
Nirwana merangkak diantara hamparan pasir putih dengan sisa kekuatan yang ia miliki. Sebelah tangan terulur ke depan hingga jemari berhasil menyentuh sarung hitam katana. Sementara itu, Alisa menhunuskan ujung lancip pedangnya pada dada seorang pria hingga tumbang tak bernyawa.
Suatu cairan kental berwarnakan merah memaksa keluar dari tubuh Nirwana, hingga lelaki itu terpaksa untuk memuntahkannya. Terlihatnya bercak darah, menunjukan bahwa ia tengah terluka parah akibat serangan beruntun yang telah diterima. Namun pemuda itu berupaya untuk bangkit meski tubuhnya terlihat lemah tak berdaya.
Ketika Nirwana mencabut pelan bilah pipih katana dari sarungnya, pemuda itu merasakan adanya aura kegelapan yang melingkupi tubuhnya. Kendati ia menganggat gagang katana dengan ujung lancip yang menghadap ke bawah, sontak lelaki itu teringat suatu kisah yang menyayat dada.
.::Flashback::.
Kyoto-Japan.
13 Febuary 2019
"Nirwana, untuk menjadi seorang kesatria tidak dinilai dari seberapa tajam pedangnya, tidak juga dilihat dari seberapa gagahnya dirinya. Melainkan dengan ketulusan hati untuk membantu sesama, dalam rangka membela mereka yang lemah. Itulah jiwa kesatria yang sebenarnya."
Nirwana sontak mengepalkan kedua tangannya di sisi paha. Ia membungkuk guna menunjukan rasa hormatnya. "Terima kasih banyak, Yamato-sensei."
Sosok pria paruh baya dalam balutan jas hitamnya menatap jauh keluar jendela, melihat butiran air sebening kristal yang menghujani permukaan tanah.
"Aku tahu bahwa setiap manusia memiliki batasan dalam hidupnya. Namun perjuangan tetaplah ada, sebagaimananya diri kita yang dituntut untuk menjadi panutan bagi mereka."
Nirwana yang masih membelakangi pria tersebut hanya dapat mengangguk pelan. Sementara pandangan Yamato kian terpaku menatap jauh hamparan awan kelabu.
"Anda telah mengajarkan banyak hal kepada saya, sehingga diri saya semakin memahami akan makna yang tersirat dalam untaian kata," Nirwana sontak membungkukkan tubuh guna menunjukan rasa hormatnya. "Sekali lagi... Terima kasih banyak, Yamato-sensei."
.::Flashback::.
Saat Nirwana perlahan membuka sepasang mata, sepasang tangan menggenggam rapat pada pangkal katana dengan ujung lancip bilah pipih yang menghadap ke bawah.
__ADS_1
Terlihatnya hunusan ujung lancip katana ke permukaan pasir, diikuti oleh teriakan lantang yang menggema ke sepenjuruh arah.
"GRAND CHARLOTTE...!"
*Jleeb!
Hamparan awan menyelimuti keindahan redup sinar bulan purnama, menampilkan kilatan cahaya di atas samudra dengan sambaran petir yang menggemah ke sepenjuruh arah. Sementara itu, aura kegelapan kian menyelimuti bilah pipih katana, berbaur dengan lidah-lidah api yang membakar permukaan tanah.
Api hitam berpadu aura kegelapan merayap dari ujung kaki hingga kepala, membungkus tubuh seorang lelaki yang bernamakan Nirwana. Sementara dari balik punggungnya, terlihatlah bayang-bayang seorang kesatria bertubuh kekar dalam balutan ornamen baja. Sesosok pria dengan rambut panjang dikuncir ekor kuda pada belakang kepala, serta kumis tebal yang mendominasi parasnya.
Hilangnya lidah-lidah api yang membakar tubuh Nirwana, merubah jas hitam yang dikenakannya menjadi suatu ornamen samurai berwarnakan merah. Lapisan logam baja bercorak emas mengukir disetiap sudut tubuhnya dengan lambang kepala singa dibagian dada, serta rambut perak panjang terurai dengan paduan topeng tengkorak merah membungkus wajah. Sepasang tanduk menghias pada dahinya, membuat penampilan kesatria tersebut bagaikan iblis pembawa malah petaka.
Sosok gadis dalam balutan kimono yang berdiri di bawah tebing nampak mengamati disetiap perubahan pada tubuh Nirwana. Dengan sepasang lengan yang terlipat dibagian dada, gadis itu terlihat menyandarkan punggungnya pada sisi tebing yang menjulang tinggi dibalik tubuhnya.
"Aku telah menduga bahwa pemuda itu bukanlah manusia biasa, melainkan kesatria terpilih yang di takdirkan untuk mewarisi kekuatan iblis penjaga gerbang neraka." Akina menyungging senyum. Satu tangan masih terlipat di depan dada, sementara satu sikut bertekuk dengan punggung tangan Menyangga dagu.
