
Pagi-pagi sekali Juan sudah bangun. Di sampingnya nampak Rafael masih tertidur sambil mendengkur, perlahan Dia bangkit dan segera melangkah keluar dari kamar itu setelah meraih kunci mobil dan pakaiannya.
Situasi masih nampak gelap. Hingga beberapa detik kemudian lampu ruang tamu tiba-tiba menyala. Terlihat Maudy juga baru saja terbangun dan dia kaget melihat Juan keluar dari kamar Rafael.
"Anda sudah mau pulang?" tanya Maudy seraya terus melangkah menghampiri Juan bediri di depan pintu kamar Raphael. "Apa anda akan berangkat keluar negeri sepagi ini?"
Juan terkekeh mendengar pertanyaan Maudy. Sebenarnya dia tidak ingin pergi karena sudah pasti dia akan merindukan pelayan cantiknya itu. Namun karena beberapa hal yang harus diungkap segera membuat Juan harus terlatih merindu.
"Tentu saja tidak sepagi ini juga. Aku harus pulang ke rumah menyiapkan beberapa potong pakaian setelah itu baru berangkat ke bandara. Kamu tidak perlu khawatir aku hanya pergi selama seminggu. Dan selama satu minggu aku mau kamu berjanji dua hal kepadaku."
Maudy mengerutkan keningnya, dia selalu saja merasa gugup setiap kali jua menatapnya dengan tatapan serius. "Berjanji tentang apa?"
__ADS_1
Juan mendekati Maudy dan langsung memeluknya. "Hal pertama yang harus kamu lakukan saat aku pergi adalah jaga kesehatan dan jangan lupa kabari aku setiap saat. Yang kedua aku mau kamu menjaga hatimu untukku, awas aja kalau kamu dekat dengan pria lain."
Satu ketika wajah Maudy berubah menjadi merah. Dia tidak tahu apakah harus mempercayai ungkapan perasaan cuan kepadanya namun saat ini pria itu terdengar sangat tulus. "Anda tidak perlu mengkhawatirkan hal yang belum tentu terjadi. Pergilah, jaga diri baik-baik, saya menunggu andai disini."
Juan melepaskan pelukannya lalu kembali menatap Maudy. "Baiklah kalau begitu aku pergi dulu," ucap Juan lalu mengecup singkat kening Maudy. "Sampai jumpa satu minggu lagi."
Maudy hanya bisa tertunduk malu, dia melangkah membukakan pintu keluar untuk Juan. Dia berdiri diambang pintu seraya memandangi Juan yang terus melangkah hingga masuk ke dalam mobil.
Perlahan mobil yang dikendarai Juan bergerak perlahan meninggalkan halaman rumah dan saat itu juga rasa sedih yang bergemuruh memenuhi hati Maudy.
Maudy berusaha untuk menghibur dirinya, meski pada kenyataannya dia tetap saja merasa kehilangan sosok seorang pria yang beberapa waktu belakangan ini mengisi hari-harinya dengan berbagai hal yang belum dia rasakan sebelumnya.
__ADS_1
***
Pukul delapan pagi, Juan yang sudah terlihat rapi dengan pakaian kasual segera menyeret kopernya turun kelantai satu. Terlihat kepala pelayan sudah menunggu diujung tangga.
"Tuan, Anda mau kemana?" tanya kepala pelayan itu penasaran.
"Saya akan pergi ke Singapura." Juan melangkah mendekati kepala pelayannya. "Siapapun yang datang dan bertanya aku kemana, bilang saja kamu tidak tahu. Kalau Papa dan Mama ku pulang, bilang saja aku pergi menenangkan diri dipuncak, paham?"
"Ba-baik, Tuan. Oh ya, malam tadi Dokter Rian datang kemari kemari mencari anda. Beliau menitip pesan jika anda pulang, anda diminta untuk datang kerumah sakit untuk cek up bulanan," ujar kepala pelayan itu
Sejenak Juan terdiam, dia sebenarnya benar-benar muak, namun dia mencoba untuk terus menahan diri seraya terus mencari bukti lain.
__ADS_1
Dalam lubuk hatinya yang terdalam, dia masih berharap jika dugaannya tentang Rian, hanyalah sebuah kesalahpahaman
Ya, setidaknya dia harus terus berharap seperti ini, sampai benar-benar mendapatkan bukti yang kuat.