
Nirwana mengamati lamat-lamat bilah pipih katana yang tercabut pelan dari sarungnya.
"Akan aku akhiri pertarungan ini dengan darah. Dan sejatinya kesatria sejati tidak mengenal kata lelah jika harus melindungi mereka yang lemah."
Nirwana menjunjung tinggi gagang katana hingga sejajar dengan dahi, mengawali adanya hunusan ujung lancip senjata tersebut ke permukaan pasir putih.
*Jlebb!
"Grand Charlotte...!" Nirwana berseru lantang dengan tatapan mata lurus ke depan.
Padang pasir tempatnya menjejak langkah mengeluarkan kobaran api yang membara. Sementara lidah-lidah api hitam merayap dari ujung kaki hingga kepala, menciptakan suatu bayangan besar yang membelakangi tubuh Nirwana.
Terlihanya sesosok bayangan hitam yang menyerupai kepala harimau bertubuh manusia menampilkan cahaya redup berwarnakan merah pada kedua bola matanya, serta sepasang gigi bertaring yang masih mengigit belati kecil samurai penuh darah.
"Jigoku No Mao, adalah jiwa iblis yang tersegel dalam Imperial Katana Mashurame. Dalam legenda pernah disebutkan bahwa sosok tersebut adalah jelma'an malaikat yang dikurung di neraka ribuan tahun lamanya." Akina bergumam lirih dengan sedikit adanya kerutan dibagian dahi.
Lidah-lidah api yang membakar tubuh Nirwana beransur-ansur sirna dari pandangan mata, merubah kemeja putih serta jas hitam yang dikenakan Nirwana menjadi ornamen samurai berwarnakan merah.
Sosok bayangan hitam yang membelakangi tubuh Nirwana segera pecah bagaikan serpihan kaca, membentuk ribuan butiran partikel kecil yang menyatuh dengan ornamen baja berwarnakan merah, guna menciptakan ukiran-ukiran rumit keemasan disetiap sudut zirah besinya.
"Tiada alasan untuk pasrah meski harus bertaruh nyawa, karena tugasku adalah untuk melindungi Tiara meskipun aku bukanlah seorang kesatria," Geram lirih Nirwana mengawali adanya pergerakan langkah kaki di tengah luasnya pasir putih. "Yoshino Akina, mari kita akhiri pertarungan ini dengan darah."
Akina menyungging senyum. "Hmmph! Aku bukanlah wanita lemah yang dapat kau pandang dengan sebelah mata. Oleh karena itu, aku terima tantanganmu, Nirwana!"
__ADS_1
Akina sempat melentangkan kedua lengan sembari merapalkan suatu mantra guna meneyerap energi supranatural di sekitarnya. Terdengarnya sambaran petir yang menggema, diikuti oleh kemunculan aura ungu yang berhasil mendominasi tubuh Akina kala gadis itu merapalkan suatu mantra.
Saat Akina berhasil mengulurkan satu lengan di depan dada, rantai-rantai baja seketika melesat kencang dari balik telapak tangan Akina dan meliuk-liuk di tengah ambang udara.
Nirwana yang sedari tadi mensejajarkan bilah pipih katana pada pelipis kanan matanya, kini mengayunkan senjata tersebut di depan dada guna menghalau serangan rantai Akina yang nyaris menghantam tubuhnya.
*Chtiink!
Terciptanya percikan api dihasilkan oleh terjadinya benturan antara kedua senjata berlapis baja. Meski demikian, pemuda itu sempat terseret mundur hingga beberapa langkah.
"Setan! Serangannya sangat kuat dan nyaris menghantam tubuhku!!" geram Nirwana, dengan sepasang tangan yang menggenggam rapat ujung pankal katana.
Akina menyungging senyum di hadapan Nirwana sembari memainkan jemari lentiknya di depan dada. Namun pemuda itu tak menyadari bahwa gadis di depannya tengah melesatkan serangan tak kasat mata. Atau yang sering disebut di luar nalar manusia.
Rantai-rantai baja yang berhasil menerobos masuk ke dalam permukaan pasir putih sempat memperlihatkan gundukan kecil yang nyaris mendekati sepasang telapak kaki.
Rantai-rantai baja seketika melesat kencang dari balik hamparan udara, menghantam kuat dada Nirwana hingga membuat pemuda itu tersungkur di permukaan pasir putih.
