NIRWANA The Legend Of Samurai

NIRWANA The Legend Of Samurai
CHAPTER 6 - Tamu Tak Di Undang


__ADS_3

Nirwana memilih mendatangi Amstrong, wilayah utara desa Altaraz berupa semenanjung berbukit yang membentang ke arah samudra Atlantica. Salah satu wilayah yang memiliki keindahan pantai dengan pasir putih, serta di kelilingi oleh perbukitan luas. Kawasan Amstrong memiliki cuaca dan iklim yang sejuk dan lembab, serta jalan yang di tempuh oleh Nirwana dan Tiara diapit perbukitan yang menghijau.


Nirwana memasukan tangan kanannya ke saku celana, sementara satu sikut kiri terbalut jas hitam tertekuk dengan tangan menjepit satu batang rokok yang menempel pada bibir.


Nirwana menekuk lengan sebelah kiri saat berjalan, menatap arah jarum pada arlogi. Pandangannya beralih pada hamparan awan putih yang menyelimuti langit biru kala senja kian menanti.


Tiara mengimbangi langkah Nirwana. Gadis itu nampak memperhatian suatu benda yang melingkar pada pergelangan tangan kiri pemuda tersebut. "Nirwana, itu apa namanya?"


Pemuda itu sempat berkedip sebelum menjawab pertanyaan Tiara. "Oh, ini namanya adalah arlogi. Fungsinya adalah untuk melihat waktu."


"Maksudmu seperti jam matahari, ya?"


"Iya benar. Memangnya di desamu tidak ada yang memiliki arlogi, ya?"


"Ehmm... Tidak ada," gadis itu menggeleng pelan. "Arlogi itu apa, kami juga tidak tahu."


Benar juga. Di dalam dunia pararel, alat modern memang tidak ada. Tetapi terkadang mereka memiliki kecanggihan yang tidak dapat dijumpai di dunia nyata. Pikir Nirwana sambil melihat lurus ke depan.


Tiara berjalan lebih cepat dari biasa, mendahului seorang pemuda yang nampak mengamati kerindangan pohon di kedua sisi. Rerumputan hijau mendominasi kesejukan alam di sore hari, menampilkan kerimbunan semak belukar di tengah jalan yang mereka lalui.


Jemari lentik Tiara menyentuh dedaunan berupa batang yang menyerupai tanaman bambu air, sementara manik birunya mengamati disetiap langkah kaki seorang pemuda yang berjalan membelakangi.


"Kau akan terkejut setelah melihat ini..." Senyum indah melukis paras cantiknya, kala jemari lentik Tiara bersiap menyikap deretan bambu air yang menutupi keindahan alam di sekitarnya. "Inilah dia... Pantai Amstrong."


Nirwana melonjak kaget, bertepatan dengan langit jingga di ujung lautan yang berpadu dengan desir pasir diantara batu karang. Kepalanya menggeleng pelan dengan senyum yang sedikit mengembang.


"Wah...! Indah sekali pemandangannya," seru Nirwana mengagumi keindahan alam sekitar.


Sepasang kaki melangkah lambat saat menapaki kelembutan pasir putih di sore hari. Sepatu casualnya yang hitam mulai di tempeli butiran pasir putih. Semilir angin sore menerpa tubuhnya, sementara sorot mata Nirwana teralihkan pada Tiara yang tengah berlari kecil di tepian pantai.


Ketika memacu langkah kaki, angin musim dingin menggoyangkan rambut Tiara yang berwarnakan kuning keemasan. Gadis itu menoleh, melihat Nirwana yang mulai memasukan kedua tangan ke dalam saku celana jeans hitam.


Seraya mengagumi keindahan alam, Nirwana mengamati kemolekan tubuh ramping Tiara


dalam balutan tunik putih.


"Nirwana... Ayo kejar aku," ucap Tiara, suara itu terdengar mengusik sepasang telinga.


Pemuda itu hanya dapat menahan senyuman, hingga sorot matanya teralihkan pada mentari yang tenggelam di sisi lautan. Lembayung senja menggambarkan keindahan alam sekitar, melukis warna merah pada hamparan awan.


Sosok manis Tiara berdiri di dekat batu karang dengan senyuman indah menawan, membuat siapa saja yang melihat akan terkesima dibuatnya.


