
Mobil yang dikendarai Juan, melaju dengan kecepatan sedang menyusuri jalanan ibukota. Terlihat maudy duduk di sampingnya seraya terus memainkan ponsel sejak tadi.
Hal tersebut membuat Juan sedikit kesal karena mereka sudah lama tidak bertemu tetapi Maudy seolah mengacuhkannya dan dia tahu semua itu karena mau di masih kesal kepadanya.
"Selama berada di Singapura aku bertemu teman-teman namaku dan diantaranya banyak perempuan," sahut Juan yang seolah sedang memancing huru hara.
Sontak saja Maudy yang sejak tadi memainkan ponselnya kini menoleh dengan tatapan datar. "Oh gitu, makanya Anda begitu betah berada di sana sampai tidak membalas pesan saya. Haha, bisa bisanya saya khawatir padahal anda baik-baik saja disana."
Mendengar hal itu membuat Juan tidak bisa menahan senyumnya. Padahal dia hanya mencoba untuk memancing Maudy untuk mengungkapkan perasaannya dan tanpa sadar Maudy telah mengatakan bahwa dia khawatir kepada Juan.
"Bukan begitu, aku banyak bertemu teman lamaku tetapi setiap aku melihat mereka yang aku ingat hanyalah dirimu, aneh ya, kenapa aku malah mengigat kamu," ucapnya.
Saat ini wajah maudy terlihat bersemu merah ketika mendengar ucapan Juan. "Ehm, ya sebenarnya saya ini sangat mempesona."
"Ck, haha. Percaya diri sekali kamu," ucap Juan tetap fokus melihat jalanan.
"Ya, kan memang benar. Ah sudahlah, lupakan saja. Sebenarnya kita mau kemana? Apa saya sudah aktif bekerja lagi mulai hari ini?" tanyanya.
__ADS_1
"Sebentar lagi juga kamu tau."
***
Sekitar dua puluh menit, akhirnya mobil Juan memasuki halaman apotek milik temannya. siang ini terlihat begitu banyak orang yang keluar masuk ke dalam apotek besar tersebut.
"Oh tempat yang waktu itu Untuk apa kita ke sini lagi?" tanya Maudy penasaran.
"Aku akan mengambil hasil pengecekan obatku yang waktu itu. Kamu tunggu di tempat biasa aku hanya sebentar kok setelah itu kita pergi jalan-jalan, ayo masuk."
Namun dia hanya bisa menurut saja.
Sesampainya di dalam apotek, Juan segera mengikuti langkah temannya ke dalam ruangan sementara Maudy duduk di sofa seperti beberapa pekan yang lalu.
Saat ini di dalam ruangan Juan dan juga temannya, Luwis. Dia terlihat tidak sabar mengetahui hasilnya.
"Jadi bagaimana?"
__ADS_1
Luwis mengeluarkan secarik kertas dan langsung di sodorkan ke kehadapan Juan. "Aku sudah memeriksa kandungan obat tersebut dan ternyata memang benar. Di didalamnya, terdapat kandungan terdapat suatu zat yang bisa membuat ingatan seseorang menjadi semakin lemah. Tentu saja obat seperti ini tidak boleh dikonsumsi untuk pasien Amnesia baik berat ataupun ringan."
Juan pertegun sesaat, dia sampai tidak bisa berkata-kata untuk apa Rian melakukan ini kepadanya. Padahal mereka sudah seperti saudara dan ternyata dia salah telah mempercayai orang seperti Rian.
Setelah beberapa saat Juan meraih kertas tersebut seraya mengecek setiap hasil pemeriksaan yang tertulis di sana.
"Sebenarnya apa yang terjadi apakah seseorang telah memberikan obat ini kepadamu?"
Juan menegakkan kepalanya menata Luwis yang terlihat penasaran. "Seseorang itu telah memberikan aku obat ini sejak beberapa bulan yang lalu dan bodohnya aku mengkonsumsinya begitu saja. Aku benar-benar tidak percaya orang yang aku anggap saudara sendiri telah menghianatiku."
Luwis
berhasil dibuat semakin penasaran. "Apa maksud kamu orang itu adalah Dokter Rian?"
"Ya, tapi dia tidak pantas disebut sebagai seorang dokter," jawab Juan.
__ADS_1