NIRWANA The Legend Of Samurai

NIRWANA The Legend Of Samurai
CHAPTER 4 - Alisa & Nirwana


__ADS_3

Wilayah Amarta utara.


Hutan Altaraz-pegunungan Alpine.


Pagi itu semua prajurit tengah sibuk berjaga di tengah kawasan hutan, sisanya berpatroli di halaman pondok. Sementara satu diantaranya berdiri di atas menara kayu.


Di suatu pondok tua, sepasang penjaga terlihat berdiri di sisi pintu ruangan tengah. Terdengarnya derap suara langkah mengiringi datangnya sepasang remaja dengan balutan ornamen baja berlambangkan phonix dibagian sisi dada.


Sebilah pedang tersandang dibagian punggung lelaki yang bernamakan William, sementara pedang panjang menggantung di sisi pinggang Alisa.


Manik biru kedua penjaga mengamati disetiap pergerakan sepasang insan yang hendak memasuki ruangan tengah, membiarkan daun pintu terdorong masuk ke dalam. Sorot mata Alisa memaksa kedua penjaga menegapkan tubuh kala ia berjalan membelakangi Kesatria di depannya.


Seorang pria paruh baya menyambut kedatangan mereka. Lelaki itu bernamakan Steven, seorang pemimpin pasukan altileri yang menjaga perbatasan wilayah di sepenanjung utara kawasan Amarta.


Rambut pendek tercukur rapi dengan kumis tipis yang menawan, menambahkan ketampanan yang tak biasa bagi seorang pemimpin pasukan. Kapten Steven terlihat mengenakan kemeja sutra hijau dengan jaket doublet, serta celana cokelat ketat hose.


Lelaki tersebut duduk bersandar pada punggung kursi, berhadapan langsung dengan dua kesatria Amarta.


"Ada keperluan apa kalian mendatangiku," manik hijau Steven melirik ke kiri dan kanan, bertepatan dengan sepasang remaja yang tengah duduk di hadapannya. "Alisa, William... Coba terangkan."


"Baik," William mengangguk pelan. "Pagi itu saya dan Alisa tengah berpatroli di bawah lereng pegunungan Alpine, lebih tepatnya di sebelah kawasan utara yang berdekatan dengan pemukiman elf. Kala itu, Saya dan Alisa tanpa sengaja telah menemukan bangkai naga dengan kepala yang terpisah dari tubuhnya. Saya meyakini bahwa temuan kami adalah suatu hal yang langkah, mengingat bahwa naga Aster sulit untuk di kalahkan."


"Lantas apa saja yang kalian temukan di sana sebagai barang bukti, jika memang naga itu dibunuh oleh bangsa elfen?" tanya Steven, sorot matanya bertatapan langsung dengan William.


"Beberapa pucuk anak panah dibagian tubuh dan mata kiri sang naga," sahut Alisa.


Sepasang sikut tertekuk di atas meja, dengan jemari tangan yang menyatu sebagai penopang dagu. Steven termenung sejenak untuk memulai membuat laporan pada istana.


"William, Alisa, pergilah ke pemukiman desa tempat elfen berada. Dan carilah informasi akurat mengenai dalang dibalik pembunuhan sang naga. Jika perlu, ajak terdakwa ke post ini, agar aku dapat menanyakan sesuatu padanya sebagai laporan pada Komandan Leona di istana."

__ADS_1


Kalimat terakhir Steven menyentak kesigapan sepasang remaja untuk segera bangkit dari kursinya. Keduanya serentak menekuk sikut kiri dengan kepalan jemari yang menyentuh dada bagian kanan.


"Siap Kapten!" ucap William dan Alisa secara bersamaan.


Satu lengan terulur mengambil sebuah bulu berwarnakan merah di atas botol tinta. Tanpa memperhatikan kedua remaja tersebut, lantas Steven mengambil selembar kertas di atas meja. "Gali semua informasi lengkap dari desa Altaraz, dan pastikan kalian kembali dengan membawa pelaku utama."


"Siap laksanakan!!"


Sepasang kesatria segera berbalik dan bergegas meningglakan ruangan. Sementara senyum tipis Steven mengantar kepergian mereka hingga daun pintu ditutup rapat oleh kedua penjaga.


"Semoga Tuhan semenyertai kalian..." Steven bergumam lirih sebelum menggoreskan tinta pada selembaran kertas putih di atas meja.


*****


The Altaraz


Derap suara langkah mengiringi pacuan sepatu kuda saat fajar kian menyapa, memperlihatkan sepasang kesatria penunggang kuda yang duduk pada pelana.


Dalam perjalanan menuju kawasan desa, Alisa memacu kudanya lebih cepat dari biasa, membiarkan angin dingin menghempaskan disetiap helai rambutnya. Sementara William memacu kudanya semakin kencang guna mengimbangi laju kecepatan dengan kuda Alisa. Keduanya saling berlomba menuju suatu pemukiman desa yang terletak di bawah kaki gunung Altaraz bagian utara.


