PARTNER KU YANG SEPERTI KULKAS

PARTNER KU YANG SEPERTI KULKAS
YANA PINGSAN


__ADS_3

"Nggk usah ikut campur!". ucap Rizal sambil menatap Riska dengan tatapan yang sangat tajam sembari menlanjutkan langkahnya menuju ruang kelasnya.


"i...i..iyaaa kak,, maaf, Riska nggk bermaksud untuk ikut campur kok".


Riska tiba-tiba teringat dengan Yana yang terisak tangis di toilet. Akhirnya ia kembali ke toilet tadi untuk melihat dan memastikan kalau Yana baik-baik saja. Tak disangka ketika Riska melangkahkan kakinya dan menoleh kearah Yana, langkahnya terhenti karena melihat tubuh Yana terbaring pingsan tak berdaya di depan pintu toilet. Riska panik hampir tidak tahu hendak berbuat apa dan minta tolong pada siapa. Akhirnya Riska memanggil salah satu teman kelasnya untuk membantu membawa Yana ke kelas. Sesampainya di ruangan kelas, Riska dan teman-teman yang lain berusaha menenangkan dan menyadarkan Yana. Hingga akhirnya Yana siuman meskipun dengan kondisinya masih sangat lemah.


****


Setelah matakuliah selesai, Yana bermakaud untuk segera pulang kerumah karena ia butuh istirahat. Yana tidak seperti biasanya, setelah Rizal melakukan tindakan yang tak terpuji itu, Yana hanya bisa terdiam dan enggan hendak berbuat apa-apa. Yana pamit sama teman-temannya yang lain dan segera bergegas pulang ke rumah.


"Yan, kamu yakin bisa pulang sendiri?". Tanya Riska sambil berjalan menuju parkiran bersama Yana.


"iyaa Ris, aku gpp kok, kamu ngk usah khawatir, oh iyaa makasih ya ris, kamu udah nolongin aku tadi aku berutang budi sama kamu sekarang hehehe"


"iyaa Yan sama-sama, aku nggk nyangka klo Rizal tega ngelakuin itu sama kamu"


"Udahh Riss nggk usah di bahas lagi dehh.. yaudah aku balik duluan yaa" Ucap Yana sembari menaiki mobil pribadinya yang sudah siap untuk melaju.


"Yasudahh Yan, klo gitu kamu hati-hati yaa klo kamu perlu apa-apa langsung bilang sama aku yaa, aku bakal selalu siap bantu kamu"


"iyaa Ris, makasih yaa. Kamu teman yang baik, aku beruntung punya kawan kayak kamu".


Mobil Yana segera melaju dengan cepat menuju rumahnya. Sesampainya dirumah, Yana turun dari mobil sembari bergegas masuk kerumah dan segera muju kamarnya dan bermaksud untuk segera istirahat karena merasa sudah sangat lelah tak berdaya. Ibu Rosa dan Papa Vandy yang tidak lain adalah orangtua Yana yang sedang duduk di ruang TV hanya bisa diam terpaku melihat sikap dan gerak-gerik Yana yang tiba-tiba berubah itu. Papa Vandy sesekali menatap Ibu Rosa dengan tatapan yang penuh arti. Ibu Rosa paham akan maksud tatapan papa Vandy dan segera bergegas menuju kamar Yana dengan wajah yang diselimuti kebingungan. Sesampainya didepan pintu kamar Yana, Ibu Rosa membuka pintu dengan perlahan dan melirik ke arah ranjang Yana. Yana terlihat baru selesai mandi dan berjalan menuju meja rias yang ada di samping pintu kamarnya. Ibu Rosa segera masuk dan menghampiri anak bungsunya yang sedang mengoleskan lotion kebagian tubuhnya itu.

__ADS_1


"Yann,, tumben kamu cepat mandi nak, mau kemana??". Tanya Bu Rosa yang sedang melangkahkan kaki nya mendekati Yana sambil memberikan senyuman indah pada gadis bungsunya itu.


"ehh ada mama, gpp kok ma, Yana nggk kemana-mana kok. Yana hanya sedikit kecapekan aja dan merasa gerah makanya Yana langsung mandi". Ucap Yana yang tidak ingin membuat mama Rosa khawatir padanya.


"Yaan,, kamu lagi ada masalah yaa nak?? nggk biasanya kamu diam-diam kayak gini. Tadi papa sama mama nggk sengaja lihat pas kamu pulang dari kampus"


"Masalah apa mah?? Yana nggk ada masalah kok, Yana agak kecapekan aja makanya Yana agak lemas kayak gini"


"Yakin nggk ada masalah sayang?? gpp loh kamu bisa cerita apa aja sama mama, mama nggk mau liat wajah cantik kamu ini dirusak susana hati kamu. Apa kamu ada masalah sama teman kamu??" Seperti kain kapas yang menyentuh wajah , demikian lembutnya sentuhan kasih ibu Rosa pada gadis bungsunya itu.


