
"Nggk kak,, nggk ada apa-apa kok, cuman agak gerah aja di dalam makanya aku tadi keluar sebentar". Ucap Yana dan berusaha meyakinkan Alex dengan ucapannya.
"Yasudah klo gitu kita masuk yukk"
Sembari mereka berjalan menuju ruangan, Alex masih sangat penasaran dengan tingkah Yana barusan dan semakin yakin kalau Yana dan Rizal lagi ada masalah.
****
Setelah pembagian Job selesai, Rizal bermaksud langsung pulang ke rumah namun dihalangi oleh Alex karena Alex masih sangat penasaran dengan kelakuan Yana tadi dan bermaksud menanyakannya pada Rizal.
"Zall,, kamu mau langsung pulang yah??". Tanya Alex sembari mendekati Rizal dan memegang pundaK Rizal.
"Iyaaa kak, emang knapa kak?? ada yang mau dibantu ya kak??". Tanya Rizal sembari melemparkan senyum manis nya pada Alex.
"Nggk Zall, nggk ada yang perlu di bantu kok, cuma ada sesuatu yang mau kakak tanya kan sama kamu". Ucap Alex sambil menatap wajah Rizal yang terlihat bingung.
" Nanya soal apa kak?? tanya sekarang aja kak disini gpp kok". Ucap Rizal yang sudah terlihat penasran sambil mengenakan sepatunya.
"Kakak pengen ngomong empat mata zal, yaudah kita ketaman samping aja yaa". Sambung Alex sambil menunjukkan taman yang ada di sebelah tempat mereka tadi.
****
Alex mengajak Rizal ketaman yang tidak jauh dari tempat pertemuan mereka. Sebelum Alex bertanya lebih dalam lagi pada Rizal, Alex membelikan dua cangkir kopi hangat untuk mereka berdua. Mereka bersulang dan meminum kopi hangat yang ditemani sebungkus roti kering. Setelah mereka bersulang, Alex mulai bertanya pada Rizal.
"Zal, sebenarnya kakak ngajak kamu kesini kakak mau nanya, kamu ada masalah ya sama Yana?". Tanya Alex sambil menatap Rizal dan mengepal secangkir kopi hangat di kedua tangannya.
"Masalahh?? masalah apa kak?? Rizal nggk ngerti"
"Yakin, kamu sama Yana nggk ada masalah nih??"
__ADS_1
"Emangnya knapa kak?? kok kakak kayak nggk percaya gitu sama Rizal". Ucap Rizal yang terlihat kaget dan sedikit kebingungan.
"Iyaa tadi siang pas pembagian job kakak nggk sengaja liat Yana keluar dengan wajah kayak kesal gitu trus pas kakak lihat keluar dia kayak emosi dan marah-marah trus kakak dengar Yana ada nyebutin nama kamu loh, makanya kakak sampe penasaran dan kakak ngajak kamu ke sini". Sambung Alex sembari meminum kopi hangat yang tersisa sedikit dan meletakkan cangkirnya diatas meja.
"Seriussss kak?? masa sih Yana semarah itu?". Rizal terlihat kaget dan wajahnya mulai memerah sembari menatap ke arah Alex dengan tattpan yang tidak bisa di artikan.
"Memang sih tadi siang pas pembagian job dia terlihat agak kesal gitu sama aku karna aku nggk bagi-bagi lembar job nya sama dia"
"Trus tadi pas pembagian job nya kak Faris nanya, knapa baca lembaran job nya nggk barengan trus aku bilang mungkin Yana masih malu-malu. gitu aja kak". Ucap Rizal yang terlihat kesal sama perlakuan Yana yang membawa-bawa nama Rizal dan hampir di ketahui oleh Alex ketua organisasi mereka.
"Kakak juga kaget tdi melihat Yana pas emosi dan marah-marah di luar"
"Zal, kamu kan sama Yana satu partner nih, kakak harap kalaupun kalian punya masalah supaya segera disrlesaikan ya zal, karna biar gimana pun kamu sama Yana nantinya akan selalu sama aplagi dalam menjalankan tugas kalian kedepannya". Ucap Alex sambil menepuk pundak Rizal sembari berdiri dan bermaksud beranjak dan meninggalkan Rizal.
****
Mendengar perkataan Alex tadi, Rizal terlihat kesal terhadap Yana. Rizal meninggalkan tempat itu dengan kesal dan penuh kecewa terhadap Yana dan segera bergegas pulang ke rumah karena hari sudah sore dan jam menunjukkan pukul 17.30 Wib. Diperjalanan menuju ke rumah, Rizal masih kepikiran dengan kata-kata Alex tadi dan menyimpan kekeslan yang amat dalam terhadap Yana. Sesekli ia memandng keluar lewat kaca mobilnya dan menggaruk-garuk kepalanya yang membuat Pak Udin yang merupakan supir pribadi Rizal terlihat bingung karena melihat raut wajah dan tingkah Rizal yang tidak biasanya.
"Gpp kok pak, Rizal hanya sedikit kecapek an aja"
"Ohh gitu den,," Pak udin tidak melanjutkan bertanya lagi dan segera melajukan mobilnya dengan lebih cepat agar segera sampai ke rumah.
