Paksaan Pernikahan Dengan Duda

Paksaan Pernikahan Dengan Duda
Bersama Deksa


__ADS_3

Laura berada di dalam mobil Deksa, Deksa mengendarai mobilnya dengan kecepatan sedang. Entah apa jadinya jika Deksa tidak lewat jalan itu, mungkin ia akan pulang sendirian atau dengan terpaksa menelepon Arsa. Tapi ia sangat senang karena bisa pulang dengan Deksa.


Itu artinya ia tidak akan menambah hutang budinya dengan Arsa. Karena ia tak mau terus menerus bergantung dengan Arsa, mulai dari tempat tinggal, makan, minum, dan sebagainya.


"Laura, lo ke rumah lo sendiri 'kan?"


Laura langsung menatap Deksa. "Gue masih tinggal sama saudara gue, nyokap bokap gue ke luar negeri. Jadi gue akan tinggal di rumah saudara gue dalam waktu yang lama."


"Jadi gue kalau mau jemput lo langsung ke sana aja?"


"Emangnya lo mau jemput gue ke mana?"


"Berangkat kerja."


"Tapi 'kan enggak searah."


"Udahlah enggak apa-apa, gue juga mau jemput lo."


"Terserah lo aja sih, tapi gue juga enggak minta lo jemput setiap hari. Kalau lo sibuk, lo enggak perlu jemput gue."


"Gue usahain untuk selalu jemput lo, biasanya gue berangkat ke kantor sendiri. Tapi kalau sama lo, gue enggak merasa sendiri dan ada teman ngobrol."

__ADS_1


Lama melakukan percakapan, tanpa sadar mereka sudah sampai. Dengan segera Laura turun, ia menghela nafas lega ketika situasi di luar cukup sepi. Ia melambaikan tangan kepada Deksa dan seketika mobil Deksa menghilang dari pandangannya. Sebelum masuk Laura terdiam selama beberapa saat.


Memikirkan hal yang seharusnya tidak dirinya pikirkan, misalnya bagaimana jika Arsa marah dirinya pulang dengan Deksa? Ia hanya terlalu takut dengan itu, padahal ia bisa membubuhi fakta bahwa dirinya tidak memiliki hubungan apapun dengan Arsa.


Laura menggeleng pelan, setelah itu ia masuk ke dalam rumah besar milik Arsa ini. Tapi ia melihat Glen dan Josh duduk di teras rumah dengan kepala di taruh di atas meja. Tidak hanya itu saja, mereka tampak mengantuk, tapi mengapa mereka tetap ada di sini?


"Glen, Josh, kenapa kalian ada di sini?"


Seketika kedua anak itu langsung merubah posisi menjadi duduk. "Kami menunggu kamu pulang, kenapa lama sekali?"


"Siapa yang suruh?"


"Astaga," gumam Laura.


"Di mana papa kalian?"


"Entah, kami tidak mengetahuinya."


"Baiklah, sekarang kalian masuk. Di luar dingin, bisa-bisa diriku yang kena marah oleh papa kalian."


Laura membawa mereka masuk ke dalam rumah. Bisa-bisanya mereka ada di luar, apalagi hari sudah mulai malam. Arsa benar-benar kurang dalam mengawasi mereka. Jika mereka sakit siapa juga yang repot? Ia dibuat tak habis pikir dengan Arsa.

__ADS_1


Sesampainya di dalam ia melihat Arsa yang turun dari tangga, langsung saja ia menghampiri dia.


"Lo gimana sih?! Anak-anak lo ada di luar, kalau mereka diculik gimana? Untung gue cepet pulang."


"Mereka menunggu kamu, saya sudah bilang kepada mereka untuk menunggu di dalam. Tapi mereka tidak mau, jika sudah seperti ini saya tidak bisa apa-apa."


"Udahlah, lo pinter banget ngelesnya. Bisa-bisa mereka sakit karena kena angin luar yang dingin." Laura terus mengomel saja.


"Kamu perhatian dengan anak saya?"


"Pertanyaan macam apa itu." Laura mau pergi, tapi tangannya langsung dicekal oleh Arsa.


"Katakan jika kamu mulai sayang dengan mereka, Laura. Saya tahu kamu mulai menyayangi anak saya, dengan perhatian kecil dan mungkin dengan perasaan yang tidak kamu sadari sebelumnya."


"Itu urusan gue! Diem aja deh lo!"


"Sudah saya duga." Arsa tersenyum tipis melihat Laura yang mulai pergi dari hadapannya.


Mau Laura pergi jauh pun, ia akan tetap mengejarnya. Laura tidak akan pergi dari dirinya, ia yakin Laura menjadi orang yang tepat untuk dirinya kelak. Perjuangan ini belum usai, atau mungkin sedikit lagi mencapai puncak?


Yakin saja jika semua perjuangan ini akan ada harganya. Berganti dengan kenyataan manis yang selama ini dirindukan. Harus yakin walaupun cukup jauh dari kenyataan. Berprasangka baik tidak ada salahnya bukan.

__ADS_1


__ADS_2