Di usianya yang masih remaja, wajar bagi Tiara untuk mendapatkan perhatian dan cinta dari orang yang dikasihinya.


Kini ia melihat pemuda itu yang tengah berjalan menghampirinya. Kebahagiaan itu mulai terjalin diantara sepasang insan saling bertatap mata. Nirwana sengaja memberikan sentuhan hangat pada permukaan pipi Tiara saat pandangan mereka saling bertemu untuk mengutarakan perasaan cinta.


"Aku semakin yakin bahwa apapun yang kualami di dunia ini bukanlah sebatas mimpi. Melainkan kebahagiaan untuk mengawali adanya cinta sejati yang tak pernah mati," Nirwana menatap Tiara penuh gairah saat gadis itu melingkarkan kedua lengan pada lehernya. "Aku sadar bahwa ada perbedaan diantara kita. Namun mencintaimu adalah kebahagiaan yang tak ternilai harganya."


Dengan senyuman yang melekat pada bibir tipisnya, serta rona merah yang terpancar pada pipi tirisnya, gadis itu berupaya untuk menjawab untaian kata yang telah di ucapkan oleh Nirwana.

__ADS_1


"Apakah Nirwana yang aku kenal akan tetap seperti ini hingga akhir nanti?"


"Apa yang membuatmu ragu adalah titik lemahmu, dan apa yang membuatmu kuat adalah keyakinan dalam hati kecilmu."


"Aku tidak pernah meragukanmu sejak awal kita bertemu. Kau selalu menunjukan sikap perhatian yang tak biasa padaku. Itulah alasan hatiku nelangsa saat kau dekat dengan Alisa," gadis itu perlahan menundukan kepala. "Aku takut kalau Nirwana akan jatuh hati padanya, dan pergi meninggalkanku untuk selamanya."


Jemari pemuda itu mengambil dagu gadis di depannya, sedikit diangkat hingga pandangan mereka kembali bertemu dalam jarak yang dekat. "Aku tidak akan pernah jatuh cinta pada Alisa, selama di hatiku masih ada Tiara. Oh, aku hampir lupa. Berapa usiamu saat ini?"


"Usiaku masih tiga belas tahun..."


"Sejatinya cinta tak mengenal usia, Tiara... Aku mencintaimu setulus hatiku, dan aku berjanji untuk menikahimu suatu saat nanti."


Tiara mengangguk pelan dengan seutas senyum yang dipenuhi oleh kebahagiaan. "Aku pasti akan menantikan kebahagiaan itu bersamamu, Nirwana. Aku juga mencintaimu."


Tiara yakin bahwa cinta itu menyala diantara keduanya, serta api asmara yang hidup diawali dari pertemuan sekejap namun rutin terjadi.


Nirwana dapat merasakan gelombang kebahagiaan yang melingkupi dirinya ketika menatap sosok elf cantik di depan mata. Sepasang insan berdiri dengan senyuman yang mampu membuatnya mabuk kepayang.


Warna putih samar buih yang dihasilkan oleh deburan pelan ombak yang menyapu tepian pantai. Tanpa bisa ditahan, lengan kekar Nirwana menarik tubuh ramping Tiara dalam suatu pelukan untuk mengalirkan kehangatan yang selalu ingin ia bagi pada sang kekasih.


Sejenak Tiara memejamkan mata, sedikit mendongakkan wajah. Suatu ciuman mesra melekat pada bibirnya. Sepasang insan sempat melantunkan bibir dengan penuh gairah, meski gadis itu tak menyadari makna dibalik hawa nafsu yang melingkupi tubuh Nirwana. Dirinya hanya mencoba untuk mengikuti tautan lembut bibir mereka.


Tanpa mereka sadari, sepasang mata bening dari sosok yang berdiri di dekat tebing batu granit memperhatikan pergerakan tangan Nirwana yang merabah punggung Tiara, serta telapak yang sedikit memberikan tekanan pada tengkuk gadis itu. Keduanya tengah mabuk kepayang dalam ciuman yang menggairahkan.


Bibir bergaris lembut milik sosok ramping tersebut membentuk senyuman tipis. "Lelaki itu... Aku harus memilikinya."


