
"Kamu apa? Setiap detik berharga, jadi bibi mau beli atau tidak. Kalau miskin, katakan saja miskin." Cibir anak berusia 8 tahun itu. Mungkin tinggal dengan dua orang antagonis membuatnya ikut-ikutan menjadi antagonis.
"Cresia! Sebaiknya kamu mengajari anak angkatmu." Ucap Courtney (mantan suami Cresia)
"Maaf, apa bibi Cresia mengenal anda? Tidak kan bibi? Bibi tidak mungkin mengenal orang bermobil tapi tidak punya uang." Kalimat demi kalimat dari Rachel menatap ke arah Cresia. Tatapan yang seakan berkata untuk tetap tenang dan pura-pura tidak saling mengenal.
Cresia menghela napas kasar dirinya berusaha lebih tenang, walaupun masih menyakitkan baginya."Maaf, anda ingin membeli buah apa? Jika tidak membeli, mohon pindah parkirkan mobil anda, karena menutupi dagangan kios saya." Ucapnya ramah.
"Kami tidak level membeli buah busuk seperti ini!" Ucap Estela (Istri Courtney saat ini) membanting satu buah mangga yang cukup besar hingga hancur, serta dua plastik anggur kiloan.
"Satu buah mangga, dua kilo anggur." Rachel mengambil kalkulator kemudian menunjukkannya pada Estela. Tentunya setelah menaikan harga tiga kali lipat."Bibi tolong bayar, jika tidak aku akan melaporkan ini pada polisi. Plat nomor mobil bibi juga sudah aku ingat." Kalimat tanpa ekspresi darinya.
"Aku tidak sudi!" Geram Estela.
"Baik! Query! Disana ada telepon umum. Kamu tau nomor kepolisian kan?" tanya Rachel, dijawab dengan anggukan oleh Query.
"Estela sudah! Kamu berkata kita kemari hanya untuk melihat kehidupan Cresia saja. Katanya kamu cemas padanya..." Courtney pada akhirnya mengeluarkan dompetnya. Hendak memberikan uang ganti rugi. Namun, dengan cepat Estela kembali merebut dari tangan Courtney.
"Untuk apa memberikan uang pada orang tidak sopan seperti mereka!?" Kalimat demi kalimat yang keluar dari mulut Estela, membuat Cresia tidak tahan lagi. Hendak menyerang, namun dengan cepat Rachel menahan tangannya. Seakan meminta Cresia menahan emosinya.
"Begini! Prinsipnya orang kaya harus dermawan pada orang miskin. Kalian menghancurkan buah di toko bibi Cresia. Bibi rugi, tapi kalian bahkan tidak mau menggantinya. Kesimpulannya kalian orang miskin yang menderita gangguan kejiwaan. Hingga perbuatan merusaknya harus dimaklumi tanpa mendapatkan ganti rugi." Penjabaran dari Rachel.
Query menipiskan bibir, pada akhirnya tertawa juga."Apa bibi dan ayah sudah bangkrut? Hingga menjadi tidak waras, membanting barang di toko orang?" tanyanya.
"Mereka hanya orang miskin yang gila. Jadi perlu dimaklumi." Rachel menambahkan, ingin menjaga kewarasan mental Cresia. Agar tidak terganggu oleh dua orang ini lagi.
"Sudah berikan saja!" Courtney merebut uang dari tangan Estela, memberikannya pada Rachel. Sedangkan Cresia masih berusaha tersenyum menjaga kestabilan emosinya sendiri.
"Anak sialan!" Geram Estela menarik kerah pakaian Rachel, biasanya cukup mudah membuat Cresia mengamuk, akibat tekanan mental. Tujuan Estela datang saat ini? Tentu saja mempermalukan Cresia di lingkungan usahanya yang baru. Tapi hanya karena seorang anak perempuan ini kenapa malah dirinya yang dipermalukan?
"Jika aku terluka, biaya rumah sakit, bibi yang tanggung. Pastinya akan mahal." Kalimat sok lugu dari Rachel memejamkan matanya bersiap dipukul.
"Estela! Hentikan!" Teriak Cresia, tapi dirinya malah didorong.
"Berhenti! Aku benar-benar aku menghubungi polisi!" teriak Query, hendak berlari ke tempat telepon umum. Tapi Courtney malah menghentikan Query, panik jika hal yang dilakukan istri barunya melibatkan kepolisian.
__ADS_1
"Hentikan! Dia bagian dari keluarga Snowden. Kalian ingin mati?" Kalimat dari seorang anak berusia 10 tahun yang tersenyum, berjalan mendekat, diikuti supir pribadinya.
Perhatian Courtney dan Estela beralih padanya. Snowden? Nama keluarga konglomerat yang cukup terkenal. Mungkin hanya keluarga Russell yang dapat menyaingi besarnya bisnis mereka.
"S... Snowden?" Estela gelagapan melepaskan cengkeramannya dari kerah kemeja Rachel. Sesuai ciri fisik keturunan keluarga Snowden. Rambut putih dengan warna pupil mata yang khas. Anak berusia 10 tahun yang baru datang ini benar-benar merupakan anggota keluarga Snowden.
"Patahkan tangan yang sempat menarik kerah kemeja Rachel." Perintah Edward pada sang supir.
