Pelayan Antagonis

Pelayan Antagonis
Bab 23. Ekspektasi


__ADS_3

Bagaikan adik kakak yang manis, Edward memaksa Rachel untuk duduk di pangkuannya. Mengajari menjadi dalihnya. Pelajaran yang sejatinya begitu mudah bagi Rachel.


"Query, apa kamu sudah selesai? Query kelihatannya kesulitan menjawab." Ucap Rachel ingin perhatian Edward beralih Query.


"Hampir selesai." Query masih menulis, namun tiba-tiba menghentikan gerakan tangannya sejenak."Rachel terimakasih mau berteman denganku. Dan tentang lauknya."


"Tidak apa-apa! Lagipula yang membuat lauk penuh cinta kali ini Edward!" Kalimat yang keluar dari mulut Rachel.


"Terimakasih, tuan muda..." Query sedikit menunduk. Bersamaan dengan Edward yang masih memangku Rachel menatap tajam ke arahnya.


"Setelah tugasnya selesai! Kamu harus pulang!" Edward menghela napas kasar, kali ini memberi kelonggaran."Selain itu, semester depan Rachel akan pindah sekolah. Kalian tidak akan sering bertemu lagi."


"Pindah sekolah?" Rachel mengenyitkan keningnya. Sedangkan Query hanya diam tertegun.


"Ayah sudah mengatakannya. Aku yang ingin agar Rachel sekolah di tempat yang sama denganku. Sekolah yang mungkin memiliki fasilitas lebih baik." Jelasnya.


Query mengepalkan tangannya, tidak dapat menghalangi sahabatnya. Pada dasarnya manusia memang begitu bukan? Makhluk yang lebih menyukai materi.


Hingga dirinya terdiam sesaat mendengarkan jawaban Rachel."Tidak! Sekolah tempatmu belajar saat ini dihuni oleh anak pejabat, anak konglomerat, dan anak selebriti. Minimal anak dokter atau jaksa, kasta terendah untuk dapat bersekolah di sana. Jika aku berada di tempat itu, maka aku akan menjadi sasaran empuk pembullyan!"


Rachel tidak ingin pindah? Apa Rachel memang seperti ibunya, berbeda dari wanita pada umumnya? Perlahan Query tersenyum, sahabatnya Rachel, orang terbaik yang pernah ditemuinya.


Apa jika dirinya mempunyai segalanya seperti Edward, dirinya dapat bersama dengan Rachel?


"Tetap saja! Harus pindah!" Tegas Edward kembali membuat Rachel mengangguk. Dirinya lintah yang dibiayai, jadi harus penurut bukan?


*


Segalanya berjalan seperti biasanya 6 bulan ini.

__ADS_1


Rachel yang sepulang sekolah, sering datang ke tempat ibu Query bekerja, sebagai penjual buah di sebuah toko pinggir jalan. Makan siang bersama mereka.


Kehidupan Query juga lebih baik saat ini. Ibu angkatnya tidak lagi memikirkan sang suami. Bagaikan sepenuhnya merelakan. Sudah dapat membuatkan bekal yang lebih layak untuk putranya.


Namun tetap saja Rachel masih membagi lauknya. Makan bertiga di toko yang pada akhirnya dibuka ini. Hanya tawa yang terdengar.


"Rachel! Ini bawa pulang, masih bisa dikonsumsi jika hanya untuk membuat jus." Ucap Cresia (ibu Query), memberikan kantong hitam kecil, berisikan buah-buahan yang tidak layak jual. Namun, masih layak untuk dikonsumsi.


"I...ini bibi tidak rugi kan?" tanya Rachel memincingkan matanya.


"Tidak! Terimakasih sudah berteman dengan Query." Jawabnya.


Query mengangguk, kemudian memeluk Rachel."Ibu guru sudah bilang. Semester depan Rachel sudah tidak ada di sekolah yang sama lagi."


Rachel mengangguk."Meskipun pindah sekolah aku tetap bisa bermain di toko atau rusun kan?" tanyanya juga dijawab dengan anggukan oleh Query.


"Bibi! Tetap semangat! Kita masih berteman!" Ucap Rachel pada Cresia, yang diam-diam hampir menangis melihat ekspresi wajah putranya.


Menghela napas kasar, dirinya akan melindungi Query-nya tercinta. Dari perempuan-perempuan yang memiliki niat busuk seperti selingkuhan suaminya. Perempuan yang hanya dapat bersikap manis pada pria, hanya untuk uang. Jika saja bisa, dirinya ingin melihat bagaimana Rachel dan Query tumbuh dewasa. Entah kenapa, terkadang dirinya berfikir bagaimana jika memiliki menantu yang baik seperti Rachel?


