Pelayan Antagonis

Pelayan Antagonis
Bab 30. Pipis Di Celana


__ADS_3

...Pohon yang teduh, kala aku menonggakkan kepala maka berkas cahaya menyilaukan terlihat....


...Indah, lebih indah dari emas. Semilir angin menyibakkan rambutku. Memejamkan mata dalam ketenangan....


...Ini mimpi? Aku tidak ingin bangkit dari mimpi ini. Kala jemari tangan kita bertaut tertidur di bawah rindangnya pohon....


...Namun, kala aku membuka mata, tempat tidur luas terlihat, tetesan air mata tidak terbendung. Menyadari kamu telah pergi menghadap-Nya....


...Apa putra kita akan mengalami nasib serupa?...


Flint Snowden.


Brug!


Edward terduduk di lantai, air matanya mengalir."Ka...kamu setuju diadopsi oleh ayah!? Setelah dewasa nanti kamu akan meninggalkanku!?" tanyanya.


Rachel memeluknya, tapi Edward malah sedikit mendorongnya. Tidak mau kalah, anak perempuan itu malah menangkup kedua pipi Edward dengan tangannya. Agar menatap ke arahnya.


"Aku sudah berjanji tidak meninggalkanmu. Jadi tidak akan, percaya padaku?" tanyanya.


Edward masih memilih untuk diam. Adik? Rachel menjadi adik perempuannya? Seorang adik yang akan memberontak kata-kata kakaknya kemudian berkencan dengan seorang pria.


"Edward, ayah melakukan ini untuk melindungi Rachel. Kenapa? Karena kita tidak punya hak apapun jika Rachel diambil. Bukan hanya orang tua kolot itu yang datang tanpa sebab itu (Gordon). Tapi juga ibu kandung Rachel. Selama Rachel masih di bawah umur tidak ada jalan lain selain mengadopsinya. Karena itu ayah membujukmu." Kalimat demi kalimat yang keluar dari mulut Flint membuat Edward menoleh padanya.


"Dia bisa dikeluarkan dari kartu keluarga setelah dewasa? Kemudian kembali menjadi pelayanku?" tanya Edward, tidak ingin Rachel menjadi pemberontak, kemudian membawa pria asing pulang dan menikah suatu hari nanti. Entah apa yang ada di fikiran anak berusia 10 tahun ini. Mungkin berfikir Rachel dan dirinya akan menjadi biksu dan biarawati, asalkan terus bersama.


"Serakah akan warisan!"


"Serakah! Antagonis sejati!"


Batin Flint dan Rachel, itulah yang ada dalam fikiran mereka. Alasan Edward tidak ingin menjadikan Rachel adiknya adalah tentu saja ini berhubungan dengan warisan yang tidak ingin dibagi. Apalagi? Rachel begitu disayangi olehnya dimanjakan bagaikan adiknya sendiri.


"Tentu saja! Selamanya saya akan menjadi pelayan tuan muda." Ucap Rachel tersenyum, memang ini tujuannya menjadi lintah penghisap darah yang menempel pada kaki Edward.

__ADS_1


Sedangkan Edward kembali lebih tenang, memeluknya erat-erat."Ingat! Selama-lamanya tidak akan ada pria lain."


Kata-kata dari mulut Edward menbuat Flint yang tengah memakai kimono pria, dengan bagian depan sedikit terbuka menampakan otot-ototnya. Rambut putih panjang yang digerai, membuat ketampanan singgel parents ini benar-benar terlihat."I...ini bukan cinta pertama kan?" batinnya, menebak-nebak.


Menelan ludahnya sendiri, segalanya masih samar karena perasaan anak-anak begitu polos. Menenangkan dirinya, anaknya yang memiliki hati es, tidak mungkin jatuh cinta pada usia dini.


*


8 tahun kemudian.


Tidak ada banyak hal yang terjadi, masa Junior Hight School yang biasa-biasa saja. Hanya Edward yang berikutnya selalu dipanggilnya kakak ada bersamanya. Bahkan kakak yang terang-terangan membantunya setiap ada masalah.


Dirinya telah lama menyandang nama Rachel Snowden. Walaupun Edward kala itu meminta ayahnya menandatangani perjanjian, akan menghapus Rachel dari daftar kartu keluarga setelah berusia 18 tahun. Entah apa yang ada di fikiran kakak gila itu.


Namun, dirinya selama ini dapat makan, bersekolah dan melakukan segalanya dengan tenang karena keluarga Snowden bukan?


Kala malam tiba, dari sanalah prilaku aneh Edward mulai terlihat. Mengetuk pintu kamar Rachel."Edward? Tidak bisa tidur lagi?" tanya Rachel.


