NIRWANA The Legend Of Samurai

NIRWANA The Legend Of Samurai
CHAPTER 9 - Alisa & Pertarungan Nirwana


__ADS_3

Seorang lelaki dengan lengan kekarnya masih berupaya untuk menenggelamkan tubuh mungil Tiara dalam dekapannya. Sementara gadis bersurai hitam dalam balutan kimono masih terlihat melipat sepasang tangan di depan dada.


Saat amarah kian memuncak di dalam dada, seorang pemuda dengan balutan ornamen samurai nampak berusaha menjejakan langkah di atas permukaan pasir putih. Tanpa terduga, gadis di sebelahnya sontak melentangkan satu lengan guna menghalangi langkahnya.


"Nirwana! jangan gegabah!!" seru Alisa sembari melentangkan lengan kirinya. Sorot matanya mengamati lamat-lamat mata pisau yang nyaris menyentuh leher Tiara.


Jemari Nirwana mengumpul menjadi satu dalam kepalan yang cukup kuat. Pemuda itu menggeram sesaat. Ia berdecak pada gadis di sebelahnya. "Jangan menghalangi langkahku, Alisa!"


"Apa matamu buta?" Satu lengan mengayun ke depan dengan telunjuk yang mengarah pada satu titik penglihatan. "Jika pisau itu tidak berada di depan lehernya, mungkin aku tidak akan pernah menghalangimu untuk terus melangkah. Namun dalam situasi seperti ini kita harus tetap waspada demi keselamatan Tiara."


Sedetik Nirwana menoleh pada Alisa, sebelum pandangannya kembali teralihkan pada Mahkoto dan Akina. "Aku mengerti."


Bilah tajam mata pisau Mahkoto bergeser lebih dekat hingga nyaris menyentuh permukaan kulit lembut leher Tiara, memaksa agar gadis itu sedikit mengangkat dagu. Sementara Nirwana dibuat terbelalak olehnya, pemuda itu sontak meraih udara dengan penuh kecemasan dalam benaknya.


"Hentikan! Tolong jangan sakiti Tiara."


"Kenapa kau peduli padanya, sedangkan bangsa elf dan siluman yang tercipta hanyalah sebagai pemuas hawa nafsu manusia semata, hah?! Hahaha!"


Nirwana berdecak dengan segumpal amarah yang membakar lubuk hatinya. "Manusia sampah adalah mereka yang dibutakan oleh hawa nafsunya. Dan sejatinya bangsa elf tercipta bukanlah sebagai budak yang hina, sehingga dapat kau pandang dengan sebelah mata!"


"Cuih!" Mahkoto meludah sebelum mendengus tawa. "Dasar munafik, hahaha! Bahkan kau adalah satu diantara mereka yang telah memanfaatkan kemolekan tubuh elf sebagai pemuas hawa nafsu."


Nirwana tersentak kaget. Seketika acungan bilah pipih katana perlahan turun seiring pemuda itu menundukan kepala. "Aku..."


"Jadi, kau berpura-pura mencintaiku hanya untuk kepuasan hawa nafsu sesaat?" Sahut Tiara. Gadis itu sempat menggelengkan kepala sebelum airmatanya jatuh membasahi pipi. "Kau jahat Nirwana... Aku kira kau tidak seperti bangsa manusia pada umumnya. Ternyata aku salah dalam menilaimu."


"Tiara, aku dapat menjelaskan semuanya," ucap Nirwana seraya menggapai udara.


Tiara sontak berpaling muka, seakan ia dirundung perasaan kecewa. Tiada untaian kata yang terucap pada bibir manisnya,sehingga ia lebih memilih untuk menundukan kepala dan menyesali adanya pertemuan antara dirinya dan Nirwana.


Dalam diam Tiara merintih, menangis dalam pedih. Kini ia hanya dapat menundukan kepala dengan tatapan hampa, dan seakan impiannya untuk menjadi pendamping Nirwana hanyalah sebatas mimpi yang tak kunjung sirna.


Butiran air sebening kristal berjatuhan membasahi pipi, menandakan kepiluan dalam lubuk hati yang sekian lamanya tak dapat terobati. Tiara adalah sosok gadis elf remaja yang sangat manja, sungguh rentah baginya bila harus mendapati luka batin yang amat menyiksa.


"Aku tahu di mana letak kekuranganku, dan aku sadar akan arti dalam kehidupanku. Kau boleh membenciku, memarahiku, hingga pergi untuk meninggalkanku dan beranggapan bahwa kita tak pernah bertemu," Nirwana yang sedari tadi menundukan kepala, kini perlahan mengangkat dagu hingga pandangan mereka saling bertemu. "Namun satu hal yang perlu kau tahu, Tiara. Aku sangat mencintaimu tulus dari dalam lubuk hatiku."


Tiara sempat tertegum dibuatnya. Hatinya nelangsa, seakan penuh tanda tanya akan makna yang tersirat dalam untaian kata yang penuh dengan warna.


