
Saat sepasang insan saling bertatap muka, keduanya memancarkan aura kegelapan yang sama dalam rangka mengeluarkan kekuatan yang tersimpan dalam tubuhnya.
Akina mendorong satu lengan ke ambang udara, yang memicu keluarnya rantai-rantai baja dari dalam telapaknya. Seiring menjulurnya satu lengan di depan dada, rantai hitam Akina mengeluarkan aura ungu yang berpadu dengan aliran listrik bertegangan tinggi.
Nirwana yang tak menyadari akan adanya serangan dadakan harus menerima hantaman kuat dibagian dada. Secara otomatis pemuda itu terseret mundur untuk beberapa langkah sebelum ia mencabut bilah pipih katana dari sarungnya.
Meski hantaman itu tak melukai tubuhnya yang berselimut ornamen samurai, namun aliran listrik yang terpancar pada rantai baja sempat menghentikan aliran darahnya. Nirwana menggeram setelah mensejajarkan bilah pipih katana pada pelipis kanan matanya.
"Wanita jahanam! Kau sengaja memanfaatkan keadaan saat aku lengah demi melesatkan serangan rantaimu."
"Hmmph! Kesatria Samurai, ya? Kau bahkan terlihat lemah sebagai pewaris Imperial Mashurame yang sebenarnya," Pandangan Akina teralihkan pada sesosok pemuda dalam balutan ornamen baja yang sedari tadi tengah mempelototi Nirwana. "Mahkoto! kasih paham!!"
Terdengarnya suatu perintah yang mampu mengusik sepasang telinga memicu datangnya derap suara langkah dari sesosok lelaki yang sedari tadi tengah menanti. Mahkoto nampak beringas saat berlari dengan segenap kekuatan yang bertumpuh pada kedua kakinya. Sementara Nirwana yang menanti hanya dapat mensejajarkan bilah pipih katana pada pelipis kanan matanya.
"Kau hanyalah kesatria lemah yang sudah sepatutnya dikirim ke alam baka!" geram Mahkoto seraya mencabut pedang dari sarungnya.
"kata-kata tidak bermakna! Akan aku tunjukan kekejaman yang sebenarnya!!" sahut Nirwana dengan suara lantangnya.
Warna putih samar, buih yang dihasilkan oleh deburan pelan ombak di lautan menyapu tepian pantai. Nirwana sedikit mendongak, mengamati gemerlap cahaya bintang yang berselimut hamparan awan.
Dengan ujung lancip yang menghadap lurus ke depan, serta bilah pipih katana yang masih disejajarkan pada pelipis kanan matanya, Nirwana nampak memicingkan mata dari balik topeng iblisnya.
Mahkoto dengan beringas menjunjung tinggi bilah pipih pedangnya ke atas udara kala ia memacu langkah kakinya di tengah kelembutan pasir putih.
Lesatan ayunan pedang yang membelah udara nyaris mengenai zirah baja dibagian pundak yang masih dikenakan oleh Nirwana. Dengan cekatan pemuda itu segera memiringkan tubuh sehingga tebasan Mahkoto meleset kala itu.
Nirwana melangkah mundur sejangka dalam rangka memutarkan tubuhnya. Bilah tajam katana mengayun kencang di ambang udara dan nyaris membelah perut Mahkoto menjadi dua.
"Retak ginjal kau! Huahaha!!" Nada serak mengawali kalimat Nirwana yang diakhiri oleh tawa horor yang menggema.
Sekelebat bayangan hitam mengiringi sabetan katana dari balik hamparan udara, mengayun cepat hingga nyaris menyayat bagian perut Mahkoto.
__ADS_1
Mahkoto tersentak kaget. "Apa?!"
Seketika itu Mahkoto mengambil inisiatif guna menepis serangan Nirwana dengan pedangnya. Sepasang senjata lapis baja saling bergesekan di tengah ambang udara hingga menimbulkan percikan api kecil diantaranya.
Mahkoto terpaksa mundur beberapa langkah, sementara suasana hening kembali tercipta saat mereka saling bertatap mata.