*Bruuack!!
Nirwana mengeritkan gigi ketika hendak bangkit dari permukaan pasir putih, serta mendapati adanya lilitan rantai hitam yang masih melingkar kuat pada pergelangan kaki.
"Dasar Iblis! Dia sengaja mengulur waktu hanya untuk menyiksaku." Geram lirih Nirwana mendominasi genggaman rapat jemari tangannya pada ujung pangkal katana, sementara bilah pipih senjata tersebut masih terhunus di permukaan tanah.
__ADS_1
Akina menjejak langkah di tengah hamparan pasir putih. Senyum mirisnya mendominasi disetiap pergerakan langkah kaki. "Sejujurnya, aku ingin melihat tangisan Cinderella untuk yang kedua kalinya."
Nirwana tersentak kaget. "Apa?!"
"Itulah sebabnya kau harus mati, Nirwana..." Akina seketika menghentikan langkah, menatap Nirwana yang kini tengah mempelototinya. Sementara gadis itu kini melingkarkan lengan, hingga kedua telapaknya saling bertepuk di depan dada. "Ucapkan selamat tinggal pada kekasihmu!!"
Terlihatnya rantai-rantai baja yang mengitari tubuh Akina seakan memancarkan aura ungu dalam bentuk bayangan ular anaconda yang mengeluarkan aliran listrik di sekelilingnya. Gadis itu seketika mengulurkan kedua telapak tangannya di depan dada guna mengeluarkan energi supranatural yang tercipta.
Dari balik hamparan udara, terlihatlah rantai-rantai baja yang melesat kencang dengan ujung pangkal yang menyerupai kepala ular mengangah. Mendapati adanya rantai lain yang masih melilit kuat pada pergelangan kakinya, sangat mustahil bagi Nirwana untuk menghindari serangan yang ada.
*Blaark!
Terdengarnya ledakan dasyat yang menggema ke sepenjuruh arah, menimbulkan kepekatan asap kelabu yang membumbung tinggi ke atas udara. Topeng iblis bertanduk dua yang masih melekat pada wajah Nirwana kini telah pecah bagaikan serpihan kaca yang terjatuh ke permukaan tanah. Retakan-retakan kecil pada ornamen samurai yang dikenakannya pun kini hanyalah lempengan baja yang terlepas dari tubuhnya.
Meski sempat tersungkur di tengah luasnya hamparan pasir putih, pemuda itu berupaya untuk bangkit dengan sisa tenaga yang masih dimiliki. Cairan kental berwarnakan merah memaksa keluar dari tubuhnya, hingga ia pun terpaksa memuntahkannya.
"Mengapa kau lebih memilih untuk bertarung, jika memang kau telah mendapatkan katana dari tanganku..." pemuda itu masih tertunduk lesu, menatap setiap tetesan darah segar yang keluar dari dalam mulutnya. "Apa yang sebenarnya kau sembunyikan dariku...."
"Tentu saja tangisan Cinderella. Aku ingin melihatnya merengek dengan penuh derai airmata saat melihatmu kehilangan nyawa," gadis itu melipat satu lengan kanan di depan perut, sebagai pangkuan sikut kiri yang bertekuk. Punggung tangannya menyangga dagu, memperlihatkan senyuman misterius. "Awalnya aku berkeinginan untuk merebut Imperial Katana dari tanganmu, namun aku berubah pikiran setelah melihat ketulusan cintanya."
Nirwana mengeryitkan alis. "Aku bahkan tidak mengenalmu!"
"Tentu..." Akina memaksa senyum, deru angin menghempaskan disetiap helai rambutnya. "Namun keharmonisan kalian telah berhasil membuatku cemburu. Itulah alasan mengapa aku ingin membunuhmu."
__ADS_1
Author Note : Saya selaku author meminta maaf atas keterlambatan update alur cerita Nirwana the legend of samurai. Namun saya akan berusaha untuk menyajikan suatu alur yang berbeda, yang tentunya mampu untuk menghibur Anda sekalian. Selamat membaca dan sampai jumpa minggu depan...
Berikutnya novel AKINA SENSEI My Teacher My First Love akan saya rombak alurnya, saya ganti dengan kisah nyata yang sama persisnya saya alami di dunia nyata. Saya berjanji untuk merangkai diksinya agar terkesan lebih indah dari versi sebelumnya.