
Arsa kedatangan kedua kakaknya, dan sekarang mereka berada di ruang kerjanya. Di sini juga ada anak kakak tertuanya yang sekarang berumur 21 tahun, dia sudah paham dengan apa yang terjadi di dalam keluarga Rodigwe. Jadi dia bisa Arsa andalkan, apalagi umurnya dengan dia tidak terpaut jauh.
Di umurnya yang ke 21, dia sudah bisa memegang perusahaan. Walaupun masih perlu arahan dari semua orang. Diego, nama keponakan Arsa. Tumbuh di lingkungan yang bisa dibilang banyak musuhnya, apalagi musuh keluarga Rodigwe.
Diego anak tunggal, dia tidak memiliki saudara kandung. Terkadang dia juga yang membantu Arsa dalam menjaga Glen dan Josh, karena Diego sudah menganggap mereka sebagai adiknya sendiri. Jika dengan Glen dan Josh Diego akan bersikap hangat, tapi dengan orang lain dia akan berubah menjadi orang dingin tak tersentuh.
"Arsa, bagaimana?"
"Ada beberapa hal yang ingin aku sampaikan kepada kalian semua. Ini menyangkut Laura dan musuh papa."
"Maksudnya?"
"Deksa Wijaya, dia anak musuh papa. Yang mana keluarga itu selalu mewarisi dendam turun temurun. Mungkin Deksa yang akan mengambil alih untuk membalaskan semuanya kepada kita."
Arsa melangkah beberapa langkah ke depan. "Deksa dekat dengan Laura, dan aku benci melihat kebersamaan mereka. Aku memiliki dugaan bahwa mereka memiliki hubungan yang lebih dari sekadar sahabat."
__ADS_1
"Tunggu, jadi ini semua saling berhubungan?" Arsa mengangguk mendengar pertanyaan dari abang tertuanya itu.
Arsa mengangguk pelan. "Abang tentu tahu jika aku menginginkan seseorang, segala macam cara akan aku lakukan. Termasuk menghancurkan orang-orang yang merusak rencana kamu."
Salah satu abang Arsa mendekat ke arah Arsa. "Tunggu, kenapa yang kamu katakan sekarang dan kemarin berbeda? Bukankah kemarin kamu mengatakan tidak akan memaksakan kehendak mu kepada Laura?"
"Sekarang aku ingin Laura menjadi milikku, tanpa Laura tahu sisi diriku yang sebenarnya."
Ketiga orang itu saling pandang, ketika merasa aura yang Arsa keluarkan berbeda. Ini seperti Arsa yang egois kembali hadir, padahal mereka sudah mewanti-wanti agar ini tidak terjadi. Sikap Arsa tidak bisa ditebak, begitu juga dengan pola pikir Arsa.
Seperti sekarang, dulu Arsa mengatakan dia tidak akan memaksakan perasaannya kepada Laura. Tapi sekarang berbeda lagi, dia terkesan memiliki ambisi untuk mendapatkan Laura. Atau mungkin Arsa seperti ini setelah mendapatkan kabar bahwa laki-laki yang dekat dengan Laura ternyata musuh keluarganya sendiri?
"Bagaimana jika abang mengatakan perasaan kamu hanya obsesi saja?"
"Ini bukan obsesi, perasaan ku kepada Laura hanya aku yang tahu, bukan orang lain."
__ADS_1
"Kita pergi, kamu di sini bersama dengan Diego. Bicarakan masalah ini, abang yakin kamu bisa menyelesaikannya tanpa bantuan kami. Satu lagi, pikirkan masa depan Glen dan Josh, mereka masih kecil, mereka masih membutuhkan kamu."
Di ruangan itu hanya tersisa Arsa dan Diego saja, Arsa duduk di kursi kerjanya. Diego duduk di kursi depan mejanya, Diego mengambil alih laptop yang ada di depan Arsa dan jemarinya mulai mengetuk di atas papan keyboard itu.
Arsa tetap diam sembari mengamati apa yang Diego lakukan. Keadaan hatinya berubah-ubah, terkadang ia merasa marah, ingin melampiaskannya kepada sesuatu, apalagi jika teringat momen di mana laki-laki itu menjemput Laura di depan rumahnya.
"Bang, ada beberapa poin penting yang mungkin lo lupain." Diego memanggil Arsa memang dengan sebutan seperti itu.
"Salah satunya tentang keadaan Laura, dia seumuran dengan gue. Tentu gue tahu bagaimana perasaan dia. Perempuan akan nyaman bersama dengan laki-laki yang selalu ada di dekat dia. Apalagi setelah dipikir-pikir dia memberikan perhatian lebih dari seorang sahabat kepada Laura."
"Jadi maksudmu aku tidak cocok dengan dia?"
Diego mengusap rambutnya kasar. "Gue enggak bilang seperti itu. Di sini gue bicara seperti apa yang gue lihat, jangan hanya mengamati dengan mata, tapi juga dengan hati."
"Bagaimana kalau aku membunuh dia di hadapan Laura? Agar Laura tidak berani lagi membantah apa yang aku katakan?" Diego hanya bisa terdiam mendengar pertanyaan dari Arsa. Seketika ekspresinya menjadi datar.
__ADS_1
"Lo jangan gila! Jangan suguhin sisi kotor lu sama Laura! Bukannya dia nurut sama lo, yang ada dia malah menjauh dari lo! Pikirin kemungkinan buruk yang bisa saja terjadi! Jangan jadi bodoh dalam hal percintaan!"
Arsa terdiam, benar apa kaya Diego. Ia tidak boleh bodoh dalam hal percintaan. Ia harus bisa berpikir ke depan dan tetap fokus dengan kemungkinan buruk yang sewaktu-waktu akan terjadi. Laura tidak boleh membenci dirinya, dan Laura tidak boleh melihat siapa dirinya yang sebenarnya.