
Alisa terpaksa menghentikan langkah saat satu lengan berhasil melentang di depan dada. Gadis itu menoleh, mendapati adanya sosok pemuda yang masih menggenggam rapat katana pada tangan kanannya. Manik hazel Nirwana melirik Alisa yang sedari tadi bersebelahan dengannya.
"Tahan Alisa. Kita tidak perlu gegabah untuk menghadapi bajingan seperti mereka," Pandangan Nirwana menatap lurus ke depan dengan satu tangan terlentang. "Jika memang Akina adalah tokoh Edna yang pernah aku gambarkan pada novel Imperial Arms, maka ia adalah pengguna senjata rantai neraka yang bernamakan Imperial Chains..."
Alisa tersentak kaget, secara otomatis ia menoleh. "Apa? Dari mana kau tahu semua itu?!"
Nirwana menghela nafas. Satu lengan terbalut kain hitam perlahan turun hingga menyentuh sisi paha. "Dalam alur cerita yang pernah kutulis, Edna atau yang biasa kita sebut sebagai Akina adalah pengikut setia Yamada. Dalam sejarah pernah tergambarkan bahwa Edna pernah di asuh oleh Yamada. Hingga suatu ketika, pria itu mewariskan salah satu senjata mutakhir..." Nirwana termenung sejenak. "Eh, aku tidak dapat menjelaskan semuanya. Namun berhati-hatilah saat menghadapinya."
Alisa mengeryitkan alis. "Kenapa kau tidak dapat menjelaskannya padaku, disaat kau tahu bahwa ia adalah orang yang pernah kau gambarkan dalam alur ceritamu?"
"Aku tidak dapat mengatakannya. Namun semua ini ada kaitannya dengan sahabatmu, Williams."
Alisa terperanjat. "Tidak mungkin... Kau pasti berbohong padaku. Williams sama sekali tidak mengenal gadis itu."
"Entahlah, Alisa. Aku pun tidak dpapat memastikan keaslian dari apa yang sudah aku tuliskan dalam alur cerita. Namun, kau dan gadis itu memiliki ciri fisik yang sama dengan apa yang pernah digambarkan oleh temanku," ujar Nirwana. Lelaki itu termenung sesaat hingga suasana kembali hening.
Terhempasnya dedaunan kering menimbulkan suara gemersik di malam hari. Terlihatnya sesosok gadis dengan konde emas di bekalang kepala seakan menunjukan keanggunan yang tercipta, kala ia berjalan di tengah luasnya pasir pantai.
Sesosok gadis dengan balutan kimono hitam bercorak merah nampak kontras dengan tubuh indah semampainya. Senyum miris tersungging mewakili disetiap langkah, kala sepasang kaki menjejak debur pasir putih.
Sepasang lengan terbalut kain hitam terlipat di depan dada, menampilkan adanya suatu pergerakan jemari tangannya saat Akina merapalkan suatu mantra.
"Lumia granada axio gento!"
Terlihatnya aura ungu yang menyelimuti tubuh Akina, berpadu dengan kemunculan rantai-rantai baja dari balik punggungnya. Lengan kanan terbalut kain hitam menjulur seiring melesatnya rantai hitam dari telapaknya.
Nirwana terperangah, sementara Alisa mencabut pedang dari sarungnya. Gadis itu kini berlari dengan seluruh kekuatan yang bertumpuh pada kakinya, membelokan tubuh disetiap pacuan langkah guna menghindari lesatan rantai yang nyaris menghantam bahunya.
"Kapten Steven pernah berkata bahwa lebih baik mati sebagai seorang pejuang, dari pada berdiam diri sebagai pecundang!" Geraman Alisa mengawali ada lompatan ke atas udara. Kali ini ia menjunjung tinggi bilah tajam pedangnya guna di tebaskan ke tubuh Akina, "Itulah pedoman kami untuk menjadi kesatria Amarta!!"
