
...Jika saja... hanya itu kata yang tersisa....
...Hujan membuat kerinduanku semakin terasa. Menatap ke arah langit yang seakan semakin gelap....
...Apa dunia ini tanpamu? Hanya seonggok sampah. Tidak ada yang berguna, mawar yang layu. Dalam kamar tempatmu bercermin dan tersenyum....
...Segala jejak mu hilang dalam keheningan. Aku membenci dunia yang seperti ini....
Edward.
Dapat dengan cepat menjadi siswi terpopuler. Hal yang tidak dapat dilakukan Rachel selama 8 tahun ini. Bahkan seorang teman pun tidak punya.
Sombong? Tidak Rachel berteman dengan siapa saja. Tapi para wanita itulah yang membencinya, mungkin bagi mereka Rachel adalah lintah yang melekat di kaki pangeran salju yang sempurna.
Tapi dirinya memang lintah bukan? Tidak mengerti dengan jalan fikiran semua orang. Ditambah dengan jika memiliki teman pria, akan segera menghindar darinya.
Hanya Edward lah majikan, kakak, sekaligus sahabatnya. Pemuda yang tengah makan dengan tenang bersamanya di area gudang sekolah.
"Edward, kamu yakin tidak tertarik dengan orang tadi?" tanya Rachel penasaran. Bagaimana bisa cinta hingga mempertaruhkan nyawa dapat menghilang, hanya dengan sedikit perubahan.
Pemuda berambut putih itu mengangguk."Aku cukup memilikimu dan ayah..." ucapnya.
"Kalau begitu sama saja kamu ingin hidup seperti Kasim. Tidak pernah merasakan cinta yang bergairah!" Batin Rachel berusaha tersenyum.
"Rachel...aku adalah majikanmu kan?" tanya Edward, dengan cepat Rachel mengangguk.
"Begini, aku mempunyai orang yang aku sukai. Tapi aku tidak tau cara berciuman. Bagaimana jika dia menganggapku pria yang payah." lanjutnya tertunduk terlihat tidak percaya diri.
"Tonton videonya! Kamu pasti bisa semangat!" Rachel memberi motivasi.
Manipulatif? Siapa bilang sifat itu menghilang dari Edward. Dirinya bagaikan dapat memanfaatkan setiap celah. 16 tahun? Itu usia Rachel saat ini, itu artinya dirinya harus bertahan 4 tahun lagi, untuk membohonginya agar dapat menjatuhkannya di ranjang.
Ini sudah cukup untuk saat sekarang.
"Aku sudah menonton tapi tidak percaya diri. Bagaimana jika aku mempraktekkannya denganmu?" Pinta Edward padanya.
Rachel terdiam sejenak, dirinya tertunduk. Mengingat alur cerita novel lebih dalam. Rasa-rasanya penjabaran sifat Edward bukanlah orang yang mesum. Bahkan tidak pernah ada satu adegan pun berciuman dengan Alira. Karena terlalu takut melukainya.
__ADS_1
Tunggu! Mungkin saja tidak ada adegan berciuman karena Edward memang tidak percaya diri? Itulah yang ada dalam benak Rachel.
"Ta...tapi berciuman...aku akan merasa bersalah pada orang yang kamu sukai." Ucap Rachel cepat. Bagaimana mungkin dirinya merebut ciuman Edward dari Alira. Ada rasa bersalah tersendiri seolah couple itu sudah memiliki hubungan.
"Aku belum menyatakan cinta. Lagipula saat berusia 10 tahun kita pernah berciuman bukan? Hanya sekali, kamu tidak penasaran bagaimana rasanya? Lagipula kita melakukannya tanpa menggunakan hati. Anggap saja kamu sedang membantuku mengerjakan tugas praktek biologi." Pinta Edward memelas.
"Tidak!" Rachel kembali menjawab. Ini sudah terlalu melenceng, bagaimana jika ada orang yang melihat kemudian rumor tersebar hingga telinga Alira.
"Aku adalah majikanmu. Turuti perintahku atau tunjanganmu terhenti!" Tegas Edward, dengan cepat Rachel bergerak, mengecup bibirnya. Anggap saja Edward masih anak-anak, itulah yang ada dalam otaknya.
Tapi tidak, pemuda itu menahan tengkuk Rachel. Lidahnya memasuki bibir gadis 16 tahun tersebut. Sensasi yang lebih mendebarkan dari pada di dalam mimpi.
Sedangkan Rachel membulatkan matanya, merasakan lidah orang ini merayap di mulutnya. Gila! Ini sudah gila, tapi kenapa perasaannya jadi aneh.
Suara langkah kaki orang yang lewat terdengar. Dengan cepat Rachel mendorong tubuh Edward.
"Kenapa mendorongku? Apa yang aku lakukan tidak benar? Perlu dikoreksi?" tanya Edward berpura-pura kecewa.
"A...ada orang lewat! Kamu mau aku di cap sebagai wanita murahan penggoda!" Geram Rachel hendak kembali makan.
