
Puluhan lelaki berjajar di atas tebing dalam rangka membentuk suatu barisan pemanah. Saat naga terlihat membentangkan sayapnya di tengah hamparan udara, barisan altileri nampak bersiap dengan busur panahnya.
"Pasukan pemanah! Bersiap!!" Terdengarnya seruan pemimpin mengawali terangkatnya satu lengan ke atas udara. Barisan pemanah seketika mengacungkan busurnya ke atas udara. Elf lelaki itu segera menurunkan lengan sambil berteriak lantang. "Tembak!!"
Rendetan anak panah yang melambung tinggi di atas udara segera menghujani bagian tubuh naga dari sayap hingga punggungnya.
Sorakan warga sekitar mendominasi kesunyian malam yang dingin dan kekal. Namun, senyuman itu segera sirna setelah naga menarik nafas dan menyemburkan kobaran api dari dalam mulutnya ke rumah-rumah warga.
Kobaran api bergejolak sangat kuat membakar deretan atap rumah hingga menimbulkan kepulan asap yang membumbung tinggi ke atas udara.
Suatu ketika, sang naga yang masih terlihat mengepahkan sayapnya di udara. Dalam hitungan detik naga tersebut segera menyemburkan kembali kobaran api dari mulutnya. Puluhan pasukan pemanah terbakar hingga tak tersisa, sebagian diantaranya terjatuh dari atas tebing.
Nirwana terperangah, seakan dirinya tak percaya dengan apa yang dilihatnya. Lelaki itu terdiam seribu kata, sorot matanya kini menyebar hanya untuk melihat keganasan dari makhluk tersebut.
Sementara Tiara masih berdiri saat sang naga mulai menginjakan kaki ke dasar tanah. Manik birunya bertatapan langsung dengan makluk besar bersayap itu.
"Aku tidak bisa membiarkan naga ini membantai seluruh penduduk desa!" Geram lirih mengawali terlihatnya kerutan pada dahi.
Satu tangan menepuk pelan bahu Tiara, memperlihatkan sosok pemuda dengan balutan jas hitam yang nampak berdiri membelakanginya. Terlihatnya sedikit gelengan pada kepala, mengawali terbukanya suara pada bibir sensual Nirwana.
"Tiara, melawan bukanlah alasan yang tepat untuk mempertahankan wilayah. Sebaiknya kita mundur guna mencari tempat perlindungan yang aman."
Tiara menoleh, ia mendengus kesal. "Tiada batasan bagi kami untuk melawan, karena melangkah mundur bukanlah suatu jawaban untuk menghancurkan musuh di medan perang."
Puluhan warga yang menyerang naga seketika terpelanting ke permukaan tanah akibat kerasnya sabetan ekor yang menghantam tubuhnya. Hanya dengan satu tarikan nafas, sang naga berhasil menyemburkan bara api yang membakar sebagian dari warga desa.
Tiara menggeram. Gadis elf itu sontak berlari sekuat tenaga dalam rangka menghunuskan pedang pada paha sang naga. Cairan kental berwarnakan merah tersembur keluar dari tubuh makhluk tersebut.
Sang naga mengaung dengan suara menggema, memaksa gadis itu agar mundur sejangkah dari makhluk besar yang kini tengah di hadapinya.
Satu sabetan ekor naga melesat kencang dari balik hamparan udara, menghantam kuat tubuh Tiara hingga membuatnya terpelanting ke dasar tanah.
"Kyaaaa!!!"
"Tiara!!" Nirwana berseru lantang dengan sebelah tangan menggapai udara.
Tiara yang masih berada terbaring lemah di permukaan tanah, hanya dapat menyaksikan kengerian yang tercipta saat kobaran api bergejolak kuat membakar rumah warga. Sebagian warga di sana telah tumbang tak bernyawa, sisanya terlihat panik dan berhamburan tak tentu arah.
Tiara masih terlihat mengedarkan pandangannya. Kini ia melihat perjuangan seorang pemuda yang nyaris terbakar kobaran api sebab semburan maut sang naga.
Saat naga tengah menarik nafas panjangnya, dengan cekatan Nirwana segera mengambil prisai baja yang di pergunakan untuk menahan semburan api tersebut.
Terlepas dari kobaran api yang membara, sekelebat bayangan hitam melesat kencang dari balik hamparan udara. Ekor naga yang sejatinya seukuran pohon kelapa, kini menghantam keras tubuh Nirwana hingga terpelanting jauh ke permukaan tanah.
*Bruuack!