"Siapa gadis itu sebenarnya... Kedatangannya hanya akan merusak suasana saja," ungkap Akina.
Seorang pria terlihat menjunjung tinggi bilah pipih pedangnya ke atas udara. Posisinya yang berada di belakang tubuh Alisa, berpotensi untuk menebas kepala gadis tersebut. Sementara Nirwana terlihat memacu langkah dengan seluruh kekuatan yang bertumpuh pada kedua kakinya.
"Mati kau bocah!" geram pria jangkung sembari menjunjung tinggi bilah tajam pedangnya.
Sekelebat bayangan hitam memacu kecepatan langkah saat ayunan pedang melesat kencang dari balik hamparan udara. Sosok kesatria berornamenkan samurai seketika muncul membelakangi tubuh Alisa, dalam rangka menepis ayunan pedang dengan bilah pipih katana.
"Tidak semuda itu Perguso," ucap Nirwana.
Dari sisi paha, kepalan tangan Nirwana melesat kencang ke atas udara sehingga mampu memberikan hantaman upercut pada dagu seorang pria. Lelaki itu seketika terpelanting ke pemukaan pasir putih.
__ADS_1
Nirwana sedikit mengangkat dagu, menatap jauh hamparan awan kelabu yang tak lagi menyelimuti redup sinar rembulan kala itu. Setelah menarik nafas, ia pun segera melompat ke atas udara sembari menjunjung tinggi gagang katana dengan ujung lancip menghadap ke bawah.
Sepasang kaki menjejak perut pria tersebut. Tangan kanan Nirwana menggenggam rapat gagang katana, sementara telapak kirinya berpangku pada ujung pangkal yang memberikan tekanan pada ujung lancip senjata tersebut. Cairan kental berwarnakan merah berhamburan ke atas udara seiring ketajaman ujung lancip katana yang menyayat kulit hingga menembus jantung seorang pria.
Alisa dan Nirwana melangkah mundur secara bersamaan hingga punggung mereka saling bersentuhan. Gadis itu menyipitkan mata hingga manik birunya melirik seorang pemuda yang kini nampak berdiri membelakanginya.
"Kini aku percaya bahwa kau adalah sosok yang diceritakan oleh warga desa. Dari cara bertarungmu yang sangat brutal menunjukan bahwa kau bukanlah seorang kesatria, melainkan iblis yang dilahirkan di dunia untuk menghakimi para pendosa."
"Begitu, ya?" Nirwana menghela nafas sembari mensejajarkan bilah pipih katana pada pelipis kanannya. "Anggap saja aku malaikat pencabut nyawa yang akan mengirim mereka ke alam baka."
"Tentu," Alisa menyungging senyum, sementara semilir angin menghempaskan disetiap helai rambutnya yang terurai. "Oh, ya. Aku lupa siapa namamu..."
"Nirwana Jaya Saputra."
"Nama yang indah, mengandung makna tentang surga serta kejayaan dari seorang pria," Pandangan Alisa seketika teralihkan pada sosok gadis dalam balutan kimono yang berdiri di bawah tebing batu granit. Alisa tersentak dan ia pun kembali berkata, "Gadis itu... Tidak salah lagi, ia adalah Yoshino Akina, salah satu pengguna senjata Imperial Arms."
Terdengarnya suara yang mampu mengusik sepasang telinga, membuat Nirwana guna mengalihkan pandangannya pada sosok gadis bersurai hitam, dengan balutan kimono hitam bercorak merah. Sosok itu terlihat melipat satu lengan dibagian perut, serta punggung tangan yang menopang dagu.
Nirwana tersentak kaget. "Apa?! Ke-kenapa wajah dan busana yang ia kenakan mirip sekali dengan sosok Edna, salah satu tokoh yang pernah Julia gambarkan pada novelku sebelumnya."
Alisa mengeryitkan alis. "Apa maksudmu? Siapa itu Julia dan Edna?"
Nirwana menggeleng pelan. "Entahlah. Sulit bagiku untuk menjelaskan semuanya."
Pandangan Nirwana membulat seketika disaat ia mendapati adanya lesatan belati yang nyaris menggores zirah besinya. Pemuda itu yang sedari tadi mensejajarkan bilah pipih katana pada pelipis kanannya, segera menghunuskan ujung lancip senjata tersebut ke leher korban hingga menembus tengkuk lawan.
*Sleeb!
__ADS_1
Semburan darah berhamburan di hamparan udara, menjadi titik noda yang menghias pada bilah pipih katana. Lelaki itu tanpa sengaja melepaskan genggaman pedangnya hingga senjata itu meluncur turun menimpah pasir. Sementara sepasang tangan mencekram lehernya yang berlumuran darah. Tanpa belas kasih, Nirwana menendang dada pria tersebut hingga terjungkal dan tumbang dengan luka pada lehernya.