Derap suara langkah menampilkan datangnya sesosok gadis bersurai hitam dengan tusuk konde berupa emas di atas kepala. Manik hitam Mahkoto melirik ke kanan. "Akina-san."

__ADS_1


Gadis itu seketika menghentikan langkah. Pandangannya teralihkan pada Mahkoto yang masih berdiri membelakangi Tiara. Sementara alisnya mengeryit. "Kita tidak memiliki urusan dengan bangsa elf. Lagi pula, ia hanyalah gadis desa yang tidak ada kaitannya dengan kematian sang naga, atau pun Imperial Arms."


Mahkoto sedikit mengangkat dagu. Ia mendesis."Tetapi pemuda itu kini tengah memegang katana milik Jendral Yamada. Sebagai seorang kesatria, aku lebih layak untuk mewarisi katana tersebut," sontak ujung lancip pisau Mahkoto mengarah pada Nirwana. "Dari pada lelaki itu!"


Akina mendengus tawa. "Hahaha! Jika kau merasa bahwa dirimu adalah seorang kesatria, maka buktikanlah dengan tarian pedang tanpa harus menjadikan gadis itu sebagai umpan pertarungan."


Mahkoto berdecak. "Kenapa kau selalu meremehkan kemampuanku, Akina. Jangan merasa sombong hanya karena kau juga salah satu dari pengguna senjata Imperial Arms."


"Aku hanya prihatin padamu. Tiara adalah gadis kecil yang baru saja menginjak remaja, dan kau ingin melampiaskan hasratmu padanya," Akina sontak mengalihkan pandangannya pada Alisa yang masih berdiri di samping Nirwana. "Memalukan!"


Mahkoto termenung sejenak. Dirinya berupaya untuk menjauhkan mata pisau dari leher Tiara, dan membiarkan gadis itu pergi untuk menghampiri Nirwana yang sedari tadi telah menantinya.


Terlihatnya aura kegelapan yang terpancar pada tubuh Nirwana, merubah ornamen samurai berwarnakan merah menjadi jas hitam dengan kemeja putih di bagian dalam.


Seiring Tiara menjejakkan langkah di atas permukaan pasir putih guna menghampiri sosok pemuda tersebut, Mahkoto mengangguk pelan pada Akina. Sementara gadis tersebut membalasnya dengan senyuman.


Dengan senyum tipis yang menerkah di bibir Tiara, ia pun kini menghampiri pemuda yang menantinya. Gadis itu seketika melingkarkan kedua lengannya pada tubuh Nirwana, membiarkan jemarinya sedikit bergeser pada permukaan punggung kekasihnya.


Gadis itu kini menempelkan pelipis kanannya pada dada Nirwana. "Aku takut, Nirwana... Aku takut...."


Pemuda itu sempat menghela nafas sebelum berkata, serta jemari tangan yang menyisir lembut belaian mesrah pada rambut Tiara. "Aku tidak akan membiarkanmu terluka, karena aku akan senantiasa menjagamu sepanjang masa."


"Aku tahu jika usiaku masih sangat remaja untuk menjalani kehidupan seperti apa yang telah aku impikan. Namun, setiap insan pasti berkeinginan untuk mendapatkan kebahagiaan seperti apa yang telah aku sampaikan," sambung Tiara. Sementara jemari Nirwana masih mengelus-elus belakang kepalanya dengan mesrah.


"Aku pasti akan mengabulkan keinginanmu," Pemuda itu sempat menghentikan gerak jemarinya. Hingga suatu ketika dirinya mengecup kening Tiara dan kembali berkata. "Jika seandainya portal itu menyeretku untuk kembali ke dunia asal, aku pasti akan membawamu untuk pergi bersamaku guna menjalani kehidupan baru."


Gadis itu mendongak, sementara Nirwana melukis senyum pada parasnya. "Benarkah?"


"Kau adalah calon istriku, tentu saja keinginanmu adalah perintah bagiku."


Alisa berdeham. "Ada batasan hubungan antara manusia dan elf. Kalian bisa bercinta, tetapi tidak dapat menikah. Sebab dalam aturan Amarta, bangsa manusia memiliki derajat yang lebih sempurna di mata dunia."


"Anoo... Jika seandainya aku telah menghamilinya, lalu apakah aku tidak boleh mempertanggung jawabkan perbuatanku dengan cara menikahinya?" tanya Nirwana.


"Tentu saja boleh. Kau akan mempertanggung jawabkan perlakuanmu di balik jeruji besi, karena telah dianggap telah menodai gadis tersebut. Sementara Tiara dituntut untuk melahirkan bayinya tanpa seorang ayah dari bangsa yang berbeda."


Nirwana sontak mengeryitkan alis. "Persetan dengan Amarta. Lagi pula, orang gila mana yang mendirikan aturan konyol tersebut?"