"Arrgk!" Nirwana meringik kesakitan. Suatu cairan kental memaksa keluar dari dalam tubuhnya setelah ia berhasil memuntahkannya. Bercak darah terlihat menodai mulut dan dagunya.
__ADS_1
"Nirwana bangun! Kau harus bangkit!!" seruan Tiara terdengar lantang mengusik indra pendengarannya.
Punggung Nirwana masih tersandar pada pohon beringin tua dengan satu lengan yang berpangku pada akarnya.
"Seseorang akan terlihat seperti sampah jika hanya mengandalkan keegoisannya. Sebab itulah aku tidak ingin menjadi sampah," Nirwana bergumam lirih. Tubuhnya terlihat rentah dengan pergerakan langkah yang semakin gontah. "Berani menyentuh Tiara, akan aku buat dirimu rata!" Telunjuk Nirwana mengarah pada seekor naga yang menghembuskan masih nafas panasnya.
Derap suara langkah berhentak ke dasar tanah, memperlihatkan sepasang kaki yang berjalan menghampiri seorang pemuda.
Senyum miris menampilkan lengan kiri yang menggenggam rapat sarung katana.
"Nirwana! Apa yang kaulakukan? Kau bisa mati!!" Tiara berseru lantang dengan sebelah tangan yang melentang.
Pandangan mata Tiara teralihkan pada busur kayu dan anak panah yang tergeletak di permukaan tanah. Gadis itu beransumsi bahwa dengan mengalihkan perhatian naga, ia dapat menolong Nirwana.
Tiara berlari dengan segenap kekuatan yang bertumpuh pada kedua kakinya, berpacu melewati terjalnya jalan berbatu yang berada diantara deretan rumah warga.
"Saat aku terjatuh, hanya Nirwana yang rela mengulurkan tangannya untukku. Lelaki itu... Secara sengaja telah mengalihkan perhatian sang naga hanya untuk melindungiku!" Gadis itu seketika melompat ke atas udara sembari mengacungkan busur panahnya ke arah sang naga.
"Tidak akan pernah aku biarkan kau menyakiti temanku!!" Saat sebelah tangan menarik kuat benang pada busurnya, saat itu juga jemari lentik Tiara yang melepas ujung pangkal anak panahnya.
*Whuus...!
Sepucuk anak panah melesat kencang dari balik hamparan udara. Secara bersamaan sang naga berpaling muka untuk menatap Tiara. Kala itu, sepucuk anak panah menancap kuat pada mata kiri sang naga.
Sementara itu, jemari tangan Nirwana menarik pelan ujung pangkal katana, melepaskan bilah tajamnya dari sarung yang sekian lama membungkus senjata tersebut.
Sang Ibu menatap haru pemuda dalam balutan jas hitamnya. Senyum indah mengawali terbukanya garis bibirnya. "Dia telah bangkit... Sang legenda.... Kesatria Samurai...."
Jemari tangan Nirwana menggenggam rapat ujung pangkal yang di sejajarkan dengan dahi. Memperlihatkan aura kegelapan yang terpancar pada bilah pipih katana sebelum di hunuskan ke dasar tanah.
"GRAND CHARLOTTE...!!!" Seruan lantang Nirwana memperlihatkan hunusan ujung lancip katana yang menembus permukaan tanah.
*jleeb!
Hamparan awan kelabu menyelimuti gemerlap cahaya bintang yang menghiasi sang malam, berbaur dengan sambaran petir yang menggemah ke sepenjuruh arah bagian.
Bilah pipih katana yang tertancap di permukaan tanah menampilkan aura kegelapan pada keheningan malam yang mencekam. Kemunculan lidah-lidah api berwarnakan hitam merayap dari ujung kaki hingga kepala, memperlihatkan suatu bayang-bayang iblis bertanduk dua yang kini mulai merasuk dalam tubuh Nirwana.
Suatu ornamen samurai berwarnakan silver dengan corak merah disetiap sudutnya menampilkan suatu armor yang dilengkapi dengan topeng tengkorak berwajah merah, serta rambut putih panjang yang menjuntai dibagian punggungnya.
"Sang legenda telah tiba... Jiwa iblis berhati malaikat kini berada tepat di depan mata..." Tiara baru saja mengusap sisa darah pada sisi bawah bibirnya dengan punggung tangan. Terlihatnya sedikit anggukan disertai oleh adanya senyuman kala sepasang mata kian terpaku menghadap lelaki berornamenkan baja. "Tidak salah lagi, Niwana adalah kesatria samurai utusan dewa yang mewarisi kekuatan malaikat pencabut nyawa... Berjuanglah kesatria samurai, nasib bangsa kami ada pada tanganmu."
