
Sepanjang perjalanan pulang Maudy terus mengoceh agar Juan menghentikan laju kendaraannya. Semua seolah tak berguna karena Juan kekeh ingin mengantar dia pulang.
Entah apa yang merasuki Juan hingga tiba-tiba saja dia ingin bertemu dengan orang tua Maudy. Apakah benar cinta itu telah tumbuh di hatinya? Atau ini hanya sekedar rasa nyaman yang datang sementara karena dia membutuhkan sosok wanita seperti Maudy yang bisa memulihkan ingatannya.
Semua misteri itu belum terjawab sampai saat ini, yang jelas Juan ingin membuktikan kepada Maudy bahwa dia adalah pria tangguh yang bisa bertanggung jawab atas apa yang sudah dia ucapkan.
"Tuan Dokter, saya ini adalah wanita biasa bukan dari kalangan anda. Dan saya ini adalah putri satu-satunya yang memenuhi kebutuhan keluarga saya, baik itu sekolah adik saya ataupun cicilan panci ibu saya. Jadi sebaiknya Anda pikir-pikir dulu deh kalau mau bertemu dengan Ibu saya karena sekali saja anda mengungkap hubungan kita di depan Ibu maka beliau tidak akan melepaskan anda," ujar Maudy panjang kali lebar.
Juan hanya mengangguk seraya terkekeh kecil ketika mendengar ucapan Maudy. "Jangan terlalu serius Aku hanya ingin menyapa ibumu saja. Kalau kamu belum siap untuk mengungkapkan hubungan kita di depan ibumu sih tidak masalah."
__ADS_1
"Tapi anda tidak kenal Ibu saya, dia itu--"
"Sudah jangan banyak bicara, kita sudah sampai," sanggah Juan. Ini mobilnya sudah berhenti di depan halaman rumah Maudy.
"Hah?" Maudy menatap ke luar jendela dan benar saja saat ini dia sudah berada di halaman rumahnya. Wajahnya nampak semakin panik namun saat menoleh ternyata Juan sudah turun lebih dulu, melangkah menuju teras rumahnya. "Tuan, tunggu saya!"
Maudy segera bergegas turun Namun sayang dia sedikit terlambat karena sang Ibu tiba-tiba saja muncul dari balik pintu utama rumahnya. Saat ini dia tidak lagi bisa mencegah keinginan Juan, melainkan dia harus memutar otak, mencari alasan yang tepat agar sang Ibu tidak berpikir negatif apalagi berharap lebih kepada seorang pria yang sampai saat ini masih menjadi misteri baginya.
Sesampainya di teras Maudy mencoba untuk mengatur nafas seraya mengangkat telapak tangannya kehadapan mulut Juan. "Ehm, hy Bu. Perkenalkan dia adalah ... salah satu customer ditoko bunga Loly. Tadi motor Muady mogok jadi dia memberikan tumpangan."
__ADS_1
Ibu sampai terperangah mendengar penuturan sang putri. "Oh gitu, tapi Ibu tidak nanya tuh." Ibu beralih melihat Juan, ditatapnya Juan dari ujung kaki sampai ujung kepala.
Ni bocah pasti bukan orang sembarangan, bajunya mahal, mobilnya apalagi, batin Ibu.
Ditatap seperti itu, membuat Juan berinisiatif mengulurkan tangannya. "Perkenalkan, Bu. Saya Juan Imanuel. Senang bisa menyapa anda."
"Hah, Juan Imanuel!" Raphael tiba-tiba saja muncul dari arah belakang ibunya. Dia melangkah mendekat, menatap Juan dengan seksama. "Juan Imanuel, anak dari Antoni Imanuel, pemilik IMB hospital?"
Di kalangan mahasiswa yang mengambil jurusan sosiologi Anthony Immanuel cukup pernah terkenal karena sering menjadi pemateri. Dan tentu saja Raphael adalah salah satu mahasiswa yang mengetahui tentang keluarga kaya raya itu.
__ADS_1
"Hah pemilik rumah sakit?" tanya Ibu antusias.
Dasar kutu beras, kenapa dia harus munculnya disaat seperti ini, batin Maudy mengumpat kesal.