
Keindahan malam bertabur gemerlap cahaya bintang membawa sesosok gadis bersurai hitam melangkah di tengah kelembutan pasir putih. Mata elangnya menatap deburan ombak yang menabrak karang, serta buih putih air di lautan yang menyapu pesisir pantai.
Sesosok gadis bersurai hitam dengan konde emas di belakang kepala memiliki keindahan tubuh yang terbalut kain sutra berwarnakan hitam, dengan motif bunga mawar yang nampak kontras dengan kulit sebening susu. Paras ayu nan binar matanya yang sayu menambahkan kesempurnaan bagi dirinya sebagai seorang pengembara dari pulau Inazuma.
Aura ungu yang terpancar melingkupi tubuh Akina berbaur dengan rantai-rantai baja yang masih melayang di udara, mengikuti gerak langkah kala gadis itu berjalan mendekati Nirwana. Sementara pemuda itu masih bertekuk lutut degan penuh penyesalan dalam benaknya, meratapi kematian setiap insan yang tergores ayunan katana sebab insiden pertempuran yang tercipta.
"Seperti burung elang yang terkurung dalam sangkar, yang tidak mampu terbang untuk melihat indahnya ombak yang menabrak karang. Kau seharusnya sadar bahwa dirimu harus bangkit dari keterpurukan, dan bukan menyesali apa yang telah kau perbuatkan."
Satu lengan terbalut kain hitam mengulur pelan hingga menyentuh dagu pemuda yang masih bertekuk lutut di hadapannya. Sentuhan hangat jemari lentik Akina membuat Nirwana sedikit mendongak hingga keduanya saling bertatap mata dalam jarak yang sama.
"Apa yang sebenarnya kau inginkan dariku?" Nirwana bergumam lirih, seakan tak percaya dengan apa yang dilihatnya pada saat ini.
"Berikan Imperial Katana Mashurame padaku, maka aku berjanji untuk membuka gerbang portal agar kau dapat kembali ke dunia asalmu," ucap Akina menyungging senyum.
Nirwana terperanjat seketika. Dirinya tak menyangka bahwa Akina adalah dalang dibalik adanya kemisteriusan gerbang portal yang mampu menyeret tubuhnya ke dalam dimensi alam yang berbeda.
Nirwana berdecak. "Mustahil! Bagaimana kau dapat melakukannya?"
"Pejamkan kedua matamu jika kau ingin mengetahuinya," jawab Akina melukis senyum pada garis bibirnya.
Sorot sendu dari mata Akina kian terpaku pada lelaki tersebut. Sementara telapak mungilnya menopang punggung tangan Nirwana yang masih bersentuhan dengan kelembutan pasir pantai. Entah apa yang merasuki pikiran Nirwana, pemuda itu hanya dapat terdiam pasrah saat gadis itu mendekatkan wajah untuk melantunkan suatu ciuman mesrah kepadanya.
Pemuda itu tak dapat menghindari sentuhan hangat telapak Akina yang menyentuh mesrah pundak hingga turun ke bagian dada. Lantunan mesra bibir mereka semakin bergairah, menciptakan hawa panas bagai di alam surga kala sepasang insan saling menghangatkan tubuh dalam suatu dekapan penuh cinta.
Saat Nirwana tengah dimabukan oleh ciuman mesrah yang menjalar pada permukaan lembut leher Akina, gadis itu merabahkan telapak tangannya pada suatu benda yang tergeletak di permukaan pasir pantai. Sebuah senjata berjeniskan katana yang terbungkus sarung hitam, dengan ukiran-rumit yang terbuat dari logam emas disetiap sudut sarungnya.
Senyum indah menawan melukis warna merah pada bibir Akina. Sebelah tangannya mendorong pelan dada Nirwana, membiarkan pemuda tersebut membaringkan tubuh di atas permukaan pasir pantai. Sementara ia segera bangkit sambil membawa sebilah katana dalam sarungnya.
Gadis itu menampilkan senyuman misterius dengan satu lengan bertekuk di depan dada, serta tangan kiri yang masih menggenggam rapat sarung hitam katana.
"Akhirnya aku berhasil merebut Imperial Katana Mashurame dari tanganmu, Nirwana."
__ADS_1
Nirwana tersentak kaget. Sontak ia segera bangkit dari tidurannya sembari mengeryitkan alis di hadapan Akina. "Bajingan! Kau telah menipuku!!"
Alih-alih menjawab ucapan kasar Nirwana, gadis itu justru bersikap manja layaknya anak remaja yang diakhiri oleh dengusan tawa.
