NIRWANA The Legend Of Samurai

NIRWANA The Legend Of Samurai
CHAPTER 5 - Kecupan Mesrah Nirwana


__ADS_3

Pemuda itu meminta agar sekumpulan bocah meninggalkannya. Sementara Alisa berjalan mendekat. Sepatu bot berwarna cokekat yang dikenakan oleh Alisa terlihat menjejak tanah, mengikuti bebatuan kecil yang berjajar rapi di sepanjang jalan setapak. Sementara Nirwana terus mendekati pohon beringin tua.


Suatu ingatan kian terbesit dalam benaknya, sang pemuda dengan balutan kemeja putih nampak mengingat sosok gadis di sebelahnya. Entah mengapa, tapi ia teringat pada salah seorang illuslator yang bernamakan Julia Rain, sesosok gadis yang bertugas untuk menggambarkan visual Alisa secara menyeluruh di dalam novelnya. Bahkan busana hingga armor yang di kenakan oleh Alisa menyerupai disain art milik Julia.


Dalam suatu kisah pernah digambarkan bahwa Imperial Arms adalah cerita bergenrekan fantasy action, yang mana novelnya pernah dinobatkan sebagai novel bertemakan perang kolosal terbaik sepanjang masa.


Manik hanzel Nirwana menelusuri paras cantik Alisa, serta model rambut panjang bergelombang yang menyerupai visual karakter Alisa Veronica. Sementara gadis itu sama sekali tidak mengetahui bahwa Nirwana tengah memperhatikannya.


"Suatu kehormatan bagi saya bisa bertemu dengan seorang kesatria seperti Anda," satu sikut tertekuk di sebelah kanan dengan jemari yang bertumpuh pada pinggang. "Mungkin kedatangan saya cukup mengejutkan Anda."


"Tentu tidak, Alisa Veronica." Dengan spontan ucapan itu terlepas dari mulut Nirwana.


Alisa tersentak kaget. "Dari mana kau tahu nama lengkapku?"


"Tentu aku mengetahui semuanya. Termasuk kedatanganmu bersama William atas perintah dari Kapten Steven."


Ketukan sepatu Alisa tiba-tiba terhenti. Nirwana pun segera menghentikan langkah, lalu menoleh pada satu pohon tua yang menjulang tinggi di depan mata. Pandangannya kini teralihkan pada ribuan daun hijau yang memberikan kesejukan alami pada panasnya terik sinar mentari.


"Sejujurnya, aku adalah seorang penulis novel yang terseret ke dalam portal dimensi. Semua kejadian yang kualami begitu cepat sehingga aku tidak dapat menyadarinya. Kini aku telah berada di suatu alur cerita yang pernah aku ciptakan sebelumnya, dengan judul Imperial Arms."


"Aku tidak mengerti apa yang kau bicarakan, tetapi aku akan mencoba untuk memahami setiap kalimat yang kau sampaikan." Gadis itu memaksa senyum.


Nirwana menghelakan nafas. Dagunya yang sedari tadi terangkat kini perlahan turun. Manik hanzelnya kini terpaku pada katana yang terpajang di di bawah pohon beringin tua. Satu tangan terulur untuk menyentuh permukaan gagang hingga bergeser pada sarung hitam.


"Senjata ini bernamakan Imperial Mashurame. Dalam sejarah pernah digambarkan bahwa seorang samurai telah jatuh cinta kepada sosok wanita jelma'an Dewi Athena yang bernamakan Honoka." Pemuda itu sedikit mengangkat dagu, hingga pandangan matanya kian terpaku menatap rimbunnya dedaunan di atas pohon beringin tua tersebut.

__ADS_1


"Sekian lamanya Yamada yang mengabdi pada negara, beliau harus menerima penghianatan dari sang Kaisar yang beranggapan bahwa Jendral Yamada hendak meminta jatah wilayah dari jajahannya. Kaisar Kaito beransumsi bahwa Jendral Yamada akan mendirikan kerajaan baru, maka dari itu beliau memutuskan untuk meracuni Jendral Yamada di istana," sambungnya.


Alisa menoleh guna menampilkan rasa penasaran yang sangat kuat. "Lalu apa yang terjadi setelahnya?"


"Saat Yamada tersungkur di lantai istana, Kaisar menghunuskan Imperial katana Mashurame tepat di jantung Yamada. Sejak saat itu, Honoka hidup dalam ambang kehancuran, di mana ia yang mengandung anak Yamada, memutuskan untuk mengakhiri semuanya dengan menghunuskan ujung lancip katana ciptaannya di makam Yamada."


"Kisah cinta yang berujung tragis, aku turut berduka atas kematian beliau."


Nanar biru Alisa meredup sesaat. Sementara pandangan Nirwana menatap lurus ke depan, mengamati bentuk katana yang terpampang di bawah pohon beringin tua.


