
Lembayung senja menggambarkan warna jingga pada mega, melukis indahnya cakrawala saat sinar mentari hampir tenggelam dari singgasananya.
Terlihatnya kilauan cahaya dari balik hamparan udara, mengawali terjadinya sambaran petir yang menggema ke sepenjuruh arah, mendominasi derasnya hujan di sekitar pemukiman warga.
Suasana di sekitar masih terganggu oleh derasnya air hujan yang turun secara tidak terduga. Dari luar pondok, beberapa orang berlindung di bawah pohon yang tumbuh di tepian jalan setapak. Beberapa diantaranya menjadikan atap rumah warga sebagai tempat melindungi diri dari derasnya air hujan.
Dalam perjalanan menuju pemukiman warga di desa Altaraz, Nirwana mendapati derasnya air hujan yang mengguyur tubuhnya. Pemuda itu berupaya untuk memacu langkahnya lebih cepat dari biasa, disusul oleh gadis cantik keturunan Elf yang membelakanginya.
Gemercik air berbaur dengan hentakan alas sepatu yang mampu menimbulkan percikan lumpur di permukaan tanah. Hingga suatu ketika, Tiara terjelembab jatuh.
"Aw! Sakit...!!" Gadis itu merintih sekesakitan pada bagian lutut sebelah kanan. Kini ia hanya dapat bersimpuh di bawah derasnya air hujan yang mengguyur daratan.
Terlihatnya satu lengan terulur memaksa Tiara untuk mendongak. Seorang lelaki dengan kemeja putih menawarkan batuan untuk berdiri. Setelah bangkit, Nirwana meminta agar gadis tersebut melingkarkan kedua lengan pada pundaknya.
Dengan segenap kekuatan yang ada, Nirwana berupaya untuk menopang tubuh tiara dibalik punggungnya. Binar mata Tiara meredup saat dagunya bersentuhan langsung dengan bahu Nirwana.
"Seharusnya kau meninggalkanku dan memilih untuk berteduh di pondok tua itu," telunjuk Tiara mengarah pada salah satu deretan rumah warga.
Nirwana menghelakan nafas panjangnya. Manik hanzelnya melirik ke samping. "Jika seekor anjing saja bisa setia pada majikannya, maka sebagai umat manusia harus memiliki hati nurani guna menolong sesama."
Tiara tersentak. Nanar matanya meredup sesaat, membiarkan dagunya bersandar pada bahu Nirwana dalam jangka waktu yang cukup lama. Untuk yang sekian kalinya, gadis itu merasakan degupan kencang pada jantungnya setiap kali bersentuhan dengan Nirwana.
Di suatu pondok tua kediaman Tiara terasa sedikit berbeda pada saat Nirwana menginjakan kaki. Pemuda itu mengedarkan pandangannya, mengamati empat kursi dengan satu meja dibagian tengah.
Lantai kayu menimbulan suara decitan kala lelaki itu melangkah ke ruang tengah. Dirinya beransumsi bahwa apa yang dilihatnya bukanlah sebatas imajinasi. Terlebih, ia dapat merasakan hawa dingin serta jas hitam yang nampak basah.
"Semua ini terlihat nyata. Bahkan sekumpulan bangsa elf yang berteduh di luar sana..."
Nirwana mengamati jas hitamnya yang telah terlepas dari tubuhnya. Pandangan kini teralihkan keluar jendela guna mengamati derasnya hujan yang mengguyur pemukiman desa.
"Jika semua itu benar, berarti aku telah terjebak di dalam dunia pararel untuk menjalani kehidupan yang berbeda," sambungnya.
Tiara mengangguk pelan. "Itu benar. Pagi itu aku melihat adanya kilauan cahaya yang bersinar terang, dan kau terpelanting ke permukaan tanah setelah cahaya itu menghilang."
Nirwana menoleh. Dahinya mengkerut sesaat. "Jadi kau telah mengetahui semuanya tentang keanehan yang menimpa diriku?"
