Pelayan Antagonis

Pelayan Antagonis
Bab 21. Bertemu


__ADS_3

'Edward bertemu dengan Alira. Mereka pergi ke taman hiburan bersama, serta pusat perbelanjaan. Budak cinta sejati yang membelikan apapun tanpa Alira memintanya.'


'Malam harinya Alira bertemu dengan Alfred di apartemen. Adegan ranjang dengan pemaksaan kembali terjadi. Kali ini Alfred memperlakukannya dengan kasar tidak seperti adegan sebelumnya.'


'Paginya mereka kembali bekerja. Alfred kembali memperlakukan Alira dengan baik.'


'Sepulang kerja, ada beberapa orang pria sewaan dari mantan kekasih Alfred yang ingin menyerangnya Alira. Edward menyelamatkan Alira setelah membunuh mereka dengan brutal. Profil masa lalu Edward sekilas dikuak penulis disini, psikopat yang membunuh anggota keluarganya.'


'Ada adegan dimana Alira bertemu dengan ibu Alfred Russel. Mereka memanggil nyonya Russel. Nyonya Russel disini begitu membenci Alira tanpa alasan yang jelas. Dalam beberapa adegan Alfred begitu lemah pada ibunya hingga membiarkan Alira ditindas.'


'Setelah itu adegan ranjang kembali terjadi, kasar seperti sebelumnya. Tapi tetap memanjakan dengan uang dan kekuasaan setelahnya.'


'Edward yang begitu mencintai Alira pada akhirnya mengetahui hubungan Alira dengan Alfred....


....


....


....


Dirinya menulis rangkaian cerita dalam ingatannya. Tidak semua dapat diingat secara rinci olehnya. Hanya garis besarnya saja, ini adalah novel bergenre dewasa dengan banyak adegan ranjang tanpa sensor. Dilengkapi dengan trailer pembunuhan yang dilakukan Edward.


Beberapa halaman buku tulis telah diisi olehnya. Hal yang dapat dihindarinya dari karya asli baru hanya satu. Memperbaiki hubungan Edward dan Flint, pembunuhan Wilmar dan keluarganya mungkin juga tidak akan terjadi mengingat dua orang tersebut telah mendekam di penjara.


Dirinya kembali menulis setelah mengisi beberapa halaman dengan ingatannya.


'Apa saja yang perlu dicegah untuk memastikan Edward tidak membunuh lagi?'


Berfikir sejenak, pembunuhan akan kembali terjadi di masa SMU Edward. Seperti adegan dalam flashback, kepala seorang guru olahraga yang dipenggal karena berusaha melecehkan Alira.


"Apa Edward kesayanganku yang manis dapat memenggal kepala orang?" gumamnya sedikit melirik ke arah wajah manis sang anak laki-laki berusia 10 tahun.


Tapi Alira dalam penjabaran cerita novel benar-benar cantik dan baik hati. Pantas saja begitu banyak pria brengsek yang mengejarnya. Begitu banyak...


Rachel menghela napas kasar, dirinya akan mati di masa remaja Edward. Mungkin saja di masa SMU bukan?


'Penyakit apa? Pengobatannya apa? Bagaimana caranya bertahan hidup? Apa kanker?' Kata demi kata kembali ditulisnya pada buku tulis dihadapannya.

__ADS_1


Yang pasti tujuannya, menyatukan Alira dan Edward. Mencegah Edward untuk membunuh walaupun demi Alira sekalipun.


Dua pria yang memperebutkan satu wanita cantik yang baik, CEO Casanova mendominasi dan psikopat yang obsesif. Banyak kata tanya dalam dirinya, tentang masa depan yang akan terjadi.


Yang jelas Edward dan Flint hidup bahagia itu sudah cukup untuknya. Wajah Rachel tersenyum, dirinya sebagai Rania tidak memiliki teman atau keluarga, terlalu banyak bekerja. Kali ini dirinya memiliki Edward dan Flint sebagai keluarganya serta Query sebagai sahabatnya.


Satu-satunya jalan untuk mencegah kematian Edward adalah menyatukannya dengan Alira. Edward Snowden yang memutuskan untuk mati karena perasaan cintanya pada Alira tidak berbalas.


"Anak-anak Edward dan Alira nanti. Aku akan menjadi pengasuh mereka!" Khayalan tingkat tinggi Rachel yang gemas, memikirkan masa depan yang akan dirubahnya.


Anak berusia 8 tahun yang tertawa seorang diri."Anak pertama berambut putih seperti Edward, anak kedua berambut coklat seperti penjabaran Alira, anak ke tiga berambut putih lagi tentunya karena gen keluarga Snowden yang kuat."


Apakah imajinasinya akan terwujud? Bagaimana cara Rachel mengingkari takdir kematiannya?


