Pelayan Antagonis

Pelayan Antagonis
Bab 28. Tidak Seharusnya


__ADS_3

"Hanya pelayan pribadi? Tentu saja bisa, apapun yang anda inginkan. Namun, ikuti beberapa kelas yang saya siapkan." Ucap Gordon.


"A...aku mau." Query tersenyum senang.


"Ini juga berlaku untuk anda nyonya Russell, selaku ibu asuh tuan muda. Anda juga akan mendapatkan pendidikan lebih lanjut. Untuk sementara waktu bisnis keluarga Russell saya dan pengacara akan memegangnya. Menunggu anda selaku walinya telah memiliki kesiapan dan tuan muda sudah cukup umur." Penjelasan singkat dari sang butler.


"Ta...tapi hasil tes DNA belum keluar." Cresia tertunduk ragu.


"Kecil kemungkinannya bukan. Bawahan saya sudah mendatangi panti asuhan. Hasilnya pakaian bayi milik Query dulu, memiliki lambang RL di bagian pojoknya. Jadi kecil kemungkinan hasil tes DNA tidak sesuai." Kalimat demi kalimat yang membuat sepasang ibu dan anak itu saling menoleh gugup.


*


Tidak dapat pulang atau melakukan aktivitas dengan bebas. Membuat mereka tidak dapat memberikan kabar pada seseorang.


Anak yang menatap ke arah kios buah yang tutup. Mengenyitkan keningnya, tidak ada kabar atau apapun sama sekali.


Berlari dengan kecepatan tinggi bagaikan ninja, dirinya menuju rumah susun. Tapi hasil juga sama, tidak ada yang menjawab kala dirinya mengetuk pintu.


Hingga seorang tetangga lewat."Kamu temannya Query kan? Kemarin Query dan ibunya pindah buru-buru."


"Pi... pindah?" Seketika Rachel terduduk di lantai air matanya mengalir.


"Merekrut satu orang berbakat saja untuk membantu Edward menghadapi Alfred Russell bisa sesulit ini!" Teriaknya kesal setengah mati.


Dirinya benar-benar ingat tentang penjabaran Alfred Russell dalam karya novel aslinya. Berambut hitam, berkulit putih, dengan senyuman misterius yang menaklukkan wanita manapun. Satu-satunya orang yang duduk di atas takhta keluarga Russell. Seorang pemuda genius yang hanya dapat ditaklukan oleh Alira. Musuh terbesar Edward dalam karya aslinya.


*


Pada akhirnya Rachel memutuskan untuk pulang. Memakan lauk yang disisakannya untuk Query seorang diri. Rasa kesal masih ada, padahal Query sudah dianggap sebagai teman yang baik olehnya. Tapi pergi begitu saja, tanpa pemberitahuan?

__ADS_1


"Kenapa? Kesal karena temanmu pindah?" tanya Edward yang duduk di sampingnya sambil membaca buku. Rachel tidak menjawab, hanya menunduk sembari diam.


"Karena itu jangan pernah mengkhianatiku. Kamu cukup untuk tinggal dan hanya boleh perhatian padaku. Maka---" Kalimat Edward terhenti, kala menyadari Rachel tertunduk sembari menangis.


"Ke... kenapa menangis?" lanjutnya.


"Aku berteman dengan Query karena ingin menjadikan Query orang yang berpihak padamu. Dia pintar, dapat menghafal isi buku secara detail sekali baca. Se... semuanya karena aku ingin Edward punya teman yang pintar dan dapat dipercaya." Kalimat demi kalimat dengan nada suara bergetar.


Edward terdiam sejenak, segalanya untuk dirinya? Rachel berteman dengan Query agar dirinya juga dapat berteman dengan Query? Ingin Query berpihak padanya? Sebuah pemikiran yang konyol.


Edward meletakkan buku yang dibacanya. Kemudian memeluk Rachel."Untuk masa depanku sendiri, aku tidak memerlukan orang lain. Aku hanya memerlukan mu. Tidak akan ada teman wanita atau teman pria lain diantara kita. Selamanya kita akan tinggal hingga tua di kediaman Snowden, hingga menjadi benar-benar tua dan mati bersamaan."


"Tapi jodohmu Alira bodoh! Kecantikan sempurna sepanjang masa! Wanita polos baik hati! Kamu malah memilih menjadi perjaka tua seumur hidupmu!? Lalu bagaimana dengan imajinasiku tentang tiga orang anak yang akan kamu miliki jika menikah dengan Alira!" Ingin rasanya Rachel berteriak, tapi mulutnya masih tertutup.


