatain kamu begitu?"


"Nggak tau, Mbak. Aku ngerasa harga diriku sebagai wanita kotor banget, Mbak," katanya sesenggukan. Karena tak tahan dan takut menjadi pusat perhatian, dia pun berpamitan ke kamar mandi dan aku pura-pura saja tak mengetahui apa-apa.


"Eh, Wulan!" usik Rian, salah seorang rekan kerja lelaki di tempat kerjaku yang datang menghampiriku.


"Apa?" tanyaku.


"Mau ke mana tuh si Winda?" tanyanya seraya menunjuk tirai di mana Winda tadi pergi.


"Ke toilet kali," kataku.


"Taruhan apa?" aku balik bertanya.


"Menurutmu, si Winda itu hamil apa nggak?"


Aku mengerutkan keningku entah sampai berapa kerutan sehingga membuatku tampak lebih tua limapuluh tahun.


"Kok gitu?" sungutku tak suka. Mengecualikan Winda itu teman baik yang belum pernah sekalipun menyakitiku, yang bahkan sering mengajakku bareng saat berangkat dan pulang kerja, aku ini juga seorang gadis. Dia ngomong begitu mikir dulu nggak sih!


"Ya, pokoknya hamil duluan apa nggak? Kalau aku sih yakin iya. Kita liat aja nanti. Sebentar lagi dia kan nikah, kalau sebelum sembilan bulan dia udah lahiran, pasti hamil duluan," katanya melanjutkan.


"Kamu tu tau apa!" tudingku sengit. Kemudian segera berlalu dari hadapannya.


"Kita liat saja nanti!" serunya di belakangku.


Aku tak lagi mempedulikannya. Aku cepat-cepat berjalan menuju meja tally guna mencari bahan obrolan lain ketimbang semakin emosi. Memang sepertinya dia nggak mikir dulu sebelum ngomong. Eh, salah! Jangankan mikir, gimana mau mikir orang otaknya saja udah nggak ada!


Kok ya bisa-bisanya dia bicara begitu, sedangkan dia sendiri memiliki kekasih. Yang entah dia dan kekasihnya itu mau ngapain aja ya suka-suka mereka. Apa pernah si Winda kepo dan ikut campur? Setahuku, selama aku berteman dengannya, tak pernah sekalipun dia membahas masalah pribadi teman-teman lain.

__ADS_1


"Lagi ngomong apaan?" kataku memasang wajah sok semringah begitu tiba di sana. "Ikutan dong! Ikutan!"


Tidak ada yang menjawab. Aku pun tidak lagi sibuk bertanya dan memilih memperhatikan pembicaraan yang tampaknya serius itu.


"Iya. Pokoknya, kalau dia kebukti hamil duluan, ih ... amit-amit! Kecewa banget aku sama dia! Pokoknya udah nggak ada istimewanya-lah dia di mataku," ujar salah seorang rekan wanita dengan nada berapi-api.


Alamak!


Aku langsung nyungsep di bawah meja tally sambil pura-pura mengambil penaku yang terjatuh. Aku sedih dan juga ingin marah. Tidak tahukah mereka kalau saat ini si Winda sedang menangis tersedu-sedu di kamar mandi karena omongan mereka? Kalau tahu, akankah mereka mau berhenti dan sudi meminta maaf? Memang apa pula urusannya dengan mereka? Kalau pun si Winda memang benar hamil duluan, apa juga urusannya? Bukankah surga dan neraka juga menjadi urusan yang masih serba misteri? Kalau pun iya, tapi keduanya mau mempertanggung jawabkan perbuatannya, bukankah itu yang terpenting?


"Mbak, pulangnya bareng aku aja," kata Mbak Nike saat kami menata baju kerja. "Winda ijin pulang. Sakit katanya."


"Oh ya. Aku sudah tahu kok," kataku.


"Bareng aku aja, Mbak," kata Wanti menawarkan. "Aku ada penting di Pendowo, jadi biar sekalian aja. Daripada Mbak Nike puter balik lagi, kan?"


"Oh ya, udah. Mbak bareng Wanti aja kalau gitu," kata Mbak Nike menanggapi.


"Bolehlah," sambutku menyetujui.


"Ti, kamu sedih nggak sih ngeliat Winda digituin sama teman-teman?" tanyaku saat kami dalam perjalanan pulang kerja.


"Sedih, Mbak. Sediihhh banget," jawab Wanti. "Apalagi aku ini cewek juga, Mbak. Belum lagi cowok-cowoknya itu, Mbak! Ampun! Mereka bahkan tak segan lho ngatain langsung di depan si Winda. Negur langsung! Apa nggak sakit coba?"


Aku diam. Ya, pasti sakitlah. Sampai-sampai mau menjawab begitu saja mulutku sudah tak bisa. Tak kuasa. Selain itu, selain rekan-rekan lelaki, ada juga rekan wanita yang turut menggunjingnya. Padahal, dia memiliki seorang putri yang masih kecil, yang suatu saat pasti akan tumbuh menjadi gadis cantik. Mengecualikan itu, yang tak perlu jauh-jauh membahas masalah karma segala, para orangtua pun masih dikhawatirkan dengan pergaulan yang semakin bebas dan menantang pada masa depan. Sungguh pekerjaan rumah yang begitu berat bagi orangtua untuk dijalankan ketimbang mengurusi anak gadis orang, bukan?


"Kayaknya Winda nggak bakalan sampai nunggu THR deh, Mbak. Kalau aku lihat, kayaknya dia udah nggak sanggup," kata Wanti melanjutkan.


Dan benar saja. Malamnya Winda langsung WA aku yang mengatakan bahwa dia tidak bisa lagi menjemputku untuk berangkat kerja bersama. Dia pamit resign.


***


Kadang aku tidak habis pikir, bagaimana bisa manusia menjadikan cobaan manusia yang lainnya sebagai bahan gunjingan, bahkan bahan tertawaan. Apakah mereka tidak takut akan adanya karma? Apakah mereka sengaja menunggu sampai tangan Tuhan sendiri yang memberi tamparan hingga mulut benar-benar terdiam?


***


Itulah status WA-ku untuk orang-orang yang sudah menghina Winda sampai akhirnya dia memilih resign meskipun sebenarnya belum ingin. Akibat statusku itu, suasana kerja menjadi agak sedikit suram. Terutama bagi orang-orang yang jelas-jelas pro dan kontra. Biasanya aku berada pada lingkar netral atau golput, tapi kali ini tidak. Hatiku tidak bisa lagi berada pada lingkaran aman yang satu itu.


Maaf ya, Win, aku tidak bisa melindungimu sebagai teman. Apapun yang terjadi padamu, kamu akan tetap menjadi teman yang baik bagiku.

__ADS_1


__ADS_2