
...Cinta hingga ke surga? Jika bisa aku ingin membawanya. Pergi bersamamu....
...Hati ini membeku kala melihat wajahmu memucat. Jantung yang tidak lagi berdetak....
...Senyuman jua tidak lagi terlihat. Mawar putih yang terjatuh ke dalam peti mati....
...Mawar yang sama tenggelam bersamaku. Bibir ini tersenyum, kala aku meyakinkan diri."Dapatkah kita bersama selamanya?"...
Edward.
Menghela napas kasar, dirinya mulai meletakkan beberapa buku, alat tulis dan phonecellnya. Matanya menatap ke arah cermin, mengamati penampilannya saat ini.
Wajah remaja yang tidak begitu cantik, tapi juga tidak dapat dikatakan jelek. Dirinya standar, kurang lebih sebanding dengan Rania di kehidupannya yang dulu.
Meregangkan otot-ototnya, sebelum berangkat ke sekolah. Saat ini dirinya telah memasuki usia remaja 16 tahun. Tidak mengetahui bagaimana Rachel dapat meninggal dalam karya asli.
Semua kemungkinan dicatatnya, gagal jantung? Tapi dirinya tidak merasakan sakit atau apapun. Kanker? Cek kesehatan total namun hasilnya sehat-sehat saja.
Menghela napas berkali-kali, kotak P3K selalu ada pada ranselnya untuk berjaga-jaga dari semua kemungkinan. Surat wasiat juga disimpannya. Isinya? Tentu saja agar Edward tidak menganggap enteng nyawa manusia.
Mau tidak mau ini harus dilakukannya. Mati di usia remaja tidak spesifik sama sekali. Dirinya hanya terlihat satu bait dalam karya asli. Itupun dalam adegan ketika Alira dan Alfred melakukan adegan panas di gudang rumah keluarga Snowden sekitar 7 tahun dari sekarang. Dalam dialog yang diucapkan oleh seorang pelayan, yang mengeluh tentang kematian Rachel di usia remaja.
Sefiguran itu... memang itulah Rachel yang bahkan tidak dapat terlibat dalam karya novel aslinya. Ditakdirkan sebagai orang yang telah lama tiada. Diakibatkan oleh penyakit, entah sakit apa.
Tapi kondisi kesehatannya baik-baik saja saat ini. Mungkin dirinya hanya perlu bersiap dan menunggu apa yang akan terjadi.
"Aku akan hidup dengan baik..." gumamnya tersenyum, berusaha mengubah takdir kematian.
Matanya menelisik setelah mengganti sepreinya seorang diri. Tidak disangka Edward yang begitu rapi dapat mengopol. Menggelengkan kepalanya heran.
Flint masih ada dalam perjalanan bisnis. Mereka sering kali ditinggalkan berdua seperti ini. Hanya dengan supir dan beberapa pelayan.
Banyak hal yang telah berubah dari rumah ini setelah 8 tahun berlalu, mulai dari interior dan furniture. Kini terkesan jauh lebih modern dan minimalis. Teknologi juga, sekarang phonecell telah di produksi secara massal. Walaupun tidak begitu canggih, namun beberapa aplikasi pengirim pesan sudah ada.
Berjalan menuruni tangga, dirinya menatap ke arah Edward yang baru saja menutup kotak bekal miliknya.
"Kakak menghias kotak bekalku lagi?" tanya Rachel, semenjak kedatangan Gordon banyak hal yang berubah. Dirinya diharuskan memanggil Edward, kakak. Walaupun menurut perjanjian ini hanya berlangsung hingga Rachel berusia 18 tahun. Mencegah ibu kandung Rachel, atau orang seperti Gordon mencari alasan untuk mengambilnya.
__ADS_1
"Iya! Ini! Dan jangan coba-coba mendekati anak dari ekstrakulikuler basket lagi," ucapannya mengecup kening Rachel, sembari tersenyum.
Ingat! Mereka sudah remaja. Walaupun sejatinya tidak boleh dan begitu berbahaya bagi calon ibu, mereka sudah dapat menciptakan anak. Seorang remaja berusia 18 tahun tinggal dengan remaja berusia 16 tahun. Entah apa yang ada di fikiran Flint dapat pergi ke luar negeri meninggalkan dua ekor tikus kesayangannya. Tidakkah Flint khawatir akan ada anak tikus yang lahir kala dirinya pulang nanti?
Sarapan seperti biasanya. Tidak ada yang istimewa sama sekali hanya sesekali Edward menatap ke arah Rachel. Kala Rachel menyadarinya, dengan cepat pula Edward mengalihkan pandangannya.
"Ada apa dengan psikopat ini?" batin Rachel memincingkan matanya.
"Kenapa kakak melihatku diam-diam!? Ada yang ingin kakak katakan?" tanya Rachel pada Edward.
"Tidak ada, sebaiknya kita berangkat lebih awal." Hanya itulah yang diucapkan sang kakak keren.