"Baginda Raja."

__ADS_1


Sementara perbincangan mereka tengah berlangsung, Mahkoto yang sedari tadi berdiam diri kini memandang hampa dengan tatapan bosan. "Apa yang membuatnya istimewa di mata kedua gadis itu, sehingga mereka sangat menyukai Nirwana... Entahlah, namun aku harus merebut Imperial Katana Mashurame dari tangannya."


"Katana itu tidak akan bisa dikeluarkan dari sarungnya jika kau bukan hak waris yang tepat. Sejatinya Imperial Arms adalah senjata khusus yang hanya dimiliki oleh orang-orang terpilih," sahut Akina mendengus tawa.


Mahkoto mengeryitkan alis. Ada kerutan dibagian dahinya. "Aku adalah anak buah Yamada, tentu aku lebih berhak untuk mendapatkan senjata itu ketimbang Nirwana!"


Jemari lentik Akina menutupi bibir merahnya. Gadis itu mendengus tawa dengan lirikan mata yang tertuju pada lelaki di sebelahnya. "Oh, gembalah kecilku yang malang... Bisakah kau membuktikan kepadaku, seberapa hebatnya dirimu saat berhadapan dengan Kesatria Samurai?"


Ada kekesalan tersembunyi kala suara itu berhasil mengusik indra pendengarannya, membuat lonjakan pada aliran darah yang mampu memicu datangnya amarah dalam tubuh Mahkoto. Lelaki itu nampak mengerutkan dahi kala sorot matanya menatap tajam sosok gadis di sebelahnya.


"Jangan meremehkan kemampuanku, Akina!"


"Hmmph! Jika aku bisa menghancurkanmu dengan kata-kata, apa sulitnya?" ucap Akina disertai senyum miris pada garis bibirnya.


Pandangan Mahkoto teralihkan pada Nirwana yang baru saja melepas kehangatan dari tubuh Tiara. Namun hening. Kedua lelaki itu hanya bisa saling menatap tanpa dapat berkata. Selama beberapa detik Alisa hanya dapat terdiam, mengamati disetiap pergerakan tangan Mahkoto yang nampak memegang pisau. Gadis itu miliki firasat buruk tentang Mahkoto yang berdahli pada Nirwana dan Tiara.


Sementara tatapan Mahkoto masih terpaku pada sepasang insan, satu lengan bergerak mendekati bahu sebelah kiri saat jemarinya masih menggenggam pisau tersebut. Alisa tersentak kaget kala lelaki itu melempar belati kecilnya ke arah Tiara.


*Whuss...!


"Tiara! Awas!!" Alisa berseru lantang sembari menggapai udara.


Belati kecil yang dilempar oleh Mahkoto memiliki ujung lancip dengan ketajaman diantara kedua sisi mata pisaunya. Belati kecil tersebut melesat kencang menembus hamparan udara dengan rotasi perputaran yang tak terhingga. Sementara Alisa tengah mengambil ancang-ancang guna mencabut ujung pangkal pedang dari sarungnya.


Alisa segera menepis lesatan pisau dengan bilah pipih pedangnya yang berujung pada benturan sepasang senjata berlapis baja.


Alisa berpaling muka, mendapati sosok Tiara yang masih berdiri membelakanginya, "Sebaiknya lekas tinggalkan tempat ini sekarang juga," Pandangan Alisa kembali teralihkan pada Mahkoto dan Akina, "Sementara aku akan menghadapi mereka."


Mendengar ucapan itu membuat Tiara tertunduk pilu dengan kecemasan dalam lubuk hatinya kala itu. "Tapi bagaimana dengan Nirwana?"


Satu tangan menepuk pelan bahu Tiara. Gadis itu menoleh, menatap sosok lelaki yang mengangguk pelan padanya.


"Aku pasti akan baik-baik saja, percayalah." Ucap Nirwana, pemuda mengumbar senyum padanya. Sementara pandangan Tiara kian berkaca-kaca, seakan firasat buruk menyertai disetiap sudut pandangnya. "Aku tidak ingin melihatmu terluka... Aku takut kau tiada...."


Jemari tangan Nirwana bergeser dari pundak ke bahu. Pemuda itu sempat menelan ludah sembari menatap jauh gemerlap cahaya bintang di atas angkasa. Hatinya nelangsa, seakan ia menyadari akan arti cinta dalam lubuk hati Tiara.


"Aku tidak dapat meninggalkan Alisa, dan memilih untuk pergi bersamamu ke desa," Nirwana perlahan menundukan kepala hingga tatapan mereka saling bertemu dalam jarak yang sama. "Tiara, aku mohon mengertilah. Cepat tinggalkan tempat ini dan jangan katakan apapun kepada warga desa mengenai pertempuran yang terjadi. Aku pasti kembali."


"kau berjanji?"

__ADS_1


"Tentu..."


__ADS_2