Pelayan Dokter Amnesia

Pelayan Dokter Amnesia
Bab.21


__ADS_3

"Apa yang mereka bicarakan didalam sana ya, kenapa lama sekali," ucap Maudy seraya memandang lurus ke arah pintu ruangan, tempat Juan dan Luwis mengobrol.


Sudah satu jam dia duduk disana, meneguk teh dan air mineral yang disediakan sampai perutnya terasa kembung. Jujur, dia masih mengantuk karena malam tadi susah tidur dan paginya berangkat terlalu cepat.


Beberapa kali Maudy nampak menguap, hingga akhirnya knop pintu ruangan itu bergerak, Juan dan Luwis melangkah keluar bersamaan.


"Maudy, ayo pulang." Juan membantu Maudy berdiri dan langsung merangkul layaknya sepasang kekasih. "Maaf lama, aki dan Luwis berdiskusi sebentar."


"Iya tidak apa-apa, Tu ... ehm maksud aku, sayang."


Aku pasti sudah gila, kenapa aku memanggilnya sayang. Ah sudahlah anggap saja ini hanya drama, batin Maudy.


Maudy beralih melihat Luwis yang tersenyum ramah kepadanya. "Kalau begitu kami pulang dulu, Kak Luwis."yang


"Iya sampai jumpa dilain waktu, Nona," ucap Luwis dengan ramah.


Ck, Kakak? Kenapa dia memanggil orang asing seakrab itu, batin Juan.


Tanpa basa-basi Juan segera menarik tangan Maudy keluar dari opotek tersebut.

__ADS_1


***


Sepanjang perjalanan pulang, Maudy tak henti-hentinya melirik kearah Juan yang sejak keluar dari apotek itu, terlihat murung. "Tuan, kalau sayap boleh tau, hal apa yang tadi anda bicarakan dengan Kak Luwis?"


Juan melirik sebentar kemudian kembali fokus menyetir. "Aku tidak tahu harus memberitahukan kamu mulai dari mana, yang jelas setelah ciuman kita waktu itu, aku mengingat sesuatu yang berhubungan dengan penyebab kecelakaanku. Jadi sekarang aku sedang menyelidikinya."


Ya, setelah ciuman itu, Juan kembali mengingat sesuatu sebelum kecelakaan, dimana saat itu orang terakhir dia temui adalah, Rian.


Potongan ingatan itu membuat dia mempunyai firasat bahwa Rian berkaitan secara langsung dengan kecelakaannya. Meski saat ini hanya bisa terus berasumsi seraya mencari bukti kuat.


Mendengar itu, Maudy terlihat semakin penasaran. "Apa anda curiga kepada seseorang?"


"Ya, ada satu orang yang aku curigai tapi aku masih belum punya cukup bukti. Jika benar dia adalah dalang dari semua ini, aku tidak akan membiarkan dia lolos begitu saja," ucap Juan.


Setelah beberapa saat, mobil Juan kembali menepi tepat di samping tikungan tajam dimana dia mengalami kecelakaan. Entahlah, sudah hampir enam bulan dan dia masih saja suka mendatangi tempat itu.


Suasana hening sesaat, hingga beberapa menit kemudian Maudy tiba-tiba saja turun dari mobil itu.


"Hey, kamu mau kemana?" tanya Juan namun tidak digubris oleh Maudy. Akhirnya dia pun menyusul keluar. Dia bisa melihat Maudy bediri ditepi besi pembatas jalan.

__ADS_1


"Kamu kenapa berdiri disitu? Ayo masuklah, nanti kalau ada orang lewat, kamu bisa disangka hendak bu*uh diri," ujar Juan yang hendak meraih tangan Maudy namun ditepis begitu saja.


Maudy mengubah posisinya menghadap Juan. "Sebenarnya saya tidak mau memperpanjang masalah ini, tapi anda bandel. Sejak tadi saya menahan diri untuk tidak bicara karena ada Kak Luwis dan tadi anda terlihat murung."


"Kamu bicara apasih, mutar-mutar. Baiklah, ayo bicara, sekarang jangan dipendam, aku akan dengarkan," ucap Juan sambil berkacak pinggang.


Mendapatkan peluang malah membuat Maudy kembali diam sesaat, sepertinya dia kembali ragu namun jika di biarkan dia akan semakin salah paham. Ya, sampai detik ini dia masih tidak percaya jika Juan benar-benar menyukainya.


"Masalah yang tadi. Ehm, kenapa anda mengaku bahwa kita ini adalah pasangan kekasih? Saya belum berkata 'Yes'," ungkapnya.


"Hah, masih masalah itu?" Juan kembali melangkah mendekat sambil berpangku tangan. "Sekarang aku tanya, apa saat ini kamu punya pacar atau kamu sedang menyukai pria lain?"


Maudy mendadak blank seketika. "Ah itu ... ya belum ada sih tapi saya--"


"Sudahlah, dari pada kamu ragu ikut aku sekarang." Juan meraih tangan Maudy dan langsung menariknya.


"Kita mau kemana lagi?" Maudy berusaha melepaskan tangannya.


"Aku akan mengantar kamu pulang, sekalian aku akan menyapa Ibu dan adikmu," jawab Juan

__ADS_1


Deg.


"A-apa!" Mendengar hal itu malah membuat Maudy semakin panik.


__ADS_2