Paksaan Pernikahan Dengan Duda

Paksaan Pernikahan Dengan Duda
Melihat mantan istri Arsa


__ADS_3

Laura berada di sebuah restaurant cepat saji, ia tengah makan bersama dengan ketiga sahabatnya. Ada Mauren, Yuta, dan juga Cia. Mereka semua libur kerja, jadi bisa ia ajak untuk makan bersama di sini.


"Gimana hari pertama lo kerja?"


"Gue yang lo tanyain?" Laura menunjuk dirinya sendiri.


"Ya iyalah! Cuma lo yang baru dipecat!"


"Biasa aja kali, heran deh gue."


"Jawab bodoh!"


Laura menatap satu persatu teman-temannya. "Kerja sama Deksa tuh enak banget, dia biarin kalah gue tidur di kantor. Suka traktir makan, yang jelas dia selalu jemput gue. Irit kendaraan enggak tuh!"


"Enak bener jadi lo! Kayaknya ada apa-apa nih."


"Gue setuju ama Mauren, kayaknya lo ada sesuatu sama Deksa."


"Enggak lah, gue sama dia cuma sahabatan doang."


"Tapi kok pakek dijemput segala sih? Jangan bilang dia jemput di rumah Arsa?" Dengan santainya Laura mengangguk.


"What?! Lo benar-benar gila Laura!"


"Parah sih lo, Lau."


Laura masih menampilkan wajah santainya, karena ia tak merasa ucapannya salah. Memangnya salah Deksa menjemput dirinya di rumah Arsa? Lagian Deksa tidak tahu jika itu rumah Arsa. Teman-teman Laura sudah tahu jika dirinya tinggal di rumah Arsa.


Mereka sangat terkejut, teman-teman Laura takut jika Laura dan Arsa kelepasan hingga memiliki seorang anak. Terkesan cukup buruk, tapi tidak ada salahnya menduga. Laura jomblo, begitu juga dengan Arsa yang masih berstatus sebagai duda.


Bisa dibilang cocok-cocok saja. Tapi Laura membantah pikiran kotor teman-temannya. Karena menurut Laura itu tidak benar. Enak saja ia 'bermain' dengan Arsa. Yang ada ia jijik duluan. Intinya pikiran kotor itu sama sekali tidak ada di pikirannya.


"Deksa enggak tahu apa yang terjadi sebenarnya, jadi jika dia belum mengetahui kayaknya aman-aman aja."


"Gini nih kalau punya temen cantik, diperebutin dua cowok sekaligus. Mana ganteng sama tajir semuanya."


"Gue enggak bilang ya kalau Deksa deketin gue, apa kalian nyimpulin dari dia yang sering antar jemput gue? Astaga, itu wajar banget dalam pertemanan."


"Yang enggak wajar sih kalau rumahnya beda arah tapi rela-relain jemput lo."


"Apa sih kalian, aneh banget. Capek ngejelasinnya gue kalau kayak gini." Laura berdecak kesal.


"Peka dikit napa Lau, bisa aja Deksa suka sama lo. Secara dia yang nawarin lo kerja, lo tahu bukan cari kerja di sini susah. Banyak perusahaan yang kurangin karyawannya."


"Iya juga sih. Tapi mungkin aja Deksa balas budi karena semasa SD gue baik banget sama dia."


"Terserah lo aja deh Lau, au ah gelap pokoknya."


Laura kembali melanjutkan makanya, padahal Mauren dkk ingin sekali memukul otak Laura yang begitu lemot. Pantas saja dia di pecat! Orang lemotnya sampai kayak gini. Juga Laura itu enggak peka! Sampai-sampai semua orang dibuat gemas dengan sikapnya.

__ADS_1


Laura malah bersikap biasa saja, apakah dia tak tahu jika semua teman-temannya tengah gemas kepada dia? Aish, Laura itu menyebalkan! Diperebutkan dua cowok, tapi tidak peka! Dasar Laura, aneh dan ajaib sih orangnya.


***


"Papa, Laura ke mana?" Glen dan Josh  masuk ke dalam kamar Arsa.


"Jangan panggil seperti itu, dia lebih tua dari kalian." Arsa memberikan pengertian kepada kedua anaknya.


"Lantas kita harus panggil dia apa? Mama? Dia tidak mau."


"Panggil kakak saja."


"Dia bukan kakak kita," seru mereka.


"Panggil dia kakak jika kalian berbicara dengan papa, okey?" Glen dan Josh dengan kompak menganggukkan kepala mereka.


"Ke mana kakak?" mereka mengulangi pertanyaan yang sama untuk yang kedua kalinya.


"Mungkin pergi bersama dengan teman-temannya. Lebih baik kalian mandi, papa juga akan mandi."


"Baiklah, kami keluar dulu."


Arsa mengangguk dan menatap kedua anaknya yang mulai pergi meninggalkan kamarnya. Baru juga Laura pergi sebentar, tapi mereka sudah mencari Laura saja. Lantas bagaimana jika Laura pergi meninggalkan rumah ini dan tidak akan bertemu dengan dirinya?


Tidak seharusnya ia berpikir buruk, perlahan-lahan ia akan membuat Laura bergantung kepada dirinya dan dia tidak akan meninggalkan dirinya. Setidaknya itulah rencana dirinya untuk sekarang ini. Ia akan memulainya sebaik mungkin, mulai dari menyingkirkan laki-laki yang selama ini dekat dengan Laura.