"I...ini masalah kecil. Tuan muda Snowden tidak perlu---" Kalimat Courtney disela.
"Patahkan tangannya sekarang atau aku harus mengadu pada ayahku." Ucap Edward dengan nada datar. Seketika Courtney terdiam tidak dapat membela istri barunya. Masih teringat di benaknya, pusat perhatian dunia bisnis. Seorang pria berkacamata, berambut putih panjang terikat, Flint Snowden. Seseorang yang harus diwaspadai.
"Sa...sayang..." Estela ketakutan.
Krak!
Tangannya benar-benar dipatahkan sang supir. Jeritannya terdengar, tidak ada yang datang menolongnya entah kenapa. Mungkin karena dua orang ini membuat masalah duluan. Atau sudah mengetahui permasalahan dari percakapan mereka.
"Maafkan saya sudah menyinggung tuan muda. Jangan adukan pada ayah anda." Ucap Courtney cepat, memapah istri barunya yang menjerit menangis menahan sakit.
"Pergilah! Tapi aku berubah fikiran, aku akan tetap mengadu pada ayahku." Kalimat yang terucap dari bibir Edward membuat Courtney mengepalkan tangannya kesal.
"Sakit! Suami macam apa kamu tidak membelaku!" Teriak Estela menitikkan air matanya.
"Kamu yang brengsek! Berkata hanya mengkhawatirkan Cresia! Tapi kamu malah membuat masalah! Kamu tau yang kita hadapi? Dia itu anak tunggal Flint Snowden!" Bentak Courtney, menyesalkan tindakan istrinya. Dirinya bekerja di salah satu perusahaan swasta. Walaupun tidak sering, tapi sesekali mewakili perusahaan tempatnya bekerja menghadiri acara resmi, tentu dirinya mengetahui tempat pusat perhatian dan ketakutan semua kalangan pengusaha, Flint Snowden yang bahkan tidak berani didekatinya.
*
Sedangkan kembali ke area depan toko.
"Kenapa tidak menungguku di sekolah?" tanya Edward padanya.
Rachel hanya terkekeh, mengambil salah satu apel yang ada di sana."Ini untuk Edward, jangan marah ya?"
Edward menghela napas, telinga sedikit memerah bagaikan remaja yang malu setelah mendapatkan pemberian seseorang, memasukkan apel yang diberikan Rachel ke dalam tasnya.
__ADS_1
"Lain kali, jika ada masalah gunakan nama keluargaku." Ucap Edward padanya.
"Terimakasih tuan muda..." Cresia menunduk, bibirnya berusaha untuk tersenyum.
"Jika berterimakasih, setiap Rachel datang ke tempat ini, tolong usir dia." Kalimat datar tanpa ekspresi. Benar-benar anak menyebalkan bukan?
"A...apa?" Cresia memastikan pendengarannya.
Sedangkan Rachel dengan cepat menutup mulut Edward menggunakan tangan."Maaf dia memang orangnya sering asal bicara. Tapi Edward orang yang baik. Aku harap kita bisa bersahabat."
Cresia hanya tersenyum."Tidak apa-apa, besok datanglah lagi, makan siang bersama seperti biasanya."
"Bibi juga! Tetap semangat! Kalau bertemu mereka lagi, pura-pura saja tidak kenal. Jangan sampai merusak mental bibi karena orang tidak penting." Senyuman dari Rachel, menarik Edward yang ingin bicara serius lebih banyak lagi pergi.
*
"Ibu baik-baik saja?" tanya Query memberikan segelas teh hangat pada ibunya.
Cresia mengangguk."Rachel, dia memiliki hubungan dengan keluarga konglomerat?" tanyanya.
"Rachel sebenarnya akan diadopsi oleh kepala keluarga Snowden. Tapi Edward Snowden tidak mengijinkannya. Lebih menginginkan Rachel menjadi pelayannya." Jawab Query.
"Query, terkadang sulit menemukan wanita yang baik di dunia ini. Karena itu, jaga Rachel hanya untukmu. Dia mungkin akan cocok denganku saat dewasa nanti..." Kalimat demi kalimat yang diucapkan ibunya.
Sedangkan Query hanya terdiam tidak begitu mengerti. Mungkin cocok sebagai sahabat? Itulah yang ada dalam fikiran anak berusia 8 tahun.
*
Tapi tahukah kalian ada yang namanya efek domino? Hal yang seharusnya terjadi satu setengah tahun lagi, dapat terjadi lebih cepat.
Courtney terdiam di koridor rumah sakit menunggu istri barunya mendapatkan perawatan. Dirinya yang tidak ingin mendapatkan masalah dari keluarga Snowden, pada akhirnya menghubungi butler keluarga Russell.
Butler yang sudah mengabdi pada keluarga Russell selama puluhan tahun. Menjaga semua usaha keluarga Russell 6 bulan ini, setelah semua anggota keluarga Russell mati akibat kecelakaan pesawat.
Butler yang setia pada keluarga Russell. Tengah diam-diam mencari satu-satunya keturunan keluarga Russell yang tersisa, Alfred Russel, itulah namanya.
__ADS_1
"Siang ..." Suara orang yang dihubungi Courtney terdengar dari seberang sana.
"Sa... Saya Courtney, saya memiliki masalah bisa anda menolong saya!? Saya akan memberikan imbalan apapun yang anda minta."