Wajahnya kembali tersenyum pahit, jika kanker, maka tidak akan ada harapan untuk hidup. Dirinya tidak akan dapat menghabiskan waktu yang lama dengan Flint dan Edward."Apa kanker?" gumamnya lagi.


*


Sinar matahari memasuki celah jendela. Anak laki-laki yang membuka matanya, menatap Rachel telah mengenakan seragam sekolah.


Edward menghela napas kasar, memeriksa kening Rachel."Jangan sekolah hari ini. Kemarin kamu pingsan karena kelelahan. Bagaimana jika kita bolos bersama-sama?"


Rachel menggeleng."Harus sekolah!" tegasnya.


"Tidak mau! Ganti bajumu! Kembali masuk ke dalam selimut!" Edward bersikukuh.


"Aku tetap ingin ke sekolah!" Rachel tidak mau kalah.


Namun, bukannya kembali berdebat, anak laki-laki ini malah memeluk tubuhnya erat."Hanya kamu dan ayah yang aku miliki. Kamu tidak mengerti betapa takutnya aku melihatmu tidak sadarkan diri."


"E... Edward aku tidak apa-apa..." Ucap Rachel gelagapan. Tidak mengerti dengan prilaku anak aneh ini.


"Kamu hampir mati! Cepat tidur se...ka...rang!" Kalimat penuh penekanan, nada suara bagaikan akan mengikatnya di tempat tidur. Terkadang dirinya melupakan, betapa menyeramkannya Edward.


"Baik!" Ucap Rachel cepat kembali memasuki selimut.


"Ta...tapi..." Lanjut Rachel terdengar ragu.

__ADS_1


"Tapi apa?" Tanya Edward, hendak pergi mengambilkan sarapan untuknya.


"Bisa kamu menyuruh orang membawakan sedikit lauk nanti siang untuk Query? Dia cuma makan nasi dan garam, kalau kita baik padanya, aku yakin kebaikan kita suatu saat nanti akan dibalas." Ucap Rachel gemetaran takut dimarahi. Tapi memang hanya Query, si jenius yang cocok menjadi asisten Edward nanti.


"Manis..." batin Edward menahan diri agar tidak tersenyum, anak perempuan berusia 8 tahun yang gemetar ketakutan, sesekali bersembunyi di balik selimut. Dirinya tidak boleh luluh, permintaan anak ini begitu kacau. Terlalu peduli pada orang tidak dikenal.


"Baik! Tapi harus istirahat! Supir akan mengantarkannya. Dan jangan berteman terlalu dekat dengan orang itu." Kalimat tegas tidak terbantahkan.


Rachel kembali mengangguk. Dirinya benar-benar menuruti permintaan anak berusia 10 tahun? Entahlah, apa yang akan terjadi.


*


Untuk pertama kalinya Edward bolos sekolah. Menyuapi Rachel yang bisa makan sendiri, bahkan menungguinya seharian. Membaca buku dengan tenang hingga siang menjelang.


"Edward," panggilnya.


"Em?" Anak laki-laki itu, menuangkan air memaksa Rachel untuk minum.


"Aku tidak apa-apa.Tapi jika, i...ini hanya jika, suatu hari nanti aku menderita penyakit mematikan---" Kalimatnya terpotong.


"Tidak akan, jika kamu menderita penyakit mematikan kita akan mengobatinya. Mencari dokter terbaik, bahkan jika harus memohon pada ayah, kamu akan sembuh walaupun harus mencari dokter di luar negeri." Jawaban dari Edward, membuka bungkus obat mengigat ini sudah saatnya Rachel meminum obat.


Anak berusia 8 tahun meminum obat tersebut, kemudian kembali menatap ke arah Edward."Iya...aku akan aman bersamamu."


Kelelahan? Itu hanya itulah yang dikatakan dokter kala Rachel diperiksa tadi malam. Hanya dengan itu saja jantung anak laki-laki itu bagaikan berhenti berdetak. Lalu bagaimana jika Rachel sakit kemudian meninggal?


"Aku juga akan terus bersamamu, apapun yang terjadi." Ucap Edward tiba-tiba kembali memeluknya.


*


Seorang supir mengantar makanan untuk Query ke sekolah, serta ijin sakit yang dikatakan sang supir pada guru. Membuat Query begitu cemas.


Dirinya di tempat ini, berjalan sepulang sekolah, memberanikan dirinya untuk masuk. Tujuannya? Tentu saja untuk menjenguk temannya yang sakit.


Rumah mewah yang benar-benar besar. Tempat Rachel dan anak laki-laki berambut putih itu berada. Dirinya menelan ludahnya, tujuannya hanya menemui sahabat pertamanya (Rachel) yang sakit.


Untuk pertama kalinya Query akan berhadapan langsung dengan Edward.

__ADS_1


__ADS_2