Bersebelahan dengan Akina, seorang pemuda nampak mengenakan zirah plat baja hitam, serta barisan pasukan berjumlahkan dua puluh orang bersenjatakan tombak dan pedang. Lelaki itu memiliki tubuh yang lebih tinggi dari Akina, serta sepasang lengan berotot dan potongan rambut pendek yang berdiri tegak seperti landak.


Pemuda itu menyipitkan mata. Pandangannya terpaku pada Nirwana yang tengah berjumbu mesra dengan Tiara. "Aku dengar pemuda itu adalah sosok kesatria pembunuh naga. Beritanya sudah tersebar ke pelosok-pelosok desa, dan hampir menuju ibukota Ignea."


Akina menoleh. Tatapannya serius memandangi lelaki yang tengah menatap lurus. "Aku tidak percaya. Mungkin rumor itu salah, dia hanyalah pemuda biasa yang berpenampilan seperti seorang bangsawan di kota Ignea."


"Mungkin saja kau benar, atau mungkin tidak," pemuda itu melipat tangan dibalik punggung. Tubuhnya menegak dengan sedikit dongakan pada dagu. "Beberapa orang dari penduduk desa menyatakan bahwa ia orangnya. Namun aku tidak peduli, sebab yang kuinginkan adalah gadis itu. Aku ingin ia menjadi budak agar dapat memuaskanku."


"Kenapa tidak kau suruh saja anak buahmu untuk menghajar pria itu, dan merebut kekasihnya secara paksa. Aku semakin penasaran untuk memastikan tentang adanya rumor yang beredar." Akina menyungging senyum sesaat, menampilkan rasa penasaran yang cukup kuat.


"Aku mengerti," pemuda itu mengangguk, lalu menoleh pada sejumlah pasukan yang berdiri di belakangnya. "Prajurit, ikuti aku."


Sejumlah prajurit dalam satu barisan yang di pimpin oleh Mahkoto berlari kecil menghampiri Nirwana. Terdengarnya derap suara langkah mengalihkan pandangan Tiara, hingga gadis itu melepaskan pelukannya dari Nirwana.


"Kalian siapa?!" Tiara tersentak kaget. Sementara Nirwana tertegun melihat kehadiran mereka. Lelaki itu mengeryitkan alis. "Dasar sial! Mengganggu orang bercinta saja."


Dagu Mahkoto sedikit terangkat, dengan senyuman yang nampak tersungging sesaat. "Bercinta di bawah bulan purnama dengan penuh gairah, menghisap lidahnya meski ia hanyalah seorang bocah."


"Bukan urusanmu!" Nirwana mengeryitkan alis.


"Memang bukan, bodoh! Tujuanku menghampirimu bukan untuk berdebat dengan manusia c*bul sepertimu, tetapi untuk ******* tubuh gadis elf di sampingmu, huahaha!" Mahkoto terkekeh pelan dengan kedua tangan berpangku di pinggang.


Perasaan tak wajar itu menghantui pikiran Tiara, hingga membuatnya mundur sejangka guna bersembunyi dibalik punggung seorang pemuda. "Nirwana, aku takut..."

__ADS_1


Manik hanzel Nirwana menatap tajam seorang pemimpin pasukan yang tengah mendengus tawa. Sementara satu lengan terbalut jas hitam nampak terlentang guna melindungi gadis elf di belakangnya.


"Aku akan melindungimu dengan segenap kekuatan yang aku miliki. Dan tidak akan kubiarkan siapa pun menyentuhmu, Tiara."


Lidah Mahkoto mengusap bibir atasnya, menampilkan senyuman penuh gairah pada sosok insan yang bersembunyi dibalik tubuh seorang pemuda. "Ternyata bocah elf itu bernamakan Tiara, ya? Tubuh indah semampainya sangat menggiurkan, pantas saja manusia hina sepertimu tergoda olehnya, huahahaha!" Mahkoto mendengus tawa.


Nirwana mengeratkan gigi, diiringi oleh kepalan tangan diantara kedua sisi. Terlihatnya luapan emosi menciptakan suatu amarah yang mampu membakar lubuk hatinya, kala sepasang kaki kian melangkah untuk menghampiri Mahkoto yang tengah mendengus tawa.


