Pelayan Antagonis

Pelayan Antagonis
Bab 32. Kok Bisa?


__ADS_3

Wushu merupakan salah satu ekstrakurikuler di sekolah ini. Beberapa wanita duduk berkerumun menonton. Hanya dirinya lah yang duduk seorang diri tanpa satupun teman.


Mengapa? Tentu saja ini karena Edward, selain statusnya yang memang hanya anak angkat keluarga Snowden. Tidak semua anak di sekolah ini tinggi hati dan memandang status sosial.


Tapi memang pada dasarnya nasibnya sial! Para wanita itu salah paham tentang hubungannya dengan Edward. Tuan muda yang selalu mencium kening dan pipinya sembarangan. Mungkin karena kebiasaan waktu kecil, jadi Rachel perlahan sudah memakluminya.


Sedangkan bagi para lelaki yang mendekatinya. Pada awalnya hal biasa, namun entah kenapa, tiba-tiba mereka menghindarinya setelah bicara secara pribadi dengan Edward.


Hidupnya begitu diatur, tidak memiliki teman, dari bangun tidur hingga tidur lagi melihat wajah Edward. Memang menyenangkan, memang tampan, tapi tetap saja, dirinya akan bebas, memiliki sahabat segera setelah Alira terlihat di muka bumi ini.


Memakan roti seorang diri menatap dari kursi penonton bagaimana gerakan Edward memainkan pedangnya.


"Edward!"


"Pangeran salju!"


Para wanita itu semakin menggila. Berteriak tidak karuan seperti cacing kepanasan.


Sedangkan kala Edward melakukan gerakan terakhir, melompat dengan anggun sembari mengayunkan pedangnya. Matanya sedikit melirik ke tempat Rachel duduk. Mengedipkan sebelah matanya. Sedangkan Rachel malah melotot kesal. Bagaimana tidak? Semua perhatian teralih padanya.


Mengepalkan tangannya seolah berkata. Mau aku hajar?


Sedangkan Edward malah tertawa kecil duduk di bangku istirahat untuk peserta ekstra kulikuler. Mengelap keringatnya sembari meminum air mineral.


Aura wanita-wanita penggemar Edward semakin gelap. Bagaikan siap untuk menelan Rachel. Ini sudah pasti, dirinya mungkin akan mati karena dibunuh penggemar tuan mudanya. Bukan mati karena penyakit.


Menelan ludah kasar. Hingga perhatiannya teralih akibat beberapa orang berbisik-bisik ke arah lain. Seorang wanita berambut lurus kecoklatan panjang, wajahnya putih terawat bagaikan porselen, pupil matanya indah, bahkan jemari tangannya bagaikan pianis. Tidak ada yang tidak sempurna.


"Ca... cantik..." Gumam Rachel tertegun, dirinya yang seorang wanita saja tidak dapat mengalihkan pandangannya. Apa lagi orang para pria?

__ADS_1


Wanita yang ramah berteman dengan siapa saja. Apa anak baru? Tidak ada orang yang dapat ditanyai oleh Rachel. Ingat di sekolah ini temannya hanya Edward.


Hingga perhatian wanita cantik yang bercengkrama dengan banyak teman itu teralih. Menatap ke arah Edward yang tengah beristirahat di area kursi panjang.


Rachel memincingkan matanya, ciri-ciri fisik, mudah bergaul, menjadi pusat perhatian kemana pun dirinya pergi. Inilah pemeran utama wanita Alira. Sudah pasti, dilihat dari rambut coklatnya yang indah.


"Pertemuan pertama! Cinta pertama!" Gumamnya kagum, ingin menangis karena bahagia rasanya. Mengunyah roti dengan cepat, tidak ada lagi alasan Edward bunuh diri jika berhasil menyatu dengan Alira.


Bahkan jika Flint menentang hubungan mereka pun dirinya tetap akan membela. Menghela napas berkali-kali. Jika takdir kematiannya yang misterius tidak dapat dihindari. Setidaknya Edward dapat bahagia bersama dengan Alira tanpa menjadi seorang pembunuh berantai. Dirinya sudah cukup puas dengan itu, walaupun harus mati di usia remaja, seperti dalam karya aslinya.


"Alira kamu menyukainya?"


"Dia tampan kan?"


"Namanya Edward Snowden."


Berbagai kalimat yang diucapkan teman-teman baru Alira. Segalanya didengar oleh Rachel, sedangkan Alira hanya terlihat tersenyum, melihat ke arah Edward dari jauh.