"Hmmph! Sayangnya kau hanyalah serangga kecil yang ditakdirkan untuk menemui ajalnya," Jemari lentik Akina bergerak seiring melesatnya rantai-rantai baja yang melambung tinggi di atas udara, "Nikmatilah kematianmu, Alisa."
__ADS_1
Di bawah redup sinar rembulan, sesosok gadis menjunjung tinggi bilah tajam pedangnya. Sementara Akina yang mengetahui serangan Alisa segera membentangkan rantainya di hamparan udara.
Bilah pipih pedang mengayun kencang, beriringan dengan terbentangnya rantai-rantai hitam yang menjadi media penghalang. Sementara percikan api kecil tak dapat terhindarkan saat kedua senjata saling beradu kekuatan.
Satu lengan Akina bertekuk di pinggang kiri, menampilkan pergerakan jemari yang memicu kemunculan rantai-rantai baja yang kian mengitari tubuh mereka tiada henti.
Sorot mata Alisa mengamati puluhan rantai hitam yang melingkupi tubuh Akina, sementara jemari tangannya masih menggenggam rapat ujung pangkal pedang, memberikan tekanan kuat pada rantai hitam yang membentang.
Seiring bergeraknya jemari lentik Akina, menimbulkan adanya pergerakan pada rantai-rantai baja yang kini tengah melilit kuat pergelangan tangan Alisa, membuat tubuh gadis itu semakin melemah sebab adanya penyerapan energi supranatural dari rantai baja.
Detak jantung Alisa kian melemah, hingga tanpa sadar dirinya kini menjatuhkan bilah pipih pedangnya ke permukaan pasir.
Senyum miris membentuk garis tengah pada bibir merah Akina saat ia mendengus tawa. "Wahai gembala kecilku yang malang... Betapa sakitnya penyiksaan yang kini tengah aku lakukan, hmm? Kenapa sayang... Sakit, ya? Hahaha!"
Alisa mengerutkan dahi. Dirinya sempat menggeram dan meludahi wajah Akina sebelum berdecak kepadanya. "Cuih! Bahkan derajatmu tidak lebih dari sampah!!"
Akina sontak membuang muka tak kala air liur tersebut menodai keningnya. Jemari lentiknya kini mengepal di bagian sisi paha guna menampilkan gejolak amarah yang menggebuh di dalam dada saat sorot matanya kembali menatap Alisa.
Rantai-rantai baja seakan memberikan suatu hantaman bagaikan cambuk neraka yang berbenturan langsung dengan punggung Alisa, sementara kedua pergelangan gadis tersebut masih terlilit rantai baja, yang membuatnya tak berdaya untuk menahan siksa'an Akina.
Gadis itu menjerit berulang kali tak kala sabetan rantai menghantam punggungnya berulang kali. Sementara tenaganya kian melemah akibat tekanan kuat dari rantai-rantai baja yang melilit pergelangan tangannya.
Alisa hanya dapat terdunduk lemah di bawah redup sinar bulan purnama, sementara goresan luka pada punggungnya berbaur dengan bercak darah yang memberikan noda pada baju putihnya.
Alisa mendesah, untuk sesaat ia mengeratkan giginya tak kala sorot matanya menatap paras cantik Akina. "Aku tidak pernah takut padamu meski kau cambukan rantai itu berulang kali pada tubuhku."
"Begitu, ya?" Akina menyungging senyum. "Sebaiknya kau nikmati saja hari terakhirmu sebelum aku antar kau ke neraka."
Seiring bergeraknya jemari lentik Akina, disertai oleh lesatan cambuk rantai yang nyaris menghantam punggung Alisa.
Seketika lesatan rantai-rantai baja segera terhenti di tengah ambang udara, kala telapak tangan dengan cekatan menggenggam rapat ujung pangkalnya. Akina terperangah melihat adanya sosok iblis bertanduk dua yang secara tiba-tiba berdiri membelakangi Alisa.
__ADS_1
"Oh, tidak semudah itu Perguso..." Terlihatnya kepalan tangan dalam balutan ornamen baja berwarnakan merah menampilkan adanya sesosok iblis bertanduk dua dengan rambut putih yang menjuntai di bagian punggungnya.
