Pelayan Dokter Amnesia

Pelayan Dokter Amnesia
Bab.31


__ADS_3

Rian mencoba untuk menormalkan ekspresi wajahnya, saat pertanyaan Juan seolah mengusik pikirannya. Ekspresi wajah itu benar-benar tak biasa, namun dia mencoba untuk terus tenang.


"Tidak juga, hanya saja kamu tidak pernah melewatkan cek up rutin. Apa jangan-jangan kamu sudah mulai ingat sesuatu?"


Juan kembali tersenyum. Dia tahu Rian pasti mulai khawatir kalau saja tiba-tiba dia mengingat sesuatu. "Hanya beberapa potongan ingatan yang tidak jelas. Aku tidak datang karena ada sedikit urusan penting, tapi hari ini aku datang untuk pemeriksaan. bisa kita mulai?"


"Ya, ikut aku." Rian dan Juan melangkah bersamaan menuju ruang praktek. Mereka tak banyak bicara, seolah sibuk dengan pikiran masing-masing.


Padahal dulu mereka adalah dua orang yang sangat dekat, bahkan Juan selalu bergantung kepada Rian.


***


Keesokan harinya, Maudy kembali membantu Lolly di tokoh bunganya. Hari yang cukup sibuk karena banyak pesanan.


Loly terlihat kembali memeriksa semua buket yang akan dia antar dengan mengendarai mobil sebentar lagi. "Semuanya sudah lengkap, kalau begitu aku berangkat sekarang. Aku titip toko ku ya," ucap Loly.


"Siap. Hati-hati dijalan."


Maudy kembali masuk ke dalam toko. Seminggu tanpa mendapatkan kabar membuat dia mencoba menyibukkan diri dengan berbagai hal.

__ADS_1


Di dalam tokoh dia duduk di sebuah sofa lusuh seraya menyandarkan tubuhnya. Tadi dia sudah tidak mengingat Juan tetapi ketika kembali sendiri bayangan pria tampan itu kembali memenuhi pikirannya.


"Ah sial. Padahal sebelum pergi dia memintaku untuk selalu menghubunginya dan memberi dia kabar. Tapi setelah satu minggu dia tidak pernah membalas chat ataupun teleponku."


Disaat sendiri, dia tidak bisa menutupi rasa rindunya. Mungkin tanpa sadar Maudy telah jatuh cinta, namun dia terus membangun tembok pembatas agar tidak menyukai majikannya itu.


Tring!


Bel toko berbunyi..


"Ya silakan masuk." Maudy segera berdiri namun saat melihat siapa yang datang, dia malah terpaku diposisinya.


Sedih bercampur senang kini Maudy rasakan. Ingin rasanya dia segera berhambur memeluk Juan namun rasa kesalnya menahan dia untuk tidak beranjak.


"Hey, aku kembali. Apa kamu tidak mau menyambut aku dengan pelukan? Atau mungkin kamu tidak senang aku kembali?"


"Ck, jangan terlalu percaya diri. Siapa juga yang merindukan anda Tuan Amnesia. Sayap bahkan hidup dengan tenang setelah andai pergi," ucapnya dengan percaya diri.


"Oh begitu, kalau begitu aku saja." Juan segera melangkah mendekat, lalu memeluk Maudy dengan erat. "Aku sangat merindukan kamu, maag karena tidak sempat membalas semua pesanmu," ucap Juan.

__ADS_1


"Huh, tau begitu tidak usah memintaku untuk mengirim pesan setiap saat." Maudy segera mendorong tubuh Juan agar menjauh darinya. "Aku masih kesal, jadi datang besok saja."


Saat hendak beranjak, langkahnya di cegat oleh Juan. "Kenapa lagi, aku sed--"


Cup.


Maudy tak bisa melanjutkan ucapannya karena tiba-tiba saja Juan mengecup singkat bibirnya.


"Hey, kenapa anda ti--"


Cup.


Juan kembali mengecup singkat bibir Maudy. "Jika kamu terus bicara aku tidak akan segan-segan, tak perduli ini toko bunga."


Maudy segera menutup bibirnya.l dengan telapak tangan. "Lalu mau anda apa?" tanya Maudy.


"Maafkan aku, aku benar-benar sangat merindukan kamu. Setelah teman kamu kembali, ikutlah denganku, aku akan membayar waktu yang aku lewatkan tanpamu," ucap Juan lalu tersenyum manis.


__ADS_1


__ADS_2