Sosok gadis dalam balutan kimono hitam telihat menyipitkan mata sembari melipat tangan di depan dada. Dikala pandangannya kian menatap pertarungan yang ada, aura ungu pada tubuh Akina melingkupi sederetan rantai-rantai baja yang masih mengambang di sekelilingnya.
Mahkoto berdecak kala sepasang mata kian terpaku menatap Nirwana yang masih berdiri tegak di hadapannya. "Sejujurnya aku merasa iri padamu yang dapat mengeluarkan Imperial Katana Mashurame dari sarungnya, serta dapat melakukan perubahan wujud sebagai sosok Samurai Iblis layaknya Tuan Yamada. Namun sebagai pengikut setia Kisamoto Yamada, pantang bagiku untuk membiarkanmu mewarisi senjatanya!"
Dagu Akina sedikit terangkat. Kedua matanya terlihat sinis memandang Nirwana. "Itu benar. Dan sebagai salah satu dari pengguna senjata Imperial Arms, aku cukup kecewa dengan keberadaan senjata itu yang kini tengah berada di Netherland, dan bukan Inazuma."
Dengan segenap amarah yang berkecambuk dalam dada, Nirwana sontak mengacungkan telunjuknya dengan penuh kekesalan dalam hatinya.
"Jika memang kau adalah pengikut setia Kisamoto Yamada, tentunya kau tahu alasan mengapa senjata itu berada di benua Nethderland, dan bukan di pulau Inazuma!" Sontak telunjuk tangan Nirwana mengarah pada Mahkoto dan Akina yang masih berdiri di depannya. "Kecuali kalian adalah sekumpulan penipu yang senantiasa menginginkan Imperial Katana demi kepentingan pribadi semata!"
"Bedebah! Tahu apa kau tentang kami, hah?!" sahut Mahkoto dengan suara lantangnya.
"Ah?!" Nirwana tergagap kaku. Kedua bola matanya terbelalak kala itu.
"Sebagai bawahan yang senantiasa menemani beliau di medan pertempuran, tentu kami merasa terpukul akan hal itu," Akina berpaling muka pada Mahkoto yang tengah menatapnya. Lelaki itu mengangguk pelan pada Akina, hingga suatu ketika gadis tersebut kembali mengarahkan sudut pandangnya pada Nirwana.
"Sebab itulah kami rela untuk membelot pada negara dan mengambil sebagian kecil dari prajurit yang masih setia. Berbulan-bulan aku dan Mahkoto mencari keberadaan Imperial Katana Mashurame yang menjadi simpangsiur akan keberadaannya. Hingga suatu hari kami mendapati kabar bahwa ada sesosok pemuda yang dapat merubah wujudnya menjadi kesatria samurai, dan membunuh naga di suatu desa," sambung Akina.
"Dan kau telah menemukan orang tersebut," jawab Nirwana dengan nada datarnya.
Akina melangkah lambat-lambat menapaki kelembutan butiran pasir putih, sementara lengan kanannya bertekuk di depan dada dengan punggung tangan yang menopang dagu. Gadis itu berjalan mengitari sosok pemuda yang masih terlihat gagah saat mengenakan ornamen samurai berwarnakan merah. Namun Nirwana kian terpaku menatap lurus ke depan, tanpa peduli dengan derap suara langkah yang mengelilingi tubuhnya.
Bibir merah sensual mendekat pada indra pendengaran sosok pemuda tersebut. "Kau hanya memiliki dua pilihan, Nirwana. Antara menyerahkan Imperial Mashurame dan segera temui gadis manjamu di desa, atau aku binasakan dirimu sekarang juga."
"Aku tidak akan takut dengan semua ancamanmu, Akina!" Geram Nirwana.
__ADS_1
"Kau dapat menikmati masa indahmu bersama Tiara, atau melihatnya mati tanpa kepala. Tentukan pilihanmu," Akina mendengus tawa.