"Rachel, pelayan kesayanganku." Kalimat hangat dari Edward melepaskan pelukannya. Kemudian mengecup kening Rachel.


*


Walaupun Rachel yang mencoba dekat dengan anak lain berakhir di sisihkan. Mungkin hanya dengan Edward dirinya dapat berteman di sekolah yang baru. Terkadang Rachel juga mengunjungi kios dan rusun berharap bertemu Query sekali saja. Hanya untuk mengucapkan perpisahan sebagai teman.


Hari ini Flint baru saja pulang dari perjalanan bisnis. Quality time untuk keluarga? Tentu saja itu dilakukannya. Memasang rakitan kereta api di ruang tamu bersama Rachel dan Edward.


"Edward, bantu adikmu! Dia belum juga bisa!" Ucap Flint sengaja.


"Rachel bukan adikku!" Geram Edward.


Segalanya memang berjalan seperti biasanya. Namun, deru suara mesin mobil terdengar. Berhenti di area parkiran.


Butler keluarga Snowden, seorang pemuda berusia 30 tahunan. Berjalan mendekat, menunduk."Tuan, Gordon, butler keluarga Russell ingin bertemu dengan anda."

__ADS_1


"Biarkan dia masuk." Perintah dari Flint, wajahnya tersenyum.


Flint mulai duduk, didampingi dua tikus yang masih saja mencoba merakit kereta, yang baru mereka dapatkan sebagai oleh-oleh.


Pada akhirnya orang itu datang juga, bawahan setia keluarga Russell. Pria dengan rambut beruban yang selalu tampil rapi. Tidak diduga, keluarga Russell habis begitu saja, keturunan yang terputus. Dalam 10 tahun kekayaan keluarga Russell akan diserahkan pada negara, jika tidak ada ahli waris yang muncul. Tapi kenapa orang ini tiba-tiba datang kemari?


Gordon menunduk memberi hormat."Maaf datang tanpa pemberitahuan, tuan Flint..."


"Tidak apa-apa, keluarga Russell memang tidak tahu sopan santun bukan? Duduklah..." Kalimat pedas yang sarkas dari Flint Snowden.


Karena itulah Gordon paling malas untuk berhadapan dengan keluarga Snowden. Rubah putih ini menyebalkan setengah mati. Padahal kedudukan keluarga mereka dapat dikatakan setara saat ini.


"Jadi apa yang membuat butler keluarga Russell yang terhormat mendatangi rumahku yang sempit ini." Tanya Flint sesaat setelah Gordon duduk dan pelayan menghidangkan dan kue kering.


"Benar-benar salju dingin." Sarkas Gordon, meminum teh di hadapannya.


"Langsung saja, apa ini tentang pertentangan lelang seminggu lalu?" tanyanya duduk penuh keangkuhan.


"Bukan, ini tentang tuan muda saya, satu-satunya keturunan keluarga Russell yang masih hidup, Alfred Russel." Kalimat penuh senyuman dari Gordon.


Rachel yang awalnya hanya berkonsentrasi merakit kereta mainan bersama Edward kini perhatiannya teralih. Alfred Russell? Tidak mungkin sekarang sudah ditemukan. Seharusnya sekitar setahun lagi, kenapa bisa alur cerita berjalan lebih cepat dari seharusnya?


"Anggota keluarga Russell memang cepat dalam bereproduksi ya? Aku kira sudah habis, ternyata tersisa satu? Jadi apa yang kamu inginkan? Ingin aku bermain lembut dalam bisnis pada seorang bocah?" Pertanyaan dari sang rubah putih licik.


"Bukan...tapi ini..." Gordon memberikan sebuah map.


Flint segera meraihnya, isi yang menggiurkan data kelemahan perusahaan lain saingannya di luar negeri. Benar-benar data yang lengkap. Data ini tidak menguntungkan sama sekali bagi keluarga Russell, namun akan berdampak besar bagi perusahaan keluarga Snowden.


"Apa keinginanmu?" tanya Flint mulai tertarik.

__ADS_1


"Memiliki majikan yang masih hidup saja merupakan sebuah keberuntungan bagiku. Karena itu apa pun keinginannya akan aku kabulkan. Karena itu Alfred Russell, ingin pelayan pribadi putramu. Jika tidak salah namanya Rachel bukan?" Kalimat demi kalimat penuh senyuman dan percaya diri. Tawaran yang tidak mungkin ditolak oleh Flint hanya untuk mempertahankan seorang pelayan.


"Kenapa namaku dibawa-bawa! Alfred Russell itu protagonis! Protagonis sialan yang harus ditumpas oleh antagonis!" Batin Rachel tidak mengetahui apa yang terjadi.


__ADS_2