__ADS_1
"Benar. Bahkan aku sengaja memelukmu agar kau dapat menyadari bahwa semua yang telah kau alami bukanlah sebatas ilusi. Dan sekarang kau percaya itu."
Pemuda itu tersentak, dikejutkan oleh pengakuan dari sang gadis yang masih berdiri membelakanginya. Pemuda itu tertunduk dengan kaget membuat kepalanya berdenyut pusing. Sekian detik ia memegangi kepala, memijat sesaat sampai akhirnya jas pada genggaman meluncur turun menimpa lantai.
Suara lirih Tiara yang mengabari menjadi hal paling menyakitkan di sepanjang sejarah kehidupan Nirwana. Kini harapan tinggalah kenangan. Tiada jalan pulang menuju Indonesia, karena semuanya telah berakhir. Nirwana tidak tahu seperti apa perasaannya sekarang. Ia berandai-andai, jika saja dirinya tidak membuka buku tersebut, mungkin ia tidak akan pernah berpindah tempat dan bertemu Tiara.
"Buku itu..." Nirwana menatap hampa sepasang telapak di depan dada, dan seakan kekosongan mendominasi disetiap sudut pandang matanya. "Apakah ini yang namanya takdir kehidupan... Tidak mungkin!"
"Aku dapat melihat aura yang berbeda dari dalam tubuhmu. Dan aku sempat beransumsi bahwa kau bukanlah bangsa manusia biasa, melainkan seorang kesatria yang di turunkan oleh Dewa untuk merubah nasib dunia," ujar Tiara.
Gadis cantik bersurai emas memangku pipi pada tangan kiri dengan malas. Telunjuk kanannya mengetuk-ngetuk meja kayu dalam ritme pelan. Manik birunya sama sekali tak memperhatikan buket bunga di atas meja, melainkan sesosok lelaki yang mematung di depannya. Angin dingin sesekali masuk, meniup rambut pirang Tiara dengan lembut, tanpa merusak keanggunan tiap helaian demi helaian rambut tersebut.
Nirwana berjalan mendekat pada dinding ruangan tengah, satu sikut bertumpuh pada jendela. Saat kegelisahan kian merasuk dalam benaknya, lelaki itu lantas mengamati lamat-lamat pohon beringin dengan akar yang menjuntai keluar dari permukaan tanah.
Hamparan awan kelabu masih menyelimuti permukaan angkasa dengan derasnya air hujan yang mengguyur permukiman desa. Sepasang mata menatap jauh sebilah katana dengan sarung di bawah kaki pohon beringin yang ditopang oleh kayu hitam di kedua sisinya.
"Imperial Katana Mashurame..." Pandangan Nirwana kian terpaku pada ujung sarung hingga gagang katana.
Tiara menoleh. "Dari mana kau tahu namanya?"
"Kenapa kau memandangku seperti itu?" Pertanyaan Nirwana menampilkan rasa penasaran yang sangat kuat.
"Sebab kau mengetahui persis nama dari senjata yang telah melegenda. Sedangkan kau berasal dari dunia yang berbeda," jawab Tiara dengan adanya sedikit kerutan pada dahinya.
"Aku hanyalah seorang penulis, dan sama sekali tidak mengetahui apapun mengenai sejarah kalian. Terlebih, aku berasal dari dimensi alam yang berbeda, tentu sulit bagiku untuk memahami apa yang kau maksudkan."
Tiara mengangguk pelan. Pandangannya teralihkan keluar jendela guna mengamati rimbunnya pepohonan di sekitar desa yang diguyur oleh hujan.
"Dalam suatu sejarah di benua Atlantica telah disebutkan bahwa seorang pemimpin akan dilahirkan untuk menghapus angkara murka. Kala itu, para Dewa telah menciptakan manusia sebagai makhluk paling sempurna diantara bangsa elf, orc, dan manusia siluman. Oleh sebab itu bangsa manusia menjadi sombong dan angkuh. Setelah beberapa kerajaan dibagun di berbagai daerah, terjadilah perang pertama yang menjadi dalang perebutan wilayah," tutur Tiara.
