
PART 2
Beberapa bulan berlalu, ibu kos dan aku semakin dekat, ibu kos mengajak ku pergi ke suatu tempat tidak lain adalah rumah orangtua nya atau sebut saja nenek ati, awal mula pertemuan ku dengan nenek ati aku amat sangat takut, karna bagaimana tidak nenek ati memiliki wajah yang agak jutek seperti tidak senang saat melihatku. Mungkin aku saja yang perasa. Namun putri ibu kos Ida mengajakku untuk santai saja seperti itupula ibu kos.
"Kenapa tegang, tak apa santai saja disini" kata ibu kos
Akupun gugup sambil menjawab " ah tak enak Bu, takut saya"
"Di sini nenek Ida baik kok mba " jawab Ida
Dengan wajahku yang gugup tetiba nenek Ida pun dari belakang menyaut "nenek memang seperti ini, wajahnya saja menyeramkan tapi nenek tak memakan orang kok" imbuhnya.
Aku, ibu kos dan Ida pun tertawa, dalam hatiku "oh ternyata nenek Ida tak semenyeramkan itu, bisa juga si nenek ini mengelawak' pikirku.
Satu malam kami menginap di tempat nenek, beberapa keluarga dari ibu kos ada yang ikut mampir untuk menjumpai kakaknya itu. Mereka semua sangat amat baik. Ke esokan hari nya aku, ibu kos dan Ida pun kembali ke rumah dan melanjutkan aktivitas masing-masing aku bersekolah idapun juga bersekolah. Aku memang jarang pulang kerumah jika libur hari Minggu, semata karena aku ingin menghemat pengeluaran ku, makanya kadang setiap Minggu Ida dan ibu selalu mengajakku untuk jalan jalan atau pergi ke rumah nenek nya.
Minggu kedua aku tak pulang lagi, dan benar saja ibu Ida kembali mengajakku ke rumah neneknya, aku tentu saja senang, apalagi bertemu orang orang baru. Siang itu memang akan ada acara di tempat nenek yaitu pengajian ibu ibu. Aku ikut membantu disana dan bermain dengan Ida dan sepupu Ida. Tanpa aku sadari ternyata selama aku bermain ada yang memperhatikan. Dia sedikit malu malu saat melihatku bukan hanya dia, sebenarnya akupun terpesona saat melihatnya.
Ya, dia adalah sepupu Ida, dia masih duduk di bangku sekolah menengah pertama atau SMP namun perawakan nya seperti sudah dewasa, wajahnya tampan, badan nya tinggi dan bidang, sungguh idaman para wanita pikirku. Ku pandangi dia diam diam tapi tak berani menegur, aku takut di cap buruk atau membuat malu ibu Ida walaupun sebenarnya berkenalan kan tidak ada salahnya.
Sampai acara selesai aku, ibu, dan Ida pamit untuk pulang, banyak yang kami ceritakan sepanjang perjalanan termasuk sepupu Ida itu. Ida menceritakan bahwa sepupunya itu sangat pintar di sekolah, dan ibu pun mengiyakan, ibu bilang dia sangat jenius, otaknya benar benar pintar namun tak pantai bersosialisasi, di dekat keluarganya dia selalu jadi yang paling pendiam. Aku yang mendengarkan cerita itu sambil berfikir dan mengucap dalam hati 'ah masa sih, mungkin dia malu saja karna dia panutan untuk yang lain nya atau memang karena tidak akrab dengan keluarganya makanya memilih diam'. Sambil memikirkan wajah tampan nya itu Ida membangunkan ku dari lamunan.
"Hey mba, ayo turun kita sudah sampai. Mba mau lanjut terus?" Tanya nya
Aku pun sontak langsung terbangun dari lamunan ku "ah iyaa sudah sampai ya". Jawab ku
Akupun lekas turun dari angkot dan mengikuti Ida dan ibu. Sesampainya di rumah aku langsung membersihkan diri dan bersiap untuk belajar malam. Ya belajar malam memang sudah jadi kebiasaan ku sejak dulu, jika aku tidak belajar malam pasti orang tua ku akan marah.
Saat hendak membaca buku biologi favorit ku tak lama muncul pesan SMS dari nomor baru.
"Sudah sampai mba?" Kata nomor baru itu. Dengan rasa penasaran ku jawab pesan itu
"Siapa yaa? Tanyaku balik. Tak lama pesan dari nomor baru itu muncul kembali.
"Aku Ari", jawabnya kembali.
__ADS_1
"Ari siapa? Tanyaku lagi.
"Aku Ari sepupunya Ida, aku dari tadi memperhatikan mba loh", jawab nya
Aku yang masih bingung sambil berfikir dan berucap dalam hati 'ah masa sih si Ari mengirimi ku SMS, dapat dari mana dia nomor ku.
Tak berapa lama Ari mengirimiku sms lagi karena SMS nya yang terakhir kali tak ku jawab.
"Mba, aku Ari, aku benar sepupunya Ida, tapi tolong jangan beritahu Ida atau ibu yaa jika aku menghubungi mba" katanya
Lalu akupun menjawab "kenapa, kamu dapat nomor ku dari mana?" Jawabku penasaran.
"Aku mengambil nomor mba dari handphone nya Ida secara diam diam, tak apa ya mba" tanyanya.
Karena senang mendapatkan nomor orang yang sedari tadi aku lihat juga aku pun membalas. "Oh iya tak apa santai saja" jawabku
Dia pun menjawab "terimakasih mba". Aku tak menjawabnya langsung ku lanjutkan belajarku yang tertunda itu.
