
Beberapa jam lalu, tepat pada saat hasil tes DNA keluar.
"Saya benar. Anda adalah Alfred Russell, saya akan melayani anda dengan baik." Ucap Gordon memberikan hasil tes kala ibu dan anak itu tengah menikmati makan siangnya.
"A...aku benar-benar tidak perlu kembali ke rumah lama bersama ibu?" tanya Query meyakinkan pendengarnya.
Gordon mengangguk."Sebagai wali anda nama belakang nyonya Cresia, akan menjadi Cresia Russell. Perlu diingat, kalian anggota keluarga Russell, jangan pernah menundukkan kepala pada orang lain."
Query tertunduk ragu untuk berucap. Dirinya merindukan Rachel, ingin mengetahui apa yang dilakukannya. Selain itu ada yang tidak beres dengan Edward Snowden. Mengepalkan tangannya, selama sebulan ini dirinya mengikuti kelas dengan baik. Bahkan mendapatkan nilai sempurna, tidak pernah meminta apapun.
Wajah dingin Edward Snowden yang merangkul bahu Rachel masuk ke dalam kediaman keluarga Snowden masih diingatnya.
"Bo... boleh aku minta sesuatu." Ucap Query gugup.
"Boleh, apa saja, akan saya kabulkan." Jawab Gordon tersenyum ramah.
"A...aku ingin menagih janji soal pelayan pribadi." Query menunduk.
"Pelayan pribadi? Soal itu, saya memang tengah merekrut orang-orang profesional dan seleksi sedang dilakukan. Jadi---" Kalimat sang butler disela.
"Bukan! A...aku ingin Rachel." Ucap Query dengan raut wajah serius.
"Rachel?" Gordon mengenyitkan keningnya.
"Ada teman sekelas Query dia cerdas dan baik, dia sering membantu kami dulu. Karena itu mungkin, lebih tepatnya kami ingin membawanya bersama kami." Cresia menghela napas kasar.
"Kalau begitu berikan alamat rumah anak itu. Akan lebih bagus menjadi teman bermain tuan muda." Gordon menahan senyuman di bibirnya. Tidak buruk juga, jika prilakunya baik, dibesarkan bersama, setelah dewasa nanti tinggal dinikahkan. Kemudian menghasilkan lebih banyak keturunan keluarga Russell yang terancam punah.
"I...ini alamatnya." Query, menulis dalam notes kecil yang diambilnya dari meja pojok ruangan, kemudian menyerahkannya pada sang butler.
Matanya menelisik, alamat yang dikenalnya, rumah siluman rubah putih itu, serigala salju yang licik."Ini kediaman keluarga Snowden, anda tidak salah menuliskan alamat bukan?" tanyanya.
"Rachel, pelayan pribadi Edward Snowden. Anak berusia 8 tahun, dia dulu sering membantu Query, makan bersama kami bahkan membagikan lauknya." Cresia menghela nafasnya.
__ADS_1
Jeder!
Bagaikan petir yang menyambar, dirinya harus kembali berhadapan dengan orang gila itu. Flint Snowden, terlebih anak bernama Rachel adalah pelayan pribadi Edward Snowden.
Edward Snowden? Anak yang dimanjakan setengah mati oleh ayahnya. Kecerdasan dan kesopanan tingkat tinggi yang terlihat dari usia dini. Ayah dan anak itu sama-sama begitu menyusahkan.
Menghela napas kasar."Ini akan sulit..." gumamnya, melangkah menuju ruang kerjanya.
"Tidak bisa ya ibu?" tanya Query kecewa, ingin tinggal di tempat ini dengan Rachel. Hidup sulit bersama, juga senang seharusnya bersama.
"Tidak apa-apa, kita bisa bertemu dengan Rachel, kapan-kapan." Cresia mencoba menenangkan putranya.
Tapi apa benar sang butler menyerah begitu saja? Ingat! Ini adalah keinginan spesies yang hampir punah. Dirinya melangkah cepat, mengambil map yang berada di salah satu laci.
Sebenarnya ini akan digunakannya untuk bernegosiasi berkaitan dengan proyek lain. Tapi itu tidak penting sekarang, keinginan Alfred Russell adalah titah baginya.
Dirinya melangkah keluar, menatap ke arah Query yang tertunduk kecewa."Saya dapat mengusahakannya. Flint Snowden, tidak akan dapat menolak tawaran ini, hanya untuk mempertahankan seorang pelayan," ucapnya tersenyum.
Query melompat memeluknya."Terimakasih paman..."
*
Hingga sampailah dirinya pada saat ini. Kala berhadapan langsung dengan Flint Snowden. Sudah pasti, hanya anak pelayan kecil, apa gunanya? Tawaran yang menggiurkan, kelemahan saingan bisnis Flint Snowden di luar negeri ditukar dengan seorang pelayan kecil.
