
Loli yang baru saja turun dari motornya bergegas masuk ke dalam toko. dia malah nafas pelan ketika pekerja paruh waktunya terlihat termenung di depan rak bunga.
"Sampai kapan kamu akan terus termenung seperti itu? Satu minggu tidak datang bekerja apa kamu sudah lupa cara merangkai buket?"
Maudy melirik sang sahabat yang sedang berjalan kearahnya. "Jangan marah-marah, aku sedang tidak bersemangat hari ini. Dulu satu minggu terasa begitu cepat, Sekarang kenapa berjalan begitu lambat?"
"Itu karena kamu terus memikirkan dia. Sebenarnya aku tidak mengerti, dia tiba-tiba saja memberikan kamu harapan, lalu pergi begitu saja. Aku curiga dia tidak akan kembali," ujar Loly sambil melepaskan jaketnya.
Mendengar ucapan sang sahabat membuat mata Maudy membulat. "Hey, dia bukan pria seperti itu. Ehm, aku memang tidak berharap lebih, tapi aku tahu dia adalah pria yang baik."
"Cie, Mungkin kamu tidak menyadari bahwa ucapan kamu sekarang itu sama saja kamu berharap dan sedang merindukannya. Maudy Aku harap kamu jangan bohongi hati kamu sendiri, cinta sepertinya tidak akan datang dua kali," Ujar Loly.
ucapan seorang sahabat membuat Maudy kembali berpikir. semenjak kepergian Juan dua hari lalu barulah terasa jika kehadiran Juan amat berarti di dalam hidupnya.
__ADS_1
Warna baru yang sempat ditorehkan oleh pria itu kini perlahan memudar dan Maudy berharap Juan akan segera kembali mewarnai hidupnya meski dia masih ragu, adakah jalan untuk mereka bersama.
**
Disalah satu rumah sakit, Juan yang baru saja tiba, langsung masuk kedalam ruang dokter spesialis syaraf. Rumah sakit itu bukanlah rumah sakit rekomendasi Rian.
Melainkan Juan menjadwalkan sendiri kedatangannya, secara rahasia, bahkan kedua orang tuanya pun tidak ia beritahu. Dokter yang duduk dihadapannya saat ini adalah salah satu dosen Rian saat menempuh pendidikan kedokteran.
Juan tersenyum tipis, saat mendengar penuturan Dokter oh itu. Ya, dia menyesali diri, selama berbulan mempercayakan pengobatannya kepada Rian.
Dia bahkan merasa bodoh, selama berbulan-bulan, selalu mengkonsumsi dan menuruti saran Rian. Sebenarnya, Rian bukan hanya sekedar teman, tetapi juga sudah Juan anggap sebagai saudara. Karena Rian adalah salah satu orang kepercayaan ayahnya.
"Terima kasih, tadinya saya berharap bisa sembuh dengan dibantu seorang teman tapi setelah beberapa potongan ingatan saya mulai kembali, ternyata harapan saya terlalu tinggi, dia tidak setulus yang saya bayanginnya," Ujar Juan dengan kepala tertunduk.
__ADS_1
Dosen itu mengangguk paham. "Hm, Seorang dokter bukan hanya menyembuhkan yang sakit tapi ada juga dokter bisa menyakiti yang sehat. Sekarang katakan, apa yang bisa saya bantu?"
Juan menegapkan posisinya, menatap pria paruh baya itu dengan serius. "Saya tahu Anda adalah salah satu dosen di universitas kedokteran dan anda adalah dosen dari Rian Erlangga, benar?"
Pria paruh baya itu nampak mengerutkan keningnya seraya berpikir Siapa orang yang namanya disebut oleh Juan tadi. hingga beberapa saat dia kembali menatap Juan. "Ah sepertinya saya ingat. dia adalah salah satu mahasiswa kedokteran yang gagal mengikuti sidang."
Mata Juan memicing tajam. "Gagal?"
"Ya, dia gagal, dia tidak menyelesaikan pendidikannya. Yah, sebenarnya dia adalah seorang yang berpotensi, kemampuannya dalam bidang medis pun patut diacungi jempol tapi sifatnya sangat buruk."
Pria paruh baya itu menyondongkan tubuhnya menatap Juan lebih dekat "Dia mem**osa belasan mahasiswi junior hingga hamil. Sempat dilaporkan kepihak berwajib, namun entah bagaimana dia bisa lolos dan pulang ke negaranya. Kalau boleh tau, apa anda mengenalnya?"
Rahang Juan tiba-tiba saja menegang sambil mencengkram erat kedua tangannya. Saat ini dia merasa bukan cuma dikhianati tetapi juga sudah dibohongi.
__ADS_1