Pelayan Antagonis

Pelayan Antagonis
Bab 24. Orang Miskin


__ADS_3

Alira dalam penjabaran karya aslinya tinggal di luar kota. Karena keluarganya memiliki perusahaan pertambangan nikel.


Tidak bersekolah di sekolah elite, hingga pada akhirnya di masa SMU, dirinya baru mulai bersekolah di sekolah kalangan atas. Kisah cinta pria tertampan di sekolah dan wanita tercantik di sekolah pun dimulai.


Pria dingin yang tidak memiliki teman. Setiap saat Alira menempel padanya, membuatkan bekal, bahkan membelanya jika ada yang berkata buruk tentangnya. Benar-benar meluluhkan hati Edward, yang tidak memiliki kasih sayang dari siapapun. Pria yang haus akan kasih sayang.


Pembunuhan sadis yang dilakukan Edward setelah menyingkirkan keluarga bibinya pun dimulai. Diawali dengan, Edward yang mencari keberadaan Alira.


Kala dirinya melewati gudang, suara aneh terdengar. Membuka pintu, pakaian Alira sudah hampir sepenuhnya tanggal. Sedangkan seorang guru muda, hanya mengenakan kemeja dengan kancing yang terbuka saja, sudah tidak mengenakan boxer dan celana panjang lagi.


Kala itu Alira menangis mendekati Edward mengatakan dirinya dipaksa dan dilecehkan, sang guru juga dikatakan olehnya sudah melecehkan banyak siswi dengan dalih bimbingan belajar. Edward memberikan jaketnya pada Alira yang masih terlihat trauma. Kemudian membunuh sang guru, memenggal kepalanya. Mayatnya sendiri dikubur di tengah hutan setelah dibawa menggunakan mobil oleh Edward, kala waktu pulang sekolah tiba.


Rachel menghela napas berkali-kali mengingat flashback adegan mendebarkan itu. Alira terlalu bodoh, polos dan lugu menurutnya. Kenapa tidak menghentikan Edward untuk membunuh? Juga, kenapa terlalu mudah terperangkap guru mesum?


Satu yang disadarinya. Gedung ini terdiri dari Elementary School (SD), Junior High School (SMP), dan Senior High School (SMU). Jadi di sini mungkin merupakan latar kejadian trailer mengerikan.


Memutar-mutar pena yang dibawanya menggunakan jari. Jika Alira suatu saat nanti dilecehkan maka dirinya hanya tinggal memanggil guru menolongnya. Area gudang tempat latar dalam novel juga, mungkin akan lebih baik jika dirinya dan Edward datang setiap waktu makan siang ke tempat tersebut. Hingga masa SMU nanti, jadi jika tidak dapat merubah takdir dan Alira benar-benar dilecehkan, serta Edward tidak sengaja melihat adegan tersebut.


Setidaknya dirinya akan sekuat tenaga memegangi Edward agar tidak membunuh sang guru. Rencana sudah disusunnya, pembunuhan pertama keluarga Wilmar sudah dihentikannya, membelokkan takdir. Kini menyelamatkan sang guru tidak dikenal dari kekejaman Edward.


Rachel kembali menatap ke arah depan, dirinya maju ke depan, dipanggil wali kelas untuk memperkenalkan diri.


*


Tidak ada pembullyan di hari pertama. Namun, bibit-bibit rasa tidak suka melihat anak biasa-biasa saja, memasuki sekolah yang dipenuhi dengan malaikat, sudah pasti ada. Banyak siswa maupun siswi yang sejatinya tidak menyukai Rachel.


Membawa kotak bekal, sesuai tempat yang dijanjikan oleh Edward. Gudang belakang di gedung tua terpisah. Mengapa Edward memilih tempat ini untuk bertemu? Tentu saja karena cafetaria tidak akan nyaman bagi Rachel.


Anak laki-laki berambut putih yang duduk di atas meja menunggunya. Hingga pada akhirnya Rachel datang. Mata Rachel menelisik ke arah sekitar.


Menghela napas kasar, tempat ini memang mencurigakan dan berbahaya. Mengapa kebanyakan tokoh utama wanita itu bodoh dan mudah terperangkap? Memijit pelipisnya sendiri. Tapi Alira lah satu-satunya wanita yang dicintai Edward di masa depan hingga rela mati untuknya.


Rachel mulai berimajinasi lagi tentang sosok Alira. Cantik seperti dewi, polos, mudah ditebak, dengan lantang menolak seorang Alfred Russel karena prinsipnya.


Dirinya mulai duduk di samping Edward. Melihat keadaan sekitar, disinilah TKP pembunuhan. Kurang lebih 7 atau 8 tahun dari sekarang, dan pelaku utamanya anak laki-laki yang tersenyum duduk di sampingnya saat ini.

__ADS_1


"Hari ini sandwich, aku yang membantu koki mengemasnya ke dalam kotak milikmu." Ucap Edward dengan bangganya menunjukkan hiasan yang menggemaskan. Sosis dipotong berbentuk bunga sakura. Dengan rumput laut sebagai batang pohonnya. Hiasan yang indah diatas sandwich.


Apa benar Edward yang manisnya luar biasa ini dapat memenggal kepala orang?


"Edward, ini aku bertanya. Hanya bertanya, jika ada orang melecehkan wanita yang kamu sayangi di masa depan. Menyakitinya, apa yang akan kamu lakukan?" tanyanya serius.