"Untuk apa kau memilih lawan yang tak sepadan, jika aku datang untuk menantangmu by one!" sambung Nirwana dengan tawa horornya.
Akina menggeram dengan terlihatnya sedikit kerutan pada dahinya. Sementara sorot matanya bertatapan langsung dengan topeng iblis berwarnakan merah yang masih menyelimuti paras tampan Nirwana.
"Hmmph! Sombong sekali kau."
"Kesombonganku adalah titik lemahmu. Dan jika marah, maka akan aku retakkan ginjalmu, huahaha! Anjay....!!" Nirwana terkekeh pelan. Tawa horornya seakan mendominasi kesunyian alam di sekitarnya.
Nirwana Jaya Saputra, atau yang lebih dikenal dengan sebutan Akina-sensei, adalah seorang konten kreator Youtube dengan nama chanel Sinyo Big Bang. Sesosok gamer Mobil Legend, sekaligus penulis handal yang namanya kian mencuat di mata pembaca setelah merilis novel bergenrekan fantasy dengan judul Imperial Arms - evolution of the ring.
"Hmmph! Mari kita buktikan, siapa yang akan tertawa paling akhir," ucap Akina seraya menyungging senyum di hadapan Nirwana.
"Aku terima tawaranmu, anak Dajjal. Namun lepaskan terlebih dahulu jeratan rantaimu dari tangan Alisa, sebab ia tidak mengerti apapun tentang urusan kita."
Rantai-rantai baja yang sedari tadi melilit pergelangan Alisa beransur-ansur sirna dari pandangan mata, sementara tubuh gadis itu segera tejelembab jatuh ke permukaan pasir putih. Di lain sisi, Tiara yang sedari tadi mematung, kini segera berlari menghampiri Alisa yang terbujur lemah tak berdaya.
"Alisa, bertahanlah..." Tiara berpangku dengan satu lutut, serta lengan kanan yang menjadi bantalan untuk menopang kepala Alisa kala gadis itu terbaring lemas. "Aku akan segera membawamu ke desa dan mengobadi semua lukamu di sana."
Alisa memaksa senyum dikala ucapan itu merasuk ke dalam indra pendengarannya. Sebelah tangannya sedikit terangkat hingga jemari kurusnya berhasil menyentuh permukaan pipi Tiara. "Aku tidak akan pernah melupakan kebaikanmu padaku... Dan aku menyesal atas keterlambatanku kala itu guna menyelamatkan warga desa dari serangan naga."
"Nona Alisa tidak bersalah akan adanya insiden yang terjadi pada desa kami. Sebab musibah itu dapat terjadi tanpa dapat kita sadari," tutur Tiara.
Tiara berupaya untuk membantu Alisa berdiri dengan cara merangkul satu lengan gadis tersebut pada tengkuknya. Dengan segenap kekuatan yang tersisa dalam tubuhnya, Alisa memaksakan diri untuk menjejakan langkah di tengah luasnya pasir pantai bersama Tiara yang kini tengah menemaninya.
Tiara sempat berpaling muka guna mengamati keberadaan Nirwana yang tengah berhadapan langsung dengan Akina. Sesosok pemuda dalam balutan ornamen samurai mengangguk pelan padanya.
Bahu Tiara sedikit berguncang saat detak jantungnya berdegup kencang. Di bawah redup sinar rembulan yang berselimut hamparan awan, gadis itu merasakan kecemasan tersembunyi dalam lubuk hatinya.
"Nirwana aku mohon jangan mati... Kau telah berjanji untuk menikahiku suatu saat nanti. Aku tidak tahu ke mana harus pergi jika kau tak kembali saat fajar kian menanti...." Tiara bergumam lirih, dengan airmata yang berlinang membasahi pipi.
__ADS_1
Pandangan mata Tiara kembali teralihkan pada jalan setapak yang menuju ke kawasan hutan yang redup akan pencahayaan dari sinar rembulan.