"Jika ayah menukar Rachel dengan kertas itu. Aku dan Rachel akan kabur dari rumah." Kalimat yang diucapkan oleh Edward dengan nada serius meninggalkan kegiatannya merakit kereta api mainan.
Rachel mengenyitkan keningnya mencerna situasi ini baik-baik. Mengapa Alfred Russell cassanova sialan ingin membawanya.
Pria itu adalah perayu wanita CEO penggoda sejati di masa depan. Musuh utama Edward, dirinya membencinya. Yang ada dalam bayangan Rachel saat ini hanya pria playboy rupawan dengan senyuman picik. Selain itu Edward dan Flint sudah dianggap keluarga olehnya. Jadi musuh Edward adalah musuhnya juga.
Tidak ada jawaban sama sekali dari Flint membuat sang anak benar-benar cemas. Anak laki-laki berambut putih yang mengepalkan tangannya."Ayo Rachel! Kita berkemas! Pergi dari rumah ini!" Tegas anak berusia 10 tahun itu, entah mau kabur kemana, menarik tangan Rachel guna berkemas.
Tapi Flint malah tersenyum."Dengar sendiri kan bagaimana putraku menyayangi adiknya. Dia bahkan ingin melarikan diri dari rumah dengan adiknya."
__ADS_1
"A...adik?" Gordon mengenyitkan keningnya.
"Ayah! Sudah aku bilang Rachel bukan adikku." Ucap Edward lagi.
"Aku berniat mengadopsinya, memberikan nama belakang keluarga Snowden. Tapi mungkin itu nanti karena putraku belum setuju sepenuhnya. Jadi untuk menukar putriku dengan ini? Tentu saja putriku masih lebih berharga daripada tumpukan kertas." Jawab Flint melempar dokumen ke atas meja.
"Adopsi? Kamu ingin mengadopsi anak ini?" Pertanyaan dari Gordon terlihat berfikir.
Rachel menghela napas kasar terdiam sejenak. Dirinya masih berada di bawah umur, walaupun hanya membantu pekerjaan rumah kurang dari lima jam sehari tapi tetap saja statusnya masih pelayan. Gordon dapat mengambilnya dengan mudah jika membawa ini ke jalur hukum. Mungkin menjadi adik Edward adalah cara Flint melindunginya.
Karena itu dari pada tinggal dengan penjahat ranjang seperti Alfred Russell bukankah sebaiknya dirinya menjadi anak angkat? Atau setidaknya berpura-pura menjadi anak angkat.
"Ayah...aku tidak akan kabur dari rumah. Kakak hanya emosi." Jawaban dari bibir kecil Rachel penuh senyuman.
"Anak perempuanku yang manis..." Flint mengacak-acak rambutnya.
"Kakak! Sudah aku bilang kamu pelayanku bukan adikku!" Dengan cepat Edward kembali menarik tangan Rachel."A...aku akan melindungimu. Jangan jadi adikku ya?" pintanya.
Rachel menggeleng."Kakak, perlahan kakak akan menerimaku sebagai adikmu kan?"
Edward tertunduk jemari tangannya gemetar. Adik? Seorang adik akan tumbuh dewasa, tidak akan pernah menurut dengan perkataan kakaknya. Seorang adik juga tidak dapat dilarangnya untuk jatuh cinta dan menikah.
Anak laki-laki itu terdiam mencerna segalanya.
Sedangkan sang Gordon mengamati Rachel dari atas sampai bawah. Wajahnya sedikit tersenyum."Anda pintar memilihnya sebagai putri angkat. Pada awalnya jika anda tidak setuju dengan tawaran saya. Saya berniat untuk mempermasalahkan ini ke jalur hukum karena mempekerjakan anak di bawah umur. Kemudian membawanya ke kediaman Russell sebagai putri angkat saya, sekaligus teman bermain tuan muda kami Alfred Russell."
"Tapi kali ini keinginan penawaran saya berbeda. Mungkin akan kita bicarakan 10 tahun lagi. Jika tidak ada perubahan dengan cara berfikir tuan muda saya. Tawaran saya berikutnya, mungkin akan mendamaikan kita yang selalu melakukan perang dingin di bidang bisnis." Gordon mulai bangkit, menyimpan niatnya seorang diri.
Melangkah pergi hingga hampir tidak terlihat.
Prang!
Suara pecahan cangkir terdengar."Orang tua busuk! Jangan berfikir akan mengambil putriku setelah dia dewasa nanti! Dia selamanya akan menjadi Rachel Snowden! Bukan Russell sialan!"
__ADS_1
Benar! Itu suara Flint yang mulai mengerti, maksud dari Gordon, akan menunggu 10 tahun lagi, jika keinginan Alfred Russell tidak berubah.
Tentu saja! Akan menjadi pernikahan aliansi bisnis.