Yana terdiam sejenak dan menundukkun kepalanya sembari mengusap air mata yang sudah membasahi wajah cantiknya. Ibu Rosa semakin yakin kalau Yana sedang ada masalah. Tanpa berpikir panjang, Ibu Rosa segera merangkul gadis bungsunya yang sangat ia sanyangi itu dan menatap wajah Yana dan mengusap air mata yang mengguyur di wajah cantiknya.


"Yann , kamu kok jadi nangis gini nakk?? ada masalah apa sayang?? jangan buat mama jdi panik, klo kamu ada masalah cerita dong sama mama sayang". Wajah Ibu Rosa yang terlihat semakin panik membuat nada suaranya mulai bergetar seolah bu Rosa bisa merasakan kesedihan hati Gadis bungsunya itu.


"Mahh,, Yana sedihh banget hari ini". Ucap Yana dengan jujur pada Ibu Rosa yang sedang menatap wajahnya dengan nada suara yang tersenggat-senggat dan berusaha menenangkan dirinya dan menghapus air matanya.


"Tadi pas dikampus, Yana ada masalah sama temen Yana ma trusa dia marahin Yana". Yana tidak memberitahukan hal keji yang dilakukan Rizal tadi karena Yana tidak mau Ibu Rosa jadi marah. Yana tetap mengubur dalam-dalam perlakuan keji yang dilakukan Rizal.


"Yasudahhh kamu sekarang tenang dulu yaa jangan nangis terus sayang, mama nggk mau lihat kamu sedih apalagi sampai nangis seperti ini"


"Iyaa maaa,, Yana udah lebih tenang kok sekarang". Sambung Yana sembari menatap wajah Ibu Rosa dengan wajah sembabnya dan berusaha untuk senyum agar Ibu Rosa bisa lebih tenang juga.


Ibu Rosa tidak tahu kalau seseorang yang berhasil melukai hati gadis bungsunya itu adalah Rizal anak dari Ibu Novi yang merupakan teman dekatnya sejak SMA dulu. Ibu Rosa juga tidak pernah menceritakan hal tersebut pada Yana, sehingga Yana tidak tahu sama sekali kalau Rizal adalah anak dari teman dekat mamanya. Setelah Yana sudah lebih tenang, Ibu Rosa bermaksud beranjak dari kamar Yana hendak menuju ruang TV untuk memberitahukan hal tersebut pada Papa Vandy.

__ADS_1


"Yan, mama tinggal dulu sebentar ya nak, kamu jangan sedih lagi dong, kamu kan tau klo mama nggk mau lihat anak gadis mama sedih ntarr cantiknya berkurang loh". Ucap Ibu Rosa yang sudah bangkit sambil mengelus kepala Yana dan mengusap pipi tembem Yana.


"iyaaa maa,, Yana nggk sedih lagi kok , makasih yaa maaa, mama selalu ada buat Yana"


"iyaa sayang,, yasudah, kamu belajar yaa nak mama mau keluar dulu"


"iyaa ma". Senyuman indah kembali terpancar dari wajah Yana dan kondisi Yana terlihat sudah lebih membaik.


Setelah Yana menceritakan semua pada Ibu Rosa, akhirnya Yana merasa lebih tenang dan lega. Setelah Ibu Rosa beranjak dari kamar Yana, Yana langsung naik ke atas ranjangnya sembari meraih Novel yang ada diatas meja belajarnya. Karna Yana sudah lelah seharian ditambah lagi dia pingsan di kampus tadi, dengan tidak sadar ia tertidur dengan posisi Novel menelungkupi wajahnya.


****


Jam menunjukkan pukul 16.30 Wib. Yana bangun dari tidurnya dan bergegas ke kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya dan segera bergegas menuju meja makan karena Yana sudah sangat lapar. Bi tati yang tidak lain adalah pembantu di rumah Yana, segera menyiapkan makanan untuk Yana.


"Ini non makanannnya, non pasti udah sangat lapar karna dari siang non nggk ada makan kan?!"


"iya bi, Yana udah lapar bangettt nih". Ucap Yana sembari melemparkan senyum mnisnya pada bi tati dan menepuk perutnya.


"oh iyaa bi, papa sama mama dimana?". Tanya Yana karena tidak melihat mama Rosa sama papa Vandy sudah tidak berada di ruanG TV dan terlihat tidak ada di rumah.


"Ohhh,,tuan sama nyonya tadi lagi pergi keluar sebentar non, katanya sih mau menjumpai seseorang".


"ohhh iyaa bii.. makasih yaa bi"

__ADS_1


"sama-sama non". bi tati kembali ke dapur dan memberaihkan piring-piring kotor.


Yana jdi penasaran sama seseorang yang hendak dijumpai mama Rosa dan papa Vandy seperti yang dijelaskan bi tati tadi.


__ADS_2