****
Sesampainya di rumah Rizal langsung turun dari mobil dan bergegas masuk ke kamar dan segera membersihkan badannya yang sudah terasa gerah dan lengket. Rizal tidak menyadari, kalau ibu Novi dan papa Indra memperhatikan nya dan melihat wajahnya yang seperti adaa masalah dan terlihat sangat datar dan dingin. Papa Indra menyuruh Ibu Novi memanggilkan Rizal ke kamar untuk makan malam. Ibu Novi pun segera bergegas menuju kamar Rizal hendak mengajak Rizal untuk makan malam. Sesampainya di kamar Rizal, Ibu Novi kaget melihat anak semata wayangnya sedang duduk di atas tempat tidurnya sambil menatap ke arah foto keluarga mereka yang ada di kamar Rizal dengan tatapan kosong dan seperti ada masalah.
"Zall,, Rizall kamu kenapa nak?? kamu ada masalah yaa?? cerita sama mama nak". Ucap Ibu Novi yang terlihat sangat khawatir terhadap rizal dan mencoba menenangkan hati Rizal dengan memberikan pelukan hangat dan kasih sayang pada anak semata wayang nya itu.
"Ehh mama,, gpp kok maa Rizal nggk ada masalah apa-apa kok maa,, Rizal hanya kecapekan aja". Jawab Rizal sambil membalas pelukan hangat Ibu Novi dan memberikan seyum manisnya untuk Ibu Novi karena Rizal tidak ingin membuat Ibu Novi merasa cemas.
__ADS_1
"Yasudahh,, klo gitu kita makan malam yukk nak, papa kamu udah nungguin di meja makan"
"Iyaa maa,, yukk Rizal juga udah laper bangett nih". Sambung Rizal sambil menepuk perutnya dan mengkedipkan sebelah matanya pada Ibu Novi yang sanagt ia Cintai itu.
Ibu Novi hanya bisa terdiam dan senyum melihat tingkah lucu anaknya itu dan Ibu Novi sangat bangga pada Rizal meskipun Rizal adalah anak semata wayang, Rizal tidak pernah mau di manjakan dan tidak pernah membuat Ibu Novi dan Papa Indra kecewa. Rizal merupakan anak yang cukup mandiri dan tidak sombong, ia tidak pernah pamer pada orang-orang kalau dia merupakan anak seorang pengusah kaya yang terkenal.
Setelah keluarga tersebut selesai makan malam, Rizal bergegas masuk ke kamar dan hendak istirahat karena sudah mersa sangat lelah seharian.
****
Pagi kembali tiba jam menunjukkan pukul 05.30 Wib. Rizal sudah bangun dari tidur kali ini Rizal bangun pagi dan segera menuju ruang olahraga nya yang ada di lantai 2 rumah nya persis disamping ruang kerja Papa Indra. Rizal olahraga lebih kurang 1 jam setelah ia selesai olahraga, Rizal mandi dan hendak bergegas ke kampus. Hari ini Rizal pergi ke kampus diantar pak Udin karena Papa Indra tidak masuk kantor karena ada yang perlu di persiapkan untuk berangkat ke Korea besok dalam rangka pengesahan proyek baru Papa Indra.
Sesmpainya di kampus, Rizal bermaksud menjumpai Yana dan menanyakan langsung apakah yang dikatakan Alex semalam benar.
Ketika Rizal berjalan menuju ruang kelas Yana, ia melihat Yana sedang berjalan dari arah depan dan hendak masuk ke kelas. Langkah Yana terhenti ketika melihat Rizal dengan tatapan membunuh dan tidak bisa diartikan yang sedang berdiri di depan pintu kelas Yana.
"Kamu ngapain berdiri disitu?? aku mau masuk". Ucap Yana tanpa melihat wajah Rizal yang sudah terlihat emosi.
"Ikuttt akuu sekarang". Ucap Rizal sembari menarik tangan Yana menuju ruangan kosong yang tidak jauh dari ruang kelas Yana. Rizal menutup pintunya dan mendorong Yana hingga kesudut tembok ruangan itu.
"Kamu mau ngapain Zal?? aku mau keluar, kamu jangan macam-macam yaa klo kamu nggk lepasin aku, aku bakal teriak nih. Lepasin aku Zal". Ucap Yana yang sudah ketakutan dan matanya yang berkaca-kaca hingga ia menangis.
"Aku nggk bakal ngapa-ngapain kamu kok tenang aja, aku cuman mau nanya, apa benar semalam pas pembagian job kamu pergi ke luar dan marah-marah dan menyebut-nyebut nama aku??". Tanya Rizal dengan wajah yang sudah emosi seolah ingin memangsa.
"iyaaa,, semalam aku keluar dan marah-marah dan nyebut nama kamu karna aku sangat benci sama kamu, aku nggk suka lihat muka kamu aku nggk mau satu partner lagi sama kamu ,, hikss... hikkss... hikkss".
"Plakkkk.... ". Karena Rizal tak kuasa lagi menahan emosinya ditambah dengan ucapan Yana yang semakin membuat emosinya naik, akhirnya Rizal menampar Yana dan menatap Yana dengan tatapan yang sanagat membunuh.
Yana bergegas berlari ke toilet sambil memegang pipinya yang sudah ditampar Rizal dan menahan tangisnya. Sesampainya ditoilet Yana meluapkan tangisnya hingga ia terduduk di sudut pintu toilet. Yana tidak menyangka Rizal akan melakukan hal se kasar itu sama dia.
__ADS_1
Tak disangka Riska teman Yana melihat semua kejadian itu dan ia segera bergegas ke ruang kelas hendak memberithukan hal tersebut pada teman-teman mereka.
Ketika Riska berlari, langkahnya terhenti karena ada seseorang yang memegang pundaknya dari arah belakang.