
Derap suara langkah mengiringi pacuan sepatu kuda, memperlihatkan seorang gadis bersurai emas penunggang kuda yang tengah duduk pada pelana. Dalam perjalanan menuju pantai, Alisa memacu kudanya lebih cepat dari biasa, membiarkan angin malam menghempaskan disetiap helai rambutnya.
Alisa berdecak. "Misiku adalah membawa pemuda asing itu menghadap Kapten Steven, tentu saja aku bisa membiarkannya mati sebelum tugasku selesai."
Tatapan Alisa lurus ke depan dengan membawa sebilah katana pada genggaman tangan. Ada sesuatu yang ia ingat--jauh sebelum keberangkatannya meninggalkan desa.
.::Flashback::.
Alisa tengah menyandarkan kepala di tepi jendela dengan sepasang tangan yang terlipat di depan dada, menatap sekumpulan warga yang dibantu oleh beberapa prajurit Amarta untuk membangun kembali rumah-rumah yang telah hancur akibat serangan dari sang naga. Namun senyuman itu segera sirna setelah seorang bocah elf laki-laki menerobos masuk melalui pintu pondoknya.
"Kakak Alisa! Kakak Alisa!!" Seorang bocah laki-laki dalam balutan tunik hijau mengarahkan telunjuknya ke luar pondok. "Nirwana dalam bahaya! Aku melihatnya di pukuli oleh sekumpulan perampok!!"
Alisa tersentak kaget. "Apa?! Di mana kau melihatnya?"
"Di pantai amstrong, Kakak Alisa."
.::Flashback::.
Alisa mengeryitkan alis. "Apapun yang terjadi... Tidak akan aku biarkan dia mati."
Gadis itu menyentak tali kudanya untuk melaju lebih kencang saat memasuki perbukitan. Jalan setapak diapit oleh rimbunnya pepohonan di antara dua sisi.
*****
Redup sinar rembulan berselimut hamparan awan, menampilkan keheningan malam yang berpadu dengan semilir angin dingin di tepi pantai. Terlihatnya seorang lelaki dalam balutan jas hitamnya nampak tersungkur lemah di hamparan pasir putih.
Nirwana menggeram. "Ketika seorang prajurit diterjunkan di medan perang, maka tugasnya bukanlah mencari amunisi yang hilang. Melainkan bertarung hingga titik darah penghabisan! Uhuk--uhuk!!"
__ADS_1
Air liur bercampur darah menetes dari dalam mulut Nirwana, menampilkan noda merah pada pasir pantai kala deru angin kian menerpa. Dua lengan bertekuk dengan sepasang telapak yang menopang tubuh.
Nirwana bangkit dengan segenap kekuatan yang ada, melangkah maju meski langkahnya terlihat gontah. Sesaat ia menghirup udara segar, membiarkan kepalanya berdenyut pusing. Nirwana mengambil satu batang rokok dari saku jasnya. Dengan pematik korek api di tangan, rokok itu pun kini menyala pada bibir sensualnya.
Seluruh prajurit yang melihatnya mendengus tawa. Sementara seorang pemimpin masih terlihat mendekap tubuh ramping Tiara, membiarkan gadis itu merontah-rontah dalam pelukannya.
Mahkoto meninggikan dagu, senyum miris menampilkan kebengisannya kala itu. "Huh! Kau tetaplah hina seperti sampah yang dibuang oleh pemiliknya," satu telunjuk mengarah pada Nirwana. "Prajurit. Hajar dia!"
Sekumpulan lelaki memacu langkah kaki di tengah luasnya hamparan pasir putih, membentuk suatu formasi melingkar hanya untuk mengitari seorang pemuda yang kini nampak letih.
Terjatuhnya satu batang rokok yang meluncur turun mengawali lesatan tangan yang nyaris menghantam wajah. Dengan sigap pemuda itu menekuk lengan di depaan dada sembari mengayunkannya.
Suatu tangkisan nampak berhasil dilakukan oleh Nirwana. Namun seorang pria yang membelakangi segera mengangkat satu kaki guna menendang punggung terbalut jas hitam. Suatu pertarungan yang tak seimbang membuat Nirwana kualahan. Terlebih hantaman susulan mendarat pada pelipis kirinya, membuat pemuda itu semakin gontah untuk menopang tubuhnya lebih lama.
Nirwana menatap tajam sekumpulan pria yang mengerumuninya. Sementara punggung tangannya nampak mengusap bekas darah pada bibir bawah. Ia berdecak. "Kukira by one, ternyata kau datang bawa kawan."
Lelaki di sebelahnya mendengus tawa. "Ya! Untuk apa membunuhmu dengan pedang, jika menghajarmu jauh lebih memuaskan," sahutnya.