Rachel tidak memiliki niat apapun. Hanya ingin berteman. Tidak polos, tapi bukan juga tipikal gadis yang over akting. Dirinya terlalu menyukai Rachel, sudah menganggapnya seperti putrinya sendiri. Tidak bisakah dirinya menjodohkan putranya sejak dini, dua orang anak dengan mata yang menangis hanya karena pindahnya Rachel dari sekolah?


*


Beberapa hari telah berlalu. Rachel memulai hari pertamanya untuk memasuki sekolah baru. Seperti biasanya juga, Flint selalu menyempatkan waktunya untuk mengantar mereka.


Luas, gedung yang lebih besar, fasilitas lengkap, dan seragam khusus, berlebel Elementary School. Wajahnya berusaha tersenyum, terlihat tegang kala turun dari mobil untuk pertama kalinya.


Berbagai makhluk hidup super cantik terlihat. Ini tidak manusiawi, tentu saja semua dari mereka merupakan anak orang kaya dengan banyak perawatan.

__ADS_1


"Aku seperti katak..." gumam Rachel, mengamati anak-anak di sekolah ini.


"Ayo..." Edward menarik tangannya, tidak ada yang seindah anak laki-laki ini memang.


Menarik tangan Rachel, berjalan menelusuri lorong. Edward memberikan roti hangat padanya. Mengacak-acak rambutnya, beberapa orang mulai berbisik-bisik tentang keberadaannya.


"Dia temannya Snow prince (pangeran es)? Kenapa kelihatan seperti dari sekolah bisa? Seperti anak supirku."


"Mungkin itu adiknya, anak yang diadopsi ayahnya Edward."


"Snow prince memang yang terbaik, dapat mengangkat derajat orang miskin. Bahkan menjadikannya seperti adik. Snow prince tersenyum padanya!"


Kalimat demi kalimat bisikan terdengar sepanjang lorong. Rachel terdiam sejenak, bagaimana kehidupannya akan berjalan di tempat ini? Dapatkah dirinya merubah segalanya?


"Jangan fikirkan kata mereka. Ingat! Walaupun bukan adikku, kamu masih merupakan bagian dari keluarga Snowden. Jika mereka menimdasmu, lawan balik. Jika tidak bisa cari aku di kelasku." Senyuman menyungging di wajah Edward menghentikan langkahnya."Ini kelas tempat kamu akan belajar. Aku berada di gedung kedua, lantai 3 ruangan ke dua dari kiri lift. Jika ada masalah cari aku."


Edward kemudian mendekat, sedikit berbisik."Jam makan siang, kita bertemu di gudang. Area taman belakang disana ada bangunan tua."


Rachel mengangguk mengikuti instruksi majikannya. Dirinya hanya perlu menjadi lintah penurut yang setia. Membatu majikannya meraih hidup yang bahagia, agar dirinya juga tetap kecipratan hidup bahagia.


"Bagus!" Edward tersenyum, melangkah pergi. Sesekali menengok ke belakang, seakan enggan meninggalkannya.


Sedangkan beberapa anak perempuan terlihat mengambil gambar Edward diam-diam menggunakan kamera. Benar-benar kamera, karena setting teknologi masa ini, bahkan handphone hanya kalangan atas yang memilikinya, itupun tidak dilengkapi kamera.


Rachel menghela napas kasar, mulai terasa tercekik. Semua anak yang ada di tempat ini bagaikan menganggap dirinya makhluk aneh. Atau mungkin seseorang yang tidak mandi? Orang gila? Entah apa yang ada di fikiran orang-orang tentang dirinya.


Duduk di bangku paling belakang kemudian membaca buku. Terkadang ada kalanya dirinya bersyukur memiliki ingatan di masa lalunya sebagai Rania. Dapat berfikir lebih dewasa dalam situasi seperti ini, dimana mungkin jika anak seusianya mengalami pembullyan didiamkan seperti ini, mungkin tidak akan mau bersekolah lagi.


Menunggu kedatangan guru, terkadang mendengarkan orang-orang yang berisik tentang dirinya yang dekat dengan pangeran es. Pangeran es? Memang julukan yang cocok untuk Edward.

__ADS_1


Kala itu dirinya memikirkan lebih dalam lagi. Alira bertemu dengan Edward di salah satu sekolah swasta bertaraf internasional juga. Disana digambarkan Alira berasal dari keluarga kaya yang segera akan mengalami kebangkrutan.


Jika terus seperti ini, dirinya mungkin akan bertemu dengan Alira suatu hari nanti. Sosok yang digambarkan memiliki prilaku secerah matahari oleh penulis.


__ADS_2