Paksaan Pernikahan Dengan Duda

Paksaan Pernikahan Dengan Duda
Berkuasanya Arsa


__ADS_3

Arsa sudah sampai di rumah Laura, dengan segera ia turun dari dalam mobil. Ia mengetuk pintu beberapa kali, tapi tak kunjung ada sahutan dari dalam. Tak berselang lama, pintu terbuka, ia melihat Laura yang malah langsung masuk setelah membuka pintu.


Kedua anaknya berlari ke arahnya, ia merentangkan tangannya dan langsung dipeluk oleh mereka. Wajah Glen dan Josh tampak bahagia, tapi tidak dengan wajah Laura. Perasaannya semakin tak enak, apalagi ia sadar jika di rumah ini hanya ada dirinya.


"Terimakasih sudah menjaga anak saya." Arsa berucap begitu tulus kepada Laura.


"Hm," dehem Laura sebagai jawaban.


Laura berusaha mempertahankan kesan cuek ketika berada di dekat Arsa. Meskipun dalam hati, ia masih merasakan beberapa ketidaknyamanan terkait hubungan mereka yang rumit. Dengan senyuman yang dipaksakan, ia mencoba untuk terlihat santai dan tidak terlalu memperdulikan keberadaan Arsa. Laura sengaja mengalihkan perhatiannya ke hal-hal lain.


Ia berusaha untuk tidak menunjukkan perasaannya yang bercampur aduk kepada Arsa, meskipun sebenarnya dalam hatinya ia ingin mengungkapkan segala ketidakpuasannya. Laura berusaha menjaga jarak dan tidak terlalu terlibat dalam urusan Arsa, sehingga ia bisa melindungi dirinya sendiri dari rasa sakit dan kekecewaan yang mungkin timbul.


"Glen, Josh, ucapkan terimakasih."


Glen dan Josh berdiri di depan Laura dan mendongak ke arah Laura. "Terimakasih karena kamu ajak kita main."


Laura tersenyum tipis. "Sama-sama." Laura mendekatkan mulutnya di samping telinga Glen. "Jangan bilang kalau kita tadi bersenang-senang, kamu harus janji sama aku. Nanti jika kamu ke sini aku akan ajak kamu main lagi," bisik Laura yang hanya dirinya dan Glen saja yang dengar.


"Oke," jawab Glen.


Glen dengan polosnya tersenyum mendengar bisikan dari Laura. Matanya berbinar-binar penuh kebahagiaan karena merasakan kehangatan dan kasih sayang dari calon ibunya. Laura memberikan bisikan lembut yang mengungkapkan betapa dia peduli dan menyayangi Glen. Sebuah senyuman lebar terukir di wajah Glen, menyiratkan kegembiraan dan rasa aman yang dirasakannya.


Meskipun hubungan mereka masih dalam tahap awal, namun saat itu, dalam momen itu, Glen merasa benar-benar diterima dan dicintai oleh Laura. Ia merasa bahwa di tangan Laura, ia menemukan seorang ibu yang akan menjaganya dan memperhatikannya dengan penuh kasih sayang. Glen pun merasa bahagia dan bersemangat untuk menjalani perjalanan hidup bersama Laura dan Josh.


"Udah sana pulang, gue mau tidur," usir Laura dengan nada sewot.


Arsa menganggukkan kepalanya. "Sekali lagi terimakasih, saya harap kita bisa bertemu lagi."

__ADS_1


Tanpa menjawab lagi, Laura langsung menutup pintu. Tapi ia mengintip Arsa dari jendela dalam, dirinya melihat Arsa yang mulai masuk dari mobil. Setelah memastikan dia benar-benar pergi, ia pun pergi ke kamarnya.


Sebenarnya tadi ia bersenang-senang dengan Glen dan Josh, tapi begitu malu untuk mengakui ini. Jadi ia harus bisa menyakinkan Arsa bahwa dirinya tidak suka dengan dia dan juga anaknya. Tapi tidak buruk juga bersama Glen dan Josh dalam waktu beberapa jam.


Laura berusaha menyembunyikan kegembiraannya saat bermain dengan Glen. Meskipun hatinya penuh dengan kebahagiaan dan rasa sayang terhadap anak tirinya, ia memilih untuk tidak memperlihatkannya kepada Arsa. Dalam hati, Laura menyadari bahwa Arsa mungkin tidak akan mengerti atau bahkan merasa cemburu jika mengetahui betapa dekatnya dirinya dengan anak-anak tersebut.


