Pelayan Dokter Amnesia

Pelayan Dokter Amnesia
Bab.17


__ADS_3

Sesaat ciuman itu terasa hangat dan dalam, hingga beberapa detik selanjutnya tubuh dan kepala Juan bergetar, sakit, hingga suara nyaring memekakkan kembali terdengar ditelinga.


"Aakk!" Juan memekik, sesaat setelah melepaskan ciuman mereka, dia memegangi kepalanya yang tiba-tiba terasa pening.


Maudy nampak kaget saat hadapannya Juan meringis kesakitan. Baru pertama kali ini dia melihat Juan seperti ini dan tentu saja hal itu cukup untuk membuat Maudy tidak tahu harus bertindak seperti apa.


"Tuan, apa yang terjadi. Bagaimana ini." Maudy yang semakin panik segera berdiri dari posisinya, hendak meminta pertolongan, namun tiba-tiba saja tangan Juan meraih pergelangan tangannya.


"Jangan pergi, tetaplah disini," lirih Juan yang masih nampak lemas.


Akhirnya Maudy pun kembali duduk, mencoba untuk menenangkan diri dari kepanikan. "Ini kali kedua saya mencium anda dan untuk kedua kalinya, anda lemas sampai membuat saya panik."


Juan merebahkan kepalanya diatas pangkuan Maudy. "Entahlah, tubuh ku terasa sakit secara tiba-tiba tapi anehnya, aku benar-benar mengingat sesuatu."


"Hah, be-benarkah?" Maudy yang tadi nampak cemas, kini mulai antusias dengan mata berbinar-binar. "Apa, apa yang anda ingat?"

__ADS_1


Juan terkekeh kecil lalu memejamkan matanya. "Kamu tidak perlu tahu, karena kamu juga tidak akan mengerti."


"Ck, ya saya memang hanya orang asing yang tidak perlu tahu siapa anda dan apa yang ada temukan dalam ingatan anda yang hilang," ujar Maudy yang tiba-tiba berubah kesal.


"Aku hanya tidak ingin melibatkan kamu dalam masalahku. Huh, sepertinya hal yang aku ingat kali ini cukup banyak, sampai aku bingung apakah harus percaya atau tidak. Aku berharap semuanya tidak benar."


"Anda ini bicara apa sih," Maudy kembali melirik jam besar di dinding kamar. "Tuan, saya harus pulang sekarang, nanti Ibu saya murka, saya bisa di coret dari KK.


"Kalau kamu dicoret dari kartu keluarga, nanti kita buat kartu keluarga untuk kamu dan aku," ujar Juan masih dengan mata terpejam. Dia terlihat begitu nyaman tidur di pangkuan Maudy.


***


Pukul tujuh malam, Rian baru saja tiba dikediaman keluarga Imanuel. Dia melangkah dengan cepat di temani kepala pelayan yang siap mengantarnya ke kamar Juan.


"Sejak kapan, Tuan muda demam?" tanya Rian kepada kepala pelayan seraya terus melangkah menaiki tangga.

__ADS_1


"Baru saja, Dok. Tuan muda tadi memanggil saya kekamarnya dan saat saya cek, tubuhnya panas," jawab kepala pelayan itu.


"Paman dan Bibi belum pulang dari luar kota?" tanyanya lagi.


"Be-belum, Dok," jawab kepala pelayan itu.


Sampainya di depan pintu kamar Rian segera membuka dan masuk ke dalam sementara kepala pelayan itu berbalik pergi.


Dari kejauhan Rian bisa melihat Juan duduk bersandar di kepala ranjang. "Kamu kenapa tidak langsung ke rumah sakit saja."


Juan melirik, melihat Rian yang sedang melangkah kearahnya. "Aku hanya demam biasa, jangan khawatir. Aku memanggil kamu kesini karena kepala pelayan mendesak, kalau tidak dia akan menghubungi orang tuaku," ujar Juan.


Rian hanya terkekeh lalu mulai memeriksa bagian dada Juan dengan stetoskopnya. "Ya, kamu hanya demam biasa, tapi apa kamu baru saja mengalami syok? Karena pada pasien Amnesia yang mengalami trauma pasca kecelakaan, syok bisa terjadi secara tiba-tiba karena hal yang mengagetkan. Hal itulah yang membuat daya tahan tubuh melemah, atau jangan-jangan ... apa kamu ingat sesuatu lagi?"


Sejenak Juan terdiam, menatap Rian dengan raut wajah datar. "Tidak, aku tidak ingat apapun."

__ADS_1


Bersambung 💕


__ADS_2