Nirwana membungkuk sembari mengepalkan kedua tangan di sisi paha. "Atas terciptanya suatu sejarah yang dapat dikenang sepanjang masa, serta para legenda yang sejatinya tetap abadi di alam surga... Jendral Yamada, terimalah hormat saya sebagai bentuk pengabdian pada negara, serta pengayoman untuk seluruh umat di alam semesta."


"Tuan Nirwana, aku sama sekali tidak pernah mendengar sejarah tentang Yamada dan Honoka di benua Netherland. Dari mana kau mengetahuinya?" Pertanyaan Alisa menampilkan rasa penasaran yang lekat dalam hatinya.


Alisa mengangguk pelan. "Baik, aku mengerti sekarang. Dan apakah kau berasal dari pulau Inazuma?"


"Indonesia." Lelaki itu menjawab pertanyaan Alisa dengan spontan.


"Indonesia? Di mana itu?" Alisa sontak mengeyitkan alis.


Alih-alih menjawab, Nirwana memilih untuk diam sebelum berbalik arah dalam rangka meninggalkan Alisa. Saat langkah Nirwana semakin menjauh, gadis itu tiada hentinya mengamati punggung lelaki tersebut.


Sementara di dalam pondok,Tiara masih berdiri di depan jendela guna mengamati sepasang langkah dari seorang pemuda yang baru saja beranjak pergi meninggalkan Alisa. Gadis itu menampilkan kerutan kecil pada bibirnya, seakan penuh sedih dan kecewa.


Tiara menatap sup jagung di atas meja, beberapa potongan wortel memberikan sentuhan merah pada semangkuk sup berwarnakan kuning keputihan tersebut.

__ADS_1


Daun pintu sederhana terdorong masuk ke dalam, memperlihatkan seorang pemuda yang tengah memasuki ruangan. Sementara Tiara masih berdiri dekat dinding kayu dalam balutan gaun biru tua sederhana.


"Hmmph!" Tiara berpaling muka dengan lipatan kedua tangan di depan dada. "Kenapa kau pulang? Seharusnya temani saja kawan barumu yang manis itu. Tidak usah pulang!!"


Nirwana masih sempat melihat kerutan kecil pada bibir Tiara. Dia terlihat lucu saat cemberut. Apakah Tiara cemburu padaku? Entahlah. Pikir Nirwana sambil menyungging senyum.


Manik hijau Tiara melirik Nirwana yang masih mematung di depan meja. Sementara derap langkah Tiara berhentak cukup keras ke lantai kayu.


"Aku tahu kau cemburu."


Suara itu terdengar mengusik sepasang telinga, memaksa Tiara agar menghentikan langkah. Gadis itu terdiam tanpa kata, hanya helaan nafas yang mendominasi keheningan canggung diantara mereka.


"Memangnya kenapa kalau aku cemburu?" Gadis itu berpaling muka dengan terlipatnya sepasang tangan di depan dada. Gadis itu menampilkan sedikit kerutan pada bibirnya, nanar matanya nampak berkaca-kaca di hadapan Nirwana. "Aku hanya tidak suka jika gadis itu mendekatimu."


Nirwana tertegun sesaat sebelum tersenyum. Pemuda itu mengambil inisiatif untuk mendekati Tiara, kemudian bertekuk satu lutut di hadapannya. Ia mengambil tangan kanan gadis itu, kumpulan jari mungil Tiara diangkatnya perlahan.


"Tidak ada perbincangan romantis diantara kami berdua, selain membicarakan sejarah tentang Imperial Katana Mashurame." Nirwana mendongak, tatapan sayunya memancarkan sentuhan berbeda kala ibujarinya mengusap lembut permukaan lembut punggung tangan Tiara. "Kau boleh marah padaku, bahkan jika harus membenciku, maka aku akan ihklas untuk menerimanya. Tapi tolong... Jangan sampai aku melihatmu meneteskan airmata. Aku tidak tega melihatnya."


"Lalu aku harus bagaimana..." lirih Tiara, setetes airmata berlinang membahasahi pipinya. "Kau pernah bilang kalau Alisa adalah tokoh kesayanganmu, dan sekarang kau sangat dekat dengannya. Hatiku nelangsa...."


Nirwana kembali menunduk, mendekatkan wajah pada punggung tangan Tiara, lalu mengecupnya. "Aku berjanji akan selalu ada untukmu, Tiara. Jujur, aku telah jatuh cinta padamu sejak pandangan pertama."


"Bohong..."


Setelah bangkit, Nirwana menyentuh dagu gadis itu dan menatapnya lamat-lamat paras ayunya. Suatu ketika pemuda itu mendekatkan wajah guna mencium bibir mungil Tiara.

__ADS_1


__ADS_2