Laura masih berada di dalam restaurant itu, ia melihat mantan istri Arsa. Yang lebih mengejutkannya lagi, dia bersama dengan seorang laki-laki. Sepertinya perempuan itu tidak tahu ia berada di sini. Semua teman Laura bingung melihat Laura yang hanya diam saja.


"Laura, lo kenapa? Kayak mau maling aja."


"Jangan berisik, gue lagi ngawasin seseorang." Laura memberikan kode kepada teman-temannya agar mereka tidak berisik.


"Paparazi nih orang."


"Sini, gue kasih tahu sesuatu." Laura menyuruh temannya untuk mendekat ke arah dirinya.


"Yang duduk di kursi ujung, perempuan sama laki tuh mantan istrinya Arsa."


"HAH?" pekik mereka secara bersama-sama.


Laura langsung menepuk jidatnya. "Jangan keras-keras bego, dia kenal sama gue. Jadi jangan sampai di tahu gue ada di sini."


"Wah, gaswat ini. Masker mana masker, lo harus pakai masker Laura. Gila, gila! Ini enggak bisa dibiarin!" Mauren dkk langsung mengobrak-abrik isi tas mereka guna mencari masker.


Laura hanya bisa tersenyum paksa melihat apa yang teman-temannya lakukan. Sampai salah satu di antara mereka memberikan masker untuk dirinya dan juga satu buah kacamata hitam. Ia pun langsung memakainya, walaupun ada beberapa tatapan orang yang kurang enak di lihat.


Untung saja makanannya sudah habis, jadi tidak apa Laura memakai masker. Semua teman-temannya juga ikut panik, padahal ia sudah berkata kepada mereka agar tidak terlalu panik. Hanya saja semua teman-temannya itu panikan, jadi terserah bagaimana reaksi mereka.


"Laura, jangan bilang lo enggak akur sama dia?"

__ADS_1


"Gue aja habis berantem sama dia, bagaimana mau akur. Pokoknya dia nyebelin banget, kayak nenek lampir tahu enggak. Yang lebih parahnya lagi, dia datang ke rumah Arsa kayak orang gila. Heran gue dibuatnya."


"Gitu-gitu juga bekas Arsa."


"Filter dikit napa ucapan lo, tuh mulut asal njeplak aja. Enggak enak diliatin orang-orang."


"Akhirnya temen gue yang satu ini bijak."


Laura menggeleng pelan, angkat tangan jika tidak kuat dengan perdebatan ini. Tapi tunggu, mengapa mantan istri Arsa seperti melihat ke arah dirinya. Langsung saja ia melihat ke bawah dan mengajak berbicara kepada teman-temannya.


"Jangan berisik, dia lihatin kita."


"Astaga Lau, gue jadi takut gila."


"Gue juga takut! Yok keluar dari sini, kayaknya enggak aman kalau di sini terus."


"Katanya mau jadi paparazi, kok keluar sih?"


"Tuh mulut bego banget! Di denger banyak orang kagak enak anjing."


"Dahlah, gue mau keluar!" Laura langsung berjalan keluar dari sini tanpa menunggu persetujuan dari teman-temannya. Tentu saja teman-temannya mengikuti dirinya yang keluar dari restoran ini.


***


Laura berada di parkiran restoran, tadi ia ke sini numpang Mauren, karena hanya dia yang melewati rumah Arsa. Jadi ia dijemput oleh Mauren. Hitung-hitung menghemat pengeluarannya. Apalagi ia sudah berjanji kepada dirinya sendiri untuk menghemat dan meminimkan pengeluarannya.


Mauren mau bertemu pacarnya, jadi ia bingung mau pulang dengan siapa. Teman-temannya yang lain juga mau pergi, sepertinya mereka sengaja membuat dirinya menderita. Jadi hari ini ia sangat kesal dengan mereka, biasanya ia punya supir yang bisa menjemput dirinya.


Tapi semua itu sudah sirna? Menelepon supir Arsa? Kayaknya itu hal yang buruk. Sungguh, ia sangat kesal dan ingin sekali mencabik-cabik wajah mereka. Pokoknya ia kesal dengan mereka!


Tin


Tin


Tiba-tiba ada mobil yang berhenti di depan Laura, kaca mobil itu terbuka terlihat Deksa di dalam mobil itu.


"Kenapa Lau?"


"Ini nih, Laura mau pulang. Tapi enggak tahu sama siapa, soalnya kita juga mau pergi dan lawan arah sama rumahnya Laura." Bukan Laura yang menjawab, tapi salah satu temannya.


"Sama gue aja, Lau. Gue antar sampai rumah lo."


"Enggak ah, takutnya gue ngerepotin lo."


"Udah, naik aja. Gue juga mau ngomong sesuatu sama lo."


"Udah lah Lau, masuk aja. Ini udah mau malam, ketimbang lo di sini, bisa-bisa kita tinggal."


Laura berdecak. "Awas aja kalian, gue sebel banget sama kalian!" ujarnya lalu masuk ke dalam mobil.

__ADS_1


Sementara teman-teman Laura hanya bisa tertawa melihat wajah Laura yang memerah menahan kesal. Puas sekali membuat Laura kesal, akhirnya mereka pun masuk ke mobil masing-masing. Merasa tenang karena Laura pulang dengan orang yang tepat, mungkin.


__ADS_2