Tatapan Nirwana berubah menjadi hampa setelah suara itu terdengar mengusik sepasang telinga. Meski mulutnya sempat terbuka, seakan suaranya tertahan di tenggorokan. Akina mengumbar tawa setelah berbalik arah dan beranjak pergi meninggalkan Nirwana. Sementara pemuda itu masih mematung di bawah redup sinar rembulan, mengamati gerak langkah dari sosok gadis yang kini tengah meninggalkannya.
"Aku akan menyerahkan Imperial Mashurame jika temanmu dapat melukaiku hanya dalam satu kali tebasan," Nirwana hanya dapat menundukan kepala setelah jemari tangannya berhasil memasukkan bilah tajam katana pada sarungnya. "Namun jangan berharap lebih, jika ia tidak dapat melakukan apa yang telah aku harapkan."
"Aku setuju," Akina lalu mengarahkan padangannya pada Mahkoto, lelaki itu mengangguk pelan dan seakan mengerti apa yang harus ia lakukan.
Nirwana hanya dapat berdiam diri setelah mendapati Mahkoto yang mulai memacu langkah kaki di atas permukaan pasir putih.
Jemari tangan Nirwana masih terlihat menggengam rapat bagian tengah sarung katana, sementara ibujarinya memberikan sedikit dorongan hingga bagian bilah pipih baja memantulkan redup sinar bulan purnama.
Sorot mata Nirwana menatap lurus ke depan, saat Mahkoto nyaris menebaskan ketajaman pedang di arahnya. Dengan cekatan pemuda itu lekas menarik cepat bilah pipih katana yang disertai oleh ayunan kuat membelah udara.
Cairan kental berwarnakan merah melumuri sebagian dari bilah pipih katana yang mampu memisahkan logam zirah dari tubuh seorang pria. Dengan luka dibagian perut yang masih mengagah berlumuran darah, Mahkoto tanpa sengaja menjatuhkan pedangnya di hadapan Nirwana.
Dengan terlihatnya luka sayatan di bagian perut yang masih mengangah berlumuran darah, Mahkoto seakan tak mampu lagi untuk menopang tubuhnya lebih lama. Hingga pada akhirnya ia pun tesungkur bersimbah darah dan mulai menghembuskan nafas terakhirnya.
******* nafas Nirwana kian terdengar mengusik sepasang telinga kala sepasang mata menatap jasad seorang lelaki di hadapannya. Suasana hening melingkupi daerah di sekitarnya, berbaur dengan bau anyir darah yang menyebar ke sepenjuruh arah.
"Aku membunuhnya ..." Nirwana menatap hampa sepasang telapak tangannya di depan dada. Kedua lengannya mulai gemetaran tak terhingga, diikuti oleh getaran hebat pada bahunya. "Apa yang sebenarnya telah aku lakukan ... aku telah membunuhnya ... Aku seorang pembunuh! Ini mustahil!!"
"Gembala kecilku yang malang ... kau hanya perlu membiasakan diri untuk menghadapi pahitnya kehidupan, dan bukan menyesali apa yang telah kau perbuatkan," Jemari lentik Akina berupaya untuk menutupi bibir merahnya kala ia mendengus tawa.
"Tapi aku bukan pembunuh!!" Seru Nirwana dengan suara lantangnya.
"Jika kau bukan seorang pembunuh, lantas bagaimana dengan semua mayat itu?" Akina mengacungkan telunjuknya pada sekumpulan jasad manusia yang tergeletak bersimbah darah. "Apa yang membuat matamu buta sehingga mampu untuk merenggut nyawa sebanyak itu, hmm?"
Nuasa hening kembali tercipta kala suara itu mengusik sepasang telinga. Nirwana yang sedari tadi menatap hampa pemandangan tragis di depan mata, seakan menyulitkannya untuk terus melangkah. Lelaki itu kini bertekuk lutut dengan penyesalan dalam lubuk hatinya, mengangkat sepasang tangan hanya untuk mencekram rambut pada sisi kepala. Ia tertunduk dengan sedikit gelengan kala itu.
"Tolong hentikan semua semua ini! Aku bukan pembunuh!!"
__ADS_1