Alisa melihat kepulan asap kelabu diantara pepohonan yang tumbuh. Hingga pada akhirnya memperlihatkan padang rumput yang luas dengan diapit oleh perbukitan di kaki pegunungan tersebut.


Pemukiman warga yang tergolong indah dengan wewangian bunga disetiap sudutnya, seakan menjadi sirna sebab adanya bau anyir yang menusuk ronggah hidung Alisa. Puluhan penduduk sekitar tergeletak bersimbah darah, dan tak sedikit diantara mereka yang meregang nyawa.


Beberapa orang bertudung putih terlihat sibuk mengobati sebagian warga yang terluka. Bahkan Alisa melihat seorang Ibu nampak merintih dalam pedih, mengusap-usap kembali punggung anaknya yang kini telah tiada.


Alisa menarik nafas setelah turun dari kursi pelana yang terdapat pada punggung kuda. Gadis itu sempat mengedarkan pandangannya ke sejumlah arah, mengamati reruntuhan rumah warga, juga puing-puing diantaranya.


Segerombolan pria-elf tergopoh-gopoh berlarian menolong seorang wanita yang terhimpit bongkahan kayu bekas reruntuhan rumah. Sedangkan William terlihat berhadapan dengan sejumlah warga guna menanyakan perihal yang terjadi di pemukiman desa.

__ADS_1


Entah apa yang tengah mereka perbincangkan, namun pandangan Alisa kini teralihkan pada sesosok pemuda yang masih mengenakan kemeja putih diantara kerumunan warga.


Desa Altaraz tergolong sederhana dengan bangunan rumah yang terbuat dari bahan kayu pinus, serta batu alam di sekitarnya. Sementara bongkahan batu kecil nampak menghias rapi di sepanjang jalan setapak, mendominasi keanggunan yang tercipta, pada bunga-bunga yang tumbuh di halaman rumah warga.


Alisa berjalan di antara penduduk yang berlalu-lalang, mencoba untuk mendekati seorang pemuda dibalik banyaknya kerumunan warga yang berbondong-bondong saling membantu sesama. Gadis cantik nan ayu mengumbar senyum saat melangkah, mencerminkan keramahan dalam jati dirinya sebagai seorang kesatria Amarta, yang abdi pada negara.


Kala itu, Alisa melihat seorang pemuda yang di yakini bukanlah bangsa elf, melainkan manusia yang tengah berjongkok di hadapan beberapa bocah. Senyum indah menawan menampilkan uluran satu lengan dengan genggaman setangkai bunga di tangan. Sementara Alisa tidak berani terlalu dekat, ia hanya mengamati perlakuan seorang pemuda dengan kemeja putih di hadapan beberapa bocah elf di sana.


"Kesatria samurai, siapa namamu?" Gadis itu terlihat mengambil setangkai mawar merah dari tangan Nirwana. "Lalu dari mana asalmu, dan kenapa ada manusia yang membantu elf?"


Jemari Nirwana perlahan menyentuh permukaan pipi gadis tersebut. Binar matanya memantulkan cahaya mentari.


"Namaku adalah Nirwana, dan tugasku adalah untuk melindungi kalian semua, hmm?"


Senyuman itu seketika mengembang pada bibirnya, menciptakan suatu sentuhan yang berbeda pada sepasang insan di sana.


Alisa menghela nafas. Kedua yang masih tangannya terbalut plat baja nampak terlipat di depan dada. Telinganya mendengarkan setiap kata, serta sorot mata yang terus mengamati bahasa tubuh Nirwana.


Bocah laki-laki—elf berlarian kecil mengelilingi tubuh Nirwana. Sementara gadis kecil di hadapannya terlihat mencium kelopak mawar merah pemberian pemuda tersebut.


"Nirwana, Nirwana... Tiara itu pacarmu, ya? Tapi aku lebih cantik dari Tiara..." Gadis kecil itu memeluk erat baju terbalut kemeja putih tersebut. "Kalau aku sudah besar nanti, aku ingin menjadi istri seorang kesatria seperti Nirwana..."


Pemuda itu hanya dapat tersenyum sembari menggaruk pelan belakang kepalanya. "Astaga, hahaha... Ada-ada saja."


Satu bocah lelaki di sebelahnya mencoba untuk memperagakan gerakan Nirwana, saat mencabut bilah tajam katana dengan sebatang ranting kayu. "Aku adalah Nirwana, seorang kesatria samurai pembasmi naga Aster dari desa Altaraz. Wahai naga! Tamatlah riwayatmu."


Nirwana mengangguk pelan. "Waaah... Kau hebat sekali, ya bisa menirukan dialogku...."


"Yaps! Karena aku adalah—" Seketika bocah laki-laki itu menghentikan ucapannya. Ia terperangah melihat adanya seorang kesatria yang nampak berdiri membelakangi tubuh Nirwana. "Lihat! Ada kesatria Amarta. Nirwana, di belakangmu."

__ADS_1


__ADS_2