Alih-alih menjawab ucapan mereka, Nirwana justru lebih terlihat menahan senyum horornya. Pemuda itu sedikit tertunduk dengan satu telapak yang menepuk dahi. Ia terkekeh pelan, hingga dagunya sedikit terangkat.
"Begitu, rupanya? Hahaha!" Senyum miris Nirwana mengembang menjadi tawa horor yang menggema. Pandangannya seketika terpaku menatap jauh redup sinar bulan purnama. "Huahaha... Hanya manusia hina yang mampu memandangku dengan sebelah mata, huahaha!!"
"ORRRAAAA!!" Geraman serak Nirwana mengawali adanya suatu hantaman yang melesat kencang dari balik hamparan udara. Terkumpulnya energi yang bertumpuh pada kepalan tangan, menciptakan suatu pukulan yang mampu menghantam kuat leher sang lawan.
*Bruuack!!
Pria itu terjelembab jatuh. Sementara lelaki di sebelahnya tersentak kaget melihat sepasang telapak yang kini mencekram bahu. Pemuda dalam balutan jas hitam segera melesatkan tendangan satu lutut kepada pinggang pria tersebut.
__ADS_1
Saat amarah kian memuncak di dalam dada, menciptakan suatu tendangan lutut yang mampu memaksa lelaki itu mundur hingga beberapa langkah.
Sesosok lelaki yang membelakangi Nirwana berupaya untuk membantu rekannya. Namun dengan sigap Nirwana segera membalik tubuh guna melesatkan tendangan memutar.
*Bruaack!
Pria itu seketika terjelebab jatuh setelah lesatan kaki Nirwana menghantam rahangnya.
Butiran keringat dingin membasahi dahi Nirwana saat pemuda itu nampak kehabisan banyak tenaga. Nafasnya tersengal, manik hanzelnya menelisik kesejumlah arah.
Seorang prajurit melompat dengan sebelah tangan yang sedikit terangkat. Lelaki itu sontak menghantamkan pukulannya ke arah tengkuk Nirwana. Secara otomatis pemuda itu kehilangan keseimbangan tubuh dan terjungkal. Dari arah depan, seorang lelaki berkaos hitam melesatkan tinjuan upercut ke dagu Nirwana, membuat sosok itu terjelembab jatuh, dan tubuhnya menimpa pasir putih.
Senyum Nirwana tersungging kala sepasang mata menatap jauh gemerlap cahaya bintang di atas angkasa. Lelaki itu masih terbaring lemah di atas hamparan pasir putih.
"Apakah aku akan mati..." Pandangannya sedikit samar hingga kelopak matanya nyaris tertutup. "Aku hanya ingin pulang, melihat indahnya senyuman yang sekian lamanya telah menghilang, lalu bertemu dengan Ibu untuk memastikan bahwa aku baik-baik saja. Namun... Takdir berkata beda. Sepertinya aku akan mati...."
Sebilah senjata dalam bentuk katana terlempar dari balik hamparan udara setelah Alisa berhasil melemparnya.
Sosok gadis yang berjalan diantara kelembutan pasir putih menampilkan sorot mata yang tajam. Tangan kanannya menggenggam rapat ujung pangkal pedang pada pinggang kirinya. Sepasang langkah menjejak diantara kelembutan pasir putih, berjalan dalam rangka menghampiri pemuda yang nyaris mati akibat pukulan dan tentangan yang bertubi-tubi.
Nirwana menatap Alisa dari kejauhan. Rambut cokelat keemasannya panjang sebahu, di kepang setengah dibagian atas rambut. Ia membiarkan beberapa helai rambutnya membingkai wajah dibagian kiri dan kanan.
Kulit Alisa putih pucat, dan nampak mengenakan baju putih bercorak biru dibagian leher dan lengan. Sementara sepatu botnya yang hitam menutupi sebagian betis terbuat dari bahan kulit rusa. Gadis itu kini tengah mengenakan rok pendek berwarnakan biru cerah yang mendominasi penampilannya layaknya seorang cosplayer Jepang.
Nirwana sempat menelan ludah, menelusuri kemolekan tubuh Alisa dari ujung kaki hingga kepala. "Waow... In the hot....!"
Alisa adalah sosok kesatria dari negeri Amarta yang pernah digambarkan oleh Nirwana dalam suatu cerita dengan judul Imperial Arms, serta divisualkan oleh seorang illustrator yang bernamakan Julia Rain.
__ADS_1
Segerombolan prajurit tergopoh-gopoh berlarian mendatangi Alisa. Mereka--prajurit secara bersamaan mengeluarkan pedang dari sarungnya dan bertekat untuk menyerang Alisa. Sementara gadis itu menelisik ke sejumlah arah guna mengamati disetiap pergerakan lawan yang di hadapinya.