Paksaan Pernikahan Dengan Duda

Paksaan Pernikahan Dengan Duda
Makan malam bersama


__ADS_3

Laura duduk sendirian di kamarnya, wajahnya masih mencerminkan rasa kesal setelah kejadian di kafe tadi. Pikirannya masih terus-menerus memutar kembali kata-kata yang dilontarkan oleh Ria. Rasa jengkel dan marah memenuhi hatinya, sulit baginya untuk melupakan insiden tersebut. Laura merasa bahwa dirinya telah dituduh dengan tidak adil dan merasa tidak nyaman dengan sikap Ria.


Dalam keheningan kamarnya, Laura memutuskan untuk memberikan dirinya sedikit waktu untuk meredakan emosi. Laura sedang asyik dalam lamunannya ketika tiba-tiba pintu kamarnya terbuka perlahan. Terkejut, Laura menoleh dan melihat Glen dan Josh berdiri di ambang pintu dengan senyuman di wajah mereka. Mereka berdua tampak antusias dan ceria, seolah-olah tidak menyadari suasana hati Laura yang sedang kesal.


"Hey, Laura! Kami berdua sedang kelaparan, maukah kamu bergabung dengan kami untuk makan malam bersama?" ujar Glen sambil menunjukkan senyum ramah.


Laura melihat ke arah mereka dengan ekspresi campuran antara keterkejutan dan ketidaksenangan. Namun, melihat keceriaan mereka, ia merasa tidak enak hati untuk menolak ajakan tersebut. Dalam hatinya, Laura berpikir bahwa mungkin ini adalah kesempatan untuk mengalihkan pikiran dan melupakan kejadian tadi.


"Dengan senang hati, guys. Aku butuh sedikit hiburan malam ini," jawab Laura dengan lembut, mencoba menyembunyikan kekesalannya.


Glen dan Josh saling pandang, menyadari bahwa ada sesuatu yang sedang mengganggu Laura, namun mereka memilih untuk tidak menanyakan lebih lanjut. Mereka berharap bahwa waktu bersama di malam itu akan membantu Laura merasa lebih baik. Bersama-sama, mereka meninggalkan kamar Laura dan melangkah menuju petualangan makan malam yang baru.


Setelah beberapa saat berjalan bersama Glen dan Josh, Laura tiba di meja makan di mana Arsa sudah duduk menunggu mereka. Laura melihat Arsa dengan tatapan kaget namun juga sedikit lega. Dia tidak menyangka bahwa Arsa juga akan bergabung dalam makan malam ini.


"Arsa, lo juga di sini?" tanya Laura dengan suara agak terkejut namun senang melihat temannya.

__ADS_1


Arsa mengangguk dengan senyuman. "Ya, aku mendengar kalian akan makan malam bersama, jadi aku memutuskan untuk ikut juga. Aku harap kau tidak kepikiran dengan apa yang terjadi tadi."


Laura tersenyum, merasa lega bahwa Arsa ada di sana. "Gue baik-baik saja sekarang. Terima kasih atas perhatiannya."


Glen dan Josh bergerak untuk duduk di meja makan, membawa suasana yang lebih ceria dengan obrolan dan tawa mereka. Meskipun masih terbersit sedikit kekesalan di hati Laura, kehadiran Arsa dan keceriaan teman-temannya membuatnya merasa lebih nyaman dan terhibur.


Laura memilih untuk menikmati momen ini, melupakan sejenak kejadian di kafe tadi. Dia berharap malam ini akan menjadi momen yang menyenangkan dan membawa kebahagiaan baginya serta teman-temannya.


Suasana di meja makan tiba-tiba terasa hening. Setelah beberapa percakapan yang ramai, semua orang tiba-tiba terdiam, dan suasana menjadi canggung. Pandangan mereka saling bertemu, mencerminkan perasaan yang beragam. Ada ketegangan di udara yang sulit diabaikan.


Mereka semua menyadari bahwa ada ketegangan di antara mereka, akibat peristiwa yang baru saja terjadi. Ketidaktahuan tentang apa yang harus diucapkan atau bagaimana menenangkan suasana semakin membuat keheningan semakin mencekam.


Laura merasa berat dengan keheningan ini. Dia merindukan keceriaan dan keakraban yang biasanya ada di antara mereka. Namun, saat ini, hening itu tampak tak terhindarkan.


Dalam upaya untuk meredakan ketegangan, Laura memutuskan untuk mengambil inisiatif. Dengan suara lembut, dia memulai percakapan ringan tentang hal-hal sehari-hari. Sedikit demi sedikit, suasana mulai melunak dan perlahan-lahan, keheningan yang tadi terasa menyengat itu mulai menghilang.

__ADS_1


Tiba-tiba saja, Laura merasa ada keinginan yang tulus untuk memperbaiki suasana. Tanpa ragu, dia meraih sendok dan memasukkan sepotong makanan kecil ke dalam sendoknya. Dengan senyuman lembut, Laura mengulurkan sendok itu ke arah Glen.


"Glen, coba ini," ujarnya dengan penuh kehangatan.


Glen yang awalnya terkejut dengan tindakan tersebut, akhirnya mengernyitkan keningnya, namun tak lama kemudian ia tersenyum dan menerima sendok itu. Laura dengan penuh kehati-hatian dan penuh kasih mengarahkan sendok itu ke mulut Glen, memberinya makanan tersebut.


Rasa hangat dan kebersamaan terpancar dalam momen tersebut. Semua orang di meja makan memperhatikan dengan hati yang tersentuh oleh tindakan kecil itu. Josh dan Arsa pun ikut tersenyum, merasa bahwa momen ini adalah langkah pertama menuju rekonsiliasi dan pemulihan hubungan yang tegang.


Dalam satu gigitan, Glen menelan makanan itu dengan penuh rasa terima kasih. Ekspresi di wajahnya berubah menjadi lebih ringan, seolah beban di hatinya mulai sedikit berkurang. Laura mengangkat sendoknya dan menatap Glen dengan penuh harap.


"Apakah kamu mau makanan lainnya?" tanya Laura lembut.


Glen mengangguk, menyatakan bahwa dia ingin mencoba makanan lain yang ada di meja. Semua orang di meja makan akhirnya tersenyum lega, merasa bahwa momen itu adalah titik balik yang penting dalam memulihkan hubungan mereka.


Dengan setiap suapan makanan yang mereka nikmati, suasana di meja makan semakin hidup. Keheningan yang sebelumnya menghiasi udara digantikan oleh tawa kecil, obrolan ringan, dan kehangatan di antara mereka. Mereka mulai mengerti bahwa melalui tindakan kecil dan saling pengertian, mereka bisa memperbaiki hubungan yang rusak dan kembali menjadi keluarga yang harmonis.

__ADS_1


Arsa yang melihat itu tersenyum kecil, tidak salah ia ingin menjadikan Laura sebagai ibu dari anak-anaknya. Walaupun terkadang ia mendapatkan nada ketus dari Laura.


__ADS_2