Ke esokan harinya, aku pun bersiap untuk berangkat ke sekolah seperti biasa, namun ada hal yang tak biasa yaitu Ari.
"Selamat pagi mba semangat ya sekolah nya" katanya
Aku bingung bukan main gila nih ada berondong menyemangati ku batinku sambil cengengesan.
Ku jawab pesan nya singkat "iya kau juga".
Ku pikir karena kami sama sama masih sekolah jadi dia tak ada waktu lagi untuk membalas pesan ku namun ternyata dia lancar membalas pesan ku, waktu ku tanya apa dia tidak belajar, dengan entengnya dia menjawab belajar kok tapi tak apa sambil pegang hp. Ku bilang padanya bahwa aku sedang belajar jadi berkirim pesan nya nanti saja jika aku sudah pulangan. Dia pun menyanggupinya.
Di sekolah akupun cerita kepada teman ku indah, indah yang mendengarkan ku bercerita tiba tiba terkejut dan bilang
"Wah jangan jangan anak itu suka kau" katanya
"Ah mana mungkin, dia hanya anak SMP ndah, dia tampan tapi aku tak suka yang terlalu jauh di bawahku, lagian kami hanya mengirim SMS jarang", jawabku
"Iya awal awal memang jarang tapi lama lama akan menjadi sering, apalagi dia pintar katamu" tambah indah
__ADS_1
"Bisa tuh kepintarannya kau manfaatkan, siapa tau dia berguna" tambah indah lagi.
"Yaa ku balas secukupnya saja dulu pesan nya untuk saat ini yaa" jawabku.
Sepulang sekolah seperti biasa aku tidur siang, namun pesan SMS dari Ari muncul kembali.
"Mba, aku bolehkan jadi adik mba juga" katanya
'Aku sedikit bingung dengan pesan nya, apa karena dia anak pertama jadi ingin memiliki kakak, tapikan aku juga tidak punya kakak" pikirku.
Ku balas pesan nya "boleh silahkan saja, curhat saja padaku jika ada masalah" kataku.
Tak berselang lama dia pun membalas "terimakasih mba, mba ternyata memang orang yang baik".
"Biasa saja" jawabku datar
"Mba aku dari kemarin memperhatikan mba loh, mba itu manis dan baik, apa aku boleh curhat" tanyanya lagi.
"Boleh curhat saja" jawabku
Hari itu untuk pertama kalinya kami saling berkirim pesan dalam waktu yang cukup lama, dan aku pertama kalinya mendengarkan curhatan nya.
Dia bilang dia anak pertama namun sering di bandingkan dengan adiknya, ddia tidak bisa bergaul dengan keluarganya karena dia takut salah. Pernah suatu waktu dia melakukan kesalahan tanpa sengaja dan benar saja yang waktu itu aku pikirkan ternyata orangtuanya adalah orang tua yang amat sangat disiplin. Jadi ketika dia melakukan kesalahan biasanya dia dihukum habis habisan. Pernah suatu waktu dia di pukul oleh ayah nya. Mendengar ceritanya aku turut sedih. Tak ku bayangkan ternyata dia pintar dan cerdas karena memang di tuntut untuk jadi seperti itu. Dia bilang adik nya selalu di sayang oleh orang tua nya, namun dia seperti harus di suruh belajar terus menerus.
Mungkin perasaan mu saya pikir ku, karena akupun pernah berada di posisi itu, aku pernah merasa teman teman ku menjauh padahal mungkin sebenarnya tidak. Dalam curhatan nya aku selalu memberikan semangat padanya, ya menurutkan itu hanya kalimat untuk menyenangkan anak anak.
Hari berhari telah berlalu tak terasa 6 bulan kami berteman dan aku masih sering mendengarkan curhatan nya. Namun saat kumpul di kediaman nenek kami sama sekali tidak bertegur sapa, hanya saling melirik dan tersenyum malu. Kemudian saling mengirim pesan. Kadang kala kami saling bercanda dan tertawa sendiri sambil menghadap kelayar handphone masing-masing.
Tak hanya saling mengirim pesan dia pun sekarang sudah berani untuk mengajak ku bertemu di luar, hanya untuk sekedar membaca buku di toko buku atau duduk di caffe. Ternyata kami memiliki kesamaan, kami memiliki bulan lahir yang sama yaitu bulan Desember dan hanya selang 2 hari sungguh kebetulan sekali. Kami juga sama sama menyukai pantai, ntah mengapa menurutku pantai amat sangat tenang. Ternyata dia pun seperti itu, Ari lebih sering menghabiskan waktunya di toko buku atau pantai jika dia merasa perlu ketenangan.
Sabtu pagi Ari mengirimiku pesan untuk mengajakku pergi ke pantai, Namun aku sudah berjanji untuk ke toko buku bersama teman ku, Ari pun berinisiatif untuk ikut pergi ke toko buku. Aku pun mengiyakan nya. Setibanya aku di toko buku tak lama Ari mendatangiku, dan itu pertama kali nya Ari menyapaku secara langsung dan bercerita secara langsung padaku.
Setelah beberapa jam di toko buku Ari menawariku untuk membeli minuman namun aku menolak, pikirku biar aku saja yang beli kan kau anak SMP uang dari mana. Namun ternyata salah, Ari langsung sigap dan membelikan ku dan teman ku minuman katanya aku ada uang kok mba, jgn di tolak yaa. Aku dan teman mu menerima saja minuman yang di belikan Ari karena tidak enak sudah di belikan.
Aripun kemudian mengajakku untuk pergi kepantai, karena posisinya aku dengan teman ku dan teman ku setuju kamipun pergi bertiga naik angkot ke pantai terdekat dari toko buku itu.
__ADS_1