
Sang Butler yang terlihat masih berusia 30 tahunan itu mengantarnya masuk. Sisi dalam rumah ini bahkan terlihat lebih berkelas. Jauh lebih besar daripada rumah ayah angkatnya.
Kagum? Tentu saja Query untuk pertama kalinya menyaksikan semua ini. Lampu kristal raksasa yang tergantung. Guci antik berukuran cukup besar, lukisan yang indah.
Sofa yang benar-benar empuk ketika diduduki. Menghela napas berkali-kali, dirinya hanya membawa satu potong roti untuk menjenguk Rachel.
Seorang pelayan meletakkan teh, dan sepotong cake di hadapannya. Query menelan ludah kasar, bahkan saat ulang tahunnya sendiri pun dirinya jarang memakan kue.
Menggelengkan kepalanya, dirinya disini untuk menjenguk Rachel yang sakit.
Tapi satu sendok kecil saja tidak apa-apa kan? Dirinya mulai makan sesendok, dua sendok, tiga sendok, begitu tandas maka piring kecil berikutnya akan datang. Menelan ludahnya kasar, dirinya kembali makan kue, hingga melupakan waktu, terlalu lama dirinya menunggu.
Ini sudah piring ke lima yang dibawa pelayan. Itu artinya dirinya sudah memakan lima potong kue, hingga perutnya yang gemuk bagaikan akan meledak.
"Aku keterusan..." gumamnya terlalu terbuai makanan hingga melupakan ini adalah rumah orang.
"Apa Rachel masih lama? Apa aku tidak bisa langsung saja ke kamarnya?" tanya Query pada sang pelayan.
"Maaf, tapi anda harus menunggu. Ini perintah tuan muda..." Ucap sang pelayan menunduk.
"Tuan muda?" Query mengenyitkan keningnya tidak mengerti.
Hingga perhatian sang pelayan teralih pada tangga utama yang terhubung dengan lantai dua.
Query ikut mengalihkan pandangannya ke arah tangga. Anak itu terlihat, seorang anak yang lebih tinggi darinya, berkulit putih, rambut berwarna putih keperakan yang indah, wajah tanpa ekspresi, memakai pakaian rapi, setelan kemeja lengan panjang.
Citra pangeran dalam cerita dongeng? Itulah yang terlihat.
Seorang anak yang tiba-tiba duduk di hadapannya. Bersamaan dengan seorang pelayan menuangkan teh pada cangkir Edward.
"Maaf, aku kemari ingin menemui Rachel. Aku dengar dia sakit," ucapnya tersenyum.
"Apa yang kamu punya? Seekor burung gereja kecil sepertimu berharap dapat mengarungi lautan?" Sarkas Edward, benar-benar menggunakan bahasa tingkat tinggi.
"Lebih tidak masuk akal jika seekor naga turun dari surga hanya untuk mendapatkan biji-bijian kecil yang hanya pantas dimiliki burung gereja." Anak bernama Query ini juga tidak mau kalah, membalas kata-kata orang ini.
"Bunga Peony yang mekar di musim semi dalam istana. Tapi seekor tikus tanah ingin menyentuhnya? Jangan pernah berharap." Lagi-lagi kalimat ambigu dari dua makhluk super cerdas ini terucap.
__ADS_1
Query tertawa kecil."Tikus tanah selalu berada di halaman, walaupun hujan menerpa. Sedangkan keluarga Kerajaan hanya bersembunyi di istana yang hangat. Tentu saja hanya tikus tanah yang dapat menjaga bunga Peony dengan baik."
"Mereka bicara apa?" Salah seorang pelayan yang kebetulan berada di sana berbisik pada rekannya.
"Tidak tahu, mungkin mereka sesama penggemar film kungfu. Jadi membicarakan naga, tikus, keluarga kerajaan..." pendapat salah seorang pelayan, yang juga tidak mengerti.
Mereka hanya membersihkan, sambil sesekali mendengarkan kedua orang itu bicara omong kosong.
Sedangkan Edward kembali tertawa."Jadi apa yang diinginkan tikus tanah, agar tidak menggangu bunga Peony ku?" tanyanya.
"Intinya aku hanya ingin menjenguk Rachel, memastikan keadaannya baik-baik saja." Jawaban dari Query berusaha untuk tersenyum.
"Dia baik-baik saja di rumah ini. Karena itu sebaiknya kembalilah." Tawa Edward terhenti, untuk pertama kalinya menemukan orang seumuran yang dapat membalas kata-katanya.
"Aku hanya ingin menjenguknya. Kami adalah teman baik." Query kembali tersenyum tenang.
