
Maudy terlihat kaget diawal, namun sebisa mungkin dia tetap mencoba untuk bersikap lebih tenang agar kalian tidak curiga kepadanya.
Meski saat ini sekujur tubuhnya terasa bergetar hanya karena melihat sorot mata Rian yang begitu aneh menurutnya. "Ah Dokter Rian ya? Wah senang bisa bertemu anda dok, silakan masuk."
"Ah tidak, disini saja," ucap Rian lalu menoleh melihat kursi diteras rumah. "Bagaimana kalau duduk disana," pintanya.
"Boleh, silakan." Maudy segera melangkah menuju teras dan mempersilakan Rian duduk, setelahnya dia juga ikut duduk disana.
"Kalau boleh tau, ada apa ya Dok, dan dari mana Dokter Rian tahu alamat saya?" tanya Maudy yang berusaha bersikap senormal mungkin, padahal dia sudah tau kedatangan Rian sudah pasti untuk menanyakan keberadaan Juan.
Sungguh, Maudy tidak pernah ada dalam situasi seperti ini.
"Ah ini." Rian menegapkan posisinya seraya menatap Maudy. "Sudah beberapa hari ini Juan tiba-tiba saja tidak ada kabar. Sebagai pelayanya, kamu pasti tahu dia dimana 'kan?"
__ADS_1
Tatapan Rian terlihat penuh selidik, hingga Maudy tak kuasa menelan salivanya karena takut ketahuan. Bagaimana tidak, tadi dia baru saja ditelepon oleh Juan.
"Ah itu, sebenarnya saya ada se-dikit masalah dengan Tuan Dokter," ujar Maudy yang mencoba untuk berakting ala kadarnya.
"Masalah, apa itu?" tanya Rian lagi.
Sial, pria ini benar-benar banyak tanya. Kenapa aku merasa sedang berhadapan dengan seorang psikopat, batin Maudy.
"Dia!" seru Maudy tiba-tiba. "Dia telah menyakiti saya, Dok. Anda tahu sendirikan, sikapnya sangat angkuh dan kejam. Pantas saja tidak ada yang tahan berkerja dengan dia! Dia itu pria mesum yang ... suka mencium orang sembarangan. Dokter Rian, saya sangat merasa direndahkan setelah dipaksa untuk ... maaf dok, saya tidak bisa mengatakan apapun lagi saking syoknya."
"Ja-jadi, kamu tidak bekerja disana lagi?"
"Saya belum berhenti secara resmi karena terikat kontrak. Tapi saya rela membayar semua denda, agar tidak bertemu dengan Tuan Juan lagi." Maudy mengusap matanya yang nampak berkaca-kaca.
__ADS_1
"Maaf Dok, saya jadi curhat begini. Tapi sejak satu minggu yang lalu, saya sudah tidak bertemu Tuan Juan lagi," sambung Maudy.
"Oh be-begitu ya." Rian segera berdiri dari posisi duduknya. "Baiklah, kalau begitu saya pulang dulu ya. Maaf karena sudah merusak suasana hati kamu."
Maudy pun segera berdiri dari posisinya. "Ti-dak masalah Dok. Kalau Dokter Rian bertemu dengan Tuan Juan, tolong sampaikan, saya ingin resign. Tuan dan Nyonya juga belum kembali dari luar kota, jadi saya bingung."
"Haha, ya tentu saja. Kalau begitu saya pamit," Rian segera berbalik seraya mengendurkan dasinya.
"Bukannya mendapatkan informasi, aku malah dibuat semakin pusing," gumam Rian seraya terus melangkah menuju mobilnya yang terparkir di halaman depan.
"Hati-hati dijalan Dok!" Maudy tersenyum sambil melambaikan tangannya saat Mobil yang dikendalikan Rian melaju pergi.
Setelah Mobil Rian tak terlihat lagi, Kaki Maudy yang sejak tadi sudah lemas kini tak bisa menopang tubuhnya lagi. Dia menjatuhkan tubuhnya duduk dilantai teras.
__ADS_1
"Huuftt, astaga. Jantungku rasanya mau copot," ujar Maudy yang nampak sangat panik dan ketakutan. "Aku harus memberitahu Tuan Dokter sekarang."
Dia segera masuk kedalam rumah dan mengunci pintu rapat-rapat.