"Oh, sayangku Nirwana... pada akhirnya kau tergoda dengan kemolekan tubuhku, ya? Ehmm... kasihan sekali dirimu sayang, haha!" Pandangan Akina mengamati lamat-lamat pergerakan jemari tangannya. "Dan satu lagi, terima kasih atas belaian mesramu pada tubuh indahku. Kau sangat romantis."
"Perempuan licik!" geram Nirwana sembari mengepalkan tangannya di sisi paha.
"Lantas bagaimana jadinya jika seorang kesatria samurai tanpa katana, hmm? Apakah dirimu mampu untuk menahan serangan rantaiku lebih lama? Ataukah malah sebaliknya?" ucap Akina mendengus tawa seraya menutupi bibir dengan jemari lentiknya.
Nirwana menyungging senyum. "Aku hanya dapat berpasrah dengan kehendak dari sang maha kuasa, karena rasa sakit itu hanya akan ada dalam pikiranku saja."
"Oh," Akina memalingkan pandangannya sebelum sorot matanya kembali bertemu dengan sosok pemuda di hadapannya. "Tutur katamu sangat indah bagaikan pelangi penuh warna saat kau lantunkan dengan segenap penjiwaan yang ada. Namun sebentar lagi pahlawan kita akan menikmati siksa neraka dari rantai-rantai baja sebelum aku kirim ke ,alam baka, hahaha!"
Dengan sorot mata yang terpaku pada sosok pemuda di hadapannya, Akina sontak melentangkan kedua lengannya. Suatu mantra kian terucap melalui bibirnya, memicu datangnya aura ungu yang melingkupi seluruh bagian tubuhnya. Terciptanya rantai-rantai baja yang mengambang di hamparan udara, seakan mendominasi alam sekitar yang di penuhi oleh kekuatan supranatural dalam tubuh Akina.
Saat gadis itu mengulurkan satu lengan di depan dada, sekelebat bayangan hitam yang membentuk rantai-rantai baja segera melesat kencang dari balik hamparan udara, menabrak tubuh seorang pemuda hingga membuatnya terpelanting ke permukaan pasir putih.
Sepasang lengan terbalut kain hitam menjadi penopang tubuh, menampilkan sedikit guncangan pada bagian bahu serta mulut mengagah yang mengeluarkan cairan kental berwarnakan merah.
Nirwana mengeritkan gigi dengan sedikit adanya kerutan pada bagian dahi. "Tiada perjuangan tanpa arti selama harapan itu masih tersimpan di dalam hati. Dan aku yakin bahwa harapan kami tidak akan pernah mati meski kau goreskan luka ribuan kali."
"Simpan kalimat bijakmu di neraka," Gadis itu menjunjung tinggi satu lengan ke atas udara, menampilkan aura ungu yang memancarkan redup sinarnya kala ia menurunkan telapak di depan dada. "Meski kalimatmu telah mengingatkanku pada Jendral Yamada, kau sama sekali tidak layak untuk mewarisi Imperial Katana yang seharusnya menjadi legenda akan hancurnya dunia!"
Nirwana berdecak. "Jika seekor anjing bisa patuh pada majikannya, maka senjata itu pasti akan kembali pada pemiliknya!"
"Lumia genzio maxio gento!"
Geram lirih Akina mengawali terulurnya satu lengan di depan dada, menampilkan lesatan rantai baja yang diselimuti oleh aliran listrik disetiap batang besinya. Rantai-rantai baja berwarnakan hitam terbalut aura ungu dalam bayang-bayang ular anaconda, melesat kencang dari balik hamparan udara dengan mulut bertaring yang mengagah.
Nirwana terbelalak. Kedua bola matanya membulat seketika. "Apa?!"
__ADS_1
Nirwana hanya dapat mematung dengan menyilangkan sepasang lengan di depan wajah, sementara lesatan rantai-rantai baja Menghantam kuat dadanya, membuat sosok pemuda tersebut terpelanting jauh ke permukaan tanah.
"NIRWANA...!"
Suara itu terdengar lantang mengusik sepasang telinga, mengalihkan sudut pandang Akina hanya untuk menatap sosok gadis yang memacu langkah kaki dari balik pepohonan.
Seiring terlihatnya derap suara langkah yang menjejak tanah, semilir angin malam menghempaskan disetiap helai rambutnya kala ia berlari dengan segenap kekuatan yang bertumpuh pada kakinya.
