Pelayan Dokter Amnesia

Pelayan Dokter Amnesia
Bab.24


__ADS_3

Pukul tujuh malam, Maudy yang baru saja keluar dari kamar, terperangah melihat Juan memakai pakaian adikknya. Dia tidak menyangka jika Juan benar-benar ingin menginap di rumahnya.


Tuan muda kaya raya itu terlihat sangat santai duduk di sofa lusuhnya sambil menonton siaran bola bersama sang adik, Raphael. Tanpa menunda waktu, Maudy segera melangkah mendekati Juan.


"Ikuti saya sebentar, kita harus bicara," ucap Maudy lalu melangkah pergi.


"Yaelah Kak Maudy mengganggu saja, orang lagi nonton CR7 sama LM ini," sahut Raphael kesal.


"Sudah tidak apa, aku bicara sebentar dengan dia," ucap Juan.


Juan pun segera bangkit dari posisi duduknya, mengikuti langkah wanita itu. Sesampainya di teras, Juan menghampiri Maudy yang sedang duduk di kursi panjang yang ada di teras itu.


"Kenapa? Orang lagi nonton bola, ganggu saja."

__ADS_1


Maudy menoleh menatap Juan dengan tatapan tajam. "Kalau merasa terganggu, sana pulang. Di kamar anda ada tv besar, ranjang empuk."


"Tapi dirumahku tidak ada kamu. Aku tidak membutuhkan semua fasilitas itu sekarang, aku hanya ingin bersama kamu saja. Entahlah, baru sebentar di sini, aku merasa nyaman. Ibu dan Adik kamu sangat baik, dan pengertian. Sementara kedua orang tuaku ... mereka sangat sibuk."


Maudy kembali menghela napas. "Kenapa juga anda menanggapi ucapan Raphael dengan serius, dia hanya basa-basi saja meminta anda menginap."


"Ck, sepertinya kamu yang tidak suka aku disini. Kenapa? Kamu takut mereka tahu kalau kita punya hubungan, atau kamu takut kalau mereka tahu jika sebenarnya kita ini sudah ci--"


Blek.


Juan terkekeh kecil lalu perlahan mengerakkan tangannya menggenggam tangan Maudy. "Iya, maaf. Aku hanya ingin menghabiskan waktu lebih banyak bersama kamu hari ini. Karena besok dan satu minggu kedepan. Aku akan sedikit sibuk, karena aku harus pergi ke Singapura selama satu minggu.


Ekspresi kekesalan Maudy tiba-tiba menghilang begitu saja. Ditatapnya Juan dengan penuh tanda tanya. "Singapura, satu minggu? Apa anda ada pekerjaan atau mungkin anda akan menjalankan pengobatan?"

__ADS_1


"Hem... keduanya. Kepergian ku kali ini adalah rahasia, jadi jika ada yang bertanya, siapapun itu. Bilang saja, kamu tidak tahu apa-apa. Paham?"


Maudy kembali mengerjap, merasa penasaran Apa alasan Juan rahasiakan kepergiannya tetapi dia yakin ada sesuatu yang sedang Juan selidiki dan tentu saja dia harus mendukung hal itu. "Ya, saya paham."


"Juan, Maudy! Ayo masuk, kita makan malam bersama!" Suara Ibu dari dalam rumah terdengar jelas sampai teras.


"Astaga, Ibu. Huh, itu suara atau toak kang parabot," ujar Maudy saat mendengar teriakan sang Ibu.


"Iya, Bu. Kami datang!" Juan malah menyahuti lalu bergegas masuk kedalam rumah.


Sementara disana, Maudy masih duduk sambil memandangi kepergian Juan. "Ck, dia bertingkah seperti seorang menantu yang baik. Huss, apasih yang aku pikirkan. Tidak itu tidak mungkin."


Dia segera bergegas menyusul masuk. Sesampainya didalam, dia bisa melihatnya Juan dan Raphael duduk berdampingan sementara Ibunya begitu cekatan manuangkan air untuk Juan.

__ADS_1


Ck, pikiranku benar-benar sudah konslet. Kenapa aku malah membayangkan keluarga bahagia karena melihat pemandangan ini. Ayolah Maudy kamu harus sadar, kelak dia akan menghilang bagai debu setelah mendapatkan seluruh ingatannya. Tetap terapkan social distancing, jaga jarak karena hatimu mudah kebablasan, batin Maudy.


__ADS_2