Laura ingin menjaga kedamaian dan keseimbangan dalam hubungan mereka bertiga, terlepas dari perbedaan dan dinamika yang mungkin muncul. Meski terkadang sulit untuk menyembunyikan perasaannya, Laura berusaha dengan tekun untuk tidak menunjukkan rasa bahagia yang memancar di dalam dirinya, setidaknya sampai saat yang tepat tiba untuk mengungkapkan hal itu kepada Arsa.


***


Arsa sudah sampai di rumahnya, dengan segera ia masuk ke dalam rumahnya bersama dengan kedua anaknya. Di rumah yang besar ini ia tinggal bersama dengan anak-anaknya saja, ada beberapa pengawal yang bertugas untuk menjaga Glen dan Josh.


Banyak sekali kamera pengawas di sini, itupun semata-mata untuk memantau Glen dan Josh saja. Untuk mencegah jik sesuatu buruk terjadi, jadi pengawasan di rumahnya benar-benar ketat. Semua yang terbaik ia berikan kepada kedua anaknya.


"Glen, Josh, sini. Papa mau bicara sama kalian berdua." Arsa menepuk sofa kosong yang ada di sampingnya. Saat ini ia berada di ruang tamu utama rumahnya.


Arsa memberikan pertanyaan kepada kedua putranya yaitu Glen dan Josh, karena ia benar-benar ingin tahu apa saja yang mereka lakukan di rumah Laura. Arsa takut Laura sulit menerima keberadaan Glen dan Josh.


"Duduk dan menonton televisi."


"Yang lainnya?" tanya Arsa dan dijawab gelengan oleh kedua anaknya.


"Dia ada ngomong sesuatu sama kalian? Tentang papa misalnya?"


"Kata mama baru, papa enggak boleh sering-sering datang ke sana. Mama baru enggak suka sama papa, mama baru juga enggak mau di panggil seperti itu."


"Lantas kalian memanggil dia apa?"

__ADS_1


"Kamu? Karena kita bingung mau memanggil mama baru apa, kata papa kita tidak boleh memaksakan kehendak kita. Jadi kita tidak mau memanggil mama baru lagi."


"Kalian tidak salah memanggil dia dengan sebutan kamu. Tapi kalian juga harus tahu batasan, mau bagaimanapun dia lebih tua dari kalian."


"Kami paham papa."


"Kalian bisa mandi, minta anterin sama bibi."


Arsa menatap Glen dan Josh yang mulai pergi dari sini, ia menghela nafas pelan. Laura benar-benar tidak suka dengan dirinya, kecewa? Tentu saja, ia sangat kecewa dengan hal ini. Sebenarnya apa dosa yang ia buat sehingga sangat sulit untuk mendapatkan hati Laura.


Padahal ia yakin jika Laura merupakan cinta terakhirnya dan ia berjanji untuk tidak akan mencintai wanita lain selain Laura. Tapi kenyataan begitu menyakitkan, ditolak mentah-mentah itu tidak enak. Di luar sana banyak sekali yang ingin menjadi pendamping hidupnya.


Tapi itu tak berlaku untuk Laura, dia benar-benar tidak tertarik dengan hartanya. Banyak perempuan yang mencintai hartanya, apalagi setelah tahu ia keturunan Rodigwe. Itu semakin membuat para perempuan tak gencar mendapatkan hatinya.


Tak mau pusing memikirkan ini, ia pun berdiri dan berjalan pergi. Tapi baru berjalan beberapa langkah, suara bawahannya membuat ia berhenti dan berbalik badan.


"Ada apa?" tanyanya kepada 3 orang pengawalnya.


"Laporan yang anda minta sudah kami dapatkan."


"Di mana kalian meletakkannya?"


"Di meja kerja anda. Beberapa informasi kami dapatkan melalu penyusup."


"Berapa nominal yang di keluarkan untuk ini?"


"50 juta untuk satu informasi penting, kami mendapatkan 3 informasi yang akan sangat berguna untuk anda."

__ADS_1


"Salah satu dari kalian ikut saya."


__ADS_2