Suatu gerakan tangan melesat dari balik hamparan udara hingga nyaris mengenai hidung seorang lelaki berornamenkan baja. Dengan sigap Mahkoto menghindari tinjuan Nirwana, secara otomatis ia mengangkat satu lutut guna menghantam pinggang Nirwana.


Hantaman keras lutut Mahkoto mengurangi keseimbangan tubuh yang mampu membuat Nirwana terjelembab jatuh. Butiran pasir putih mengotori jas hitamnya.


Nirwana menoleh pada Tiara yang nampak menggapai udara. Gadis itu berjalan mendekat. Nirwana berdecak. "Jangan kemari!"


"Aku tidak mau..." Tiara menggeleng pelan. Kedua alisnya sedikit terangkat. "Aku tidak bisa melihat Nirwana disakiti oleh mereka...."


"Begitu, ya? Manis sekali..."


Dalam posisi tengkurap, pemuda dalam balutan jas hitam berupaya untuk bangkit dari permukaan pasir putih. Sepasang sikut bertekuk dengan telapak yang menjadi penopang tubuh. Namun, suatu tendangan segera melesat hingga menghantam perut.


*Bruuack!


Nirwana kini tergeletak lemah, terbaring dengan satu tangan yang melingkar dibagian perut, sementara matanya menatap jauh gemerlap cahaya bintang yang menerangi gelapnya sang malam.


Sekumpulan lelaki menarik paksa lengan Tiara, menyeret tubuh gadis itu meski ia merontah dengan segenap kekuatan yang di milikinya. Sementara prajurit lain mendatangi Nirwana dalam rangka membantunya bangkit.


Sosok lelaki yang masih mengenakan zirah besi mengankat pelan dagu Tiara, hingga keduanya saling bertatap mata.


"Gadis elf yang sangat cantik," manik cokelat Mahkoto menelusuri keindahan tubuh Tiara yang masih mengenakan tunik putih. "Kemolekan tubuhmu adalah kenikmatan yang tiada tara, manis."


Sepasang prajurit nampak memegangi lengan Nirwana, sementara pemuda itu merontah dengan segenap kekuatan yang ada. "Dasar brengsek! Lepaskan dia!!"


Seruan lantang Nirwana menarik perhatian Mahkoto yang masih menjepit pipi Tiara dengan ibujari dan telunjuk, guna membuka paksa mulut gadis tersebut.


"Mengganggu saja," Mahkoto menoleh ke sejumlah lelaki di sebelahnya. "Prajurit, kasih paham!"


Segerombolan prajurit mendatangi Nirwana, memukuli pemuda itu secara bergantian di hadapan kekasihnya. Sementara Mahkoto menekan kuat tengkuk Tiara hingga keduanya saling bertatap mata.


"Hey, bocah! Jika kau tidak bisa melayaniku," telunjuk Mahkoto seketika mengarah pada Nirwana. "Maka nyawa kekasihmu yang akan menjadi taruhannya. Camkan itu!"


Tiara menoleh, melihat sepasang prajurit yang tengah membentangkan kedua lengan Nirwana. Sementara satu orang lainnya secara bergantian melesatkan pukulan pada perut hingga dada pemuda tersebut.


Tiara merontah dari dekapan tangan yang mampu menahan gerak tubuhnya. Isak tangis dan airmata mendominasi keheningan malam yang tercipta, menjadi luka atas adanya suatu kepedihan yang tak terhingga.


Dikala sepasang mata menatap muntahan darah dari seorang pemuda yang tersiksa, gadis itu menangis sejadi-jadinya hingga tubuhnya bergetar hebat. "Hentikan...!!"


"Aku mohon jangan sakiti Nirwana!!" Tiara berteriak tak berdaya, "Akan aku lakukan apapun yang kau minta, asal kau lepaskan Nirwana... Aku mohon...." Gadis itu benar-benar putus asa hingga tubuhnya melemah.


Entah apa yang merasuki pikiran Mahkoto, hingga membuatnya mengangkat dagu sambil berkata. "Berhenti! Biarkan pemuda itu tergeletak di sana dan tinggalkan dia."

__ADS_1


__ADS_2