Pelayan Dokter Amnesia

Pelayan Dokter Amnesia
Bab.30


__ADS_3

"Aku akan segera pulang."


Juan menutup telepon itu, raut wajahnya terlihat begitu datar, seolah apa dia dengar tadi membuat dirinya harus mengambil keputusan pulang lebih awal dari yang dijadwalkan.


Dengan langkah cepat, dia yang tadi berdiri di balkon kamar kini beranjak masuk. Dia kembali menelpon seseorang. "Hallo, siapkan pesawat jet saya dua jam dari sekarang. Saya akan segera datang."


[Baik, Tuan.]


Juan kembali mematikan panggilan teleponnya. Dia segera memakai jaket dan menyeret kopernya keluar dari kamar hotel.


***


Sementara itu di tempat berbeda Ryan nampak kesal karena sudah mencari kemana-mana namun tidak menemukan keberadaan Juan.


Prank!


Saking kesalnya dia sampai melempar sebuah gelas hingga jatuh berhamburan ke lantai. "Sebenarnya ke mana dia dan apa yang dia lakukan. sikapnya akhir-akhir ini tidak seperti biasanya.


Seorang wanita seksi mendekat dan langsung memeluk Rian dari belakang. "Tuan, sudahlah jangan mengamuk seperti ini. Lebih baik sekarang anda ikut saya, kita habis malam ini di club seperti biasa, ruang VIP Anda sudah menunggu."

__ADS_1


Rian menyunggingkan senyumnya, lalu berbalik melihat wanita itu. "Aku sedang ingin sendiri. Kamu boleh keluar atau ingin hidupmu berakhir disini.


Tanpa mengatakan apapun lagi, wanita itu segera mundur dan bergerak cepat keluar dari ruangan tersebut. Sementara Rian memilih duduk di kursi ruang tamu apartemennya.


***


Malam kembali menyapa, Maudy duduk termenung di teras rumahnya. Dia berharap Juan segera pulang dan menemuinya, namun hingga detik ini tak ada tanda-tanda.


"Kak Maudy, sudahlah jangan menunggu yang tidak pasti. Masuk saja, tidur kek, browsing cari kerjaan kek, ucap Raphael yang sedang berdiri diambang pintu masuk.


Maudy menoleh dengan raut wajah kesal. "Ini urusanku. Lagi pula siapa juga yang menunggu? Aku cuma duduk santai saja disini," ucapnya mengelak.


Maudy yang nampak kesal segera berdiri sambil meraih sebuah asbak di atas meja. "Masuk, atau aku timpuk pakai asbak nih!"


"Huaaa, ampun. Iya iya, emosi aja," ucap Raphael lalu segera berbalik pergi.


Maudy kembali ketempat duduknya, menunggu dengan harapan yang tak pasti. Rasa rindunya kini sudah menggunung namun ego dirinya terlalu tinggi untuk mengakui itu semua.


***

__ADS_1


Sejak satu jam lalu Juan sudah sampai. Namun bukannya pulang kerumah dia malah langsung meminta diantar kerumah sakit.


Tak lama mobil yang dikendarai supir pribadinya memasuki halaman rumah sakit. Bukannya langsung turun, Juan malah terdiam.


Dari balik jendela mobil dia memandangi rumah sakit milik orang tuanya itu. Dia ingin memulai mimpinya disana, namun seseorang membuat mimpi itu hancur bagai debu.


Hingga saat ini Juan masih tidak percaya jika Rian adalah dalang dibalik semua yang terjadi kepadanya.


Tak lama dia segera turun dan langsung melangkah masuk kedalam lobby rumah sakit. Hingga beberapa saat langkahnya terhenti saat tanpa sengaja berpapasan dengan Rian dari arah berlawanan.


"Hy, Rian!" Dia mengangkat tangannya, tersenyum dan menyapa seperti biasanya.


Dari jarak beberapa meter, Rian nampak kebingungan, seharian mencari dan sekarang pria itu muncul dihadapannya.


Perlahan Rian melangkah mendekati Juan. "Sudah dua kali kamu tidak cek up rutin. Dari mana saja kamu?"


Juan kembali tersenyum, dia tahu Rian pasti curiga padanya. Namun itu tidak masalah baginya, kali ini dia tidak akan kalah cerdik. "Kenapa, apa kamu penasaran?"


__ADS_1


__ADS_2