
Part 4
Hari jadian
Sesampainya di rumah aku bergegas berganti pakaian dan mandi, waktu sudah menunjukkan pukul 6.00 sore, aku bergegas untuk ibadah magrib dan tak lama ibu kos memanggilku untuk makan malam.
"Ni, ayo makan" ajak nya
"Iya Bu sebentar", jawabku
Aku pun menuju ruang makan bersama Ida, aku dan Ida lalu mengambil makanan yang susah di sediakan oleh ibu.
"Dari mana tadi mba?" Tanya Ida
"Oh pergi jalan ke toko buku" jawabku
Kami pergi makan malam sambil duduk di depan tv, malam itu bapak kos ada di rumah. Biasanya bapak kos jarang di rumah, dia sering pergi kerja dan pulang sesekali untuk menjenguk anak dan istrinya.
"Makan yang banyak ni, jangan sampai kau kurus di sini" katanya
Aku pun mengangguk sambil berucap "iya pak"
Jujur saja aku agak takut dengan bapak kos, perawakan nya yang galak membuatku agak ngeri, namun beliau orang yang baik, hanya saja mungkin logatnya yang seperti seram dan membentak. Namun itu tak masalah bagiku.
Ke esokan harinya seperti biasa aku pergi sekolah, kali itu aku sedang menunggu Rini, indah, dan ira. Setiba nya mereka di depan kos kosan kamipun pergi masuk ke kelas.
Bel pun telah berbunyi dan kini mata pelajaran pertama pun di mulai, seperti biasa kami selalu berdiskusi bersama jika soal pelajaran. Kami sudah menjadi akrab satu sama lain dan mengerti satu sama lain. Kami memiliki pelajaran yang paling kami senangi masing-masing, bahkan sampai ada teman kami yang iri dengan pertemanan kami. Bagaimana tidak, kami berempat selalu peringkat 5 besar. Peringkat kami selalu berputar saja.
Seharian kami sudah mengikuti pelajaran di sekolah sekarang sudah waktu nya jam pulang sekolah. Dan seperti biasa aku dan teman temanku mengikuti ekstrakulikuler masing masing.
Sepulang sekolah Ari pun mengirimiku pesan SMS.
"Ka sudah pulang?" Tanya nya
"Sudah, baru saja" jawabku
"Aku ingin berbicara serius" katanya
"Apa?" Tanyaku
Terkejut bukan kepalang ternyata dia menyatakan cinta padaku.
"Ka, bagaimana jika kita berpacaran saja?" Tanya nya padaku
__ADS_1
Aku saat itu masih bingung harus menjawab apa, kami memang sering komunikasi melalui pesan singkat SMS, sering juga bertemu di tempat keluarga, namun apa iya aku berpacaran dengan anak SMP, bukan kah niat nya awal kita hanya menjadi adik Kakak saja, pikirku.
Tak lama kemudian muncul kembali notif pesan nya.
"Bagaimana ka? Kok tidak di jawab?" Apa kakak tidak menyukaiku?" Tanyanya beruntun
"Oh tidak, bukan seperti itu" jawabku
"Bukan kah kita sudah dekat sekarang, seperti nya begini saja sudah cukup" tambahku lagi
"Aku tak mau ka, aku tak mau kehilangan kakak, aku ingin kakak menjadi pacarku", balas pesan nya lagi
"Tapi kita beda jauh, aku sudah SMA sedangkan kau masih SMP, umur kita terlalu jauh untuk pacaran", imbuhku
"Tak apa kak, umur hanyalah angka, aku yakin bisa membahagiakan kakak", katanya
Ntah mengapa anak ini seperti orang dewasa bagiku, pikiran dan kata-katanya membuat ku menganga membaca pesan nya.
Tak ku balas pesan nya, aku masih termenung dalam lamunan ku. Tetiba di kagetkan oleh Ida.
"Hayo mba lagi mikirin siapa?" Tanyanya penasaran
Aku yg terkejut pun langsung menjawab "aja tak ada" kamu ini mengagetkan saja," jawabku.
"Mba lagi SMS an sama siapa sih?" Tanya nya penasaran lagi
"Tak apa, cuma tanya saja" , jawabnya
Tetiba setelah basa basi ntah mengapa dia membicarakan Ari, tak henti hentinya Ida membanggakan Ari, yang memang cerdas dan tampan itu. Sampai sampai tak kami sadari ibu kos telah berdiri di depan pintu rumah.
"Ini si Ida tak henti hentinya menceritakan Ari, nanti mas Ari tesedak tau" kata ibu kos.
Si Ida dengan wajah bocah dan polosnya menyahut "aku ingin pintar seperti mas Ari ibu", jawab nya
"Mba Ani juga pintar namun mengapa kamu memilih mas Ari?" Tanya nya lagi
"Dia ganteng sih" jawabnya genit.
Astagaaa seumuran anak SD saja sudah tau wajah ganteng pikirku.
Tak berselang lama kamipun masuk ke dalam rumah. Kembali Ari mengirimiku pesan lagi.
"Halo ka, kakak tidak membenci ku kan?" Tanyanya
__ADS_1
"Oh tidak kok, memang nya kenapa juga?" Tanyaku lagi
"Aku takut kakak membenciku karena aku ingin kita pacaran", jawabnya
Tak ku balas lagi pesan nya, Ari kembali mengirimiku pesan.
"Ka, jadi bagaimana, apa kita berpacaran?" Tanyanya kembali
Setelah ku pikir pikir tak ada salahnya bila mencoba,
"Iya kita pacaran", jawabku
Namun, jangan sampai ada yang tahu bahwa kita berpacaran yaa", tambahku lagi
"Mengapa ka?" Tanya nya
"Ya tak apa, aku belum siap aja di olok teman teman ku karena kau bocah", ejek ku
"Huuu siapa yang bocah, aku bahkan lebih dewasa dari kakak", katanya
" Eh sayang", pesan nya lagi
Belum sempat ku balas pesan nya dia mengirimiku pesan lagi.
"Eeemm jadi nama panggilan kita apa ya?" Tanyanya
"Terserah saja, sayangpun tak apa", jawabku
"Eeemm okedeh sayang", jawab Ari
Malam itu pun kami jadian, ntah aneh rasanya pacaran dengan anak yang usianya jauh di bawahku. Aku pernah berpacaran namun dengan teman yang beda kelas dengan ku dan usianya pun tak jauh dari aku. Untuk pacaran yang kali ini aku tak berani cerita ke kawan kawan ku, aku takut mereka membuli ku atau mengomeli ku karena memacari anak di bawah umur. Sebenarnya akupun masih di bawah umur. Umur ku belum menginjak 17 tahun saat itu. Mungkin ini cinta monyet seperti yang kebanyakan orang bilang.
Setelah saling mengirim pesan kami pun berpamitan ingin tidur. Ntah mengapa malam itu rasanya cepat sekali
"Sayang aku tidur dulu yaa, besok harus sekolah", katanya
"Iya sayang aku juga", jawabku
Keesokan harinya seperti biasa aku bangun tidur, dan ternyata Ari sudah mengirimi ku pesan
"Selamat pagi sayang", pesan nya
"Iya pagi juga" jawabku
__ADS_1
"Banyak tidak kegiatan hari ini? Tanyanya lagi
"Tidak juga kok", jawabku