
Tiara mengelus-elus pemukaan pipi Nirwana, membiarkan jemari lentiknya membasuh butiran airmata yang terus berjatuhan membasahi paras tampan kekasihnya.
"Aku tahu bahwa kau bukanlah seorang kesatria yang mampu melindungi suatu negara dari ancaman penjajah. Aku tahu bahwa sejatinya dirimu hanyalah seorang pemuda yang terlempar dari dimensi alam yang berbeda... namun, kedatanganmu seakan telah memberi warna bagi kami yang membutuhkannya," Jemari mungil Tiara menyibak poni yang menutupi dahi Nirwana, membiarkan desau angin menerpah wajahnya. "Nirwana, mengapa harus ada kata berpisah jika Tuhan telah mempertemukan kita... aku mohon buka matamu, Nirwana. Aku mohon jangan tinggalkan aku...."
Jeritan suara hati Tiara berhasil menyentak perasaan Akina, memaksa gadis itu untuk berpaling muka guna menatap warna jingga pada mega saat pagi mulai menyapa. Gadis itu hanya dapat berkaca-kaca dalam lamunannya, mengingat kembali kisah lama yang tak kunjung sirna dalam benaknya.
.::Flashback::.
Inazuma - Hutan Mizukage.
Mizukage adalah hutan yang menjadi batas wilayah kekaisaran Kaizen dengan kerajaan Kansai. Suatu daerah terlarang yang mencakup 30% dari pulau Inazuma. Suatu hutan larangan yang memilki ratusan hingga ribuan pohon beringin dan tanaman rimbah lainnya, serta beberapa monster alam liar yang cukup mengerikan.
Beberapa dari pohon yang menyerupai beringin tua memiliki akar besar yang muncul keluar permukaan tanah, serta menjalar ke area sekelilingnya. Sebagian melilit batang pepohonan lain dan batu-batu besar.
Cahaya terang bola api mentari seakan tak mampu menembus kerindangan pada alam di sekitarnya, hingga tak heran jika kawasan tersebut memiliki suhu yang cukup dingin dan lembab, dan berkabut tipis.
Seorang lelaki bersurai hitam dengan kain merah yang menjadi ikat rambut di atas kepala, nampak termenung di bawah pohon beringin tua. Pria tersebut menyandarkan bahunya, menatap sebilah katana yang masih tertutup oleh sarungnya.
Warna merah kusam pada longdress yang dikenakan oleh Yoshino Akina telah robek dibagian pundaknya. Gadis kecil itu berdiri di samping Kisamoto Yamada guna menyandarkan bahunya. Ia melamun, seakan membayangkan sesuatu yang membelenggu.
Manik hanzel Yamada melirik pada sosok gadis kecil yang bermanja pada bahunya. "Akina-chan, apa yang sebenarnya kau lamunkan?"
"Perpisahan... semenjak desa kami tidak dapat membayar upeti yang telah dianjurkan oleh kerajaan, banyak diantara warga desa yang ditangkap dan disiksa. Sementara rumah-rumah warga dibakar oleh mereka."
Yamada menghela nafas. "Aku menyaksikan kobaran api yang membara hingga mampu membakar rumah-rumah warga. Namun aku tidak dapat berbuat lebih, karena diriku baru saja mendapati musibah."
"Sejak saat itu kami telah kehilangan segalanya. Bahkan..." Akina tertunduk pilu hingga airmatanya menetes jatuh. "Ayah dan Ibuku telah menjadi korban atas pembantaian yang ada. Seandainya aku tidak bertemu dengan Tuan Yamada, mungkin aku juga akan dibunuh oleh mereka... hiks!"
__ADS_1
Satu lengan Yamada melingkar di belakang tengkuk Akina, hingga telapaknya menyentuh bahu gadis tersebut. Pemuda itu dapat merasakan kepiluan yang mendominasi perasaan Akina kala itu.
"Terkadang aku berpikir untuk berlari dari kenyataan pahit dalam kehidupan ini. Namun setelah kurenungi, lebih baik aku berdiri untuk berteman sepi dan menghadapi segala cobaan yang terus menghalangi." Yamada bergumam lirih dengan pandangan lurus ke depan, sementara jemari tangannya mengelus pelan bahu gadis kecil di sebelahnya.
.::Flashback::.
Jemari tangan Nirwana menampilkan sedikit pergerakan di hadapan Tiara. Pemuda itu perlahan membuka sepasang mata, menatap sesosok gadis yang tengah bersimpuh dengan kedua paha yang masih menopang kepalanya.
Nirwana memaksa senyum dibalik redup sinar matanya. Mengamati lamat-lamat kepedihan yang terpancar pada paras ayu Tiara, serta airmata yang mendominasi permukaan pipi gadis tersebut.
"Mengapa kau menangis, hmm? Apa yang membuatmu meneteskan airmata, Tiara?"
Tiara mengeritkan gigi, menahan laju airmata yang tiada henti membanjiri permukaan pipi. "Aku menangisimu... hiks! Aku takut kehilanganmu, Nirwana. Aku takut...."
Dengan segenap kekuatan yang tersisa, pemuda itu berupaya untuk mengangkat satu lengan ke udara, hingga jemari tangannya menyentuh permukaan pipi Tiara yang masih berlinang airmata.
Segelintir prajurit berbondong-bondong mendatangi Tiara dalam rangka membantu Nirwana agar lekas bangkit. Sementara William kian terpaku menatap gerak langkah Akina yang tengah menghampiri mereka.