Suasana yang hening aura permusuhan tingkat tinggi. Query merasa tidak pantas berteman dengan Rachel karena orang ini. Tapi perlahan dirinya menyadari, bagaimana Rachel dapat berteman dengan orang arogan yang kaku seperti ini.
"Pulanglah!" Edward masih bicara baik-baik.
"Tidak akan, kecuali aku diijinkan bertemu dengan Rachel." Query berucap sungguh-sungguh.
"Tikus putih!" Query membalas hinaannya dengan senyuman.
"Gajah gendut!" Ucap Edward kembali.
"Kakek berambut putih." Query menjawab dengan tenang.
Tidak ada keributan sama sekali, hanya dua orang anak ini yang beradu mulut. Melemparkan hinaan.
Hingga pada akhirnya Rachel menuruni tangga. Dua orang yang menoleh bersamaan. Edward segera merangkul bahunya, memegang tangannya. Seakan Rachel sakit parah, seakan Rachel adalah gelas yang mudah pecah.
"Aku tidak apa-apa..." Ucap Rachel yang memang merasa baik-baik saja.
"Kalau jatuh dari tangga! Lalu mati bagaimana?" Pernyataan tidak dapat terbantahkan dari Edward.
Beberapa pelayan berbisik-bisik.
__ADS_1
"Tuan muda begitu baik, aku yakin sebentar lagi Rachel akan diadopsi."
"Pasangan kakak adik yang saling menyayangi."
"Bukannya tuan besar (Flint) sudah mengatakan akan mengadopsi Rachel."
Kalimat demi kalimat yang didengar oleh Query. Itu artinya dirinya sudah salah dari awal, keluarga ini baik pada Rachel. Benar-benar baik, bahkan anak laki-laki berambut putih ini akan menjadi kakak angkat Rachel.
Jika dilihat sekarang ini benar-benar menyenangkan. Kakak laki-laki yang posesif pada adiknya. Pantas saja Edward selalu terlihat memusuhinya.
Dirinya kembali bangkit."Maaf sudah tidak sopan kak Edward..." tiba-tiba saja Query berucap santai.
"Ka... kakak?" Edward berusaha tersenyum, sudah muak rasanya dengan istilah kakak.
"Iya, kalian akan menjadi kakak beradik kan? Pelayan disini yang tadi membicarakannya. Aku tidak tau, aku kira kak Edward majikan yang akan membully pelayannya. Maaf...kak Edward sudah salah paham!" Kalimat demi kalimat yang membuat Edward semakin emosi saja.
"Rachel bukan adikku. Selamanya bukan adikku. Dia adalah pelayanku, tidak akan berubah hingga kami menjadi tua dan mati." Kalimat tegas dari Edward berusaha tetep tersenyum.
Mata Query sedikit melirik ke arah Rachel. Anak perempuan yang hanya menghela napas kasar.
"Selama-lamanya Edward memang adalah tuan mudaku." Jawaban pasti penuh senyuman dari Rachel.
Kalimat yang membuat Edward tertegun senang. Itu artinya menghabiskan hidup bersama Rachel. Tidak akan pernah berpisah lagi. Seseorang yang begitu berarti baginya. Dirinya selalu menganggap dunia ini membosankan, dunia yang kejam dan menyakitkan. Benar-benar hanya ayahnya dan Rachel yang dimiliki olehnya.
"Begitu? Aku kemari ingin memberikan catatan tugas, selain itu apa kamu besok akan sekolah? Jika iya, bagaimana jika kita membuat tugas bersama?" Tanyanya pada Rachel, memberikan sebuah buku tulis.
Namun bagaikan petir, Edward menyambar kata-katanya."Tidak perlu! Aku yang akan mengajari Rachel."
"Belajar bersama-sama, membuat pekerjaan rumah bertiga akan lebih cepat selesai." Ucap Rachel penuh senyuman, dengan begini hubungan Query dan Edward akan menjadi lebih dekat.
Masa depan yang cerah menanti, dimana Alfred Russel tidak akan berkutik menghadapi dua orang genius.
"Rachel." Edward memberi peringatan.
"Ayolah... hari ini aku tidak sekolah karenamu..." pinta Rachel memelas.
Ingat! Jangan fikirkan adegan orang dewasa yang cemburu. Ini hanya dua bocah egois yang berebut sahabat, sedangkan Rachel malah ingin mereka bertiga berteman.
__ADS_1
Apa yang terjadi jika male lead dengan antagonis duduk satu meja mengadakan perang dingin?