"Tidak akan terjadi, karena aku setiap saat berada bersama pelayan kesayanganku." Jawaban tanpa dosa dari Edward."Aku menyayangimu. Kamu adalah pelayan kesayanganku."


Wajah Rachel sedikit memerah, benar-benar pujian tingkat tinggi. Dirinya sejauh ini telah berhasil meraih simpati sebagai lintah rakus.


"Bukan itu maksudku, suatu saat nanti akan ada wanita lain yang lebih cantik dariku. Kamu mencintainya sampai kamu rela mati demi dirinya. Namun, tiba-tiba dia dilecehkan dan disakiti apa yang akan kamu lakukan?" tanya Rachel serius.


"Membiarkannya, sudah aku bilang, aku hanya ingin ditemani olehmu. Jika ada wanita lain yang terus menempel, itu akan sangat merepotkan." Kalimat penuh senyuman, menyumpal mulut Rachel menggunakan sandwich.


"Nanti sudah ketemu saja, langsung kejang-kejang saking cantiknya pemeran utama wanita." Batinnya mengingat betapa dalamnya perasaan Edward pada Alira.


Sebenarnya lumayan romantis, walau tidak ada satupun adegan ranjang antara Edward dan Alira. Bagaikan manisnya sebuah cinta, namun over posesif dan mengikat. Tidak peduli dengan nyawa orang lain, hanya peduli dengan cintanya saja. Itulah penjabaran Edward Snowden yang haus akan kasih sayang.


Tak!


Kepalanya dipukul menggunakan sendok.


Edward hanya tersenyum."Jangan pernah mengatakan tentang wanita atau pria lain di masa depan. Tidakkah kamu ingin kita tinggal hingga tua di kediaman Snowden, menjadi pelayan yang menemaniku selamanya. Tanpa ada yang mengganggu waktu kita." Itulah kehidupan yang diimpikan anak berusia 10 tahun itu.


Otaknya belum tercemar oleh yang namanya kekasih, cinta, keturunan atau kebutuhan biologis yang perlu disalurkan.


"Rachel..." panggil Edward lagi tertunduk sejenak.


"Em?" Rachel menoleh padanya dengan mulut penuh.


Cup!


Satu kecupan mendarat di pipinya."Jangan pernah sakit lagi..." pintanya, dijawab dengan anggukan oleh Rachel.


*

__ADS_1


"Berapa nilaimu?" tanya Cresia tersenyum meraih buku tulis milik putranya."Nilai sempurna!" lanjut sang ibu bangga, melihat buku tulis yang diberikan Query.


Sedangkan Rachel yang baru datang, segera duduk."Bibi! Aku kering! Aku kering!" keluhnya.


"Minum air dulu!" Ucap Cresia menertawakan Rachel.


"Bagaimana hari pertama sekolahmu?" Tanya Query penasaran.


"Tidak ada yang istimewa. Hanya belajar, makan, belajar, makan, pulang." Jawaban jujur dari Rachel.


"Tidak pulang bersama Edward?" Query memincingkan matanya.


"Kami pulang di waktu yang berbeda. Karena menunggu terlalu lama. Jadi aku putuskan untuk jalan kaki kemari." Jelasnya, membaringkan tubuhnya di lantai ubin, tanpa takut seragamnya kotor.


Seperti biasanya Rachel membawa sekotak lauk, untuk mereka nikmati bersama nanti. Tapi terlalu kepanasan untuk mulai makan. Hanya diletakkannya di atas tumpukan buah mangga. Ingat! Cresia saat ini membuka kios kecil di pasar, khusus menjual buah-buahan. Menghabiskan sisa tabungannya untuk membuka usaha kecil-kecilan.


"Buahnya busuk..." Keluh seorang wanita muda berdiri di depan toko bersama seorang pria.


"Mau beli...ap----" Kalimat Cresia terhenti kala melihat mantan suami dan selingkuhannya. Pupil matanya bergetar, baru saja wanita itu lepas dari depresinya. Tapi mengapa dua orang ini ada di sini.


"Dia siapa?" Rachel bertanya pada Query.


Query mengepalkan tangannya terlihat menahan kekesalan."Ayah angkatku."


Rachel mulai bangkit menghela napas berusaha tersenyum. Tangannya memegang jemari tangan Cresia.


"Bibi ada pelanggan kenapa diam saja?" tanya Rachel membuat perhatian Cresia teralih pada anak perempuan ini.


"Kamu mengangkat anak lagi?" tanya sang mantan suami Cresia.


"Wajar saja, rahimnya kan sudah diangkat. Mana mungkin bisa punya anak." Cibir wanita yang dibawa mantan suaminya.


Jantung Cresia terasa berat. Air matanya mengalir, rasa depresi itu belum terkubur sepenuhnya.


"Bibi apa hubungannya punya anak dengan jualan buah. Memang buah apel keluar dari rahim? Begini, kalau bibi berniat membeli buah beli saja, jangan menghalangi rejeki orang. Mobilnya saja elite, beli buah saja tidak mampu." Cibir Rachel berdecak.

__ADS_1


Tapi benar seketika suasana hati Cresia berubah, menahan tawanya.


"Ka...kamu..." Wanita berpakaian minim itu kehilangan kata-kata.


__ADS_2