Paksaan Pernikahan Dengan Duda

Paksaan Pernikahan Dengan Duda
Arsa yang bijaksana


__ADS_3

Arsa mengajak Laura makan malam di sebuah restoran yang cukup terkenal, hanya mereka berdua. Sepertinya Glen dan Josh mau Arsa berduaan dengan Laura. Senangnya memiliki anak yang pengertian.


Entah mengapa Laura tidak menolak ketika Arsa ajak ke sini, sebenarnya Arsa curiga. Tapi ia tidak bisa berpikir buruk tentang dia. Seharusnya ia senang karena Laura mau ia ajak ke sini. Bukannya sedih dan berpikir hal buruk.


"Kamu suka dengan makanan yang ada di sini?" Laura mengangguk.


"Eh, gue mau nanya deh sama lo. Sebenarnya mantan istri lo punya kekasih enggak sih?" Pertanyaan yang ingin sekali Laura ucapkan, tapi baru bisa ia ucapkan sekarang.


"Entahlah, saya sudah tidak lagi mengurusi tentang kehidupan dia."


"Tapi gue lihat dia sama cowok, punya tato. Pokoknya serem banget."


"Benarkah?" Laura langsung mengangguk.


"Sepertinya —" belum juga Arsa menyelesaikan ucapannya, tiba-tiba ....


Byur


Ada seseorang yang menyiram Laura dengan air minuman!

__ADS_1


Arsa begitu terkejut ketika seseorang dengan sengaja menumpahkan minuman di atas kepala Laura. Yang lebih mengejutkannya lagi, pelakunya adalah mantan istri Arsa! Hal ini tentu membuat Arsa marah besar. Sontak ia berdiri dan mendorong tubuh Ria hingga dia hampir terjungkal ke belakang.


"Lo ya!" Laura menatap marah ke arah Ria. Bajunya sudah basah, moodnya benar-benar turun dengan drastis.


"Gue enggak ada masalah sama lo! Kenapa lo siram gue bangsat!" Akhirnya kata-kata kasar Laura keluarkan di tempat umum seperti ini.


"LIHATLAH DIA!" Ria menunjuk ke arah Laura. "DIA YANG MEREBUT ANAK SAYA DARI SAYA! DIA WANITA MARAHAN!"


Mendengar dirinya di maki-maki seperti ini, Laura langsung berjalan cepat ke arah Ria dan menjambak rambut Ria dengan perasaan penuh amarah.


"LO JANGAN ASAL BICARA! YANG ADA LO YANG ENGGAK BISA JADI IBU! GUE BUKAN PEREMPUAN YANG DIAM AJA KETIKA GUE DI HINA SEPERTI INI!" Laura terus melancarkan aksinya untuk menjambak Ria.


Sementara Arsa mencoba melepaskan tangan Laura yang mencengkram kuat rambut Ria. Suasana semakin ricuh, belum lagi omongan orang-orang yang membuat telinganya memanas.


Laura sama-sama tidak mau mengalah, ia juga membalas apa yang Ria lakukan kepada dirinya. Apalagi Laura bukan tipe orang pendiam yang hanya diam saja ketika ia di tindas. Laura membalasnya tak kalah sadis.


"Jangan memutar balikkan fakta! kamu yang mencoba merebut perhatian anak saya dari saya! kamu pikir saya bodoh?!"


Emosi Laura semakin memuncak dan ia merasa tidak tahan dengan tuduhan yang dilontarkan kepadanya. Ia tidak suka dipojokkan dan merasa bahwa penilaian yang diberikan padanya terlalu berlebihan.

__ADS_1


"Lo pikir gue peduli? Lo nya aja yang nggak becus jadi istri! Lain kali nggak usah selingkuh kalau lo mau dihargai! Di sini sebenarnya lo yang wanita murahan! Bukan gue, jadi wanita perlu sadar diri dan ngaca! Syukurin tuh, anak lo nggak peduli lagi sama lo dan nempelnya sama gue!"


Dengan perasaan yang jengkel sekaligus marah, Laura memutuskan untuk meninggalkan tempat itu. Ia tidak ingin terus berada dalam situasi yang penuh dengan ketegangan dan konflik. Langkahnya terhenti sejenak di pintu, ia menatap Ria dengan tatapan penuh kebencian.


Dengan langkah tergesa-gesa, Laura meninggalkan tempat itu. Ia merasakan kebingungan, kekecewaan, dan marah yang masih membakar di dalam hatinya. Namun, ia tahu bahwa penting untuk memberikan waktu dan ruang bagi dirinya sendiri sebelum menghadapi situasi ini kembali.


Arsa, yang telah menyaksikan pertengkaran antara Laura dan Ria, merasa perlu untuk memberikan peringatan kepada Ria agar tidak mengulangi kata-kata yang menyakiti Laura. Ia mendekati Ria dengan wajah serius dan penuh kepedulian.


"Ria, aku harus mengatakan sesuatu padamu," ujar Arsa dengan tegas. "Kamu tahu betapa pentingnya mendukung dan menghormati satu sama lain dalam hubungan kita. Kata-kata yang kamu lontarkan kepada Laura tadi sangatlah menyakitkan dan tidak pantas. Satu lagi, aku tidak akan menerima jika kamu mengatakan Laura adalah wanita murahan!"


Ria menatap Arsa dengan campuran antara kebingungan dan penyesalan. "Aku... aku tidak bermaksud seperti itu, Arsa. Aku hanya... terlalu emosi."


Arsa mengangguk, tetapi tatapannya tidak berkurang seriusnya. "Emosi bisa membuat kita kehilangan kendali, tetapi itu tidak boleh menjadi alasan untuk melukai orang yang kita cintai. Laura sangat terluka oleh kata-katamu tadi. Aku berharap kamu bisa menyadari betapa pentingnya memilih kata-kata dengan bijaksana dan menghormati perasaan orang lain."


Ria merasa malu dan menundukkan kepala. "Aku benar-benar menyesal, Arsa. Aku akan berusaha lebih baik ke depannya. Aku tidak ingin melukai Laura lagi."


Arsa meletakkan tangan lembut di pundak Ria, menunjukkan dukungan dan pengertian. "Aku tahu kamu bisa menjadi pribadi yang lebih baik. Kita semua punya kelemahan, tetapi yang penting adalah belajar dari kesalahan dan berkomitmen untuk melakukan yang terbaik. Saya harap kamu bisa mengubah sikapmu dan memperbaiki hubunganmu dengan Laura."


Ria mengangguk dengan tulus. "Terima kasih, Arsa. Aku benar-benar akan berusaha lebih baik. Aku tidak ingin kehilangan Laura karena kesalahan-kesalahan bodohku."

__ADS_1


Dengan saling memahami, Arsa dan Ria mengakhiri percakapan mereka. Arsa berharap bahwa pesan yang ia sampaikan dapat memberikan dampak positif dalam hubungan mereka semua, dan bahwa kejadian ini dapat menjadi titik balik untuk perbaikan dan kedewasaan.


__ADS_2