Memang keren, tubuhnya yang tinggi, atlet nasional di bidang Wushu, walaupun dalam seni beladiri lain juga dapat dikatakan ahli. Siswa paling pintar di sekolah, apa lagi yang kurang? Mereka masih menjuluki Edward sebagai pangeran salju hingga sekarang. Para wanita menggila ingin mendekatinya.
Mengikuti langkah Edward setelah sarapan. Terkadang Rachel berfikir, siswa terpopuler ini dapat membunuh seseorang? Dirinya, takut menyinggung seorang Edward.
Bug!
Suara pintu di tutup terdengar. Edward yang telah memiliki SIM mengemudi. Sementara Rachel duduk di kursi penumpang bagian depan.
Lagu romantis diputar oleh pemuda aneh ini. Seolah-olah dirinya tengah jatuh cinta. Tunggu dulu! Jatuh cinta? Apa Alira sudah pindah sekolah ke tempat mereka?
Entahlah bagaimana sebenarnya masa pubertas seorang Edward. Prilaku dark psikopatnya juga tidak terlihat sama sekali. Mungkin karena mendapatkan kasih sayang yang cukup dari dirinya dan Flint.
"Kenapa senang? Jangan-jangan kakak menyukai seorang perempuan di belakangku?" tanya Rachel sembari tersenyum menggoda.
"Iya...aku menyukai seseorang." Jawaban ambigu dari Edward. Salah satu tangannya terlepas dari setir, menggenggam jemari tangan Rachel.
Cantik? Dimatanya Rachel adalah yang tercantik. Memberikannya rasa nyaman, entah dimulai dari kapan segalanya berubah. Jantungnya berdegup lebih cepat, sering kali berfikir untuk menikmati bibir itu. Ingin mengetahui bagaimana nyamannya melakukan adegan dewasa.
Namun, segala fikiran negatifnya ditepis, dirinya tidak ingin Rachel pergi meninggalkannya.
"Siapa? Apa adik kelasmu?" tanya Rachel antusias.
Edward mengangguk. Kembali mendengarkan musik sembari mengingat mimpi indahnya semalam.
"Siapa!? Katakan!" Geram Rachel.
__ADS_1
"Tidak mau!" Hanya itulah jawaban dari Edward.
"Dasar pelit!"
*
Tapi tahukah kalian ada beberapa takdir yang tidak dapat dibelokkan. Seorang siswi melangkah masuk menelusuri lorong. Terlihat benar-benar anggun, berwajah polos, dengan senyuman yang begitu cerah, kulit putih menawan, tidak dapat dipungkiri julukan wanita tercantik di sekolah akan tersemat pada anak baru ini.
Bug!
Seorang anak terjatuh dari tangga, wanita cantik ini segera membantunya bangkit, mengikatkan saputangan pada lukanya."Sebaiknya kamu segera ke UKS ya?" ucapannya ramah.
"I...iya..." Jawaban dari sang siswa dengan wajah memerah.
Remaja perempuan itu kembali melangkah. Usianya kini menginjak 17 tahun. Usia dimana kebaikan hatinya terlihat.
Semua orang terpana akan pesonanya, benar-benar aura pemeran utama wanita sejati. Menuju ke arah ruang kelas tempat dia akan belajar.
Tidak dijabarkan secara detail tentang bagaimana Alira dapat menaklukkan hati Edward. Tapi yang pasti, jika berjalan seperti karya aslinya. Pembunuhan berikutnya akan terjadi beberapa bulan dari sekarang.
Seorang wanita yang benar-benar memiliki senyuman dan hati bagaikan malaikat, itulah penjabaran penulis tentang sosok Alira. Tapi memang terlihat serupa dengan penjabaran bukan?
*
Apa yang terjadi saat ini? Tentu saja dirinya yang hanya belajar dan belajar, ingin mewujudkan cita-citanya di kehidupan sebelumnya, menjadi seorang dokter.
Duduk di perpustakaan, berdampingan dengan Edward.
Entah berapa pasang mata mengamati mereka. Sesekali ada wanita yang tersenyum, cekikikan tidak jelas. Ada juga yang memberanikan diri mendekat, walaupun Edward terlihat tidak peduli.
"Kakak! Bisa kamu kembali ke kelas?" tanya Rachel.
"Tidak..." Jawaban darinya mengecup pipi Rachel.
Tingkah menyayangi adik yang memang keterlaluan. Beberapa wanita menatap sinis padanya, sedangkan ada juga yang bahkan menusuk boneka kala melihat dirinya bersama Edward.
"Pergi sana!" Kesal Rachel, ingin Edward jauh-jauh dari dirinya.
__ADS_1
"Begini aku bukan kakak sesungguhnya. Aku tuan mudamu, berani mengusirku?" tanya Edward.
Rachel menghela napas kasar berusaha tersenyum."Anda boleh mencium pipi saya lagi," ucapnya sebagai lintah baik yang belum mandiri.