Mereka masih ada di area gudang. Kembali makan dengan tenang, seolah-olah semua baik-baik saja. Tidak menyadari Edward memakan makanannya sambil tersenyum cerah.
Kriet!
"Kalian sedang apa disini?" tanya sang guru muda. Lebih tepatnya guru di bidang akuntansi, seorang pria berusia 29 tahun bernama Cartier.
"Makan siang," jawaban penuh senyuman dari Edward.
"Kalian berbuat hal yang tidak-tidak di tempat ini. Itu sudah pasti, lebih baik orang tua kalian datang dan menerima teguran." Ucap Cartier.
"Memanggil orang tua? Aku Edward Snowden." Hanya itulah yang diucapkan Edward menggunakan nama keluarganya. Tangannya menarik jemari tangan Rachel agar melangkah pergi.
Sementara Cartier, melihat ke arah mereka pergi dari jauh, kemudian memasuki gudang.
*
Hari ini Flint baru saja datang dari luar negeri. Membawa beberapa hadiah untuk dua ekor tikus kecil peliharaannya. Benar! Seekor kucing putih yang mencari makan untuk dua tikus peliharaannya.
__ADS_1
"Terimakasih!" Ucap Rachel tersenyum dengan apapun yang diberikan. Ingat! Dirinya lintah yang menumpang hidup pada antagonis, namun tidak boleh terlalu serakah.
"Edward tidak berterimakasih untuk ayahmu? Itu jam tangan keluaran terbaru hanya diproduksi 25 buah." Ucap Flint bangga.
"Aku tidak begitu suka." Kalimat dari Edward membuat, sang ayah menunduk kecewa.
"Tapi aku menyukai hadiah yang ayah berikan pada Rachel. Dia akan terlihat cantik mengenakan gaun putih." Lanjut Edward, hingga Flint kembali tersenyum.
Adanya Rachel sebagai adik Edward memang sebuah keberuntungan. Dirinya memiliki jembatan yang baik untuk berkomunikasi dengan putranya.
"Omong-ngomong, bagaimana sekolah kalian. Apa ada yang menarik?" tanya Flint, mengiris daging di hadapannya.
"Ada! Selama ayah pergi Edward sempat memenangkan mendali olahraga Wushu yang diadakan perusahaan swasta. Mendalinya berkilau dan besar, kakak juga maju ke podium mengatakan kemenangan ini dipersembahkan untuk aku dan ayah." Cerita Rachel penuh semangat.
"Apa benar?" tanya Flint pada Edward. Namun putranya hanya menunjukkan simbol hati dengan jari. Membuat Flint tertawa bangga.
Senyuman masih menyungging di bibir Rachel. Dalam karya aslinya bahkan hingga remaja Flint jarang menemui putranya, mungkin karena kesalahpahaman yang berlangsung terlalu lama. Sedangkan Edward yang sudah membunuh Wilmar sekeluarga, menghabiskan masa remaja dengan makan seorang diri dalam keheningan.
Dapat dibayangkan olehnya betapa kesepiannya Edward. Jemari tangannya mengepal, wajahnya berusaha tersenyum. Berharap dapat membalikkan takdir kematian untuk dirinya sendiri. Atau setidaknya, Rachel berharap Alira dapat menggantikan dirinya menjadi jembatan komunikasi antara Flint dan Edward, jika takdir kematian tidak dapat dihindari olehnya.
"Edward benar-benar mengatakannya dengan penuh semangat. Katanya ayah dan aku sumber ketenangannya. Hingga mendapatkan mendali juara pertama. Bahkan ketika turun dari panggung, dia membuatku malu dengan memelukku, saking senangnya. Seharusnya ayah datang agar kita dapat berfoto bersama." Rachel kembali melanjutkan ceritanya. Sedangkan Flint mendengar dengan antusias.
Senyuman menyungging di bibir Edward sebuah keluarga yang bahagia. Cukup hanya dengan ini. Tidak ada seorang pun boleh mengganggu keluarganya.
*
Sementara itu.
Penjaga sekolah mengarahkan senternya asal, di area dekat gudang. Bagaikan mendengar sesuatu, namun dirinya kembali berjalan kala menyadari tidak ada apapun di area gudang yang terkunci.
Tidak mengetahui? Benar-benar tidak mengetahui.
Cartier tengah tidak mengenakan apapun di dalam sana. Menutup mulut seorang siswi menggunakan tangannya."Tenang dan diam, ada orang yang lewat," bisiknya pada sang siswi yang masih mengenakan seragam. Namun kancing kemejanya telah terbuka sempurna, pakaian dalam bagian atasnya tersingkap. Sedangkan pakaian dalam bagian bawahnya tergeletak di lantai telah basah.
Kembali melanjutkan perlahan dalam gudang sekolah yang kosong. Membungkam mulut siswi itu menggunakan tangannya. Deru napas tidak teratur.
"Griselda..." d*sahnya, menyebutkan nama sang siswi.
__ADS_1