Jubah kelabu yang menutupi bagian kepala kini tersibak ke belakang karena tiupan angin yang berhembus kencang, menampilkan wajah lancap dengan potongan rambut model undercut sebahu. Gadis tersebut bernamakan Tiara, seorang gadis remaja dari bangsa elfen.
Jemari lentik Tiara menyibak rambut undercut basicnya dibagian pelipis kiri, menampilkan satu daun telinga berbentuk lancip ras bangsa elf. Airmatanya tumpah, gadis itu menangis sejadi-jadinya kala sepasang mata diperlihatkan oleh tubuh seorang pemuda dengan penuh bercak darah dibagian perut dan dada. Kini Tiara hanya dapat bersimpuh, menyandarkan kepala Nirwana pada pangkuannya kala itu.
"Nirwana bangun! Nirwana, ayo bangun!" seru Tiara sambil mengguncangkan pundak Nirwana. Hening, tubuh lelaki itu masih lemah hingga gadis tersebut kembali meneteskan airmata. "Mengapa bisa seperti ini... Hiks! Apa yang sebenarnya terjadi padamu, Nirwana? Kau pernah bilang bahwa dirimu akan selalu ada untuk menjagaku, menjadi pelupur lara hatiku. Namun mengapa kau tinggalkan aku..."
Jemari lentik Tiara menyentuh permukaan pipi Nirwana. Airmata tiada henti berjatuhan membasahi wajah dari sosok pemuda yang tersandar pada pangkuannya. Redup sinar matanya menggambarkan kepiluan yang tercipta kala ia mengelus lembut rambut Nirwana yang masih tergeletak penuh darah pada tubuhnya.
"Setiap malam aku berdoa, memohon kepada sang maha kuasa agar kita dapat ditakdirkan untuk hidup bersama, menjadi sepasang suami-istri demi membangun keluarga untuk menempuh kehidupan penuh bahagia. Namun, mengapa takdir tidak berpihak pada kita... mengapa Nirwana yang kucinta harus tiada...." sambungnya.
Akina hanya dapat termenung dalam kebisuan sang malam yang mencekam, menatap hampa isak tangis dan airmata. Dirinya kini hanya dapat menundukan kepala, seakan menyesali segala bentuk kejadian yang ada.
Tiara hanya dapat menggelengkan kepala saat kedua tangannya mendekap kepala Nirwana di depan dada. Gadis itu menangis sejadi-jadinya, beranggapan bahwa kekasih yang ia cinta telah pergi untuk selamanya.
"Mengapa kau menangisinya? Bahkan tak mengenal siapa dia yang sebenarnya." Akina bergumam lirih, suaranya terbawa desau angin di malam hari.
Tiara menoleh, menampilkan redup sinar matanya yang dipenuhi oleh butiran airmata. "Saat kehampaan merasuk ke dalam renung hatiku, Nirwana adalah tempat bagiku untuk menyandarkan bahu. Saat airmata berlinang membasahi pipiku, hanya Nirwana yang dapat mengobati lara hatiku. Namun mengapa senyuman itu seakan sirna dari sudut pandang mataku... Mengapa ia pergi dari lubuk hatiku, disaat aku merindukan kasih sayangnya sebagai pendamping hidupku...."
Akina tersentak mendengar jeritan suara hati Tiara. Namun gadis itu hanya dapat berpaling muka, termenung dalam lamunannya. Sementara Tiara masih berlarut-larut dengan kepedihannya, berupaya untuk menggoyahkan bahu Nirwana dan berharap agar pemuda itu dapat membuka mata untuk yang terakhir kalinya.
Akina berjalan menghampiri Tiara yang masih bersimpuh menopang kepala Nirwana pada pangkuannya. Sementara dari arah yang berlawanan, puluhan prajurit Amarta tergopoh-gopoh mendatangi Tiara. Namun suasana hening kembali tercipta saat William menjunjung tinggi telapak kirinya ke atas udara.
"Berhenti!" Suara lantang William berhasil menghentikan laju langkah barisan prajurit altileri. Sementara sorot matanya terpaku menatap gerak langkah gadis di hadapannya.
__ADS_1
"Tidak salah lagi! dia pasti Yoshino Akina, salah satu pengguna set Imperial Arms berjeniskan rantai, pengikut setia Kisamoto Yamada yang namanya telah menjadi legenda atas penjajahan disetiap negara. Aku tidak menyangka bisa bertemu dengannya secara langsung. Wanita itu cukup berbahaya, aku harus berhati-hati padanya."