Edward mengangguk sembari tersenyum. Bagaimana rupa Edward saat ini? Remaja yang telah menginjak usia 18 tahun. Disanalah segalanya dimulai, senyuman yang hangat. Aroma mint dari tubuhnya yang dingin, rambut putih khas keturunan keluarga Snowden. Tinggi? Edward lebih tinggi darinya.


Malam mendebarkan ini pun dimulai. Mereka sudah remaja bukan? Seharusnya ada yang melarang Edward menginap di kamar Rachel. Namun, semuanya hanya menganggap segalanya hal yang biasa. Karena apapun tidak pernah terjadi.


"Oahm ...." Rachel menguap, kembali berbaring tanpa menoleh ke belakang. Dirinya mulai berbaring begitu juga dengan Edward.


Berada dalam selimut yang sama. Seperti biasanya juga Edward memeluknya dari belakang.


Kala Rachel hendak memejamkan matanya, dirinya memekik. Jantungnya berdegup cepat, apa yang dilakukan anak ini? Mengigit lehernya?


"Tuan muda! Salah kakak! Kenapa mengigit leherku!?" teriak Rachel.


"Hanya gemas dan ingin...ayo tidur!" Jawaban dari remaja yang dijuluki pangeran salju di sekolahnya itu, menarik jemari tangan Rachel agar kembali berbaring.


Tapi segalanya berubah, rasa kantuk Rachel menghilang. Apa tadi? Dirinya merasa benar-benar malu. Di kehidupan lalu sebagai Rania bahkan hingga kini tidak ada yang melakukan hal itu padanya. Sumpah demi apapun tubuhnya menegang.

__ADS_1


Tubuh Edward yang menempel pada punggungnya. Otot-otot dada remaja berusia 18 tahun itu telah terbentuk. Apa ini masa pubertas?


"Tidak mungkin..." Itulah yang ada dalam fikiran Rachel.


Tidak menyadari Edward hanya memeluknya dari belakang lebih erat."Itu hukuman karena hari ini kamu berada dekat dengan pria sialan dari ekstrakulikuler basket."


"Oh...jadi hukuman. Aku kira apa? Bilang dari tadi! Agar aku bisa lebih tenang." Gerutu Rachel memejamkan matanya, asalkan bukan masa pubertas dirinya tidak akan terlibat bukan? Edward segera akan jatuh cinta pada Alira, kemudian dirinya tinggal menjaga Edward agar tidak pernah membunuh seperti dalam karya aslinya.


Tapi apa benar? Tidak ada yang dapat menebak apa yang ada dalam fikiran Edward. Menyayanginya, namun ini sudah berlalu bertahun-tahun. Menyayanginya semakin dalam, masa pubertas?


Pemuda itu memejamkan matanya. Wajahnya tersenyum, sebuah mimpi yang indah, sekaligus hal memalukan akan terjadi.


Dalam mimpi...


Sinar bulan memasuki celah tirai, Rachel memakai seragam sekolah menatapnya mengatakan sesuatu."Aku menyukaimu. Jika kita bersama dan punya anak...anak yang mirip aku dan Edward." Kalimat yang benar-benar terdengar serius.


"Apa aku mencintaimu?" tanya Edward.


"Menurutmu?" Rachel balik bertanya, sedikit berjinjit mencium bibirnya agresif. Sedangkan Edward menikmatinya, terasa kelu untuk bergerak. Tidak ingin mencegah hal ini, terasa nyaman dan indah.


Memeluk pinggangnya. Hingga menjatuhkannya di tempat tidur.


"Aku mencintaimu..." Ucap Rachel dibawah tubuh Edward.


Entah sebatas mana mimpi itu terjadi, sepertinya tidak perlu dibahas. Dibahas nanti saja, jika...ini hanya jika... suatu hari nanti terjadi di dunia nyata.


Pada akhirnya Edward membuka matanya kala hari telah pagi. Matanya melirik ke arah Rachel yang tidur sambil memeluknya.


Dengan cepat dirinya mendorong tubuh Rachel.


"Sudah bangun?" tanya Rachel mengusap-usap matanya sendiri.


"Aku harus mandi! Dasar pemalas!" Gerutu Edward berjalan pergi, terlihat wajar.

__ADS_1


Namun Rachel memincingkan matanya."Celanamu basah! Kamu ngompol di tempat tidurku ya!?" Teriak Rachel memeriksa seprainya yang juga basah sama seperti celana panjang Edward.


Tapi dengan cepat remaja berambut putih itu melarikan diri, tanpa ada maksud bertanggung jawab.


__ADS_2