Telunjuk Nirwana seketika tertuju pada sebilah katana yang terpampang di bawah pohon beringin tua. "Lalu apa hubungannya katana itu?"
Tiara yang tidak mengetahui sepenuhnya tentang sejarah hanya dapat menggelengkan kepala di hadapan Nirwana.
"Aku tidak dapat menjelaskannya terlalu rinci. Namun suatu saat nanti kau akan mengerti. Menurut legenda, tak ada seorang pun yang dapat menarik katana dari sarungnya, sebab sejata itu telah disegel oleh Dewa."
__ADS_1
Nirwana hanya mematung di hadapan Tiara, dan seakan sejarah itu menyiratkan suatu alur cerita yang pernah ditulisnya pada genre fantasy, dengan judul Imperial Arms.
Malam masih dingin dan damai seperti biasa di desa Altaraz--desa pemukiman elf di pegunungan Alpine yang berada di bagian utara, dan masih tergolong bertepatan dengan kawasan Amarta. Beberapa elf laki-laki berlalu lalang di jalan--ada yang baru saja kembali dari dalam hutan, serta yang hanya berpatroli di pemukiman desa. Seorang gadis elf berdiri di menara lonceng, pandangannya menatap jauh redup sinar rembulan yang berselimut hamparan awan.
Tak lama kemudian sesuatu menangkap perhatiannya. Sesuatu yang kecil dan samar, namun seakan-akan bergerak di tengah hamparan udara dan nyaris mendekati pemukiman warga. Gadis elf tersebut memicingkan mata. Kedua bola matanya membulat seketika, ia terperanjat.
*Klonteng! Klonteng! Klonteng!
Terdengarnya suara lonceng dari atas menara, seakan memaksa seluruh umat di pemukiman desa agar lekas terbangun dari tidurnya.
"Naga...! Ada naga!!"
Gadis itu segera berlari menuruni menara lonceng dan berseru lantang.
"Naga! Ada naga terbang menuju ke sini!" serunya sambil berlari di sepanjang jalan. Semua penduduk desa berhamburan keluar rumah. Beberapa elf laki-laki mengambil busur dan anak panah. Sedangkan gadis itu berlari sekuat tenaga menuju suatu pondok tua kediaman Tiara.
Sementara itu, asap samar melayang ke atas udara, memperlihatkan satu sikut yang dibalut jas hitam hitam bertumpuh pada sisi jendela. Tangan Nirwana kembali bergerakan mendekatkan satu batang rokok yang terjepit diantara dua jari.
"Aku mendengar adanya suara lonceng dari atas menara," jemari itu menyentil sisa rokok keluar jendela. Nanar cokelat Nirwana beralih pada gadis elf di sampingnya. "Aku tidak melihat adanya kobaran api yang membakar rumah warga, tetapi seseorang telah membunyikan lonceng tanda bahaya. Dasar payah!"
Daun pintu pada pondok tua terdorong masuk ke dalam. Seorang gadis elf bersurai hitam mengalihkan perhatian sepasang insan.
"Tiara! Aku melihat seekor naga menuju ke pemukiman desa!" serunya dengan nafas memburu.
Tiara terlihat sangat terkejut, dengan cekatan ia mengambil sebilah pedang dan berlari mengikuti gadis itu keluar pondok.
Puluhan warga berjalan mengikuti Tiara, membentuk suatu barisan melewati jalan setapak. Para elf laki-laki dilengkapi oleh busur, tombak, hingga pedang dan senjata lainnya.
Tiara menoleh pada gadis elf di sebelahnya. "Linda! Ajak para wanita dan anak-anak bersembunyi di banker bawah tanah!"
Gadis cantik bersurai hitam dengan rambut terkuncir ke belakang mengangguk pelan, "Baik."
Manik biru Tiara melirik ke kanan, melihat lelaki jangkung bersenjatakan pedang. "Jhon! Bawa sejumlah warga penembak menuju daratan tinggi."
Pria elf itu mengangguk. "Siap!"
__ADS_1
"Seluruh barisan penyerang, ikut aku!" seru Tiara.