Paksaan Pernikahan Dengan Duda

Paksaan Pernikahan Dengan Duda
Pertentangan dengan Arsa


__ADS_3

Beberapa hari setelah pertemuan dengan Ria, Arsa merasa gelisah dan cemburu. Kehadiran Ria dalam kehidupannya dan hubungan dengan Josh membuatnya merasa terancam. Dia merasa bahwa Ria bisa mempengaruhi Josh dengan cara yang ia tidak bisa. Rasa takut akan kehilangan Josh membuat hati Arsa berdebar kencang.


Laura melihat kekhawatiran yang terpancar dari wajah Arsa. Dengan penuh pengertian, ia menghampiri Arsa dan duduk di sampingnya. "Arsa, aku tahu ini tidak mudah bagimu. Tapi kita harus tetap tenang dan berpikir dengan jernih. Kita harus memberikan kesempatan pada Ria untuk membangun hubungan dengan Josh."


Arsa menggenggam tangan Laura erat-erat. "Aku tahu, Laura, tapi rasanya sulit bagiku. Aku merasa seperti Ria bisa merebut Josh dariku."


Laura mengelus lembut punggung tangan Arsa. "Percayalah padaku, Arsa. Josh tahu bahwa kamu adalah ayahnya yang mencintainya. Tidak ada yang bisa menggantikan tempatmu dalam hatinya. Ini hanya masalah waktu dan kesabaran. Kita harus memberikan ruang bagi Josh untuk menjalin hubungan dengan ibunya juga."


Arsa menghela nafas panjang. "Kamu benar, Laura. Aku tidak boleh membiarkan rasa cemburu menguasai diriku. Josh adalah anak kita, dan kehadiran Ria adalah bagian dari kehidupannya. Aku harus belajar melepaskan kekhawatiran dan mempercayai bahwa segalanya akan baik-baik saja."


Laura tersenyum lembut. "Itu dia, Arsa. Kita harus berjuang bersama dan membangun kepercayaan satu sama lain. Kita adalah tim, dan bersama-sama kita akan melewati segala tantangan ini."


Perlahan-lahan, Arsa merasakan ketenangan mengalir ke dalam dirinya. Ia mengerti bahwa cemburu dan ketakutan tidak akan membawa mereka ke mana-mana. Hanya dengan saling mendukung dan berkomunikasi, mereka bisa mengatasi segala rintangan yang ada di depan mereka.

__ADS_1


Dalam kebersamaan mereka, Arsa dan Laura memutuskan untuk menjaga komunikasi terbuka dan berusaha membangun hubungan yang kuat dengan Josh, tanpa merasa terancam oleh kehadiran Ria. Mereka meyakini bahwa dengan kasih sayang dan kesabaran, mereka akan melampaui semua hambatan dan membangun keluarga yang penuh cinta dan kebahagiaan.


***


Laura duduk termenung di kamarnya, hatinya dipenuhi kekhawatiran dan ketakutan. Meskipun ia mencoba mempertahankan sikap positif, rasa takut akan Ria merebut semuanya kembali menghantuinya. Hubungannya dengan Arsa masih belum memiliki ikatan yang kuat, dan Laura merasa dirinya rentan.


Air mata mengalir di pipinya saat ia berpikir tentang masa depan mereka. Apakah Arsa akan tergoda oleh kehadiran Ria? Apakah cinta mereka cukup kuat untuk mengatasi segala rintangan?


Dalam keheningan kamarnya, Laura mengumpulkan keberanian dan meyakinkan dirinya sendiri. "Aku harus berjuang, tidak hanya untuk diriku sendiri, tetapi juga untuk cinta kita, Arsa," gumamnya pelan.


Dengan tekad yang baru ditemukan, Laura mengusap air matanya dan bangkit dari tempat duduknya. Dia siap untuk menghadapi segala ketidakpastian dan menjaga cinta mereka tetap berkobar. Laura akan berjuang untuk meraih kebahagiaan yang mereka impikan bersama Arsa, dan tidak akan membiarkan rasa takut merampas segalanya.


Laura dengan hati berdebar-debar mendekati kamar Glen dan Josh. Dia berdiri di depan pintu, mencoba mengumpulkan keberanian untuk memasukinya. Dengan napas yang terengah-engah, akhirnya dia mengetuk pintu dengan lembut.

__ADS_1


"Glen, Josh, bolehkah aku masuk sebentar?" Laura bertanya dengan suara lembut.


Pintu terbuka perlahan, dan Glen serta Josh memandang Laura dengan tatapan penuh kejutan. Laura melihat kekhawatiran di wajah mereka, seolah-olah mereka khawatir akan terlupakan oleh kehadiran ibu baru.


Laura mengambil nafas dalam-dalam sebelum berkata, "Anak-anak, aku ingin kalian tahu bahwa aku tidak akan pernah melupakan kalian. Meskipun ada ibu baru yang hadir dalam hidup kita, itu tidak akan mengubah cinta dan perhatianku untuk kalian."


Glen dan Josh saling pandang, wajah mereka berubah menjadi lega. Glen berbicara dengan ragu, "Tapi, Laura, apa kita masih penting bagi mu?"


Laura tersenyum penuh kasih, lalu duduk di samping mereka di ranjang. Dia meraih tangan mereka masing-masing. "Kalian berdua adalah anugerah terbesar dalam hidupku, Glen dan Josh. Kalian selalu akan menjadi bagian penting dalam hatiku. Aku tidak akan pernah melupakan kalian atau mengurangi kasih sayangku karena ada ibu baru. Kita adalah keluarga, dan cinta kita saling melengkapi."


Tangisan kelegaan pun pecah dari mata Glen dan Josh. Mereka merangkul Laura dengan erat, merasakan kehangatan cinta yang tak tergantikan. Laura merasakan beban yang selama ini ia pikul perlahan terangkat, dan kepercayaan antara mereka semakin menguat.


"Makasih, Laura," Josh berkata dengan suara yang penuh emosi. "Kami sangat bahagia memiliki mu di sini, dan kami tidak akan pernah melupakanmu juga."

__ADS_1


Laura mencium kening mereka berdua, "Sekarang dan selamanya, kita bersama. Aku akan selalu di sini untuk kalian, sebagai ibu dan sahabat."


Mereka bertiga terus berpelukan erat, saling menguatkan satu sama lain. Laura merasa lega bahwa kekhawatiran mereka dapat diatasi dan cintanya tetap tak tergoyahkan. Mereka adalah keluarga yang kuat, dan bersama-sama, mereka siap menghadapi apa pun yang datang.


__ADS_2