"Jangan bilang begitu, aku malu..." Ucap wanita itu tersipu.


Betapa manisnya itulah yang ada dalam otak Rachel, Edward-nya tersayang sudah tumbuh menjadi remaja dan akan segera merasakan jatuh cinta untuk pertama kalinya.


Wanita yang cantik dan populer dalam sekejap. Salah seorang sahabat Alira, wanita pendukung Alira untuk mendekati Edward, memberikan minuman vitamin C yang masih tersegel pada Alira.


"Berikan pada Edward! Aku mendukungmu mendekati pangeran salju!" Ucap sang remaja, melihat visual mereka yang begitu serasi.


Edward melambaikan tangannya ke arah kursi penonton, seusai sesi latihan. Berjalan naik ke arah kursi penonton. Sedangkan Rachel mulai tersenyum, inilah adegan romantis yang akan dimulai. Membuka bungkus rotinya yang baru, berharap akan adanya adegan mendebarkan pertemuan pertama.


Magnet antara protagonis dengan second male lead. Botol minuman yang ada dalam genggaman tangan Alira. Bersiap menunggu Edward yang akan segera mendekat.

__ADS_1


Para wanita sahabat baru Alira sok-sokan menjadi cupid dadakan. Bertambah tersenyum kala Edward berjalan mendekati Alira.


Alira berada tepat di jalur Edward hendak berjalan naik di area kursi penonton.


"Perkenalkan aku Alira. Aku baru disini. I...ini minuman untukmu." Kalimat darinya tersenyum secerah mentari.


Benar-benar seperti penjabaran dalam karya asli novelnya. Rachel makan roti semakin cepat saja, dirinya bagaikan menyaksikan adegan novel kesayangannya secara langsung. Tidak percuma dirinya membesarkan Edward dengan baik. Tanpa adanya dendam."Kali ini nyatakan cintamu dengan benar!" Ingin rasanya Rachel berteriak demikian, mendukung Edward meraih cinta sejatinya. Tapi ini baru pertemuan pertama yang mendebarkan bukan.


Jantung Edward yang berdegup cepat, begitu juga dengan Alira. Mereka benar-benar serasi, itulah yang ada di dalam anggapan Rachel.


Tapi.


"Kamu tidak lihat aku sudah membawa minuman?" tanya Edward pada Alira, menbuat bibir Rachel menganga. Sedangkan para wanita yang mendung Alira mendekati Edward, ikut-ikutan kecewa.


"Minuman? Aku punya selusin jika menerima begitu saja. Cara yang terlalu murahan untuk mendekati pria...minggir! Jalan ini tidak dibuat khusus untukmu! Ini jalanan umum!" Edward sedikit mendorong Alira.


"Apa yang terjadi? Kenapa tidak sesuai alur!? Edward kalau kamu tidak mendekati kekasih hatimu, honey, cintamu, pemilik hatimu. Alfred Russell akan merebutnya di masa depan! Kamu akan berakhir mati bunuh diri, karena patah hati!" Ingin rasanya Rachel berteriak demikian. Mengguncang-guncang tubuh Edward kesal, jika bisa. Tapi pada kenyataannya dirinya masih duduk dengan mulut menganga.


Pemuda itu malah berjalan mendekati Rachel, mengigit sisa roti bekas gigitannya."Aku lapar." Ucap Edward mencium kening Rachel seenak jidatnya.


"Ka... kakak? Nanti ada yang cemburu?" Ucap Rachel kesal setengah mati. Jika begini semuanya akan berjalan seperti cerita novel aslinya. Alira akan semakin menjauh dari Edward. Pada akhirnya Edward bunuh diri karena tidak dapat menaklukkan hati Alira.


"Cemburu? Kamu cemburu jika ada wanita yang mendekatiku?" tanya Edward menarik tangan Rachel berjalan pergi. Kemudian merangkul bahunya, seakan melarang Rachel menoleh ke belakang.


"Bukan begitu! Dia itu Alira! Kamu tidak tertarik pada wanita cantik!?" tanyanya.


"Aku sudah tertarik pada seseorang dan itu bukan dia. Dimataku dia jelek..." Ucapannya penuh senyuman tanpa dosa. Senyuman yang menawan mengalihkan perhatian Rachel sejenak.


"Tidak boleh! Ini jalur yang salah! Kamu harus kembali!" Ucap Rachel mencoba berpegangan pada pintu besi. Tapi Edward malah menariknya semakin kencang, hendak mencari tempat yang sepi untuk makan siang bersama Rachel.

__ADS_1


__ADS_2