
AKU DAN QARIM. 01
Jin bernama qarim itu mempunyai pandangan dan pemikiran yang lebih dari bangsanya dan dari jenisnya, makanya kalo ngobrol itu mengasyikkan kayak ngobrol di warung kopi....
"eh , kalo purwodadi itu ulamanya seperti apa?" tanyaku lagi memancing opini dirinya...
"ulama di purwodadi itu dapat dikatakan ulama yang gagal, disini masyarakatnya juga sama kadang hal yang sifatnya kurang baik malah dijadikan panutan dan yang baik malah ditinggalkan, istilahnya kalo disini apa ???...ehm...islam abangan !!!" katanya lagi....
"ulama kok ngajari nyanyi nyanyi, dan masyarakatnya ikut joget joget dan luncat loncat yah itu bukan syiar namanya, masak nyanyi nyanyi itu, coba njenengan lihat, apakah pas hal itu, ulama kok pakai pengawal segala, sekarang saya tanya ke njenengan dimana letak nilai ikhlasnya? disitulah makanya saya katakan ulaman di sini ulama gagal, karena masyarakat tidak tersenuh hatinya" katanya lagi....
"lha menurutmu bagaimana dengan keadaan sekarang ini?" tanyaku lagi...
"ulama besar disini, ulama besar disana, keduanya sama sama kyai besar, yang disini majlisnya besar, yang disana majlisnnya besar, disana santrinya banyak, disini santrinya banyak, disini kyai mobilnya banyak, yang disana mobilnya juga banyak, disini mengaku kyai besar yang disana juga kyai besar, trus saya tanya nilai ikhlasnya kepada umat itu dimana?" katanya kepadaku, maku nggak membalas menjawab tapi duduk nyimak sambil muter muter tasbihku.....
"makanya niru kyai itu kayak KYAI itu lho, selalu merasa rendah diri dan selalu merasa dirinya kotor dihadapan Allah, makanya kita contoh agar bisa menauladani nilai ikhlas itu sendiri".... terangnya padaku....
" lha kalo kamu sekarang pakai sorban ya ?" kataku padanya untuk memecah keheningan pembicaraan ....
"iya" katanya.......sejenak dia melanjutkan ceritanya "makanya saya dan bangsa kami, juga para syech yang saya ikuti kadang heran dengan ulama dan kyai jaman sekarang itu ...."
"kenapa ?" tanyaku...
__ADS_1
"banyak kyai , banyak ulama tapi nggak mempunyai nilai ikhlas..... "
namanya ngobrol ya ceritanya kemana mana nggak ada fokus pembicaraan, demikian pula fokus pembicaraan kami....
"Lha memang kamu sering mengaji di majlis ?" tanyaku...
"iya sering.." katanya kepadaku..
"eh, kata bangsa kalian waktu aku menanyakan jalur darah silsilahku itu menyambung kepada si A, kepada si B, apakah benar demikian ?" kataku menanyakan hal sanadz...
"insyaallah iya" katanya...."dan mereka tidak bohong...."
"kmaren aku kok sakit sampai panas ditubuhku menjalar panasnya sampai ke bangsa kalian, katanya panas sekali, apakah kamu kepanasan?" tanyaku menyelidik....
"lha kok nggak ada yang ngasih tau aku" tanyaku lagi...
"bagaimana mau saya kasih tau, bangsa kami kepanasan didekatmu, tubuhmu seperti tungku api, panasnya membuat kami kepanasan jika mendekatimu.." katanya kepadaku..
"lho trus kamu berlindung dari panasnya bagaimana?"...tanyaku...
"kami hanya bisa berdzikir saja" jawabnya singkat...
__ADS_1
"lha itu kemaren aku itu aku diikat dengan simpul tali iblis sehingga panas"..kataku menjelaskan..
"seharusnya njenengan bersyukur " katanya..
"lho kok bisa?" kataku mau protes saja denger statmentnya itu...
"iblis itu adalah raja dari segala raja kejahatan rajanya raja kegelapan, dia tidak akan bisa menggoda kita jika tidak mendapat ijin dari Allah" sesaat pembicaraan hening kemudian dia lanjutkan.."kita ini hanya manusia biasa, nabi saja khan digoda iblis secara langsung, itu juga atas ijin Allah tentunya, nah makanya seharusnya kita bersyukur jika pernah digoda iblis, karena iblis tidak akan menggoda jikamtidak diijinkan oleh Allah" terangnya kepadaku, terus terang aku tercengang dengan jawabn dia itu, jawaban yang sungguh diluar expectasi saya selaku manusia, ternyata semua makhluk Allah itu mempunyai kelebihan jika kita mau berfikir dan bersyukur...
sebuah musibah saja jika dicermati bisa berubah menjadi bentuk rasa syukur, itulah yangnaku suka d3ngan qarim jika ngobrol bisa kemana mana topik pembicaraan dan aku kadang memetik pelajaran dari jawabannya....
"ehm, itulah maka saya katakan kamu harus bersyukur " katanya lagi....
" ehm eh, bagaimana kabar kakek kmaren?" tanyaku penhen ganti topic pembicaraan...
"wah aku nggak pernah liat, kami ini tidak bisa melihat mereka kalau tidak diijinkan Allah , atau kalau pun bisa melihat sinarnya terang sehingga kami nggak bisa melihatnya " katanya lagi...
"ya, setahuku beliau seringnya di mekkah " katanya lagi...
"jadi yang dikatakan oleh jalaludin al qudsi itu benar adanya" tanyaku..
"iya insyaallah" katanya lagi.."saya pernah bertemu dengannya, dia lebih tua dari pada aku"
__ADS_1
"emang ngapain di mekkah?" tanyaku lagi....