Rantai-rantai baja masih dapat menampilkan suatu pergerakannya di ambang udara kala gadis itu terus melangkah, dinaungi oleh aura ungu yang mendominasi tubuhnya. Saat ia menghentikan langkah, gadis itu sedikit menundukan kepala dengan lengan kiri bertekuk di depan dada. Tatapan sayunya teralihkan pada motif bunga sakura dan naga emas yang menjadi simbol pada sarung hitam Imperial Katana Mashurame.
"Seseorang akan terlihat hina jika ia tidak lagi berguna bagi mereka yang membutuhkannya. Dan sampah, akan senantiasa dibuang oleh pemiliknya bila sudah tidak berguna lagi bagi Tuan yang menaunginya."
Imperial Katana sempat berputar di ambang udara setelah Akina berhasil melemparkannya ke arah Nirwana. Kini senjata itu tergeletak tepat di hadapan sosok pemuda yang masih melingkarkan satu lengan pada tengkuk gadis di sebelahnya.
"Jika gerbang neraka telah berada di depan mata, maka kekasihmu yang akan menjadi tumbalnya!" sambung Akina mendengus tawa.
Pemuda itu tanpa menghiraukan ucapan Akina lantas mengambil sebilah katana yang masih tergeletak di permukaan tanah. ******* nafasnya terdengar mengusik sepasang telinga, berbaur dengan deru angin yang mampu menghempaskan disetiap helai rambutnya.
__ADS_1
Saat Nirwana berhasil melepas rangkulan lengan dari tengkuk Tiara, gadis itu dapat merasakan kecemasan dalam lubuk hatinya. Sementara pemuda itu masih menatapnya, seiring dengan jemari tangan kekasih yang mulai bersentuhan dengan permukaan halus pipinya.
"Pergilah bersama Tuan William ke desa Altaraz, dan jangan pernah kau kembali ke tempat ini. Apapun yang terjadi," lirih Nirwana seraya memandangi paras Tiara.
Tiara menggeleng pelan setelah mendengar ulasan kata yang tersampaikan. Sementara airmatanya mendominasi kepedihan yang menjadi awal dari perpisahan sepasang insan.
"Mengapa kau lebih memilih untuk tetap tinggal, sementara aku harus pergi bersama William... Kenapa kau tidak pernah peka bahwa aku takut kehilanganmu, Nirwana...."
Nirwana sempat mengusap-usap ibujarinya pada permukaan pipi Tiara yang dipenuhi oleh airmata. Pandangannya mulai berkaca-kaca. "Aku pergi untuk kembali. Aku berjanji untuk menjalani kehidupan bersamamu suatu saat nanti... aku mohon mengertilah, Tiara."
Meski kepedihan kerap kali melanda dada, tiada alasan bagi Nirwana untuk tetap tinggal guna menghadapi Yoshino Akina. Sementara gadis yang berdiri di hadapannya nampak nelangsa dengan butiran airmata yang kian berlinang membasahi pipinya. Kala itu, sepasang telapak tangan Nirwana berpangku pada kedua bahu Tiara hingga nuasa hening kembali melingkupi mereka.
"Jika fajar telah tiba, aku ingin melihat senyuman indah yang terukir pada bibir Nirwana," Jemari lentik Tiara menyentuh punggung tangan hingga telapak Nirwana yang masih bersentuhan dengan permukaan pipinya. Sementara airmatanya bercucuran tiada henti mendominasi kepiluan yang terjadi. "Menanti saat-saat bersama meski harus menahan isak tangis dan airmata. Aku mohon tetaplah hidup untukku, Nirwana. Aku mohon pulanglah ke desa saat fajar telah tiba."
Nirwana yang mulai berkaca-kaca seakan tak kuasa untuk menahan laju airmatanya lebih lama. Tangisan itu pun tumpah. bahunya gemetar, seiring dengan bibir yang kian bergetar. "Kau adalah separuh nafasku, cinta pertama dalam lubuk hatiku. Tiada alasan bagiku untuk meninggalkanmu, tiada surga yang terindah selain menatap paras ayumu. Aku pasti kembali untuk mengulang masa indah yang pernah kita jalani. Aku berjanji."
William menghampiri Tiara dan berkata. "Nona Tiara, biarkanlah Tuan Nirwana menyelesaikan pertarungannya. Anda harus percaya dengan Imperial Mashurame yang beliau bawa," William menoleh kesejumlah prajurit membelakanginya. "Prajurit! Kita mundur."
Nirwana hanya dapat merenungi kepergian Tiara bersama prajurit yang berjajar membelakanginginya. Sementara William menjejakan langkah, sesekali ia berpaling muka untuk menatap punggung seorang pemuda yang berdiri jauh di belakangnya. William menghelakan nafas panjangnya, lelaki itu bergumam lirih saat deru angin menghempaskan disetiap helai rambutnya.
"Berjuanglah kawan. Tuhan akan senantiasa menyertai disetiap langkahmu, amiin."
Cahaya jingga dari bara api yang membakar obor mereka mendominasi disetiap langkah, menjadi media penerangan bagi rombongan prajurit Amarta yang melintasi perbukitan menuju kawasan desa. Sementara gadis cantik yang bernamakan Tiara tiada hentinya berderai airmata, menahan kepiluan yang berkecambuk di dalam dada.
"Aku tidak pernah menyangka bahwa Nirwana lebih mementingkan pertarungan yang hanya akan merenggut nyawanya..." Tiara bergumam lirih.
"Makna dari untaian kata yang Akina sampaikan adalah kematian Anda, Nona Tiara. Oleh karena itu Tuan Nirwana menyuruh saya untuk membawa Anda kembali ke desa, sebab jika kita masih berada di sana maka petaka akan berada di pihak prajurit Amarta, juga keselamatan Anda."
__ADS_1
Gadis itu hanya dapat termenung. "Sekarang aku mengerti alasan mengapa ia menyuruh kita untuk pergi..."