Busur kayu yang di genggaman oleh Tiara segera terlepas secara tiba-tiba, meluncur turun hingga terbentur ke permukaan tanah. Gadis itu terlihat kehabisan banyak tenaga hingga membuatnya bertekuk lutut diantara deretan rumah warga. Sedangkan sang naga yang menjejak tanah segera berputar haluan untuk mendekati Tiara yang telah tak berdaya.
Nirwana yang menggenggam rapat ujung pangkal katana, segera mensejajarkan bilah pipih senjata tersebut pada pelipis kanan matanya.
Sekelebat bayangan hitam melesat kencang dari balik hamparan udara, melewati pergerakan sang naga yang nyaris memakan tubuh Tiara. Mulut lebar bertaring secara otomatis terbuka dengan sendirinya di hadapan gadis elf yang kini tengah duduk bersimpuh di permukaan tanah.
__ADS_1
Kedua bola mata Tiara membulat seketika. Ingin rasanya ia menjerit sekuat tenaga, namun suaranya tertahan di tenggorokannya.
Sementara Nirwana berpacu dengan segenap kekuatan yang bertumpuh pada kedua kakinya, melompat ke atas udara dengan menjunjung tinggi ujung pangkal katana di atas kepala.
Ayunan bilah pipih katana melesat kencang di balik hamparan udara, menbelah permukaan kulit naga hingga mampu menyayat setiap bagian kulit leher sang naga.
Terlihatnya semburan darah menampilkan terpisahnya kepala naga dari tubuhnya, membuat Tiara yang bersimpuh Tergagap kaku hingga nyaris tak bersuara. Bola matanya menatap hampa sesosok pemuda
yang nampak memasukan bilah pipih katana pada sarungnya.
Terlihatnya aura kegelapan yang membungkus sebagian dari tubuh Nirwana, merubah ornamen samurai yang berwarna silver bercorak merah menjadi jas hitam dengan kemeja putih di dalamnya.
Nirwana menoleh. Sebelah tangannya terulur pada gadis yang bersimpuh di hadapannya. "Aku tidak akan pernah membiarkan siapa pun menyakitimu. Sekarang bangunlah."
Alih-alih meraih telapak yang telah disodorkan oleh Nirwana, gadis itu lebih memilih untuk berpaling muka, guna menghindari kontak mata dengan pemuda di depannya.
"Aku tidak ingin merepotkanmu. Kenapa Kau selalu ada setiap kali aku membutuhkanmu?"
Butuh waktu bagi Nirwana untuk menjawab pertanyaan Tiara. Pemuda itu seperti tengah mengingat sesuatu--entah mengapa--beberapa hari ini Nirwana lebih cenderung sering melamun.
Tidak ingin membuat Tiara menunggu lama, pemuda itu segera mengambil inisiatif untuk berbalik tubuh dan bertekuk sebelah lutut, dengan betis kiri yang menjejak tanah. Ia menoleh.
"Aku akan menggendongmu hingga rumah. Sepertinya kau nampak lelah, Tiara..."
"Ehm... Baiklah," gadis itu merangkul leher pemuda di depannya, tidak lupa baginya untuk menempelkan dada pada punggung Nirwana. Meski rona pipinya sedikit memerah kala ia menyandarkan dagu pada pundak Nirwana. "Kau sangat perhatian sekali padaku, Nirwana. Aku tidak tahu lagi harus berkata apa. Namun kau sangat baik."
Pemuda itu menahan senyum disetiap langkah, berjalan dengan menopang beban berat tubuh Tiara di punggungnya. "Entahlah, tapi kebanyakan orang mengatakan hal yang sama."
"Nirwana..."
"Iya?"
"Anoo... Jika suatu saat nanti kau pergi, apa kau akan kembali?"
"Entahlah Tiara, aku tidak tahu," Pemuda itu sedikit mendongak, menatap setiap butiran air hujan yang berjatuhan dari atas langit. "Aku memiliki keluarga di sana. Namun berat bagiku untuk meninggalkanmu di sini."
"Aku akan melakukan apapun yang kau minta, asal jangan tinggalkan aku. Jika kau pergi... Maka ajaklah aku bersamamu, Nirwana."
Nirwana sempat menghelakan nafasnya sebelum berkata. "Aku akan mencobanya..."
"Janji, ya?"
"Iya..."
"Jangan bohong, lhoo."
"Iya, iya..."
__ADS_1